Facebook euy….!!

Beberapa minggu belakangan inbox email pribadi saya kebanjiran pemberitahuan dari si “Facebook” bahwa saya mendapatkan undangan menjadi anggota atau “add friend” dari teman-teman lama saya. Tidak tanggung-tanggung, sehari bisa 10 email masuk, dan menambah deret email belum terbuka di Inbox saya yang jumlahnya mencapai 2,600-an lebih.

Reaksi saya pun beragam. Dari yang jadi malas sekali membuka Facebook (ada yang menyingkat FB, ada yang memplesetkan menjadi fesbuk), sampai menjadi penasaran dengan nama-nama baru yang invite saya menjadi relasinya. Bayangkan, hanya karena say hello saja memaksa saya untuk membuka ID di facebook dan mau tidak mau membalasnya agar tidak dicap somsek, alias sombong sekali sama teman lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa.

Facebook menjadi fenomenal dalam dunia maya meskipun wahana ini bukan pioneer. Ada banyak pendahulunya seperti Friendster, Hi5, dan lain-lain yang menawarkan fasilitas berjejaring secara sosial ala dunia maya. Facebook menjadi lebih fenomenal karena ia menawarkan fasilitas yang lengkap, bahkan melakukan hal yang tidak dijumpai pada wahana lain seperti Friendster (FS). Salah satunya adalah bisa chatting melalui FB, satu hal yang belum bisa dilakukan oleh FS.

Hal lain lagi yang membuat FB lebih fenomenal adalah saat wahana ini digunakan oleh Presiden AS yang baru Barrack Obama sebagai media kampanye pemilihan presiden sejak tahun lalu. Cara ini kemudian ditiru oleh calon legislative dan bakal calon presiden Indonesia menjelang pemilihan umum tahun ini. Terbukti Sri Sultan dan Prabowo mengundang saya ikut sebagai jaringan pertemanan mereka. Padahal, boro-boro jadi teman, melihat mereka secara langsung saja sangat jarang. Pun mereka bukan teman saya sejak SD hingga perguruan tinggi, tetangga juga bukan, sodara apalagi. Padahal, saya yakin tujuan dibuatnya FB seperti halnya FS adalah memperluas jaringan pertemanan atau menemukan teman lama yang lama tak berjumpa. Atau juga, mempererat pertemanan atau persaudaraan yang sudah terjalin supaya lebih greng, katanya Mbah Dalang.

Artinya adalah, telah terjadi pergeseran tujuan dari dibuatnya wahana semacam ini. Tidak jarang malah dipakai sebagai bagian dari modus operandi penipuan. Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu dalam sebuah milis yang saya ikuti, ada tulisan iseng yang bercerita bahwa ada beberapa motivasi atau karakter seseorang yang bisa dibaca dari cara ia menampilkan foto dan identitas dirinya dalam Friendster. Bisa jadi pamer bahwa ia sudah pernah jalan ke luarnegeri, pamer bahwa ia sudah beranak pinak, dan sebagainya. Meskipun tulisan ini hanyalah sekedar iseng dan satire untuk menyindir, tetapi saya mulai berpikir bahwa barangkali ada benarnya. Bahkan benar banget!

Tidak perlu jauh-jauh menganalisa FS atau FB milik orang lain. Seringkali motivasi saya menampilkan foto di FB dan FS saya, adalah memberitahukan ke seluruh jagad dan teman-teman saya yang menjadi jaringan saya bahwa saya pernah jalan ke sana ke sini. Makin bangga lagi ketika saya pasang foto ketika berada di luar negeri dengan dikasih komentar sedikit nyombong, pakai bahasa Inggris nama tempat tersebut. Makin besar kepala saya ketika ada satu atau dua teman yang kasih komentar : ” Wah….asyik ya bisa jalan-jalan ke LN….ikut donkkk….”. Pasti terhadap komentar kayak gini, langsung saya balas, “Ah biasa aja tuuhhh…..Gak lama kok jalannya, Cuma beberapa hari aja. Lagian itu pas selingan kerja….” Atau, ketika saya pasang foto saya dengan pacar baru, misalnya, atau anak, atau foto pernikahan. Wahhh……gak cukup deh kayaknya helm saya untuk menampung kepala yang begitu bangganya. Juga tidak cukup longgar baju yang saya kenakan karena dada saya makin membusung.

Oleh karena itu, tak heran kalau kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa FB, FS, atau wahana-wahana maya lainnya yang sejenis adalah pelampiasan dari narsisme kita yang paling tinggi. Beruntung pun kita tidak perlu membayar mahal untuk membuat media narsisme karena internet menyediakannya dengan gratis. Beda halnya kalau kita menggunakan media cetak atau broadcast yang berat di ongkos, hanya orang-orang kaya dan berpengaruh saja yang bisa melampiaskan narsisme mereka dengan media ini. FS dan FB mengubah orientasi kita bermedia, FS dan FB tujuannya menjadi mengalami pertambahan. Tidak lagi hanya menjadi media menemukan kembali teman-teman lama yang berceceran di mana-mana, tidak hanya sekedar memperkuat dan mempererat persatuan antar teman dan saudara, tetapi lebih jauh lagi, FB menjadi media untuk memuaskan narsisme kita, media pameran untuk menunjukkan keberhasilan dan kondisi kemakmuran kita saat ini. Pernahkah terpikirkan oleh anda untuk menempelkan foto anda dengan pakaian compang-camping, atau foto ketika kita sakit atau antri beras atau minyak tanah? Pernahkah kita terpikirkan untuk menempelkan foto dan menunjukkan pada khalayak maya bahwa kita sedang sedih, marahan sama pasangan atau sedang jatuh bangun? Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk menunjukkan sepahit-pahitnya kehidupan kita selain menunjukkan semakmur-makmurnya kita sekarang dalam FB atau FS?

Well, ini sekedar pikiran nakal yang terlintas saat saya berkelana membuka FB dan FS saya. Jangan dimasukkan hati, cukup direnungkan saja bahwa FB hanyalah sebuah media yang bisa kita mainkan semau yang kita inginkan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada para pecinta FB dan FS, saya ingin mengatakan jadi narsis boleh dan sah-sah saja, tetapi ya mbok jangan narsis-narsis banget. Hehehe….

(Klitren kala hujan, akhir Januari 2009)

Jala

Jalaku sobek, kawan

sehabis kupakai jaring ikan

singkirkan kuatirmu

kuperbaiki dengan seutas benang

dan sebuah jarum, maka usailah sudah kurajut kembali

Tapi siapakah yang bisa merajut sobek di jala jiwaku

koyak tinggalkan luka perih kesendirianku

Harta jiwa hilang tak sisakan kata perpisahan

Hanya debur ombak sampaikan pesannya

Selamat tinggal, kekasihku

- Blang lumpang, Seunoddon, 4 bulan pasca tsunami-

Buku yang Tak tercetak

Seorang penceramah menjelaskan,

bahwa sebagian kecil dari uang yang tak terbilang jumlahnya

yang digunakan untuk senjata di dunia modern

bisa menyelesaikan semua kesulitan material

bagi setiap anggota dari bangsa manusia.

Reaksi dari para murid yang dapat diduga seusai ceramah adalah:

“Tetapi mengapa manusia itu begitu gila?”

“Karena,” jawab Sang Guru resmi,

“orang belajar membaca buku yang tercetak.

Mereka sudah lupa akan seni membaca yang tak tercetak.”

“Berilah kami contoh Buku yang Tak Tercetak”

Tetapi Guru tidak mau memberinya

Pada suatu hari, menanggapi desakan mereka ia berkata,

“Kicauan burung,

suara serangga,

semua itu mendengungkan KEBENARAN.

Rumput-rumput dan bunga-bunga

semua menunjukkan JALAN

Dengarlah! Lihatlah!

Itulah CARA MEMBACA!”

