Dua puluh lima tahun yang lalu, bapak saya tercinta yang kini sudah berbahagia di surga suatu kali bercerita untuk saya. Katanya, “ Timor Timur, wilayah negara kita yang termuda benar-benar merupakan daerah yang membutuhkan perhatian. Pada tahun 1976, waktu itu bapak masih bertugas di kowilhan bagian Indonesia Timur, banyak cerita dari rekan-rekanku tentara yang bertugas di Timor Timur (Timtim) harus benar-benar bekerja keras mendidik rakyat Timtim, bahkan tak jarang bersama mahasiswa KKN dari Jawa mengajari mereka mandi dan memandikan orang-orang Timtim yang tidak tahu bagaimana menjaga kesehatan hygiene mereka. Selama penjajahan Portugal, mereka tidak pernah dididik, dibuat miskin, dan sebagainya. Kasihan sekali…”. Beberapa tahun kemudian, ketika rakyat Timtim memilih untuk lepas dari Indonesia, bapak saya berulangkali menyatakan kekhawatirannya bagaimana nasib rakyat Timtim. Siapa yang akan mengajari dan mendidik mereka. Berulangkali pula bapak saya menyatakan tidak habis pikir terhadap keputusan itu.
Keputusan tinggallah tetap keputusan rakyat Timtim, yang kemudian kini berubah nama menjadi Timor Lorosae dalam bahasa asli mereka atau Timor Leste untuk bahasa internasional. Ketika menentukan keputusan itu, pastilah mereka memiliki harapan besar untuk perbaikan hidup, harapan untuk menjadi orang yang bebas. Persoalan apakah harapan itu bisa terpenuhi atau tidak, menjadi lain perkara. Nyatanya, ketika untuk pertama kalinya kaki saya menginjak bumi Timor Leste, panas dan kekeringan langsung menghadang di depan. Lepas dari bandara internasional Dili, mata saya langsung menangkap ratusan tenda pengungsian di sisi kanan kiri jalan menuju hotel, tenda-tenda yang hingga kini masih dihuni oleh puluhan ribu pengungsi korban konflik politik tahun 2006 yang lalu.
Hidup di pengungsian telah mereka jalani selama hampir 2 tahun. Tetap saja tidak mudah merelokasikan atau memindahkan mereka ke pemukiman, karena rumah mereka hancur dan terbakar. Sisa kehancuran dan bakaran masih terlihat, hampir-hampir tidak tampak perbedaan mana bangunan yang menjadi sisa pembakaran tahun 1999 mana yang sisa tahun 2006. Yang jelas Dili sebagai ibu kota negara tampak kusam. Di sore hari hiburan masyarakat adalah nongkrong di tepi jalan atau pergi ke pantai. Aktifitas produktif dikatakan tidak begitu banyak. Saya pikir mungkin karena ini sore hari. Nyatanya, di waktu pagi pun banyak laki-laki hanya duduk saja melihat-lihat. Barangkali mereka mengharapkan hari itu mendapatkan uang dollar untuk membeli bahan makanan atau kebutuhan hidup yang makin meroket. ” Satu ikat sayur harganya sudah mencapai 0,25 cent, beras 25 dollar 1 sak (kurang lebih 36 kg), kebutuhan lain, minyak goreng seharga 7 dollar sekarang ini. Bagaimana tidak menangis kita ?” ungkap salah seorang rekan yang menjadi staf lokal di sana. Hampir tersedak saya mendengar cerita mereka, setelah mencoba mengkonversikan dalam rupiah. Ah, lalu bagaimana mengharapkan mereka melek informasi kalau harga kebutuhan dasar saja sudah setinggi langit, sedangkan nge-net saja kena biaya 3 USD per 1 jam (berbahagialah kawan-kawan di Jogja yang hanya membayar 0,25 sen per jam, atau dapat gratis tis dari fasilitas kantor).
Menjelang malam, setelah menikmati makan malam yang enak di restoran Cina Malaysia dalam perjalanan pulang menuju hotel, kekusaman Dili makin terasa. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 8.15 malam, tetapi sangat jarang orang yang kami lihat masih berada di luar rumah. Sejak diberlakukan jam malam, memang penduduk menjadi lebih khawatir, sebelum jam 10 mereka sudah harus berada di dalam rumah. Sekali saja ketahuan masih berkeliaran di jalan, keamanan akan menangkap mereka dan dicurigai akan melakukan sesuatu. Terlebih presiden Ramos Horta baru saja pulang dari Darwin, bukan untuk kunjungan kenegaraan atau studi banding tetapi berobat setelah beberapa peluru pemberontak mampir di tubuhnya dua bulan yang lalu.
Dili menjadi kota yang sunyi, kota yang tampak mati, tanpa kehidupan yang menggairahkan di waktu malam. ”Wah, berbeda sekali dengan Yogya, never sleeping city..kehidupan berjalan hampir 24 jam tanpa henti,” celetuk saya. Pak Laksono, salah seorang evaluator yang saya temani menambahkan, ”Ya, tidak suka saya pada situasi seperti ini. Hidup terasa menegangkan dan tidak nyaman.”
Inikah yang rakyat Timor Leste sebut : Hidup sebagai orang Merdeka ?
(Dili, 19 April 2008).