25 Mei 2008

Ibuku yang tercinta,

Hari ini adalah hari ulang tahun ibu.

Hingga surat ini selesai kutulis, aku belum menemukan ide apapun

Untuk memberi kado ulang tahun

Kuputuskan untuk menulis surat ini terlebih dahulu

Karena keahlianku hanya menulis yang kupakai untuk bekerja

Ibuku,

Aku mengerti bahwa di balik kebahagiaan kita merayakan ulang tahun hari ini

Ada sebersit rasa sedih di hati

Untuk pertama kalinya bapak tidak menemani ibu secara fisik

Setelah sekian puluh kali kita selalu merayakan bersama

Dengan kehadiran bapak di tengah-tengah kita

Tetapi percayalah ibuku,

Bapak ikut berpesta bersama kita dengan cara yang lebih baik

Lebih abadi dalam dunianya yang bahagia

Ia turut bersenang dan bersyukur yang hanya dapat kita rasakan

Ibu tidak sendiri

Ibuku yang tercinta,

Selamat ulang tahun

Lima puluh delapan tentu bukan waktu yang pendek tuk nikmati hidup

Setiap detik ada pelajaran berharga

Bagiku, engkau perempuan yang paling hebat di dunia ini

Bagi kami anak-anakmu, engkau tak pernah tergantikan oleh siapapun

Betapapun kekuranganmu adalah sukacita kami

Kelebihanmu adalah berkat luar biasa bagi kami

Ibuku,

Aku kan menemanimu

Untuk menikmati masa senjamu

Mensyukuri hari-harimu

Entah sampai kapan, tapi aku akan menemanimu

Selamat ulang tahun, ibu

Minggu Pagi di Bethesda

Lelaki menjelang senja itu berbaring lemah di kamar yang sempit di sebuah rumah sakit bernama Bethesda. Aku, pakde dan budeku bergantian menyambut tangan kirinya yang lemah ingin menyalami kami. Tiba-tiba rasa terkesiap mampir di benakku, tak kusangka lelaki ini bisa didera penyakit yang tak asing kudengar, stroke. Bagian tubuhnya sebelah kanan tak bisa digerakkan, dan bicara pun tampak sulit ia lakukan.

Kami memang tidak dekat akhir-akhir ini. Tetapi lelaki itu pernah menjadi bagian dari kisah masa kecilku. Kalau anda ingin mengetahui bagaimana aku bisa memainkan beberapa alat musik, sebut saja organ gereja, keyboard, piano segala yang berhubungan dengan tuts, lelaki inilah yang mengenalkanku pada dunia ’tuts’. Aku berumur 10 tahun waktu itu. Keinginan bermain organ begitu menggebu dalam benakku, sering terbengong-bengong melihat orang bermain organ. Bagiku, alat ini begitu ajaib karena semua alat tubuh terutama kaki tangan kiri kanan harus maju berpartisipasi dalam memainkan alat musik ini. Bapak tercinta berjanji membelikannya, asal aku berjanji akan belajar bermain dengan sungguh-sungguh. Semakin komplet kebahagiaanku waktu itu, tak hanya membelikan organ tetapi ia mendatangkan seorang guru les privat organ yang tak lain dan tak bukan adalah lelaki penderita stroke itu, kebetulan kami sama-sama jemaat gereja yang sama. 1 tahun belajar dalam besutannya – dia tidak galak, sabar sekali malah- akhirnya aku diperbolehkan main organ gereja sungguhan di gereja kami. Dia tersenyum memberikan semangat di tengah-tengah rasa grogiku yang hebat waktu pertama kali aku main organ di depan publik. Kalau tidak salah ingat….lagu itu adalah ”Malam Kudus”….

Sejak saat itu hingga kini, aku adalah pemain organ di gerejaku….tak terasa tahun ini adalah tahun yang ke- 20.

