Kecil Itu (Bisa) Indah

Image

Rumah saya, yang sering saya sebut si mungil dan sekarang saya panggil “my little angel”, memang kecil. Hanya 42 meter persegi. Konon, kata seorang teman arsitek yang handal, hanya bisa ditempati paling banter 3 orang saja. Ya, saya akui memang kecil, apalagi untuk ukuran keluarga besar saya yang memang besar-besar, baik kuantitas maupun kualitas (;-)). Memang saya desain kecil dulu, meskipun tanahnya sebenarnya lebih dari cukup untuk membangun rumah luas, 250 meter persegi. Untuk ukuran area urban, luas tersebut tergolong lumayan untuk membangun rumah dengan 3 kamar tidur, bahkan lebih bila dibuat bertingkat. Tetapi sejak awal saya tidak begitu gemar menempati rumah yang menghabiskan tanah. Dengan kata lain, paling tidak ada tamannya dan kebun, sehingga saya bisa menanam berbagai tanaman perindang.

Konsep saya sederhana sekali untuk my little angel: kembali ke nuansa alam. Saya beruntung, penghuninya sekarang ini – Mas Burhan, teman dari kakak saya- merawatnya dengan sangat baik. Selain pecinta kebersihan dan kerapian – bahkan segala sesuatu tertata dengan rapi di dalam rumah- beliau juga pecinta tanaman dan hewan. Sesuai dengan profesinya sebagai ahli biologi dan lingkungan. Alhasil, my little angel didandani habis-habisan dengan berbagai tanaman, terutama teratai dengan berbagai warna dan jenis. Ini yang membuat saya semakin menyukai my little angel. Setidaknya ada petak 5 kolam tersebar di kebun my little angel, yang menjadi tempat berkembangnya teratai dan diisi ikan-ikan, kodok (yang tiba-tiba hijrah ke tempat baru ini) dan kura-kura peliharaan Mas Burhan. Kolam yang sederhana, tetapi apik dan cantik, bisa dinikmati dari dalam rumah. Ini yang saya suka, melamun di pinggir kolam dan menatap ikan, tanaman air, dan pakai acara berlama-lama. Entah untuk merenungi nasib maupun mencari ide solusi masalah yang sedang saya hadapi dan ide menulis.

Suatu ketika, foto little angel saya jadikan profile picture di bbm. Beberapa menit kemudian saya menerima pesan dari seorang kawan yang bekerja sebagai advokat hukum dan LSM. Pesannya singkat:

“Rumahmu, jeng? Yang di Prambanan?”

“Iya, rumah saya, bang. Yang kecil itu….”

“Apik, khas rumah seorang aktivis LSM…,”

“Ah mosok, sih? Padahal seleraku sama lho dari dulu, kembali ke alam. Kebetulan memang penghuninya sekarang suka tanaman dan aktivis peneliti lingkungan.”

“Iya, apik, sederhana, dan berkarakter.”

Rumah seorang aktivis LSM, julukan baru buat my little angel. Sebenarnya ini hanya soal pencitraan, bahwa kebanyakan aktivis LSM di kota saya menaruh idealismenya di rumah yang mereka buat, meskipun tidak semua. Saya juga tidak sertamerta mengklaim diri saya sebagai aktivis LSM sebenarnya. Tetapi toh tidak begitu saya pedulikan anggapan orang dan rekan sejawat, sehingga mungkin sebuah kebetulan belaka bila selera saya terhadap model rumah seperti kebanyakan beberapa aktivis LSM.

Rata-rata mereka menaruh visi dalam rumahnya, tergantung passion dan concern issue mereka. Bagi seorang aktivis isu tanggap bencana, akan menerapkan prinsip-prinsip pengurangan resiko bencana (PRB), seperti salah satu kakak saya ketika membangun rumah. Agak ribet, tetapi setiap jengkal rumahnya ada filosofi ke-PRB-an.  Seorang aktivis isu seni dan budaya, tentu rumahnya bervisi seni, segala sesuatu interior maupun desainnya ada nilai seninya.

Nah, untuk saya yang bekerja di isu kesehatan, air dan gender, si little angel saya konsep dengan visi menentramkan hati dan menghilangkan kepenatan tubuh setelah bekerja. Saya tidak ingin menggunakan AC, maka jendela pun dibuat lebar dan ada ventilasi yang cukup ditutup dengan kasa. Tujuannya supaya tidak dimasuki nyamuk dan terutama : ular, binatang yang membuat saya paranoid. Pilihan tembok bata exposed selain hemat biaya semen, juga memberikan kesan hawa sejuk, dengan langit-langit yang tinggi supaya energy udara dan sinar bisa bergerak dan sirkulasinya lancar. Ruang tengah yang sekaligus pantry kecil (lebih tepatnya adalah ruang multi fungsi) berbatasan langsung dengan teras belakang, dibatasi oleh pintu lebar. Dari teras belakang, bisa melihat kebun jati di sekitarnya dan beberapa kolam ikan dan teratai yang dibuat mas Burhan. Kamar mandi kecil pun juga dikonsep hemat air, tidak menggunakan bak tetapi shower yang bisa diatur daya semprotnya. Ini akibat pekerjaan saya berurusan dengan orang-orang yang berkekurangan air, sehingga agak merasa bersalah bila menghabiskan terlalu banyak air untuk kebutuhan rumah.

ImageTempat favorit saya adalah ruang sudut di pintu masuk, dimana diletakkan 2 kursi tamu kecil. Dari sudut ini, bisa menikmati kolam ikan di depan kamar (antara pagar dan kamar) apalagi bila jendela dibuka lebar-lebar. Saya baru bisa membayangkan duduk di sudut ini, ngobrol dengan seseorang tentang hidup, sambil memandang kolam teratai dan ikan. Dari sudut ini pula bisa menikmati pemandangan hutan jati di depan rumah, selain dari teras belakang. Yang tak kalah menariknya, bahkan nongkrong di kamar mandi pun bisa menikmati hijau daun jati, karena tetangga sebelah menanam puluhan pohon jati di kebunnya. Arsitek saya yang membantu mendesain little angel memang cerdas, ia memasang jendela ramping di kamar mandi. Tujuannya selain agar tidak sumpek dan pencahayaan cukup, kamar mandi bahkan bisa menjadi tempat favorit untuk mencari ide.

Well, impian saya terwujud: dari segala sudut dapat menikmati segarnya udara, hijaunya alam, dan merdunya suara burung dan tegur sapa para tetangga yang ramah (kecuali pak dukuhnya yang mata duitan dan selalu cari masalah).  Seperti bapak dan ibu, saya paling suka suasana kampung dengan kekeluargaan yang akrab, tidak bertempat tinggal di kompleks perumahan yang berhimpit dan sempit.  Sekarang saya sedang mencari ide membuat perabot yang ‘nyeni’ namun praktis dan multifungsi. Tentunya karena menyesuaikan mungilnya my little angel. Tempat tidur yang sekaligus menjadi lemari pakaian/rak, meja yang ada laci untuk menyimpan barang dan tempat memamerkan koleksi buku saya yang bejibun, mudah-mudahan bisa memperlengkapi inovasi-inovasi di rumah kecil ini. Termasuk rak geser yang bisa menjadi meja untuk masak dan bisa dimasukkan ke tempat cuci piring di pantry, yang membuat teman mas Burhan sempat geleng-geleng kepala kala melihatnya.

Kata-kata teman-teman saya di media sosial, rumah saya kecil tetapi apik. Terimakasih Pipin dan Mas Burhan yang membuatnya semakin cantik. Tak lupa para tukang yang mengerjakannya menjadi menarik.

ImageImage

I am Not Married….Yet

Tell us the truth. Why are you not married?” tanya seorang siswi kepada Bu Guru Katherine Watson dalam sebuah acara pertemuan rahasia di Wessetley College.

 “I am not married yet because I am not married! There is no reason for that ! Dan saya belum merencanakannya sampai sekarang. Apakah ini masalah?” jawab Bu Guru Katherine dengan tenang.

Dialog di atas adalah sepenggal scene dalam Mona Lisa Smile yang saya tonton kembali setelah sekian lama terlewatkan oleh saya, film yang dibuat tahun 2003. Isu yang diusungnya sederhana, soal stereotype terhadap perempuan yang dibentuk oleh konstruksi sosial Amerika di era tahun 1950. Perempuan membelenggu dirinya sendiri, bahkan dipertegas oleh institusi pendidikan yang seharusnya memberikan pencerahan dan perubahan. Bu Guru Katherine Watson (diperankan oleh artis kondang Julia Roberts) datang untuk membawa perubahan. Nyatanya dia sulit menembus dinding konstruksi sosial terhadap perempuan tersebut, namun lambat laun para murid yang kesemuanya perempuan menyadari makna baru: bahwa mereka bisa mendefinisikan hidupnya sendiri dengan kacamata mereka sendiri. Dan yang lebih penting, mereka bisa berbahagia, baik dengan berkeluarga dan terikat pernikahan maupun tidak. Bu Dosen juga menawarkan konsep baru di kala itu, pernikahan jangan menjadi kendala bagi perempuan untuk berkarier. “You can do both,” ujarnya berkali-kali untuk menyemangati siswinya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Pertanyaan kepada Katherine oleh para mahasiswinya sering mampir di telinga saya. Tak terhitung jumlahnya, jari saya pun tak cukup menghitungnya. Tudingan terhadap bu dosen bahwa ia menentang pernikahan juga sering ditudingkan kepada saya, tanpa ampun. Kadang lebih sadis lagi: dengan embel-embel “Jangan terlalu memilih. Jangan cari laki-laki yang sempurna”. Well, saya tidak mencari laki-laki yang sempurna. Menjelaskannya dengan panjang lebar pun akhirnya saya stop, karena fakta menunjukkan bahwa penjelasan saya kadang tidak dipahami. Akhirnya jawaban saya juga singkat seperti Katherine menjawab : Saya belum menikah karena ya….memang belum menikah saja. Meski saya sudah minta sama Tuhan, kalau belum diijinkan, saya mau bilang apa?

Tudingan kepada Katherine yang dianggap terlalu sibuk memikirkan pekerjaan juga mampir di diri saya. Lucu juga, karena ini sudah tahun 2012, sementara film itu berlatar belakang tahun 1950an. Jadi 60 tahun yang lalu tudingan itu sudah ada dan herannya sekarang juga masih dimunculkan. Bahwa perempuan yang belum dan tidak menikah akan menyibukkan dirinya dalam pekerjaan sebagai pelampiasan. Lagi-lagi pilihan profesi dan pekerjaan menjadi kambing hitam. Tidak dipandang sebagai pilihan hidup dan ekspresi hidup bahkan bagi perempuan itu sendiri untuk menyatakan identitasnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Saya tidak akan membela diri melalui tulisan ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa perempuan berhak untuk berbahagia tanpa diadili macam-macam soal statusnya: menikah, tidak menikah, belum ingin menikah, janda, baik janda karena ditinggal maupun mati. Hentikan memandang negatif terhadap perempuan, entah anda adalah laki-laki maupun Anda sebagai sesama perempuan juga. Juga hentikan memandang negatif terhadap seseorang yang memilih transgender.

Akhir kata, sahabat saya yang baik mengatakan dengan bijak : “Bukan seorang suami (pasangan) yang membuat kamu bahagia, tetapi saat kau menikmati dan mensyukuri hidupmu yang terberkati apa adanya, itulah kebahagiaanmu. Dengan atau tanpa suami/pasangan. Jadi, jangan khawatir. Pun kelak bila kau memutuskan untuk menikah karena kesadaranmu, be happy for that.” Apakah Anda ingin hidup Anda seperti misteri senyum Sang Mona Lisa, yang ambigu tampak bahagia namun dipaksakan? Pilihannya terserah Anda.

