Oleh: utaridewi | Mei 13, 2009

Pengakuan

Setidaknya ribuan kali saya mencoba untuk menghibur diri dan memaksa hati untuk mengelak dari perasaan saya. Namun kali ini saya mengakui, bahwa saya kesepian. Kesepian karena rindu. Rindu karena lama tak berjumpa. Berjumpa dengan perasaan nyaman ketika ia membelai saya, menyediakan bahunya untuk saya rebahi saat menyembuhkan luka-luka dan kepahitan saya sekian ratus hari sebelumnya. Rindu dengan pelukannya yang hangat sembari membelai rambut ikal saya kala itu. Saya rindu perjumpaan dengan kata-kata lembutnya…”Saya mengasihimu karena engkau sahabat saya.” Kata-kata yang tidak menipu karena saya begitu yakin dengan aura kata-kata yang terlontar di mulut tipisnya.

Ia mampu menyentuh hati saya, hingga saya berpikir dia adalah utusan Tuhan untuk mengembalikan kepercayaan saya atas yang namanya Cinta. Ia berhasil meyakinkan saya untuk kembali merasakan apa yang disebut mencintai dan dicintai, setelah saya kehilangan makna itu beberapa tahun sebelumnya. Ia berhasil mengubah ‘kacamata’ hati saya menjadi lebih jernih.
Saya mengaku sekarang, saya kembali kesepian akan kehadirannya. Kami hanya bertemu sesaat, tetapi keterhubungan kami tak akan putus. Karena kami punya cinta sebagai seorang sahabat. Saya bingung, kepada siapa saya harus mengaku bahwa saya kesepian, kesepian akan rindu padanya? Apakah tetap pada bintang di langit seperti yang dulu ia katakan pada saya, “Apabila engkau rindu padaku, lihatlah bintang di langit. Carilah yang paling terang sinarnya, itulah aku. Karena namaku Bintang. Pun ketika kabut menutupi cahayanya kala kau memandang, tetap yakin pada dirimu, aku tetap ada di sana. Aku tak kan pergi meski kita berjauhan…..”
(Mei, 2009)

Oleh: utaridewi | Mei 3, 2009

Menikmati Wisata Kehidupan

Hidup saya unik. Ya, unik dan berwarna, alias tidak tertebak dan tidak monoton. Baru saya sadari bahwa hidup saya unik dan selalu saja ada kejadian yang aneh. Tidak hanya dalam urusan percintaan, pekerjaan, studi, tetapi juga urusan menghibur diri alias refreshing. Bahkan perjalanan wisata saya yang biasanya saya lakukan dengan rencana. Atau, biasanya saya lakukan dan nikmati sambil mengemban tugas, meski itu hanya menikmati perjalanan berbatu-batu dengan pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang tidak menarik.

Bagi saya, wisata tidak harus ke tempat mahal, tidur di hotel, berlari-lari di pantai, dan berfoto-foto seperti yang dipertontonkan di televise dan media lainnya. Menikmati perjalanan tugas, berbincang dengan orang-orang pedalaman, menikmati sajian makanan sederhana, makan sirih pinang, adalah wisata yang tak kalah nikmatnya. Saya selalu menyebutnya, wisata kehidupan.

Namun, perjalanan refreshing saya kali ini luar biasa ajaibnya. Kalau biasanya perjalanan keliling Indonesia saya adalah atas biaya kantor karena tujuan utamanya adalah bekerja, atau…perjalanan wisata atas biaya sendiri yang tentunya setelah menabung sekian lama, kali ini perjalanan saya adalah karunia dari seorang tetangga yang hidupnya sederhana. Pagi sebelum saya bersiap-siap ke kantor, tetangga saya yang berjualan bensin di depan rumah datang membawa voucher tiket Garuda Indonesia. Singkat cerita, ia dan suaminya memenangkan voucher tiket dari Garuda Indonesia perjalanan gratis Yogyakarta-Singapura pulang pergi. Ia bermaksud menjual tiket itu karena alasannya, “Bermimpi pun saya ndak berani, apalagi pergi beneran ke negera ini. Saya kan ndak pernah naik pesawat. Tolonglah beli tiket ini semampu mbaknya….” Katanya merayu. Kakak perempuan saya tak sampai hati, akhirnya terbeli lah tiket itu dengan harga seadanya. Singapura, negeri kecil yang sempat saya singgahi setengah hari karena transit dari Jakarta ke Manila. Saya pun enggan ke sana, alasannya simple saja, saya harus menabung untuk tesis saya. Entah bagaimana, kakak perempuan saya memberikan tiket itu ke saya. Dia tidak bisa berangkat karena berbagai hal.

