Ada Harganya?

Setiap orang ingin dihargai sebagai manusia adanya. Dihargai sebagai orang tua, sebagai anak, saudara, sebagai teman, sebagai pemimpin , sebagai anak buah dan sebagainya. Tidak ada orang yang ingin tidak dihargai. Ibu Teresa seorang biarawati legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat orang terpinggirkan bahkan mengungkapkan fakta ini dengan sangat baik: kemiskinan yang paling menyedihkan di muka bumi ini bukan soal tidak punya uang atau tidak punya makanan, tetapi perasaan tidak dicintai dan tidak dihargai sama sekali oleh sesamanya.

Kita ingin dihargai, itu jelas. Seremeh apapun peran kita dalam kehidupan ini. Meskipun kita bukan dikategorikan sebagai orang penting, berpendidikan, dan berkelas sosial tinggi (sesuatu yang menurut saya konyol), semua orang membutuhkan perasaan dihargai. Bagaimanapun situasinya, apapun caranya. Pun perasaan ini sangat wajar dan manusiawi, oleh karena itu Sang Pencipta Hidup melalui nabi-nabiNya meyakinkan pada manusia bahwa Ia menghargai setiap individu yang telah Ia ciptakan. Bayangkan, kalau Ia sendiri pun bisa menghargai kehidupan SETIAP manusia, mengapa kita yang tidak ada apa-apanya justru arogan merasa paling berhak untuk tidak menghargai keberadaan orang lain? Apalagi orang lain yang ia anggap berbeda.

Pertanyaan ini mengganggu saya beberapa saat belakangan. Terlepas dari peristiwa yang membuat saya terluka, merasa tidak dihargai sebagai teman dan manusia yang sedang berupaya berkarya, saya seperti ditampar oleh teguran. Ini menjadi pertanyaan yang harus saya kembalikan ke diri sendiri, selama ini apakah saya sudah belajar menghargai orang lain? Apapun keadaan orang itu. Apakah saya sudah mengatakan MAAF, TERIMAKASIH, dan TOLONG  sebagai salah satu wujud penghargaan saya terhadap orang tersebut.

Soal menghargai keberadaan orang lain memang tidak semudah yang diucapkan. Urusannya bisa complicated, kalau sudah berkaitan dengan relasi antar manusia. Memutuskan apakah masih tetap akan berhubungan baik dengan orang tersebut, membutuhkan interaksi timbal balik yang sepadan. Bila kita sudah mencoba menghargai dengan upaya keras, tetapi kalau yang bersangkutan tetap keras hati menolak penghargaan yang sudah kita berikan, apa mau dikata? Anggap saja orang tersebut punya urusan masa lalu yang belum selesai untuk belajar penghargaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Singkat kata, saya cuma mau bilang: arogansi, keras hati, tinggi hati, ada dampaknya pada sikap penghargaan dan penerimaan terhadap diri sendiri dan keberadaan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati yang musti dipupuk setiap hari. Kalau Tuhan melalui caraNya mengajarkan bagaimana menghargai orang lain sebagaimana adanya, maka tidak adil bila kita buru-buru mengambil sikap terhadap orang lain: “Lu udah gak gue anggep!” Pasti Tuhan pun sedih……..

Tempel, di akhir minggu bulan November

Hidden Passion

This gallery contains 12 photos.

Sewaktu SMA kelas 3, saya berada di ujung kebingungan untuk memilih jurusan kuliah saya berikutnya, antara tetap ilmu fisik atau ilmu sosial. Sejujurnya saya senang program studi yang dikombinasikan dengan seni. Oleh karena itu, ketika sekolah saya memberikan kesempatan psikotes uji minat dan bakat, saya mencantumkan minat: Arsitektur dan Ilmu Komunikasi. Saya senang, psikolog yang [...]

MEMANDANG KOTA-KOTA CANTIK DARI ATAS

Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan ia dapatkan sepanjang perjalanan dari pesawat.

Untuk membunuh kebosanan duduk berjam-jam dalam pesawat, apalagi yang armadanya tidak menyediakan hiburan audio dan visual, saya biasanya melakukan kebiasaan memotret kota-kota atau pemandangan dari atas. Entah mengapa saya suka melakukannya, meski dengan kamera yang seadanya, baik itu pocket, prosumer, maupun digital SLR. Barangkali memotret dari atas juga merupakan salah satu terapi penyembuhan penyakit phobia ketinggian saya sejak kanak-kanak, dan syukurlah sekarang agak berkurang. Tetapi kalau dari atas gedung tinggi, saya masih suka pusing melihat ke bawah.

Beberapa kota yang view-nya tertangkap kamera saya memiliki cerita tersendiri. Namun tidak semuanya saya ambil dari atas pesawat, beberapa dari bukit tinggi kala menikmati liburan dan atau perjalanan tugas keliling dari desa ke desa. Silakan menikmati.

Kota Wamena di Lembah Baliem Jayawijaya, ini juga wilayah yang sulit ditebak, terutama masyarakatnya

Danau Sentani, Abepura.

Kota terpencil di Lembah Puncak Jaya, bernama Ilu. Menyimpan banyak sekali misteri sosial dan politik

Kota Frankfurt dari atas, diambil pada April 2010 hanya singgah selama 7 jam

Pesisir pantai di kota Dili, Timor Leste

Tagaytay City, Philippines. Gambar diambil dari Taman Wisata People Park.

China Town Singapore. Diambil dari jembatan penyebarangan

Kota Kupang, NTT, saat musim kemarau

Waingapu, Sumba NTT

Jogja, kota paling nyaman ditinggali. Diambil dari pelataran Candi Boko Prambanan

Tangan Tuhan

Ada cerita yang menarik dialami sebuah gereja di Inggris, pasca Perang Dunia Kedua. Gereja tersebut hancur termasuk sebuah patung Yesus disalibkan dengan tangan terlentang. Oleh para pengurus gereja, patung itu hendak direnovasi karena bagian tangannya terputus akibat kejatuhan puing-puing gereja. Tetapi pastor gereja tersebut memiliki pendapat lain, sebaiknya patung tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa harus direnovasi bagian tangannya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak lagi perlu tanganNya sendiri untuk bekerja, kitalah yang menjadi tanganNya,” cerita pendeta pagi ini dalam kebaktian Minggu yang kuikuti. “Kitalah tangan Tuhan, dipilih menjadi tangan Tuhan untuk melayani sesama….” dan aku pun tercekat, kalimat ini sungguh menonjok.

Pergumulanku beberapa minggu belakangan terjawab hanya sekejap, kita sebagai umatNya diminta menjadi tangan Tuhan. Apa maksudnya? Jangan-jangan hal ini juga menjadi jawaban dari pertanyaanku selama ini: Mengapa aku, Tuhan? Mengapa aku yang harus menanggung beban tugas yang tampak melebihi kekuatan dan kapasitasku? Mengapa aku harus menemui persoalan sulit di tengah-tengah tugas tersebut? Jawaban “Karena kita adalah tangan Tuhan” seolah-olah begitu lugas, tak terbantahkan, dan tidak bisa digugat lagi. Pagi ini aku tergugu, kelu, dan sampai detik ini masih bercokol di kepala: Baik, kalau memang aku adalah tanganMu, Tuhan, lalu aku harus berbuat apa?

I have no hands, but yours….cerita di atas mengingatkanku foto salib Yesus yang kuambil ketika perayaan Paskah di Filipina, 2007. Barangkali salib yang tergantung di biara itu terinspirasi dari kisah gereja tadi, dan aku diingatkan lagi, 4 tahun kemudian. Kita adalah tangan Tuhan, masih menjadi misteri buatku saat ini, di tempat ini, Pegunungan Tengah Papua, yang menyimpan misteri juga. Entahlah, apakah kalimat ini sekedar penguatan dan penghiburan, atau juga menjadi tantangan buat aku dan teman-teman kerja di bumi yang menyimpan segudang persoalan kesehatan ini, aku tidak tahu dan sedang kuurai jawabannya.

Barangkali terlalu naif kalau kami kemudian berjanji terlalu muluk dengan mengatakan bahwa kami siap menjadi tangan yang sempurna melakukan pekerjaan mulia. Karena aku takut mengecewakan Tuhan, jadi aku hanya berkata: Tuhan, meski tidak sempurna, aku mau menjadi tangan yang baik saja. Yang bisa bekerja, tetapi kadang butuh istirahat juga, retreat agar kerja menjadi optimal. Kalau berlepotan debu dan kotoran, ingatkan aku untuk saling membersihkan antara tangan satu dengan yang lainnya.

Selamat menghayati Minggu Sengsara Yesus

Wamena, 6 Maret 2011

Kekuatan Cinta

“Saya memotong tangan istri saya sesaat setelah dia meninggal karena saya mencintainya dan ingin mengenangnya sepanjang hayat saya. Dia sekarat dan akan meninggal segera, dan jasadnya akan dikubur. Apa yang bisa saya lihat bila tidak dari secuil bagian tubuhnya? Dia adalah hidup saya, saya begitu mencintainya. Karena tangannya yang begitu indah dan tangan itu pula yang selalu membelai saya, maka saya potong untuk saya awetkan. Salahkah saya?????” ujar pria hampir setengah baya itu menangis sesenggukan di ruang pengadilan, sebagai terdakwa. Cerita ini mungkin ganjil dan tidak lazim, tetapi adegan itu adalah kiasan untuk menggambarkan kekuatan cinta. Cerita itu ada di salah satu episode serial Ally McBeal, kisah seorang pengacara muda yang selalu mendapatkan kasus tidak lazim. Tentu anda ingat serial Ally McBeal kan?

Endingnya bisa ditebak, Ally yang mendampingi pria itu mengetuk hati para juri untuk membebaskan sang terdakwa dari tuduhan mencelakai istrinya yang sekarat. Dan mereka menang, karena sang terdakwa berhasil meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan karena sesuatu kebutuhan yang paling hakiki dalam sejarah kehidupan manusia: KEKUATAN CINTA…power of love. Karena ia begitu mencintai istrinya yang ia sebut sebagai separuh jiwanya.