(disadur dari Anthony de Mello, “Sejenak Bijak”)

Di 3 Kota

Di 3 kota aku membelaimu

Karena kasih kita sangat dalam sampai di dasar hati

Karena kita pernah menobatkan satu sama lain sebagai belahan jiwa

Meski kau dan aku sangat sadar bahwa kita tak kan pernah bisa bersama

Karena jalanku dan jalanmu adalah 2 jalan berbeda meski pernah bertemu di satu titik

Lalu kemudian mencabang lagi menjadi 2 jalan yang berbeda

Di 3 kota ini aku ingin memelukmu

Enggan rasanya melepaskanmu,

Sama halnya saat aku enggan melepas pelukanmu yang lalu di 3 kota yang lain

Sayang aku hanya bisa memelukmu dalam hati

Karena kita sama-sama takut akan pedih perpisahan

Pertemuan kita kali ini singkat saja

Di 3 kota ini aku hanya bisa memandangmu

Tatapanmu tak pernah berubah, seperti dulu

Tajam tapi meneduhkan

Lembut tapi mampu menguatkan hati yang remuk

Aku tak berkutik

Kelu dalam rindu yang menusuk-nusuk

Tapi aku bahagia, engkau menjadi bagian dari kisah hidupku

Sampai berjumpa lagi dalam mimpi-mimpi kita yang abadi.

(dipersembahkan bagi persahabatan sejati, Januari 2009)

Selamat Tinggal 2008, Selamat Datang 2009

Meski hanyalah sebuah penandaan dari momentum, pergantian tahun tidak bisa kita pungkiri. Apabila sebagian orang memilih turun ke jalan alias jalan-jalan keliling kota dalam detik-detik pergantian tahun, ada juga yang lebih suka memilih berdiam di rumah dan merenung. Salah satunya adalah aku.

Tahun 2008, menjadi salah satu momentum waktu penting dalam  hidupku. Pada tahun ini perjalanan keliling Indonesia dan luar negeri yang cukup banyak pertama kalinya buatku. Kalau dihitung-hitung, aku melakukan perjalanan dengan 30 rute penerbangan baik dalam negeri. Namun bukan itu yang membuatku takjub, justru ketika aku mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang baru di tempat-tempat yang terpencil, terisolasi, dan dianggap primitive, aku mendapatkan pengalaman paling berharga. Begitu berharganya hingga tak terungkapkan dengan kata-kata. Dan menambah daftar syukurku kepada Tuhan.

Tahun 2008, untuk pertamakalinya aku merasakan kehilangan orang yang teramat kukasihi, bapak yang dipanggil Tuhan. Namun dalam keabadiannya aku tetap merasakan kehadirannya dalam hatiku. Selamat jalan bapak, kelak kita akan berjumpa kembali.

Tahun 2008, menggoreskan luka sekaligus suka cita. Dan setiap dari pengalaman dan perjumpaanku dengan orang-orang, aku mensyukurinya karena aku semakin belajar banyak tentang kehidupan.

Kini tahun 2009 sedang mulai kubuka dengan segala harapan baru meski pun penuh tantangan baru juga.  Dengan satu keyakinan yang masih ada bahwa Tuhan menyertai hidupku, aku tetap meletakkan tanganku dalam tanganNya. Tahun 2009 aku menyambutmu dengan sukacita dan asa baru. Selamat tinggal 2008, engkau tetap berkesan dalam hidupku.

(tempel, 1 Januari 2009, 00.05)

I Sit And Look Out

I sit and look out upon all the sorrows of the world, and upon all
oppression and shame;
I hear secret convulsive sobs from young men, at anguish with
themselves, remorseful after deeds done;
I see, in low life, the mother misused by her children, dying,
neglected, gaunt, desperate;
I see the wife misused by her husband–I see the treacherous seducer
of young women;
I mark the ranklings of jealousy and unrequited love, attempted to be
hid–I see these sights on the earth;
I see the workings of battle, pestilence, tyranny–I see martyrs and
prisoners;
I observe a famine at sea–I observe the sailors casting lots who
shall be kill’d, to preserve the lives of the rest;
I observe the slights and degradations cast by arrogant persons upon
laborers, the poor, and upon negroes, and the like;
All these–All the meanness and agony without end, I sitting, look
out upon,
See, hear, and am silent.

Walt Whitman