Akhirnya tiket itu jatuh ke tangan saya. Berbekal uang seadanya, jadilah saya menikmati liburan Paskah di negeri kecil Singapura. Cukup senang, karena saya malah diundang menginap di apartment seorang teman lama saya sejak SMP. Lumayan, biaya akomodasi bisa nol dollar…. Bila saya mengingat ‘sejarah’ wisata saya di Singapura ini, tak habis saya memahami betapa beruntungnya saya. Dari seorang tukang jualan bensin-lah saya bisa berkeliling Singapura, dari sejumlah komunitas yang tak diperhatikan di bumi NTT, Papua dan Timor Leste saya bisa berwisata kehidupan, tentunya sambil meneguhkan komitmen saya mengasihi mereka. Dari seorang sahabat yang mengembalikan spirit kehidupan saya pula lah membuat saya kembali menikmati perjalanan penuh kekeluargaan di bumi Filipina. Entah, perjalanan saya selanjutnya seperti apa. Tetapi yang terpenting dari semua perjalanan saya adalah menyerap saripati kehidupan dari setiap tempat, pertemuan dengan orang-orang, dan belajar dari cara hidup mereka yang berwibawa. Bukan tebalnya tiket atau halaman paspor yang dicap visa yang terpenting, melainkan apakah saya mau belajar rendah hati dari setiap perjalanan, sama halnya kerendahan hati seorang Mbak Pani yang mengantarkan voucher tiket keberuntungannya pagi itu ke rumah kami……..

Oleh: utaridewi | Maret 29, 2009

Menghapus trauma

Teman-teman, saudara-saudara, dan sahabat-sahabat saya,

perkenankan saya mengganggu kesibukan anda sekalian dengan lontaran pertanyaan – atau lebih tepatnya: mohon pendapatnya- berikut ini.

Singkat kata, saya sedang merasakan perasaan khusus terhadap seorang laki-laki beberapa minggu belakangan ini. Sementara saya kurang begitu yakin apakah ia bisa menerima saya atau punya perasaan yang sama dengan saya. So far hubungan pertemanan kami baik-baik saja, sering bertemu dan dia sering curhat sama saya juga.

Sebetulnya saya ingin mengatakan jujur kepadanya perihal perasaan saya. Namun apa daya saya masih trauma dengan kejadian beberapa tahun silam, di mana saya jujur mengatakan perasaan saya dengan seseorang dan hasilnya tidak begitu baik.

Jadi, kalau tidak keberatan, mohon memberi saya saran apa yang harus saya lakukan kali ini. Apapun saran anda, akan saya terima dengan sukahati. Terimakasih sebelumnya. Tuhan membalas kebaikan anda.

(minggu siang, tempel)

Oleh: utaridewi | Februari 15, 2009

Whispering Hope, Offering Loves

(Membisikkan Harapan, Menawarkan Cinta)

Bila sebagian besar orang muda di kota saya hari ini merayakan Valentine Day (terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia: Hari Kasih Sayang) dengan makan malam atau jalan-jalan dengan pasangannya, maka saya lebih memilih menikmatinya dengan keluarga yang sangat saya sayangi. Menarik juga mendengarkan celotehan keponakan-keponakan saya yang lucu-lucu, dari menanyakan mengapa harus lewat permen atau makanan coklat untuk menyatakan cinta, hingga apa itu valentine. Saya termasuk orang yang cukup disibukkan untuk menjawab berbagai pertanyaan mereka, pun saya harus tersenyum menjawab pertanyaan mereka mengapa saya masih sorangan wae, alias single.

Lelah menjawab pertanyaan mereka, saya mulai menyibukkan diri menulis dan mengirimkan pesan singkat kepada teman-teman saya. Maksud saya hanya simple saja, mengingatkan bahwa kasih sayang tidak hanya untuk pasangan saja, tetapi bagi semua orang yang membutuhkan tangan cinta kita. Kita diciptakan memiliki tangan dan hati untuk menebarkan cinta, dalam bentuk pertolongan, topangan, dan dorongan bagi mereka yang putus harapan. Tangan kita diciptakan untuk memeluk dan menyentuh bagi mereka yang haus akan kasih sayang. Setiap hari, dan setiap saat.

Putus harapan? Ya, kita diberikan tangan untuk berbagi kasih bagi orang yang putus harapan. Sangat mudah menemukan orang yang mengalami keputusasaan…atau menipis harapannya tetapi cukup sulit menemukan orang yang masih optimis di tengah kesulitan saat ini. Seorang teman membalas sms saya dan menceritakan bagaimana kondisi hatinya saat ini, di tengah menipisnya harapan dia untuk meraih apa yang ia inginkan. Well, saya hanya bisa menghibur hatinya dengan mengatakan wajar bahwa kita mudah kehilangan harapan tetapi bukan berarti berhenti berharap bahwa suatu saat kita akan mendapatkan yang lebih baik. Jujur saja, beberapa hari belakangan saya pun mengalaminya, ketika apa yang saya inginkan dan butuhkan ternyata meleset jauh sejauh-jauhnya.

Bagaimanapun saya selalu diingatkan pada kata-kata bijak ini:

Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan selama 40 hari penuh,

tanpa minum selama satu minggu,

menahan nafas selama 40 menit.

Tetapi manusia tidak bisa bertahan hidup sedetik pun

tanpa harapan.

Siapa yang bisa membuktikan bahwa tanpa harapan kita bisa bertahan hidup atau setidaknya menikmati hidup? Hampir tidak ada. Barangkali ia masih bisa bernafas, masih bisa berjalan, masih bisa melakukan aktifitas hidup lainnya. Tetapi bila itu dilakukan tanpa harapan, masih bisakah memberikan makna setidaknya bagi dirinya sendiri? Saudara, saya pernah menjalankan hidup tanpa harapan beberapa tahun lalu dan hasilnya hidup saya seperti robot, sangat mekanistik dan ada ruang hampa di dalam hati saya. Kata-kata bijak ini mengingatkan saya untuk tidak berhenti berharap, meski saya juga harus realistic dan tetap menawarkan cinta bagi saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

Setidaknya saya harus mencintai saya apa adanya dan menaruh harapan pada hidup saya sendiri sebelum saya mencintai dan menaruh harapan pada orang lain. Itu pula yang diajarkan Tuhan pada saya: kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. Jadi, sebelum kita mampu mengasihi orang lain dan berharap pada orang lain, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengasihi, menerima dan memahami diri sendiri. Setelah mampu menerima diri kita apa adanya dengan segala harapan-harapan kita pada diri kita sendiri, barulah kita sediakan tangan kita untuk mengasihi dan memberikan harapan bagi orang-orang yang kita kasihi.

Hmmm…..barangkali itulah makna hari kasih sayang ini bagi saya. Membisikkan harapan, menawarkan cinta pada diri sendiri, orang-orang di sekitar kita, dan alam kita. Namun di atas semua itu, terutama membisikkan harapan bahwa Tuhan mendengarkan apa yang saya butuhkan saat ini. Selamat hari kasih sayang, selamat melanjutkan harapan anda.

(tempel, 14 Februari 2009).

Terimakasih buat seorang teman yang telah memberikan inspirasi menulis ini.

Oleh: utaridewi | Januari 30, 2009

Facebook euy….!!