Waktu saya tonton adegan itu, saya menangis terharu sambil berpikir, dimana saya bisa mendapatkan power of love itu. Saya lalu melihat bapak ibu saya, mereka pun berhasil menunjukkan kepada saya tentang begitu besar dan dalamnya kekuatan cinta. Tentu dengan caranya, dan saya tidak menyarankan ibu saya memotong tangan bapak waktu ia meninggal dunia. Pernah suatu waktu, ketika bapak saya terbaring lemah dan setengah tidak sadar di rumah sakit, ibu saya tidak pernah sedetikpun meninggalkan kamarnya kecuali mandi dan duduk di teras ruang inap, selebihnya ia memilih duduk di samping bed bapak saya sambil berdoa dan membaca kitab suci. Lalu suatu hari ibu saya terpaksa pulang ke rumah untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh bapak saya sepulang dari RS. saya pun menggantikan menungguinya, ibu saya sengaja tidak pamit supaya bapak tidak gelisah. Suster datang dan mencek tensinya, hari itu hasilnya cukup tinggi, 150/100. “Ibu kemana, mbak? kok bapak tensinya tinggi?” Saya jawab kalau ibu pulang sebentar untuk menyiapkan kamar. Anehnya, ketika ibu saya kembali ke RS dan berbisik di telinga bapak saya kalau ia sudah kembali, tensi bapak kembali normal setelah di-cek oleh suster, 120/80. Itulah kekuatan cinta.

Ada banyak peristiwa dalam hidup saya dan Anda yang menunjukkan kekuatan cinta. Kekuatan cinta tidak hanya berisi pengorbanan, tetapi juga upaya untuk membuat hati orang yang ia cintai senang, nyaman, dan aman. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, begitu juga kekuatan cinta dari Sang Pemberi Cinta itu sendiri, adalah kekuatan yang paling tinggi dan paling abadi. Anda mungkin punya banyak cerita tentang kekuatan cinta Anda, yang terekspresikan melalui perilaku dan kata-kata. Selagi kita punya waktu untuk mengekpresikan kekuatan cinta kita, mengapa tidak kita lakukan? Saya membiasakan diri untuk mengucapkan aku sayang kamu (lav u) karena itulah cara saya menunjukkan kekuatan cinta, sambil tentu diimbangi dengan tindakan saya.

Betapa beruntungnya saya, meski masih single, pada tanggal 14 Februari kemarin saat pikiran dan hati saya gundah karena banyaknya persoalan dan pekerjaan saya, tiba-tiba hp saya menandakan sms masuk, dari nomer kakak saya berbunyi: “Bu Dewi, Nesia Bening dan Cinta love you so much…..” dari keponakan-keponakan saya. Saya menitikkan air mata, anak=anak seumur itu bisa mengekspresikan kekuatan cinta, mengapa kita yang berusia dewasa begini sering lupa? Bahkan dengan enaknya kita membenci satu sama lain demi ambisi kita. Lalu segera saya jawab:”Nesia, bening, cinta, bu dewi lav u too with my heart”. Saya tersadar, masih ada sisa kekuatan cinta dari keluarga saya, sahabat-sahabat saya, teman kerja saya, bahkan dari orang yang tidak saya kenal baik sekalipun. Kekuatan cinta mereka datang begitu saja dan cuma-cuma, pemberian Tuhan. Maka sayang kalau saya tidak menikmatinya dan menganggapnya angin lalu saja, karena kekuatan cinta memberikan kekuatan hidup saya.

Saya mencintai kalian………

Februari 2011

Kisah dari Pelosok: 7 Anak Mencari Kasih Sayang

Saya sedang berada di sebuah desa di pelosok NTT waktu itu, dalam rangka penelitian saya tentang perempuan lokal dalam mengelola program air bersih. Kira-kira satu tahun yang lalu. Perempuan pemberani yang saya datangi di Desa Baus itu bernama Nona Benu, seorang kilok (putri raja) lokal yang baik hati dan cerdas, meski pendidikannya sebatas SD saja. Ia adalah kader kesehatan yang dilatih oleh lembaga saya untuk melayani warga sekitarnya, karena jarak akses pelayanan kesehatan desa itu ke Puskesmas lumayan jauh. Ia pula penggerak warga untuk swadaya membangun fasilitas air bersih yang mereka butuhkan.

Nona Benu tidak menyangka kedatangan saya, tanpa mengurangi rasa senangnya saat saya berkata bahwa saya bermaksud menginap malam itu di rumah dia untuk mengamati aktivitas dia dan perempuan lainnya di desa ini. “Aduh, ibu, rumah saya jelek begini. Lantainya tanah, kamar seadanya,” ujarnya malu. “Tak mengapa, nona. Saya justru yang minta maaf karena merepotkan Nona,” jawab saya lebih malu hati. Ia beralih tatapan sendunya meski masih dengan senyum ke Pak Mel, teman kerja saya yang menemani, ” Saya baru saja sedang mengalami kedukaan, Pak Mel. Kakak perempuan saya meninggal dunia minggu lalu, setelah sakit beberapa hari saja. Padahal suaminya sudah meninggal 3 tahun lalu. Ini anak mereka ada sama saya, 7 orang anak….” kisahnya tanpa bermaksud meminta belas kasihan. “Hah….mengapa tidak beritahu???” Pak Mel dan saya berujar hampir berbarengan, terkejut. Saat Nona Benu bercerita, satu persatu keponakannya bermunculan duduk di lantai tanah mengelilinginya.

Nona Benu masih hidup sendiri, tetapi kini ia memiliki tanggungjawab mengurus 7 keponakan yatim piatunya. Yang paling besar masih berumur 18 tahun, sedangkan yang paling kecil masih 2 tahun. Nona Benu tidak mengeluh sedikitpun mengurus 7 keponakannya itu, hanya satu hal dalam pikirannya: bagaimana menyekolahkan mereka ke sekolah desa? Sementara ia seorang petani lokal yang hasilnya tak seberapa. Memang ada beberapa keluarga besar yang siap membantu, tetapi beban tanggungjawab mereka sendiri sudah terlalu berat untuk membawa anak-anak mereka sekolah.

Sambil menggendong dan mencoba menidurkan satu demi satu ponakannya, Nona Benu mengurus tempat tidur saya. Berulangkali ia minta maaf karena tidak ada sehelai pun kasur yang ia miliki, hanya tikar dari daun kelapa yang dianyam ia miliki dan dipan kecil. Saya selalu bilang itu bukan masalah buat saya, saya bisa tidur dimana pun. Malam itu saya membaringkan tubuh saya ditemani pelita kecil yang bisa setiap saat mati saat minyak tanahnya habis. Listrik belum masuk ke desa kecil itu. Antara jam 2-3 pagi, saya terbangun di kegelapan malam karena mendengar suara tangis salah satu keponakan Nona Benu. Ia menangis dan memanggil almarhum ibunya, “Mama….mama….mana mama…..???” Tangis penuh kerinduan, menusuk-nusuk hati saya, hingga saya bisa merasakan kepedihannya kehilangan sosok ibu yang ia cintai. “Mama…mama…” panggilnya berulang-ulang, sang anak tak mengerti mengapa ia harus merasakan kehilangan ibu di usianya yang terlalu dini. “Ssstttt….sayang….sayangku, ini mama….mama Benu. Mama di sini, sayang…” sayup-sayup saya mendengar suara Nona Benu menenangkan sang balita sambil menggendong dan dibawanya sang anak ke luar, ia takut suara tangisan itu membangunkan saya dan Pak Mel.

Malam itu, air mata saya ikut meleleh bersama tangisan ponakan Nona Benu. Tiba-tiba saya merindukan ibu saya di Jogja, saat saya jauh darinya di bumi Timor. I love you, bu….

Hikmah di Balik Bencana

Dalam hidup saya, setidaknya ada beberapa bencana besar yang telah saya lihat, saya alami dan saya catat. Pertama, gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 akhir. Saat itu memang saya tidak berada di sana, tetapi setidaknya percakapan saya dengan segelintir survivor (penyintas) cukup memberikan gambaran yang mengerikan. Kedua, gempa besar di Yogyakarta, Mei 2006, menewaskan 6000 jiwa dan meluluhlantakkan sebagian besar Bantul. Saat itu, saya benar-benar mengalaminya dan barangkali trauma itu masih ada. Saya dan keluarga sangat bersyukur bahwasanya kami bisa bertahan hidup dan rumah kami tetap kokoh. Ketiga, bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang saat ini sedang terjadi. Komentar sahabat saya tentang gunung tersebut: That’s beautiful but also dangerous.” Saya bilang, ya, seperti itulah manusia juga, tak selamanya yang tampak indah itu tidak bahaya.

 

Dari sekian rentet peristiwa bencana yang saya alami dan temui, saya menjadi sadar ada banyak pelajaran di balik itu semua. Ini hanya versi saya, barangkali Anda memiliki hikmah dan pelajaran lain, saya kira itu sah-sah saja. Baiklah, satu demi satu saya urai berikut:

1. Antara hidup dan mati batasnya sangat tipis, hanya sehembusan nafas. Kita tidak pernah bisa menduga kapan bencana datang, tapi memang kita bisa mengantisipasi dan berlatih untuk bertahan hidup. Saya pernah mengalami kecelakaan motor dan mobil, bahkan terakhir ini sempat membuat saya nyaris lepas nyawa karena roda mobil yang saya tumpangi tiba-tiba lepas dan mobil itu nyaris terjun bebas ke jurang. Jantung berdebar keras, baru berhenti berdebar saat akhirnya saya selamat kembali ke hotel dan menangis hebat seraya meratap:”Tuhan, ternyata batas antara hidup secara fisik dan mati tubuh tipis saja. Terimakasih Kau sadarkan saya untuk menghargai dan mensyukuri setiap detik dalam hidup”. Kata-kata itu berulang setiap saya mengalami bencana.

2. Seringkali penyesalan datang terlambat. Di setiap bencana, saya mencermati banyak survivor dan korban mengalami penyesalan. Menyesal tidak bisa menolong orang-orang yang ia cintai pada saat-saat genting, menyesal tidak mengungkapkan kata-kata perpisahan yang lebih baik. Banyak terjadi unfinished bussiness, karena memang bencana datang seperti maling, tidak diundang dan diharapkan dan tiba-tiba. Saya belajar, sebelum terlambat, selama kita bisa mengucapkan dan mengungkapkan perasaan cinta kepada orang-orang yang kita kasihi, entah itu pasangan, orang tua, anak, sahabat, dan lain-lain, ungkapkan dengan tulus sebelum bencana datang dan menghempaskan kita pada penyesalan. Saat gempa bumi hebat tahun 2006 di Jogja, pertama kali yang saya lakukan adalah datang ke tempat tidur alm. bapak saya (waktu itu masih berada di antara kami) untuk melindungi kepala beliau yang setahun sebelumnya dioperasi karena stroke. Saat itu saya takut sekali kehilangan beliau yang ada dalam keringkihan badan ditambah resiko bahaya gempa, karena saya belum sempat mengucapkan betapa saya sayang padanya. Setelah selamat dan berhasil dievakuasi ke luar rumah, ibu dan saya menciumi wajahnya, mengucap syukur bahwa kami masih diberi waktu untuk bersama lagi. Kini, saat saya berada dalam kondisi bencana letusan gunung, saya hendak mengatakan bahwa saya mengasihi keluarga saya, dan untungnya saya masih punya waktu lebih untuk mengatakan kepada sahabat-sahabat saya hal yang sama, sebelum segala sesuatu yang tak terduga terjadi. (Jelas saya masih berharap bisa bertahan hidup)

3. Masih ada orang bijaksana di antara orang yang tidak bijak menghadapi bencana. Masih ada pahlawan sejati di antara pahlawan-pahlawan kesiangan. Saya masih tidak habis pikir sempat-sempatnya ada beberapa kelompok orang yang memperkeruh suasana dalam situasi bencana, meributkan hal-hal yang tidak esensial, bahkan menjejalkan isu keyakinan dan ras yang sensitif, yang terang-terangan mengusik korban dan tidak solutif. Pilihan ada pada kita sebetulnya, menjadi orang bijak dalam menghadapi bencana (termasuk dalam hal menolong para survivor) atau menjadi orang tidak bijak. Saya kira kedewasaan dibutuhkan dalam hal ini.

4. Belajar membaca tanda alam. Alam begitu bijak menuruti kemauan kita, mengapa kita tidak bisa menghargai alam. Saya tidak mau secara gegabah ikut-ikutan mencap bahwa alam murka atau bencana ini buatan Tuhan. Semuanya ada misteri dan Tuhan memberikan kebijaksanaan buat kita untuk menghargai dan bisa membaca tanda yang diberikan oleh alam dan manusia lainnya. Singkirkan keegoisan kita dan mulai memperhatikan serta menghargai eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya.

 

November, 2010

Mencatat Bencana Alam

prolog: Catatan kecil ini ditulis sesaat sesudah terjadi letusan Merapi, sebuah gunung api yang merupakan salah satu gunung berapi berbahaya di Indonesia (dan di bumi), 5 November 2010. Selama kurun waktu kurang lebih 10 hari, letusan kali ini tercatat paling besar, dengan jarak 10 km ke atas dan awan panas meluncur lebih dari 10 km ke arah bawah.

————————————————————————

Mencatat kejadian penting yang dialami, baik itu peristiwa realita kehidupan seperti kelahiran anggota keluarga, pernikahan, dan kematian, maupun peristiwa alam (baca: bencana alam) ternyata menjadi aktivitas penting dilakukan oleh kita sebagai manusia yang terlibat di dalamnya. Tentu tidak bermaksud untuk menakuti, tetapi memberikan pelajaran berharga untuk anak cucu atau generasi berikutnya. Pelajaran tersebut meliputi membaca tanda-tanda bencana, mengantisipasi, dan meresponnya lebih serius dan bijak.

Kakek saya memang tidak pernah secara langsung bertutur mengenai peristiwa bencana yang ia alami selama hidupnya, karena beliau meninggal jauh sebelum saya lahir. Tetapi dari catatan-catatan yang ia tinggalkan, kami para cucu bisa mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Pasca gempa 2006 lalu di Jogja, sepupu saya menunjukkan catatan kecil sang kakek dan saya dibuat tertegun ketika mata saya membaca catatan beliau yang menggambarkan begitu detail peristiwa gempa dengan kekuatan hampir serupa yang pernah dia alami di Jogja, tahun 1943. Catatan beliau tentu dalam bahasa Jawa yang sangat halus, sedikit bisa saya pahami. Kira-kira berbunyi:” Gempa kekuatan cukup besar terjadi di tahun ini, 1943 masehi. Hampir semua bangunan rumah rubuh, terutama di (kawasan) Kotagede. Anak-anakku selamat, katanya ada beberapa orang meninggal….” Kalau ditelusuri lebih lanjut, pasti banyak ceceran peristiwa penting yang ia catat. Sayang, karena termakan usia, catatan tulisan tangan beliau lebih banyak tidak bisa terbaca, apalagi dalam bahasa kiasan yang seringkali tak kami mengerti.

Kebiasaan kakek saya menular ke almarhum bapak saya. Dalam buku hariannya yang ada beberapa tumpuk yang berhasil kami rawat, bapak saya mencatat peristiwa bencana yang ia alami, baik saat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam perjalanan tugas beliau. Satu catatan penting, mengenai gempa dan tsunami yang melanda Flores pada tahun 1992, ia catat secara detail kronologi dan dampak dari peristiwa tersebut. Begitu juga badai taifun di lautan Jepang maupun Cina Selatan, yang sempat membuat kapalnya (ayah saya dulu seorang pelaut dan bekerja di perusahaan pelayaran) terombang ambing. Dari catatan-catatan tersebut, beliau mengambil hikmahnya dan ketika berada pada situasi yang sama sudah paham apa yang sebaiknya dilakukan.

Catatan-catatan mengenai peristiwa itu banyak membawa manfaat. Dalam bahasa Jawa yang sederhana disebut memunculkan dan menumbuhkan ilmu titen, sebuah perilaku yang waspada mensikapi kalau-kalau peristiwa tersebut terulang kembali. Masalahnya, kebanyakan orang Indonesia atau kultur kebiasaan orang Asia pada umumnya tidak membiasakan diri mencatat secara tertulis, tetapi lebih suka secara lisan, dalam bentuk bertutur kepada generasi berikutnya. Kebiasaan membagikan pengalaman dalam bentuk lisan bertutur ini ada sedikit kelemahan, yaitu pada saat tertentu setelah beberapa generasi menjadi hilang tak berbekas karena arus informasi yang terpapar dan diterima oleh generasi berikutnya sedemikian lebih “ramai” dan padat. Akibatnya, peringatan, pembelajaran, dan tips menanggapi peristiwa bencana atau situasi yang darurat tidak begitu diperhatikan dan bahkan dilupakan sementara bentuk-bentuk bencana mulai beragam.

Sementara itu, kebiasaan mencatat peristiwa sebagai peringatan dan memberikan pelajaran berharga buat generasi berikutnya baru dilakukan oleh sebagian orang. Saya barangkali termasuk dalam golongan yang tidak sangat rajin mencatat peristiwa penting seperti ini, padahal saya sudah diingatkan oleh dosen saya bahwa manajemen pengetahuan adalah kegiatan yang penting untuk melanggengkan ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebencanaan. Secara sederhana, manajemen pengetahuan diibaratkan mencatat data dan peristiwa penting, dikumpulkan, dan dituturkan atau dibuka aksesnya untuk khalayak umum dengan bahasa yang lebih dimengerti karena tidak semua orang memiliki tingkat kecerdasan yang sama.

Saya kira ini penting dilakukan oleh semua orang yang peduli dan ingin memberikan suatu pelajaran berharga buat anak cucunya yang barangkali tercecer tidak bisa diberikan melalui lembaga pendidikan formal. Tidak harus berpendidikan tinggi, seseorang yang telah menjadi orangtua dan pemerhati persoalan sosial dan lingkungan bisa membuat catatan kecil meski sederhana, supaya kelak ketika generasi penerusnya berada pada situasi yang sama, bisa melakukan langkah antisipasi dan tanggap dengan lebih siap. Belajar dari apa yang dilakukan oleh orangtua di negara maju, mengajarkan pada anak mereka sejak dini, baik secara tutur lisan maupun tertulis.

Karena itu, saya mulai mencatat: bahwa hari ini, 5 November2010 dini hari, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY meletus lebih dahsyat dibanding letusan-letusan sejak 1870. 44 orang meninggal, termasuk Mbah Maridjan sang juru kunci, dan 80,000 penduduk mengungsi hingga radius lebih dari 20 km. Pemerintah daerah dan aparat sudah melakukan yang terbaik, memberikan peringatan, bekerjasama dengan LSM dan media. Kepada mereka, saya memberikan apresiasi yang begitu tinggi. Semoga menjadi barometer kesiapsiagaan bencana yang baik di negeri ini. Tuhan melindungi kita semua.

Yogyakarta, 5 November 2010

When You See the Trees…

Illegal logging kembali memakan korban yang tidak sedikit. Baru-baru ini saudara-saudara kita di Wasior Papua Barat yang kena dampaknya, banjir bandang yang disebabkan oleh illegal logging selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin berpuluh tahun, sehingga tidak lagi bisa menampung air hujan dan lari ke area pemukiman.

Saya memang bukan masuk dalam daftar pejuang lingkungan yang menentang secara frontal terhadap kebijakan dan perilaku perangkat negara dan sebagian besar pengusaha yang berhubungan dengan kehutanan yang nyata-nyata justru merusak lingkungan hidup. Tetapi saya sangat terganggu dengan perilaku pengrusakan hutan dan keengganan perusahaan mengembalikan lagi kelestarian hutan pasca eksploitasi mereka terhadap permadani hijau kita. Lebih-lebih praktek illegal logging yang justru di-back up oleh perangkat keamanan (ingat kasus illegal logging di Kalimantan Timur yang menyebabkan Kapolda Kaltim dipaksa mundur karena anak buahnya terbukti mem-back up dan terlibat praktek tersebut). Negeri ini penuh dengan ironik, dan illegal logging adalah salah satu ironik terbesar yang tersaji di depan mata kita. Anda dan saya boleh bersyukur karena kita belum merasakan dampak secara langsung saat ini. Tetapi siapa yang menjamin kalau saya dan Anda bebas dari dampak illegal logging 5-10 tahun mendatang? Siapa tahu apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Wasior dapat mengancam (dan barangkali) sudah mengancam kita, khususnya yang hidup di Pulau Jawa ini.

Di Indonesia, memang tidak sedikit pahlawan penentang illegal logging yang kita temui. Kalau Anda memiliki kesempatan jalan ke pedalaman-pedalaman, Anda akan menemui komunitas adat yang bertahan dan berjuang melawan pengusaha dan kesewenang-wenangan perangkat negara mengelola alam ini, yang nyata-nyata hendak melakukan illegal logging. Dan ironisnya lagi, justru komunitas ini yang ditindas habis, diteror, dan bahkan dibunuh demi kepentingan bisnis pengusaha pemilik modal. Dalam hidup saya, ada beberapa orang yang saya temukan merupakan pahlawan (bagi saya) anti illegal logging.

1. Almarhum Bapak saya tercinta, Bpk. Soemarsono. Beliau memang tidak pernah menggelar demonstrasi anti illegal logging, atau melakukan advokasi menentang kebijakan pemerintah yang pro illegal logging. Tetapi masih teringat dalam memori saya, beliau bercerita bahwa berulangkali diminta oleh sekelompok orang untuk menyelundupkan beberapa gelondong kayu hasil illegal logging dari Kalimantan ke Jawa. Waktu itu ia bekerja di perusahaan pelayaran dan sering sekali ke kalimantan untuk mengangkut barang, di situlah ia dibujuk oleh pengusaha-pengusaha nakal untuk menyelundupkan kayu hasil pembalakan liar. Tetapi sebanyak bujukan itu mampir ke telinganya, sebanyak itu pula ia menolak mentah-mentah karena Bapak paham resiko praktek tersebut dan sangat tidak setuju dengan praktek illegal logging. Katanya,” Selain itu melanggar etika hukum, bapak tidak tega menjadi bagian dari pengrusakan lingkungan.” So, he is my first hero on environmental issue.

2. Para tetua adat dan perempuan-perempuan srikandi di komunitas-komunitas pedalaman yang melarang masuknya investor asing yang menurut mereka tidak ramah lingkungan. Saya seringkali tidak sengaja bertemu orang-orang ini dan mendengarkan falsafah luar biasa tentang bagaimana mereka menghargai alam ini. Dalam salah satu falsafah mereka, “Apabila sekali saja kamu menebang kayu dan tidak ada usaha menanamnya kembali, sama saja kamu membunuh generasi penerus dan menghilangkan sumber air yang ibaratnya adalah ibumu sendiri”

3. Sahabat saya seorang biarawati di Filipina yang berjuang habis-habisan menentang praktek illegal logging yang juga merupakan isu krusial lingkungan hidup di negara tempat ia berdiam. Ia membentuk sekelompok advokat dan pemerhati lingkungan dari kalangan biara yang menentang pembalakan liar dan praktek pertambangan yang telah merusak lingkungan dan menybabkan bencana besar di negeri Aquino ini. Bahkan suatu kali ia pernah ditangkap secara tidak resmi oleh militer dan berulangkali diteror oleh pengusaha nakal. Suatu kali dalam percakapan kami di internet, ia berujar:” Bila suatu saat aku ditakdirkan untuk mati demi perjuangan kami ini, setiap kali engkau melihat tumbuhan dan pohon, maka ingatlah akan diriku dan teruskan perjuanganku, Wi….”

 

Saya dan Anda bisa menjadi pahlawan lingkungan dengan cara kita masing-masing. Saya mempunyai langganan hotel yang selalu saya inapi bila saya ada perjalanan tugas ke Jakarta. Hotel itu salah satu dari kelompok hotel berbintang dan memiliki jaringan internasional. Salah satu mengapa saya suka hotel tersebut karena falsafahnya yang concern dalam pelestarian hutan. Di kamar mandi hotel tersebut, ada sebuah tulisan berbunyi:” Bila Anda tidak mengambil handuk ini untuk kepentingan anda sendiri, sama dengan halnya Anda menolong pelestarian hutan karena 1 helai handuk ini sama dengan 4 pohon. Bila Anda ingin lebih melestarikan pohon-pohon kita, Anda tidak perlu meminta hotel kami mencucinya tiap hari, oleh karena itu Anda bisa menempatkan di gantungan sebagai tanda Anda tidak menghendaki dicuci kembali dan masih akan dipakai. Grup hotel kami mendukung praktek pelestarian hutan.” Oleh karena itu, saya memulai kebiasaan baru apabila saya menginap di hotel, dengan menuliskan pada sehelai kertas, “Tolong handuk saya jangan dicuci lagi, karena masih layak untuk dipakai kembali”. Kalau di rumah kita bisa menggunakan handuk yang sama untuk beberapa hari, mengapa di hotel tidak?

Salah satu yang bisa kita lakukan juga untuk menentang illegal logging dan mendukung pelestarian hutan dan pohon adalah tidak boros dalam menggunakan kayu untuk rumah kita. Ada banyak cara lain sesuai dengan kemampuan Anda dan saya. Sehingga, setiap kali kita melihat pohon hijau yang tumbuh dan menyegarkan mata, ingatlah, bahwa anak cucu kita kelak punya hak yang sama menikmati apa yang kita nikmati sekarang. Go green now….

(Tempel, Oktober 2010. dalam keprihatinan yang dalam terhadap bencana banjir bandang di Wasior)

Letter to Juliette, Menemukan kembali sang Cinta Sejati

Dalam perjalanan dari Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok, sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh memilih menunya), saya memilih menonton film jenis drama, dan akhirnya saya menemukan “Letter to Juliette”. Merasa belum pernah menonton film ini sebelumnya, maka saya memutuskan untuk menonton dari awal.

Bagi Anda yang belum menonton Letter to Juliette, baiklah saya ceritakan singkat saja. Sophie seorang gadis Amerika muda yang bertunangan dengan perintis usaha kuliner mengunjungi Verona, kota romantis di Italia untuk menikmati liburan sekaligus menemani sang tunangan melakukan survey kuliner untuk usahanya. Verona adalah kota asal cerita Romeo dan Juliet, kisah cinta legendaris yang tragis yang sangat terkenal di seantero dunia. Dalam perjalanannya, Sophie tertarik pada apa yang dilakukan oleh segerombolan perempuan muda dan tua, di mana mereka menaruh surat-surat di sebuah dinding sambil mengusap air mata. Di pojok dinding tersebut terletak sebuah patung perempuan muda, dinamai Juliette. Beberapa pasang mengusap-usap dada patung Juliette. Sophie tertegun, dan lebih heran lagi ketika suatu sore ia lewat tempat itu lagi melihat seorang perempuan mengambil surat-surat tersebut dan memasukkannya dalam keranjang. Sophie membuntuti perempuan itu, dan tahulah dia bahwa perempuan tersebut bekerja dalam sebuah komunitas “sekretaris letters to Juliette”. Komunitas yang terdiri dari beberapa perempuan tua dan muda ini tugasnya membaca surat-surat tersebut dan membalas satu demi satu. Karena bosan ditinggal pergi oleh sang tunangan, Sophie memilih bergabung kerja volunteerism ini.

Suatu hari Sophie membaca surat yang dikirimkan pada tahun 1951. Surat itu menceritakan permintaan maaf dan penyesalan seorang perempuan bernama Claire kepada cinta sejatinya (Michael Bertolini) karena harus meninggalkan sang kekasih dalam keadaan tidak menentu. Claire menyesal tidak memberitahukan alasan mengapa ia meninggalkan sang kekasih dan ia berharap “Juliette” dapat memberikan petunjuk dimana sang mantan kekasih itu berada. Sophie terkesan pada surat itu dan membalasnya dengan memberikan kata hiburan bagi perempuan yang ia pikir pasti sudah berusia lanjut. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda mencari sekretaris surat kepada Juliette, mengenalkan dirinya sebagai cucu Claire. Sophie mengaku bahwa dialah yang menjawab surat Claire, dan Charlie (cucu Claire) mengucapkan terimakasih kepada Sophie. Bertemulah mereka bertiga, lalu Sophie mengeluarkan ide mengapa tidak Claire mencari sang mantan mumpung berada di negeri romantis ini. Maka dimulailah perjalanan mencari Michael Bertolini, cinta sejati Claire. Dalam beberapa hari perjalanan tersebut, banyak pertengkaran dan muncul bibit cinta antara Sophie dan Charlie, namun Sophie menyadari tunangannya menunggunya. Pun yang dialami oleh Claire, hampir putus asa ia mencari Michael Bertolini yang ternyata ada ratusan lelaki di negeri ini dengan nama yang sama. Bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa sang mantan cinta sejati sudah meninggal. Dalam keadaan putus asa Claire memutuskan pulang. tetapi justru Charlie yang seolah-olah mendapatkan firasat, dan tanpa mereka duga, di sebuah perkebunan mereka menemukan Michael, mantan kekasih Claire.

Saya tidak akan menceritakan endingnya, tetapi justru pesan dalam film ini yang menarik untuk direnungkan. “Carilah cinta sejatimu dan kisah cinta yang paling indah di hidup ini adalah kisah cinta milikmu sendiri”. Saya dan Anda masing-masing memiliki kisah cinta sejati, apapun endingnya. Selesai menonton film ini, sambil tersenyum menikmati sajian sarapan pagi saya di pesawat anggun itu, saya teringat akan kisah cinta sejati saya beberapa waktu lalu. Meski berakhir dengan tidak ‘happy ending’ karena kami berdua memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan alasan yang sangat prinsipil, tetapi dialah cinta sejati saya. Seseorang yang sanggup menegakkan kepala dan kepercayaan diri saya kembali akibat terpuruk dalam keputusasaan dan air mata. Seseorang yang dengan tulus mengatakan apapun alasannya saya adalah orang yang berharga dalam hidupnya.

Hingga kini surat-surat cinta kami masih saya simpan baik-baik dalam hati. Saya tidak tahu pasti apakah saya mempunyai kesempatan untuk mengirimkan surat cinta kami kepada sang Juliette di Verona sana. Tetapi setidaknya kami menyadari, bahwa bagian dari kisah cinta yang terbaik milik kami berdua adalah saat kami memutuskan untuk saling menghormati kehidupan kami masing-masing yang tak bisa bersama, sebagai sahabat, yang justru rasanya menjadi lebih dalam dan perasaan kami terhubungkan melampaui ruang dan waktu.

Juliette, tunggu saya mengirimkan surat cinta sejati saya……

 

4 September 2010,

terimakasih Emirat entertainment….