Yogyakarta, September 2012

Si Mungil Punya Teman

Bagi Anda yang pernah ingat cerita saya tentang Si Mungil di tengah kebun jati, pasti tahu apa yang saya maksud. Ya, sebentuk impian saya yang terletak di area kebun jati….dulunya. Apa kabarnya? Beberapa teman dekat selalu menanyakan tentang dia, dan selalu saya jawab baik-baik saja. Sedang dalam tahap penyelesaian. Memang, si mungil nasibnya tidak seberuntung dengan kawan lainnya yang sesegera mungkin digarap selesai oleh ‘orang tuanya’ alias pemiliknya. Si Mungil milik saya harus bersabar menunggu beberapa tahun hingga tampak (setengah) cantik…..menurut ukuran saya. Hehehe

 

Kini si mungil punya teman baru.  Dengan pemandangan baru. Dari letaknya tidak lagi bisa melihat gunung Merapi anggun langsung, namun sudah ada yang menghalangi si mungil. Saya beri saja namanya Giant. Giant memang besar, tinggi, karena ia punya 3 lantai. Terbuat dari bahan berkualitas, digarap oleh lebih banyak orang dengan maraton. Mudah-mudahan si Mungil sebagai my little dreamhouse tidak minder, tetap bangga karena dia lahir dengan segala jerih payah dan anugerah Tuhan.

 

Pula si mungil punya penghuni baru untuk sementara. Tidak, pemiliknya tetap sama yaitu aku. Hanya saja penghuninya yang bukan aku untuk 1-2 tahun ke depan. Maafkan aku, Mungil, karena sesuatu hal aku belum bisa bersama dirimu. Ibuku belum ditinggal sendiri, ia masih butuh ditemani. Tapi aku percaya, teman barumu akan merawatmu dengan baik. Engkau sudah dipercantik meski belum sempurna. Tidak apa-apa kan? Karena untuk mempercantikmu ternyata membutuhkan proses lama, juga harus mengumpulkan penny demi penny yang harus dibagi-bagi untuk keperluan lain juga. Semoga engkau masih bersabar, dan aku bangga padamu.

(catatan akhir Februari 2012)

Image

Mas Burhan adalah teman si Mungil sekarang

Image

Kamar mandi si Mungil, hasil kolaborasi ide dan desain sang arsitek

Image

Sisa Hutan jati di depan si Mungil.

Image

Teras belakang si Mungil

Image

Multifunction room si mungil, pantry + ruang makan + ruang santai

 

Rateng Garo dan misteri

Tak perlu banyak bercakap, saya sungguh terpana dengan tempat ini. Rateng Garo, adalah kampung di tepi pantai (atau pantai yang dihiasi kampung adat ya) selatan di pulau Sumba, NTT. Tepatnya di kabupaten Sumba Barat Daya.

Tempat ini menyimpan misteri yang sampai sekarang pun saya belum bisa menebak. Suatu saat akan saya jelajahi misteri budaya di Rateng Garo.
Silahkan menikmati keindahannya dari foto-foto ini.kompleks kubur batu di sekitar pantai

anak-anak pantai rateng garo mempunyai taman bermain begitu indah

Anggota penghuni pantai yang masih senang, belum terancam kerusakan

"Komodo" di Rateng Garo

Kampung Rateng Garo yang menghadap laut lepas. Sekumpulan rumah adat dan menyimpan kekayaan misteri

Langit biru memperkuat keindahan Rateng Garo

Senja di Rateng Garo menutup hari indah, yang langsung diguyur hujan deras setelahnya

Orang katrok dari Jawa yang terbengong-bengong melihat keajaiban Tuhan di tempat ini

Universitas Kehidupan

Salah satu tokoh budayawan di kota tercinta saya, Bakdi Soemanto, yang juga seorang guru besar UGM, menyebutkan suatu istilah Universitas Kehidupan, saat diwawancarai oleh Kompas beberapa Minggu lalu. Usianya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, di atas 70an tahun, pastinya sudah khatam makan manis pahitnya kehidupan. Namun ia mengaku masih harus belajar, pada sebuah universitas kehidupan, yang mana ia sebut dosen-dosennya adalah orang-orang sederhana yang bekerja di rumahnya.

Sepintas saya membayangkan bagaimana ia bergaul dengan dosen-dosen di universitas kehidupannya itu. Waktu SD dulu saya beberapa kali ke rumah Pak Bakdi, karena salah satu anaknya adalah teman sekelas saya. Rumahnya asri, sederhana, dan saya suka. Saya tidak tahu apakah rumah tempat ia belajar yang ia sebut salah satu bagian dari universitas kehidupannya itu sudah dirombak, atau, apakah orang-orang yang bekerja dengannya di rumah itu masih sama waktu saya lihat lebih dari 20 tahun lalu. Satu hal yang membuat saya merenung setelah membaca ulasan wawancara dengan Pak Bakdi, kalau ia yang setua itu saja merasa masih harus belajar di universitas kehidupan, apalagi saya.

Memang tidak sengaja dan kebetulan saja, jauh sebelumnya saya mencantumkan di profil fesbuk saya, bahwa saya berguru di universitas kehidupan, university of life yang saya sebut bila Anda menengok profil info di halaman fesbuk saya. Saya hanya merasa, ujian hidup paling menantang dan berat adalah di sebuah sekolah yang saya sebut juga universitas kehidupan itu. Bangku kuliah, diskusi dengan dosen, diktat-diktat dengan berbagai teori dan bahasa bagi saya belum ada apa-apanya dengan universitas kehidupan. Bahkan ujian yang berpuluh kali dilalui dengan perasaan deg-deg’an juga tidak seberapa sulit bila dibandingkan dengan kenyataan ujian di universitas kehidupan ini. Saya lebih memilih deg-degan menghadapi ujian pendadaran atau ujian akhir dihadapan lebih dari 4 dosen daripada menghadapi 1 realita yang pahit. Tetapi begitulah, suka tidak suka, mau tidak mau, semua manusia yang mau lulus di universitas kehidupan harus melaluinya dan mengalaminya.

Bila di universitas formal kita bisa menempuh jalur instan dengan berbagai cara, tetapi tidak di universitas kehidupan. Setidaknya, bila kita terbiasa dan membiasakan diri menempuh jalur instan, pasti ada resiko yang tidak kalah pahitnya di belakang hari. Seorang dosen pasca sarjana yang juga pembimbing tesis saya mempunyai filosofi yang bagus tentang hal ini. “Mbak Dewi, mengapa kami para dosen mengharuskan mahasiswa mandiri dalam mengerjakan tugasnya, dan mengharuskan kalian menempuh berbagai tahapan menuju kelulusan, pasti ada maksudnya. Karena tidak ada yang instan dalam hidup ini, kalaupun ada, pasti hasilnya tidak baik. Yang kami tekankan di sini bukan sekedar memberikan berbagai teori dan meluluskan mahasiswa, tetapi ada yang lebih dari itu, yaitu pelajaran hidup memperhatikan proses dan memetik pelajaran dari menempuh proses itu sendiri. Di situlah kita teruji, untuk persiapan masuk pada universitas kehidupan, khususnya dalam menjalankan profesi,” katanya bijak. sehingga selama dalam perjalanan pulang dari bimbingan tesis hari itu saya berpikir banyak “kuliah istimewa” yang saya dapatkan. Baru sekarang saya mengerti maksud kuliah tersebut.

Masing-masing orang memiliki jalur di universitas kehidupannya, yang unik, tidak akan sama satu sama lain. Anda dan saya punya universitas kehidupan, dan saya melihat tidak ada yang kalah dan menang. Yang ada hanya lulus atau tidak lulus. Yang tidak lulus akan mengambil jalan pintas dan instan, dan yang lulus akan memetik buah hasilnya, meskipun harus tertatih-tatih dan penuh air mata. Semuanya ada pilihan, tinggal berani ambil resiko atau tidak.

Selamat menempuh universitas kehidupan dan nikmati saja.

Januari 2012, di Tempel

Ada Harganya?

Setiap orang ingin dihargai sebagai manusia adanya. Dihargai sebagai orang tua, sebagai anak, saudara, sebagai teman, sebagai pemimpin , sebagai anak buah dan sebagainya. Tidak ada orang yang ingin tidak dihargai. Ibu Teresa seorang biarawati legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat orang terpinggirkan bahkan mengungkapkan fakta ini dengan sangat baik: kemiskinan yang paling menyedihkan di muka bumi ini bukan soal tidak punya uang atau tidak punya makanan, tetapi perasaan tidak dicintai dan tidak dihargai sama sekali oleh sesamanya.

Kita ingin dihargai, itu jelas. Seremeh apapun peran kita dalam kehidupan ini. Meskipun kita bukan dikategorikan sebagai orang penting, berpendidikan, dan berkelas sosial tinggi (sesuatu yang menurut saya konyol), semua orang membutuhkan perasaan dihargai. Bagaimanapun situasinya, apapun caranya. Pun perasaan ini sangat wajar dan manusiawi, oleh karena itu Sang Pencipta Hidup melalui nabi-nabiNya meyakinkan pada manusia bahwa Ia menghargai setiap individu yang telah Ia ciptakan. Bayangkan, kalau Ia sendiri pun bisa menghargai kehidupan SETIAP manusia, mengapa kita yang tidak ada apa-apanya justru arogan merasa paling berhak untuk tidak menghargai keberadaan orang lain? Apalagi orang lain yang ia anggap berbeda.

Pertanyaan ini mengganggu saya beberapa saat belakangan. Terlepas dari peristiwa yang membuat saya terluka, merasa tidak dihargai sebagai teman dan manusia yang sedang berupaya berkarya, saya seperti ditampar oleh teguran. Ini menjadi pertanyaan yang harus saya kembalikan ke diri sendiri, selama ini apakah saya sudah belajar menghargai orang lain? Apapun keadaan orang itu. Apakah saya sudah mengatakan MAAF, TERIMAKASIH, dan TOLONG  sebagai salah satu wujud penghargaan saya terhadap orang tersebut.

Soal menghargai keberadaan orang lain memang tidak semudah yang diucapkan. Urusannya bisa complicated, kalau sudah berkaitan dengan relasi antar manusia. Memutuskan apakah masih tetap akan berhubungan baik dengan orang tersebut, membutuhkan interaksi timbal balik yang sepadan. Bila kita sudah mencoba menghargai dengan upaya keras, tetapi kalau yang bersangkutan tetap keras hati menolak penghargaan yang sudah kita berikan, apa mau dikata? Anggap saja orang tersebut punya urusan masa lalu yang belum selesai untuk belajar penghargaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Singkat kata, saya cuma mau bilang: arogansi, keras hati, tinggi hati, ada dampaknya pada sikap penghargaan dan penerimaan terhadap diri sendiri dan keberadaan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati yang musti dipupuk setiap hari. Kalau Tuhan melalui caraNya mengajarkan bagaimana menghargai orang lain sebagaimana adanya, maka tidak adil bila kita buru-buru mengambil sikap terhadap orang lain: “Lu udah gak gue anggep!” Pasti Tuhan pun sedih……..

Tempel, di akhir minggu bulan November

Hidden Passion

Galeri ini berisi 12 foto.

Sewaktu SMA kelas 3, saya berada di ujung kebingungan untuk memilih jurusan kuliah saya berikutnya, antara tetap ilmu fisik atau ilmu sosial. Sejujurnya saya senang program studi yang dikombinasikan dengan seni. Oleh karena itu, ketika sekolah saya memberikan kesempatan psikotes uji minat dan bakat, saya mencantumkan minat: Arsitektur dan Ilmu Komunikasi. Saya senang, psikolog yang […]