Beberapa minggu belakangan inbox email pribadi saya kebanjiran pemberitahuan dari si “Facebook” bahwa saya mendapatkan undangan menjadi anggota atau “add friend” dari teman-teman lama saya. Tidak tanggung-tanggung, sehari bisa 10 email masuk, dan menambah deret email belum terbuka di Inbox saya yang jumlahnya mencapai 2,600-an lebih.

Reaksi saya pun beragam. Dari yang jadi malas sekali membuka Facebook (ada yang menyingkat FB, ada yang memplesetkan menjadi fesbuk), sampai menjadi penasaran dengan nama-nama baru yang invite saya menjadi relasinya. Bayangkan, hanya karena say hello saja memaksa saya untuk membuka ID di facebook dan mau tidak mau membalasnya agar tidak dicap somsek, alias sombong sekali sama teman lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa.

Facebook menjadi fenomenal dalam dunia maya meskipun wahana ini bukan pioneer. Ada banyak pendahulunya seperti Friendster, Hi5, dan lain-lain yang menawarkan fasilitas berjejaring secara sosial ala dunia maya. Facebook menjadi lebih fenomenal karena ia menawarkan fasilitas yang lengkap, bahkan melakukan hal yang tidak dijumpai pada wahana lain seperti Friendster (FS). Salah satunya adalah bisa chatting melalui FB, satu hal yang belum bisa dilakukan oleh FS.

Hal lain lagi yang membuat FB lebih fenomenal adalah saat wahana ini digunakan oleh Presiden AS yang baru Barrack Obama sebagai media kampanye pemilihan presiden sejak tahun lalu. Cara ini kemudian ditiru oleh calon legislative dan bakal calon presiden Indonesia menjelang pemilihan umum tahun ini. Terbukti Sri Sultan dan Prabowo mengundang saya ikut sebagai jaringan pertemanan mereka. Padahal, boro-boro jadi teman, melihat mereka secara langsung saja sangat jarang. Pun mereka bukan teman saya sejak SD hingga perguruan tinggi, tetangga juga bukan, sodara apalagi. Padahal, saya yakin tujuan dibuatnya FB seperti halnya FS adalah memperluas jaringan pertemanan atau menemukan teman lama yang lama tak berjumpa. Atau juga, mempererat pertemanan atau persaudaraan yang sudah terjalin supaya lebih greng, katanya Mbah Dalang.

Artinya adalah, telah terjadi pergeseran tujuan dari dibuatnya wahana semacam ini. Tidak jarang malah dipakai sebagai bagian dari modus operandi penipuan. Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu dalam sebuah milis yang saya ikuti, ada tulisan iseng yang bercerita bahwa ada beberapa motivasi atau karakter seseorang yang bisa dibaca dari cara ia menampilkan foto dan identitas dirinya dalam Friendster. Bisa jadi pamer bahwa ia sudah pernah jalan ke luarnegeri, pamer bahwa ia sudah beranak pinak, dan sebagainya. Meskipun tulisan ini hanyalah sekedar iseng dan satire untuk menyindir, tetapi saya mulai berpikir bahwa barangkali ada benarnya. Bahkan benar banget!

Tidak perlu jauh-jauh menganalisa FS atau FB milik orang lain. Seringkali motivasi saya menampilkan foto di FB dan FS saya, adalah memberitahukan ke seluruh jagad dan teman-teman saya yang menjadi jaringan saya bahwa saya pernah jalan ke sana ke sini. Makin bangga lagi ketika saya pasang foto ketika berada di luar negeri dengan dikasih komentar sedikit nyombong, pakai bahasa Inggris nama tempat tersebut. Makin besar kepala saya ketika ada satu atau dua teman yang kasih komentar : ” Wah….asyik ya bisa jalan-jalan ke LN….ikut donkkk….”. Pasti terhadap komentar kayak gini, langsung saya balas, “Ah biasa aja tuuhhh…..Gak lama kok jalannya, Cuma beberapa hari aja. Lagian itu pas selingan kerja….” Atau, ketika saya pasang foto saya dengan pacar baru, misalnya, atau anak, atau foto pernikahan. Wahhh……gak cukup deh kayaknya helm saya untuk menampung kepala yang begitu bangganya. Juga tidak cukup longgar baju yang saya kenakan karena dada saya makin membusung.

Oleh karena itu, tak heran kalau kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa FB, FS, atau wahana-wahana maya lainnya yang sejenis adalah pelampiasan dari narsisme kita yang paling tinggi. Beruntung pun kita tidak perlu membayar mahal untuk membuat media narsisme karena internet menyediakannya dengan gratis. Beda halnya kalau kita menggunakan media cetak atau broadcast yang berat di ongkos, hanya orang-orang kaya dan berpengaruh saja yang bisa melampiaskan narsisme mereka dengan media ini. FS dan FB mengubah orientasi kita bermedia, FS dan FB tujuannya menjadi mengalami pertambahan. Tidak lagi hanya menjadi media menemukan kembali teman-teman lama yang berceceran di mana-mana, tidak hanya sekedar memperkuat dan mempererat persatuan antar teman dan saudara, tetapi lebih jauh lagi, FB menjadi media untuk memuaskan narsisme kita, media pameran untuk menunjukkan keberhasilan dan kondisi kemakmuran kita saat ini. Pernahkah terpikirkan oleh anda untuk menempelkan foto anda dengan pakaian compang-camping, atau foto ketika kita sakit atau antri beras atau minyak tanah? Pernahkah kita terpikirkan untuk menempelkan foto dan menunjukkan pada khalayak maya bahwa kita sedang sedih, marahan sama pasangan atau sedang jatuh bangun? Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk menunjukkan sepahit-pahitnya kehidupan kita selain menunjukkan semakmur-makmurnya kita sekarang dalam FB atau FS?

Well, ini sekedar pikiran nakal yang terlintas saat saya berkelana membuka FB dan FS saya. Jangan dimasukkan hati, cukup direnungkan saja bahwa FB hanyalah sebuah media yang bisa kita mainkan semau yang kita inginkan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada para pecinta FB dan FS, saya ingin mengatakan jadi narsis boleh dan sah-sah saja, tetapi ya mbok jangan narsis-narsis banget. Hehehe….

(Klitren kala hujan, akhir Januari 2009)

Oleh: utaridewi | Januari 11, 2009

Jala

Jalaku sobek, kawan

sehabis kupakai jaring ikan

singkirkan kuatirmu

kuperbaiki dengan seutas benang

dan sebuah jarum, maka usailah sudah kurajut kembali

Tapi siapakah yang bisa merajut sobek di jala jiwaku

koyak tinggalkan luka perih kesendirianku

Harta jiwa hilang tak sisakan kata perpisahan

Hanya debur ombak sampaikan pesannya

Selamat tinggal, kekasihku

- Blang lumpang, Seunoddon, 4 bulan pasca tsunami-

Oleh: utaridewi | Januari 10, 2009

Buku yang Tak tercetak

Seorang penceramah menjelaskan,

bahwa sebagian kecil dari uang yang tak terbilang jumlahnya

yang digunakan untuk senjata di dunia modern

bisa menyelesaikan semua kesulitan material

bagi setiap anggota dari bangsa manusia.

Reaksi dari para murid yang dapat diduga seusai ceramah adalah:

“Tetapi mengapa manusia itu begitu gila?”

“Karena,” jawab Sang Guru resmi,

“orang belajar membaca buku yang tercetak.

Mereka sudah lupa akan seni membaca yang tak tercetak.”

“Berilah kami contoh Buku yang Tak Tercetak”

Tetapi Guru tidak mau memberinya

Pada suatu hari, menanggapi desakan mereka ia berkata,

“Kicauan burung,

suara serangga,

semua itu mendengungkan KEBENARAN.

Rumput-rumput dan bunga-bunga

semua menunjukkan JALAN

Dengarlah! Lihatlah!

Itulah CARA MEMBACA!”

(disadur dari Anthony de Mello, “Sejenak Bijak”)

Oleh: utaridewi | Januari 10, 2009

Batas Tipis

Pabila kita bisa mensyukuri Karunia dan Keberhasilan yang kita alami,

semestinya kita pun bisa mensyukuri Penderitaan dan Kegagalan

yang menimpa kita.

Karena di antara kedua hal tersebut,

hanya memiliki batas yang amat tipis saja.

(Dewi Utari, Januari 2004)

Oleh: utaridewi | Januari 10, 2009

Di 3 Kota

Di 3 kota aku membelaimu

Karena kasih kita sangat dalam sampai di dasar hati

Karena kita pernah menobatkan satu sama lain sebagai belahan jiwa

Meski kau dan aku sangat sadar bahwa kita tak kan pernah bisa bersama

Karena jalanku dan jalanmu adalah 2 jalan berbeda meski pernah bertemu di satu titik

Lalu kemudian mencabang lagi menjadi 2 jalan yang berbeda

Di 3 kota ini aku ingin memelukmu

Enggan rasanya melepaskanmu,

Sama halnya saat aku enggan melepas pelukanmu yang lalu di 3 kota yang lain

Sayang aku hanya bisa memelukmu dalam hati

Karena kita sama-sama takut akan pedih perpisahan

Pertemuan kita kali ini singkat saja

Di 3 kota ini aku hanya bisa memandangmu

Tatapanmu tak pernah berubah, seperti dulu

Tajam tapi meneduhkan

Lembut tapi mampu menguatkan hati yang remuk

Aku tak berkutik

Kelu dalam rindu yang menusuk-nusuk

Tapi aku bahagia, engkau menjadi bagian dari kisah hidupku

Sampai berjumpa lagi dalam mimpi-mimpi kita yang abadi.

(dipersembahkan bagi persahabatan sejati, Januari 2009)

Oleh: utaridewi | Januari 1, 2009

Selamat Tinggal 2008, Selamat Datang 2009

Meski hanyalah sebuah penandaan dari momentum, pergantian tahun tidak bisa kita pungkiri. Apabila sebagian orang memilih turun ke jalan alias jalan-jalan keliling kota dalam detik-detik pergantian tahun, ada juga yang lebih suka memilih berdiam di rumah dan merenung. Salah satunya adalah aku.

Tahun 2008, menjadi salah satu momentum waktu penting dalam  hidupku. Pada tahun ini perjalanan keliling Indonesia dan luar negeri yang cukup banyak pertama kalinya buatku. Kalau dihitung-hitung, aku melakukan perjalanan dengan 30 rute penerbangan baik dalam negeri. Namun bukan itu yang membuatku takjub, justru ketika aku mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang baru di tempat-tempat yang terpencil, terisolasi, dan dianggap primitive, aku mendapatkan pengalaman paling berharga. Begitu berharganya hingga tak terungkapkan dengan kata-kata. Dan menambah daftar syukurku kepada Tuhan.

Tahun 2008, untuk pertamakalinya aku merasakan kehilangan orang yang teramat kukasihi, bapak yang dipanggil Tuhan. Namun dalam keabadiannya aku tetap merasakan kehadirannya dalam hatiku. Selamat jalan bapak, kelak kita akan berjumpa kembali.

Tahun 2008, menggoreskan luka sekaligus suka cita. Dan setiap dari pengalaman dan perjumpaanku dengan orang-orang, aku mensyukurinya karena aku semakin belajar banyak tentang kehidupan.

Kini tahun 2009 sedang mulai kubuka dengan segala harapan baru meski pun penuh tantangan baru juga.  Dengan satu keyakinan yang masih ada bahwa Tuhan menyertai hidupku, aku tetap meletakkan tanganku dalam tanganNya. Tahun 2009 aku menyambutmu dengan sukacita dan asa baru. Selamat tinggal 2008, engkau tetap berkesan dalam hidupku.

(tempel, 1 Januari 2009, 00.05)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori