Dalam perjalanan kembali ke kantor secretariat CD Bethesda setelah seharian penuh berdiskusi dengan mitra local yang sebagian besar adalah kongregasi Katolik, kami sempat berhenti untuk membeli sayuran yang akan kami masak untuk makan malam. Jangan dibayangkan bahwa pasar tradisional yang kami masuki adalah pasar dengan berbagai macam kebutuhan, yang ada adalah beberapa kios sederhana yang menjual sayuran, buah, bumbu, dan daging yang seadanya. Mereka ada di tepi jalan penuh debu, dan siap-siap menerima tebaran debu akibat mobil-mobil mewah berseliweran.
Bukan, bukan para penjual sayuran dan daging yang menarik minat saya. Meskipun Pak Laksono mengamati – dalam ceritanya sesudah kami menghabiskan makan malam – betapa tidak higienisnya seorang penjual daging babi meletakkan kakinya yang kotor (karena ia nongkrong di atas meja) di dekat daging-daging babi dagangannya. “Menghilangkan selera saja, “ seloroh Pak Laksono. Yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangunan yang hampir hancur bertuliskan “Youth For The Future Training Centre”. Tebakan saya kemudian adalah, dulu bangunan ini merupakan training centre yang bagus, namun dihancurkan oleh massa pada konflik politik 2006 lalu. Atau alternatif tebakan kedua, memang dibiarkan begitu saja hancur tanpa dirawat meskipun tetap masih dipakai oleh aktifitas pemuda warga Timor Leste.
Kalau kita cermati “judul” bangunan itu, Tempat Pelatihan Kaum Muda untuk Masa Depan, pertanyaan yang timbul dalam hati saya, bagaimana bisa berharap terlalu besar untuk pemuda pemudi Timor Leste. Apakah iya mereka memikirkan masa depan mereka? Bagaimana caranya, kalau tempat candradimuka mereka sedemikian kusamnya dan tanpa fasilitas yang memadai ? Masa depan seperti apa yang mereka bayangkan ?
Setelah memotret gedung itu dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di batin, saya pun kembali ke mobil kantor yang membuat saya nyaman-nyaman saja. Setidaknya mobil itu berjasa mengantar jemput kami meski sempat dicaci maki tanpa ia tahu kesalahannya apa. Namun pertanyaan itu tetap mengganjal nurani saya hingga saat menulis ini….bagaimana masa depan Timor Leste kalau sudah hampir 10 tahun merdeka saja keadaannya masih seperti ini ?
Tampaknya memang pesimisme saja yang mengemuka kalau kita melihat bangunan hancur, fasilitas publik yang tipikal daerah kurang maju, juga ekspresi warga yang jarang tersenyum. Tetapi para suster yang kami temui siang tadi masih saja menyisakan optimisme mereka. “Kami yakin dan percaya bahwa kelompok masyarakat binaan kami meskipun miskin bisa mandiri suatu kelak. Karena kami telah mengajarkannya meski kami memiliki keterbatasan. Hanya perhatian dan cinta kasih yang bisa mendorong kami dalam melayani, sehingga rakyat Timor Leste dapat menemukan masa depan mereka yang lebih baik,” tutur mereka.
Terlepas dari persoalan bahwa mereka pun memiliki kekurangan dalam pelayanan, paling tidak mari kita belajar dari semangat dan harapan mereka. Militansi dalam pelayanan mereka untuk orang miskin dan terpinggirkan tidak main-main, hingga seringkali saya malu sendiri kalau sudah berhadapan dengan mereka. Saya kurang militan, masih suka berkelit kalau ditugaskan di lapangan karena alasan kenyamanan kerja. Kalau pun saya mau karena udel saya sedang bodong, itu pun masih suka hitung-hitung daily allowances yang bisa saya dapatkan setiap turun ke lapangan, bahkan kalau bisa mengambil untung lebih dari tugas-tugas lapangan. Kemudian dengan seenaknya menyalahkan sana sini tanpa melihat mengapa capaian yang diinginkan tidak berhasil atau terpenuhi. Mengapa ada kekurangan di sana sini, sehingga lupa sebenarnya siapa yang ingin mencapai apa. Teori Srinivasan Melkote tentang bahwa seringkali pekerja sosial, agensi, LSM, pemerintah atau siapapun yang bekerja untuk orang miskin seringkali terjebak pada perspektif ” menyalahkan sang korban”, blaming the victims, masih menguasai pikiran dan perilaku saya. Bahwa mereka malas, tidak mampu berdaya sendiri, keras kepala, dan sebagainya. Lebih jahat lagi, saya masih suka menyalah-nyalahkan dan menuduh rekan kerja yang sudah susah payah tanpa pernah sedikitpun mencoba memahami mereka, justru meminta mereka lebih memahami saya, ide-ide saya, dan mimpi gila saya.
Kini saya menyadari, ada suatu masa bahwa saya harus kembali mempertanyakan untuk siapa saya bekerja. Apakah betul saya layak disebut pekarya kemanusiaan, kalau ternyata ego saya masih lebih berkuasa dalam perilaku kerja saya? Apakah saya pernah peduli masa depan orang-orang yang saya layani ? Entahlah.