Oleh: utaridewi | Desember 4, 2008

Ketidakmerataan sosial dari sebuah tempe bacem (catatan perjalanan di Wamena Papua)

Dalam sepanjang hidup saya yang lebih dari 30 tahun ini, makan tempe dan tahu tanpa nasi seharga Rp 10,000 adalah kali pertama yang saya lakukan. Padahal saya makan tidak di rumah makan mewah, bukan pula di hotel berbintang 5. Saya makan hanya di warung kecil di sebuah kota dingin Wamena, Papua. Itu baru tempe dan tahu. Jangan tanya harga es juice, seafood, dan lain-lain. Kalau dibandingkan Jogja kota tercinta, harga satu porsi mie rebus di sini sama dengan harga 5 porsi mie Jawa keliling di sana. Seporsi harganya Rp 25,000.

Mengapa harga bahan makanan dan barang apapun di Wamena begitu tinggi ? Jawabannya sederhana, tetapi tidak sesederhana bila dilogika. Transportasi menuju Wamena, ibu kota Kabupaten Jaya Wijaya adalah pesawat. Hanya pesawat saja. Semua bahan makanan dan material, bahkan bensin untuk warga Wamena dari kota lain hanyalah didatangkan lewat transportasi pesawat. Jadi jangan heran bila semua harga mahal.

Untuk satu liter bensin premium saja, bila di Pulau Jawa dipatok harga Rp 6,000 (sekarang menjadi Rp 5,500), maka untuk Wamena harga resmi sudah mencapai Rp 18.000 per liter. Jangan Tanya harga ecerannya, seperti tadi pagi saya membeli 6 liter saja, saya harus membayar Rp 180.000. artinya, satu liter dipatok harga Rp 30,000 ! Mama mia!!! Saudara-saudara, kota ini benar-benar tidak pernah bisa mendukung gaya hidup hemat dan menabung untuk masa depan. Membelanjakan uang Rp 50,000, hampir sama rasanya membelanjakan Rp 10,000 di Jawa. Untuk makan 3 orang saja, rata-rata saya mengeluarkan uang di atas Rp 100,000, padahal kami makan sesederhana mungkin.

Tingginya biaya transportasi antar kota memang menjadi kambing hitam bagi tingginya harga barang di sini. Tetapi mari kita berhitung. Harga tiket pesawat berkisar Rp 450,000 hingga Rp 600,000 – an, untuk penerbangan dari Jayapura ke Wamena selama 30-50 menit. Hampir sama harganya pesawat dari Yogyakarta dan Surabaya. Kalau pun perbedaan harga 2 atau 3 kali lipat dari harga dasar,hal itu masih bisa dipahami dan masuk akal. Namun, apabila bisa mencapai 5-6 kali lipat…….mana bisa masuk logika ?!

Pertanyaan kemudian, siapa yang paling diuntungkan dalam hal ini ? Konon, tahun lalu didirikan SPBU Pertamina baru di kota ini. Setelah diresmikan dengan harga BBM yang dijual di SPBU ini sama dengan pulau-pulau lain, mesin baru tersebut 2 bulan berikutnya tidak digunakan lagi. Hingga sekarang, 2 mesin pompa hanya dibungkus dengan kain penutup. Namun demikian, ada bangunan di belakang pompa tersebut (masih di halaman SPBU itu) yang menjual bensin yang ditempatkan dalam tong dengan harga 3 kali lipat harga resmi, Rp 18,000 per liter itu tadi, kadang lebih tinggi daripada biasanya bila pasokannya menipis. Jadi, bisa ditebak pihak mana yang paling diuntungkan dalam bisnis perekonomian di kota yang dikelilingi oleh pegunungan nan indah ini.

Jadi, saudara-saudara, tidak heran bila harga tempe dan tahu menjadi begitu tingginya, sama seperti bila makanan khas Indonesia tersebut dipajang di hotel mewah taraf internaasional. Oleh karenanya, saya nikmati betul gigitan demi gigitan tempe hingga butir terakhir. Karena saya masih beruntung bisa beli tempe, dibandingkan ribuan anak Papua yang tiap tahun ada saja yang mati kelaparan.

(Wamena, 10 November 2008).


Tanggapan

  1. hi utari,
    salam kenal dari aq, Samsoel, malang.
    Plis reply to my e-mail and i’d like to talk more about papua.
    Saya berencana kerja di Coca Cola Papua tp bimbang akan biaya hidup d sana.
    Thanks respon dari anda.
    Saya tunggu.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori