Asumanu yang berarti asu = anjing, manu = ayam, adalah desa yang kami kunjungi selanjutnya. Kalau anda membayangkan negeri di atas awan, nah barangkali desa ini bisa disebut sebagai ‘negeri di atas awan’ itu. Untuk menuju ke sana, kami harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam. Jangan pula dibayangkan seperti pergi ke Puncak. 3 jam perjalanan dari Dili itu artinya 45 menit pertama perjalanan dengan kondisi jalan aspal dan naik, 30 menit selanjutnya menanjak dengan jurang sangat dalam. Sisanya adalah upaya keras mobil double cabin untuk ‘menapak’ jalan terjal, tikungan berbahaya, dan longsoran tanah di mana-mana. Karena tidak mau pusing melihat jalannya yang super bikin deg-degan (beruntung cuaca sedang cerah, konon katanya Sil kalau hujan lebih mengerikan lagi), maka sebagai kompensasi saya asyik mengambil foto pemandangan yang indah dari puncak bukit dengan kamera prosumer kesayangan. Kadang pengambilan gambar tidak berjalan mulus karena tubuh ikut bergoyang-goyang mengikuti irama kendaraan yang berjuang mati-matian mendaki jalan. Tetapi daripada stress, melihat kanan kiri menjadi keasyikan tersendiri buat saya.
Sesampainya di puncak salah satu bukit di mana desa Asumanu berada, akhirnya berhentilah kami. Terdapat sebuah rumah sangat sederhana. Saya kira itu adalah kandang, ternyata tidak. Rumah itu meski sederhana ternyata mengandung makna yang dalam bagi masyarakat Asumanu. Ketika kami masuk, di dalamnya ada sebuah ruang dimana Pos Obat Desa berada. Dari timbangan (yang membuat saya shock, bukan karena bentuknya tetapi alat tunjuknya ketika saya mencoba menaikinya) hingga obat-obat tersedia.
Di sebelah ruangan POD, ada sebuah ruangan dimana barang-barang kebutuhan sehari-hari tersedia, beberapa kantor beras, minyak goreng, mie, dan lain-lain. Orang-orang Asumanu menyebutnya sebagai kios.
Rumah ini mengingatkan Ate Mariper (tamu yang saya temani) pada jaman Yesus lahir di Yerusalem. Terbuat dari batu yang dipulas seadanya beratapkan rumbai. “Saya jadi merasakan seperti hidup di jaman Yesus,” kata Ate. Lalu saya timpali,” Ya, bedanya hanya sekarang sudah ada POD dan kiosnya”.
Perjalanan pun dilanjutkan ke tempat pertemuan. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan disambut semeriah ini. Tidak hanya pengalungan Ta’is. Tetapi juga tari-tarian anak-anak kecil diiringi musik tradisional yang dimainkan oleh para ibu menyambut kami. Tidak hanya itu saja, Ketua Adat pun melakukan ritual penyambutan hingga kami merasa seperti layaknya pejabat tinggi. Kukira ritual sudah selesai, tetapi tiba-tiba disuruh berdiri dan ternyata ada upacara lain. Meski saya seratus persen tidak mengerti bahasa mereka, saya manut saja dibisiki oleh suster. Dari jauh datanglah beberapa orang perempuan dan laki-laki membawa sesuatu. Sirih pinang pun terhidang di meja dan mau tidak mau kami harus makan. Karena sudah terbiasa sebelumnya sudah pernah, maka dengan enteng saya ambil sirih pinang dan mulai makan. Ate Mariper tidak ketinggalan ingin mencoba meski ini kali pertamanya dia makan. Beberapa detik kemudian, kami sibuk meludah di luar. Sirih pinang menjadi pertanda awal mula persahabatan kami dengan komunitas ini, dan wajah mereka tampak senang melihat kami makan sirih pinang itu. Dan ritual penyambutan pun usai.
Kini waktu kami untuk berdiskusi. Dari diskusi panjang berjam-jam itu, ternyata, rumah rikiplik yang kami kunjungi tadi adalah tempat paling berharga buat mereka selain kapel. POD dan kios menjadi pertanda peradaban mereka. Konon, sebelum ada POD dan kios, masyarakat Asumanu adalah masyarakat yang tampak tak berpengharapan. Jauh dari akses kesehatan, bidan dan dokter CHC (semacam Puskesmas di tingkat kecamatan) enggan melirik saking jauhnya, dan jauh dari akses pemenuhan kebutuhan pokok. Manalagi tidak ada transportasi umum menuju desa itu. Sementara mereka membutuhkan transportasi untuk menjajakan hasil bumi kopi mereka yang berlimpah.
Kami harus menelan ludah ketika mendengar jawaban para ibu terhadap pertanyaan Ate, sebelum ada pos obat desa sederhana, apa yang mereka lakukan kalau anak sakit. Jawabannya lugu dan polos, ”Kami membawa anak kami, kami gendong dia, dan kami berjalan kaki turun ke CHC distrik terdekat.” ” Jalan kaki? Berapa jauh?” tanya Ate dengan sibuk mencatat. ”Jangan tanya berapa jauhnya, madame. Yang jelas kalau kami berangkat jam 3 pagi, kami akan sampai di CHC jam 2 siang,” jawab mereka sambil tersenyum. Haaa….???
(Asumanu, akhir April 2008)