Kalau anda ingin mengetahui bagaimana aku bisa mahir mengemudikan berbagai jenis mobil (kecuali mobil mewah, bukan spesialisasiku), lelaki ini pula yang mengajariku pertama kalinya. Bukan perkara mudah mengajari anak yang saat itu baru saja lulus SMA mengemudi kendaraan roda empat di tengah-tengah kebisingan kota. Kata-kata ’nekat’ sering kami lontarkan sambil tertawa. Setiap hari selama 2 minggu kami habiskan bensin mobil hanya untuk ”Belajar”, namun kami tak pernah memasang plakat ”Belajar” di bagian belakang mobil. Maka tak heran, kami seringkali diumpat oleh pengendara lain karena kami terlalu pelan, atau masih suka-suka salah. Hasilnya, kini beberapa kota di Indonesia telah kujelajahi dengan mengendarai, Timor Leste pun tak luput meski hanya sebentar.

Kini lelaki yang kupandang sebagai guru itu terbaring lemah. Dia tidak bisa main organ dan menyetir lagi, keahlian yang membuatnya bersemangat hidup. Aku sedih jujur saja. Ingin kuucapkan maaf karena aku tidak bisa membalas kebaikannya. Aku tidak bisa seperti Yesus yang bisa membuat keajaiban dan mukjizat menyembuhkan orang lumpuh di kolam Bethesda 2000 tahun lalu, meski tempat ini memiliki kesamaan nama. Aku hanya bisa melantunkan doa mengharap kesembuhan buat engkau, pak, karena hanya itu yang bisa kulakukan.

Kisahku ini kututup karena aku harus bersiap-siap ke gereja. Sore ini tugasku mengiringi kebaktian dengan organ tua milik gereja. Aku akan mengingat engkau, pak, dalam setiap tuts yang kupencet, sama seperti 21 tahun yang lalu kau kenalkan aku bagaimana memainkan tuts yang baik. Lalu jadilah musik yang indah……musik kehidupan……

(Tempel, 18 Mei 2008)

Ibu Mertua

Masih dengan nafas ‘menggeh-menggeh’ sepulang dari sekolah pagi ini, kubuka Y!M-ku untuk menyapa teman dan sahabat yang siapa tahu online pagi itu. Beberapa menit menunggu sang pacar, hmm….katanya mau ngajak ngobrol eh yang bersangkutan malah sudah cabut. Kuputuskan ber-say hello dengan sahabat.

Kata-kata pertama menjawab saying helloku adalah: “Aku bete dari pagi tadi…..masalah keluarga yang berawal dari hal-hal kecil…!!!” Bisa ditebak, mengalirlah cerita-cerita ke-bete-an dia yang sebenarnya berawal dari cara pola asuh yang berbeda antara dia dan sang suami. Intinya, saudara-saudara……dia agak protes dengan intervensi mertua mengenai cara dia dan sang suami membiasakan anak mereka.

Dengan (sok) bijak aku pun mulai berkomentar. “Itu hal biasa terjadi meski aku belum mengalaminya, teman. Maka tidak heran ada anekdot dengan pertanyaan seperti ini: Siapakah wanita paling berbahagia di muka bumi ini sepanjang abad ? dan jawabnya adalah HAWA karena dia tidak punya ibu mertua! “

Lalu kami pun tertawa terbahak-bahak…tentu dengan menunjukkan emoticon saja, namanya juga chatting dengan Y!M. “Ya….ya….betul sekali. Untungnya suamiku lebih banyak membela aku karena dia punya banyak referensi pengasuhan anak.

Di akhir perbincangan kami tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk bertanya kepada kekasihku, dan hampir saja aku menuliskan ‘obat’ untuk sang kekasih. ” Ibumu tipe yang bagaimana, sayang ?” Tapi ah, aku urungkan niatku. Terlalu dini menanyakannya. Lagian aku kan masih dalam rangka bete karena tidak jadi chatting hari ini ???

(Tempel, 17 Mei, mau siang)

Timor Leste III: Takjub di balik Keindahan Asumanu

Asumanu yang berarti asu = anjing, manu = ayam, adalah desa yang kami kunjungi selanjutnya. Kalau anda membayangkan negeri di atas awan, nah barangkali desa ini bisa disebut sebagai ‘negeri di atas awan’ itu. Untuk menuju ke sana, kami harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam. Jangan pula dibayangkan seperti pergi ke Puncak. 3 jam perjalanan dari Dili itu artinya 45 menit pertama perjalanan dengan kondisi jalan aspal dan naik, 30 menit selanjutnya menanjak dengan jurang sangat dalam. Sisanya adalah upaya keras mobil double cabin untuk ‘menapak’ jalan terjal, tikungan berbahaya, dan longsoran tanah di mana-mana. Karena tidak mau pusing melihat jalannya yang super bikin deg-degan (beruntung cuaca sedang cerah, konon katanya Sil kalau hujan lebih mengerikan lagi), maka sebagai kompensasi saya asyik mengambil foto pemandangan yang indah dari puncak bukit dengan kamera prosumer kesayangan. Kadang pengambilan gambar tidak berjalan mulus karena tubuh ikut bergoyang-goyang mengikuti irama kendaraan yang berjuang mati-matian mendaki jalan. Tetapi daripada stress, melihat kanan kiri menjadi keasyikan tersendiri buat saya.

Sesampainya di puncak salah satu bukit di mana desa Asumanu berada, akhirnya berhentilah kami. Terdapat sebuah rumah sangat sederhana. Saya kira itu adalah kandang, ternyata tidak. Rumah itu meski sederhana ternyata mengandung makna yang dalam bagi masyarakat Asumanu. Ketika kami masuk, di dalamnya ada sebuah ruang dimana Pos Obat Desa berada. Dari timbangan (yang membuat saya shock, bukan karena bentuknya tetapi alat tunjuknya ketika saya mencoba menaikinya) hingga obat-obat tersedia.

Di sebelah ruangan POD, ada sebuah ruangan dimana barang-barang kebutuhan sehari-hari tersedia, beberapa kantor beras, minyak goreng, mie, dan lain-lain. Orang-orang Asumanu menyebutnya sebagai kios.

Rumah ini mengingatkan Ate Mariper (tamu yang saya temani) pada jaman Yesus lahir di Yerusalem. Terbuat dari batu yang dipulas seadanya beratapkan rumbai. “Saya jadi merasakan seperti hidup di jaman Yesus,” kata Ate. Lalu saya timpali,” Ya, bedanya hanya sekarang sudah ada POD dan kiosnya”.

Perjalanan pun dilanjutkan ke tempat pertemuan. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan disambut semeriah ini. Tidak hanya pengalungan Ta’is. Tetapi juga tari-tarian anak-anak kecil diiringi musik tradisional yang dimainkan oleh para ibu menyambut kami. Tidak hanya itu saja, Ketua Adat pun melakukan ritual penyambutan hingga kami merasa seperti layaknya pejabat tinggi. Kukira ritual sudah selesai, tetapi tiba-tiba disuruh berdiri dan ternyata ada upacara lain. Meski saya seratus persen tidak mengerti bahasa mereka, saya manut saja dibisiki oleh suster. Dari jauh datanglah beberapa orang perempuan dan laki-laki membawa sesuatu. Sirih pinang pun terhidang di meja dan mau tidak mau kami harus makan. Karena sudah terbiasa sebelumnya sudah pernah, maka dengan enteng saya ambil sirih pinang dan mulai makan. Ate Mariper tidak ketinggalan ingin mencoba meski ini kali pertamanya dia makan. Beberapa detik kemudian, kami sibuk meludah di luar. Sirih pinang menjadi pertanda awal mula persahabatan kami dengan komunitas ini, dan wajah mereka tampak senang melihat kami makan sirih pinang itu. Dan ritual penyambutan pun usai.

Kini waktu kami untuk berdiskusi. Dari diskusi panjang berjam-jam itu, ternyata, rumah rikiplik yang kami kunjungi tadi adalah tempat paling berharga buat mereka selain kapel. POD dan kios menjadi pertanda peradaban mereka. Konon, sebelum ada POD dan kios, masyarakat Asumanu adalah masyarakat yang tampak tak berpengharapan. Jauh dari akses kesehatan, bidan dan dokter CHC (semacam Puskesmas di tingkat kecamatan) enggan melirik saking jauhnya, dan jauh dari akses pemenuhan kebutuhan pokok. Manalagi tidak ada transportasi umum menuju desa itu. Sementara mereka membutuhkan transportasi untuk menjajakan hasil bumi kopi mereka yang berlimpah.

Kami harus menelan ludah ketika mendengar jawaban para ibu terhadap pertanyaan Ate, sebelum ada pos obat desa sederhana, apa yang mereka lakukan kalau anak sakit. Jawabannya lugu dan polos, ”Kami membawa anak kami, kami gendong dia, dan kami berjalan kaki turun ke CHC distrik terdekat.” ” Jalan kaki? Berapa jauh?” tanya Ate dengan sibuk mencatat. ”Jangan tanya berapa jauhnya, madame. Yang jelas kalau kami berangkat jam 3 pagi, kami akan sampai di CHC jam 2 siang,” jawab mereka sambil tersenyum. Haaa….???

(Asumanu, akhir April 2008)

Timor Leste II: Masa Depan Timor Leste, Masa Depan siapa?

Dalam perjalanan kembali ke kantor secretariat CD Bethesda setelah seharian penuh berdiskusi dengan mitra local yang sebagian besar adalah kongregasi Katolik, kami sempat berhenti untuk membeli sayuran yang akan kami masak untuk makan malam. Jangan dibayangkan bahwa pasar tradisional yang kami masuki adalah pasar dengan berbagai macam kebutuhan, yang ada adalah beberapa kios sederhana yang menjual sayuran, buah, bumbu, dan daging yang seadanya. Mereka ada di tepi jalan penuh debu, dan siap-siap menerima tebaran debu akibat mobil-mobil mewah berseliweran.

Bukan, bukan para penjual sayuran dan daging yang menarik minat saya. Meskipun Pak Laksono mengamati – dalam ceritanya sesudah kami menghabiskan makan malam – betapa tidak higienisnya seorang penjual daging babi meletakkan kakinya yang kotor (karena ia nongkrong di atas meja) di dekat daging-daging babi dagangannya. “Menghilangkan selera saja, “ seloroh Pak Laksono. Yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangunan yang hampir hancur bertuliskan “Youth For The Future Training Centre”. Tebakan saya kemudian adalah, dulu bangunan ini merupakan training centre yang bagus, namun dihancurkan oleh massa pada konflik politik 2006 lalu. Atau alternatif tebakan kedua, memang dibiarkan begitu saja hancur tanpa dirawat meskipun tetap masih dipakai oleh aktifitas pemuda warga Timor Leste.

Kalau kita cermati “judul” bangunan itu, Tempat Pelatihan Kaum Muda untuk Masa Depan, pertanyaan yang timbul dalam hati saya, bagaimana bisa berharap terlalu besar untuk pemuda pemudi Timor Leste. Apakah iya mereka memikirkan masa depan mereka? Bagaimana caranya, kalau tempat candradimuka mereka sedemikian kusamnya dan tanpa fasilitas yang memadai ? Masa depan seperti apa yang mereka bayangkan ?

Setelah memotret gedung itu dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di batin, saya pun kembali ke mobil kantor yang membuat saya nyaman-nyaman saja. Setidaknya mobil itu berjasa mengantar jemput kami meski sempat dicaci maki tanpa ia tahu kesalahannya apa. Namun pertanyaan itu tetap mengganjal nurani saya hingga saat menulis ini….bagaimana masa depan Timor Leste kalau sudah hampir 10 tahun merdeka saja keadaannya masih seperti ini ?

Tampaknya memang pesimisme saja yang mengemuka kalau kita melihat bangunan hancur, fasilitas publik yang tipikal daerah kurang maju, juga ekspresi warga yang jarang tersenyum. Tetapi para suster yang kami temui siang tadi masih saja menyisakan optimisme mereka. “Kami yakin dan percaya bahwa kelompok masyarakat binaan kami meskipun miskin bisa mandiri suatu kelak. Karena kami telah mengajarkannya meski kami memiliki keterbatasan. Hanya perhatian dan cinta kasih yang bisa mendorong kami dalam melayani, sehingga rakyat Timor Leste dapat menemukan masa depan mereka yang lebih baik,” tutur mereka.

Terlepas dari persoalan bahwa mereka pun memiliki kekurangan dalam pelayanan, paling tidak mari kita belajar dari semangat dan harapan mereka. Militansi dalam pelayanan mereka untuk orang miskin dan terpinggirkan tidak main-main, hingga seringkali saya malu sendiri kalau sudah berhadapan dengan mereka. Saya kurang militan, masih suka berkelit kalau ditugaskan di lapangan karena alasan kenyamanan kerja. Kalau pun saya mau karena udel saya sedang bodong, itu pun masih suka hitung-hitung daily allowances yang bisa saya dapatkan setiap turun ke lapangan, bahkan kalau bisa mengambil untung lebih dari tugas-tugas lapangan. Kemudian dengan seenaknya menyalahkan sana sini tanpa melihat mengapa capaian yang diinginkan tidak berhasil atau terpenuhi. Mengapa ada kekurangan di sana sini, sehingga lupa sebenarnya siapa yang ingin mencapai apa. Teori Srinivasan Melkote tentang bahwa seringkali pekerja sosial, agensi, LSM, pemerintah atau siapapun yang bekerja untuk orang miskin seringkali terjebak pada perspektif ” menyalahkan sang korban”, blaming the victims, masih menguasai pikiran dan perilaku saya. Bahwa mereka malas, tidak mampu berdaya sendiri, keras kepala, dan sebagainya. Lebih jahat lagi, saya masih suka menyalah-nyalahkan dan menuduh rekan kerja yang sudah susah payah tanpa pernah sedikitpun mencoba memahami mereka, justru meminta mereka lebih memahami saya, ide-ide saya, dan mimpi gila saya.

Kini saya menyadari, ada suatu masa bahwa saya harus kembali mempertanyakan untuk siapa saya bekerja. Apakah betul saya layak disebut pekarya kemanusiaan, kalau ternyata ego saya masih lebih berkuasa dalam perilaku kerja saya? Apakah saya pernah peduli masa depan orang-orang yang saya layani ? Entahlah.

Timor Leste I: Kujelajah Engkau dengan Cinta

Dua puluh lima tahun yang lalu, bapak saya tercinta yang kini sudah berbahagia di surga suatu kali bercerita untuk saya. Katanya, “ Timor Timur, wilayah negara kita yang termuda benar-benar merupakan daerah yang membutuhkan perhatian. Pada tahun 1976, waktu itu bapak masih bertugas di kowilhan bagian Indonesia Timur, banyak cerita dari rekan-rekanku tentara yang bertugas di Timor Timur (Timtim) harus benar-benar bekerja keras mendidik rakyat Timtim, bahkan tak jarang bersama mahasiswa KKN dari Jawa mengajari mereka mandi dan memandikan orang-orang Timtim yang tidak tahu bagaimana menjaga kesehatan hygiene mereka. Selama penjajahan Portugal, mereka tidak pernah dididik, dibuat miskin, dan sebagainya. Kasihan sekali…”. Beberapa tahun kemudian, ketika rakyat Timtim memilih untuk lepas dari Indonesia, bapak saya berulangkali menyatakan kekhawatirannya bagaimana nasib rakyat Timtim. Siapa yang akan mengajari dan mendidik mereka. Berulangkali pula bapak saya menyatakan tidak habis pikir terhadap keputusan itu.

Keputusan tinggallah tetap keputusan rakyat Timtim, yang kemudian kini berubah nama menjadi Timor Lorosae dalam bahasa asli mereka atau Timor Leste untuk bahasa internasional. Ketika menentukan keputusan itu, pastilah mereka memiliki harapan besar untuk perbaikan hidup, harapan untuk menjadi orang yang bebas. Persoalan apakah harapan itu bisa terpenuhi atau tidak, menjadi lain perkara. Nyatanya, ketika untuk pertama kalinya kaki saya menginjak bumi Timor Leste, panas dan kekeringan langsung menghadang di depan. Lepas dari bandara internasional Dili, mata saya langsung menangkap ratusan tenda pengungsian di sisi kanan kiri jalan menuju hotel, tenda-tenda yang hingga kini masih dihuni oleh puluhan ribu pengungsi korban konflik politik tahun 2006 yang lalu.

Hidup di pengungsian telah mereka jalani selama hampir 2 tahun. Tetap saja tidak mudah merelokasikan atau memindahkan mereka ke pemukiman, karena rumah mereka hancur dan terbakar. Sisa kehancuran dan bakaran masih terlihat, hampir-hampir tidak tampak perbedaan mana bangunan yang menjadi sisa pembakaran tahun 1999 mana yang sisa tahun 2006. Yang jelas Dili sebagai ibu kota negara tampak kusam. Di sore hari hiburan masyarakat adalah nongkrong di tepi jalan atau pergi ke pantai. Aktifitas produktif dikatakan tidak begitu banyak. Saya pikir mungkin karena ini sore hari. Nyatanya, di waktu pagi pun banyak laki-laki hanya duduk saja melihat-lihat. Barangkali mereka mengharapkan hari itu mendapatkan uang dollar untuk membeli bahan makanan atau kebutuhan hidup yang makin meroket. ” Satu ikat sayur harganya sudah mencapai 0,25 cent, beras 25 dollar 1 sak (kurang lebih 36 kg), kebutuhan lain, minyak goreng seharga 7 dollar sekarang ini. Bagaimana tidak menangis kita ?” ungkap salah seorang rekan yang menjadi staf lokal di sana. Hampir tersedak saya mendengar cerita mereka, setelah mencoba mengkonversikan dalam rupiah. Ah, lalu bagaimana mengharapkan mereka melek informasi kalau harga kebutuhan dasar saja sudah setinggi langit, sedangkan nge-net saja kena biaya 3 USD per 1 jam (berbahagialah kawan-kawan di Jogja yang hanya membayar 0,25 sen per jam, atau dapat gratis tis dari fasilitas kantor).

Menjelang malam, setelah menikmati makan malam yang enak di restoran Cina Malaysia dalam perjalanan pulang menuju hotel, kekusaman Dili makin terasa. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 8.15 malam, tetapi sangat jarang orang yang kami lihat masih berada di luar rumah. Sejak diberlakukan jam malam, memang penduduk menjadi lebih khawatir, sebelum jam 10 mereka sudah harus berada di dalam rumah. Sekali saja ketahuan masih berkeliaran di jalan, keamanan akan menangkap mereka dan dicurigai akan melakukan sesuatu. Terlebih presiden Ramos Horta baru saja pulang dari Darwin, bukan untuk kunjungan kenegaraan atau studi banding tetapi berobat setelah beberapa peluru pemberontak mampir di tubuhnya dua bulan yang lalu.

Dili menjadi kota yang sunyi, kota yang tampak mati, tanpa kehidupan yang menggairahkan di waktu malam. ”Wah, berbeda sekali dengan Yogya, never sleeping city..kehidupan berjalan hampir 24 jam tanpa henti,” celetuk saya. Pak Laksono, salah seorang evaluator yang saya temani menambahkan, ”Ya, tidak suka saya pada situasi seperti ini. Hidup terasa menegangkan dan tidak nyaman.”

Inikah yang rakyat Timor Leste sebut : Hidup sebagai orang Merdeka ?

(Dili, 19 April 2008).

Taal, Misteri Keindahan yang Terpendam di Filipina

Menikmati pemandangan gunung atau danau barangkali hal yang sudah sangat biasa dilakukan. Tetapi menikmati sekaligus keduanya, menjadi luarbiasa dan merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi di dalam gunung berapi masih aktif yang dikelilingi oleh danau tersebut juga terdapat kaldera yang membentuk danau, semakin melengkapi kekaguman akan ciptaan Sang Khalik. Danau dan Gunung Taal merupakan salah satu keajaiban tersebut. Danau ini terletak di Pulau Luzon, Filipina, 50 km dari kota Manila, dan berada di provinsi Batangas, tepatnya di kota Tagaytay yang merupakan daerah dataran tinggi.

Luasnya Danau Taal barangkali bisa dibandingkan dengan luasnya Danau Toba di Indonesia, 30 km2. Konon danau ini terbentuk karena erupsi Gunung Taal yang luar biasa pada jaman dulu, meski aktifitas Gunung Taal sendiri sudah tercatat sejak tahun 1572. Sampai sekarang sudah tercatat 33 kali letusan besar, dan letusan yang terjadi pada tahun 1911 menyebabkan kematian 1,300 lebih korban manusia yang tinggal di sekitarnya akibat gas beracun dan suhu tinggi sekali. Namun letusan yang paling besar dengan kekuatan penuh terjadi pada tahun 1965. Kapan terciptanya kaldera yang seolah-olah menjadi danau di dalam Gunung Taal, masih menjadi pertanyaan hingga kini. Yang jelas, keindahan Danau dan Gunung Taal menjadi misteri bagi penduduknya. Aktifitas vulkanik Gunung Taal terakhir tercatat pada November 2004, meski dalam skala kecil dengan menunjukkan peningkatan guguran lava pada dindingnya (tidak mempunyai puncak karena berbentuk kubah) dan beberapa kali gempa dari skala kecil sampai besar yang dapat dirasakan oleh penduduk di sekitarnya. Aktifitas ’bersin’ sang gunung yang misterius ini sempat diwaspadai oleh the Philippine Institute of
Volcanology and Seismology (Phivolcs)
dengan memberikan alert atau peringatan kepada penduduk yang tinggal di dekat danau Taal, apalagi suhu air danau sempat memanas. Tentu karena ’direbus’ oleh aktifitas sang gunung. Namun demikian, letusan gunung Taal yang besar tidak terjadi pada saat itu.

Misteri Danau dan Gunung Taal tidak hanya tinggal misteri yang diam begitu saja. Seperti halnya gunung berapi yang membawa berkah bagi manusia yang diam di sekitarnya, Danau dan Gunung Taal juga membawa berkah bagi penduduk di sekitarnya. Danau Taal ternyata menyimpan kekayaan luar biasa. Ikan berkembang dengan sangat baik di sana dan menjadi mata pencaharian yang menggiurkan bagi peternak ikan dan nelayan. Tidak kurang puluhan ton ikan dikembangkan dan dihasilkan dari danau Taal dan dipasarkan ke kota-kota sekitarnya, termasuk ke restoran-restoran di sekitar danau Taal yang menyajikan masakan ikan sebagai menu yang diminati oleh pengunjung. Tidak hanya untuk perikanan, tetapi juga dalam bidang wisata. Danau dan Gunung Taal membawa berkah bagi penduduk di sekitarnya untuk mengembangkan pariwisata, di tengah-tengah kemelut kemiskinan yang tetap menjadi problem utama negeri ibu Corry Aquino seperti halnya Indonesia ini.

Keindahan danau ini bisa dinikmati dari banyak titik, karena dikelilingi oleh beberapa titik kota. Yang paling dekat memang kota Tagaytay, dan bersyukur penulis bisa beberapa kali mengunjungi dan menikmati pemandangan danau karena mendapat kesempatan tinggal di dekat kota Tagaytay selama 2 bulan untuk mengikuti pelatihan. Di waktu luang selama training, maka pilihan yang paling disenangi penulis adalah pergi ke café di mana penulis bisa langsung menikmati keindahan Gunung dan Danau Taal sambil menikmati panasnya kopi Filipina yang harum tetapi sedikit ada rasa asamnya.

Melihat peluang bisnis wisata dengan memanfaatkan misteri Danau dan Gunung Taal, para pengusaha wisata Tagaytay membuka bisnis kafe di sekitar dataran tinggi yang mengelilingi danau Taal. Alhasil, banyak bertebaran kafe-kafe baik local maupun waralaba level international seperti Starbuck pun masuk di daerah ini. Maka tak heran, Danau Taal dan kota Tagaytay menjadi tujuan utama wisata yang dibanggakan di Filipina, dan akan sangat ramai dikunjungi pada hari libur atau week-end. Namun demikian, jangan dibayangkan situasi lalu lintasnya seperti di Puncak, meski ramai dikunjungi oleh wisatawan dari kota besar seperti Manila, lalu lintas di kota Tagaytay tidak pernah macet selama penulis berada di sana.

People Park

Salah satu titik wisata untuk menikmati keindahan Danau dan Gunung Taal adalah People Park, sebuah taman wisata yang berada di jantung kota Tagaytay. Di area ini pengelola menyediakan berbagai fasilitas wisata, termasuk menunggang kuda sebagai salah satu daya tarik. Pengunjung bisa berjalan atau duduk-duduk saja di gazebo yang disediakan oleh pengelola. Tentu masuk People Park tidaklah gratis, pengunjung harus membayar 25 peso (setara Rp 5000) per orang hanya untuk memasuki area taman. Sedangkan kalau ingin menggunakan fasilitas lain seperti gazebo, menunggang kuda, dan lain-lain, harus membayar ekstra.

Sayangnya, beberapa fasilitas bangunan di People Park tidak terawat dengan baik. Beberapa bangunan malah dibiarkan rusak dan tidak diperbaiki seperti beberapa paviliun tempat beristirahat atau beberapa cafe. Seperti halnya ‘penyakit’ orang Indonesia, ada juga tangan orang jahil mencorat coret fasilitas People Park, sehingga menimbulkan kesan kotor. Taman yang luas dan dirindangi oleh pohon-pohon besar memang nyaman sebagai tempat duduk dan bercengkarama bersama keluarga atau teman-teman. Namun sayang, beberapa orang belum sadar membuang sampah di tempat yang disediakan, meski dimana-mana terdapat papan peringatan membuang sampah di tempatnya. Sempat penulis berpikir, “Wah orang Filipina penyakitnya kok sama ya dengan orang Indonesia”. Cukup banyak pengunjung yang menikmati liburan bersama keluarganya di People Park, apalagi pada hari Minggu. Bahkan beberapa gazebo diduduki oleh kelompok wisata.

Yang menarik, ketika penulis berkunjung ke sana bersama teman-teman (2 di antaranya orang Filipina), ada sebuah kelompok bapak dan ibu yang tampaknya dari kalangan gereja menyanyikan sebuah lagu gereja untuk menghibur seorang ibu yang menangis tersedu-sedu. Tampaknya ibu tersebut sedang berduka karena kematian orang yang dicintainya, dan kelompok gereja tersebut menghibur sang ibu. Bisa dipahami karena masyarakat Filipina adalah masyarakat agamis (mayoritas penganut Katolik), sehingga dimana pun simbol-simbol dan tradisi keagamaan mudah ditemukan. Saat penulis mengamati kegiatan kelompok yang menghibur ibu tersebut, meski tampak sederhana namun cukup menyentuh hati. Di tengah-tengah masyarakat modern dan dekat dengan budaya Barat, masih saja ada kepedulian di antara mereka.


Jembatan Gantung yang tua

Salah satu fasilitas di People Park adalah jembatan gantung yang panjang sekitar 100 meter yang menghubungkan salah satu tebing ke tebing lain setelah pengunjung berjalan cukup jauh dari tangga satu ke tangga lain. Saat penulis harus melewati jembatan ini, pertamakali agak khawatir juga. Selain karena phobia ketinggian, jembatan ini tampak sudah tua, meski disangga dengan besi dan anak tangga terbuat dari papan kayu. Jadi teringat peristiwa jembatan gantung tua yang putus di Batu Raden Jawa Tengah pada liburan Lebaran tahun lalu, dimana beberapa orang pengunjungnya jatuh ke sungai dan beberapa diantaranya meninggal. Namun bagaimana lagi, mau tidak mau setiap pengunjung di People Park ini harus melewati jembatan ini untuk menyeberang. Dengan ekstra keberanian akhirnya bisa juga melewati jembatan gantung setelah beberapa kali ambil foto pemandangan danau dari jembatan agar obyek foto yang indah tidak terlewati, meski sambil was-was juga.

Setelah lega melewati jembatan tua, kami meneruskan perjalanan menuju gardu pandang yang tertinggi untuk melihat keindahan Danau dan Gunung Taal secara keseluruhan. Tentu bagi pasangan muda mudi yang menikmati masa pacaran tempat ini merupakan tempat romantis untuk menghabiskan waktu berduaan. Di sini juga perjalanan menikmati misteri keindahan Danau dan Gunung Taal melalui titik People Park kami akhiri pada hari itu, dengan niat akan kembali ke sana sebelum kembali ke Indonesia. Sambil menunggu jeepney angkot khas Filipina yang membawa kami menuju restoran Chowking untuk mencicipi es Halo-halo (minuman khas Filipina), penulis mencatat dalam hati misteri keindahan Taal sebagai kenangan hidup yang tak terlupakan. Seandainya negeri ini tidak seperti Indonesia yang angka korupsinya sangat tinggi, tentu misteri Taal makin indah untuk dinikmati dan ada museum pendidikan serta penelitian yang bisa memperkaya ilmu bumi di Filipina.