Oleh: utaridewi | Oktober 10, 2008

Surga di Pulau Syukur

Sekian belas tahun lamanya aku tidak berlayar. Yang kuingat, perjalananku dengan kapal atau perahu besar yang terakhir adalah di tahun 1994, perjalanan terakhir aku ikut almarhum bapak tercinta. Rindu untuk melakukan perjalanan dengan perahu besar atau kapal menghentak-hentak hatiku seketika manalagi teman kerjaku menawarkan perjalanan laut menuju Pulau Syukur. Pulau Syukur memang tidak terkenal, berbeda dengan Pulau Komodo, Pulau Ambon, apalagi bila dibandingkan dengan Pulau Bali. Bahkan pulau ini juga tidak dikenal bagi orang-orang bumi Nusa Tenggara Timur kebanyakan, padahal jelas-jelas pulau ini masih terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tawaran temanku sangat sayang bila ditampik. Maka tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya meski dengan syarat bantingan 350 ribu per orang untuk menyewa perahu 2 mesin milik adik Pak Muzakir, temannya temanku. Jam 6 pagi kami pun sudah siap melakukan perjalanan, dengan membawa segala perangkat dokumentasi yang ada. Aku membawa handy-cam, sedangkan 2 temanku penggila fotografi membawa kamera kesayangan. Ditemani oleh beberapa anak nelayan, Pak Muzakir, dan pemilik boat ini kami pun berangkat dengan hati yang gembira bukan main. Intinya, kami sangat antusias dengan perjalanan ini.

Perjalanan ke Pulau Syukur memakan waktu lebih dari 3 jam. Kalau anda mengira bahwa aku akan mabuk atau minimal pusing seperti yang diduga oleh salah satu temanku, maka silahkan anda kecele. Aku tidak mabuk laut sekalipun pada saat kembali dari Pulau Syukur dalam keadaan ombak besar. “Anak seorang pelaut sudah tahan banting, Eka. Kau pikir aku masih anak kemarin sore berlayar?!” tantangku. Dan temanku itu pun meringis sambil garuk-garuk kepala.

Perjalanan 3 jam pun tidak sia-sia, meski aku harus rela terpapar sinar matahari yang menyebabkan sebagian kulit kakiku kemerahan terbakar. Mendekati pulau yang konon hanya berpenduduk 500-an jiwa ini (kupikir kurang dari itu sebenarnya, karena hanya ada 1 perkampungan kecil dengan tidak lebih dari 60 unit rumah), hati kami makin melonjak-lonjak takjub. Bagaimana tidak. Pantai di sekitar pulau ini menawarkan pesona yang meninggikan adrenalin ketakjubanku. Dari atas boat, siapapun dengan mata telanjang bisa melihat isinya lautan. Airnya begitu jernih! Aku serasa berada di Bunaken meski belum pernah sekalipun ke sana. Dari atas kita bisa melihat terumbu karang, bintang laut yang benar-benar biru….apapun yang hidup di bawah permukaan air!

Sayang, aku gak bisa renang. Aku hanya menikmati keindahan surga laut Pulau Syukur ini dari atas perahu, mengabadikannya dalam kaset mini-dv, dan tidak henti-hentinya memuji keagungan Tuhan yang begitu baik menciptakan surga di tempat ini. Hampir menangis bahagia rasanya karena tidak semua orang bisa menikmati keindahan ini, dan aku merasa sangat bersyukur menjadi salah satu orang yang beruntung menikmatinya. Anak-anak nelayan yang menyertai perjalanan kami kemudian sibuk melompat ke laut dan ada yang memancing ikan untuk menu makan siang kami. Ikan kerapu hasil tangkapan mereka menjadi menu makan siang bagi kami. Meski dimasak dengan sangat sederhana tanpa bumbu, tetapi rasanya nikmat luar biasa karena kami makan di atas perahu di tengah-tengah keindahan pantai pUlau Syukur.

Ada surga di Pulau Syukur, ada kebahagiaan di hatiku. Aku pun berjanji, kelak anakku akan kuajak berkeliling nusantara untuk lebih mensyukuri keberadaannya, meski entah kapan.

(P.Syukur, 4 Oktober 2008 ).


Tanggapan

  1. AKU INI SEBENARNYA DARI NTT NAMUN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN AKU MERANTAU DI JAKARTA .SAYA SANGAT BANGGA DENGAN KEUNIKAN PANTAI KELAPA LIMA .AKU DARI KABUPATEN BELU ASAL DARI KECAMATAN MALAKA BARAT ,KELURAHAN/DESA -UMATOOS ASAL KAMPUNG BEILOUT.

  2. Saya sudah pernah 2 kali pergi ke Desa Umatoos, desa anda, barangkali saya pernah bertemu dengan orangtua anda. Lembaga tempat saya bekerja melayani POD di desa anda. Bulan depan atau bulan Juli saya akan melakukan sedikit riset di desa tetangga anda, Motaulun. Senang mendapatkan respon dari Anda, terimakasih. Semoga sukses di perantauan. Tuhan memberkati

  3. senang sekali mendengar kisah anda, 3 bulan lagi saya akan ke timor leste untuk bergabung dengan sebuah NGO. bisa anda berbagi kondisi nyata di timor leste dalam waktu dekat ini. dan Anda bekerja di mana? terima kasih

  4. dengan senang hati saya akan berbagi cerita meski pengetahuan saya terbatas tentang negara kecil itu. bisa menghubungi saya japri lewat kanjengdewi@yahoo.com.
    saya tunggu :-)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori