Meski hanyalah sebuah penandaan dari momentum, pergantian tahun tidak bisa kita pungkiri. Apabila sebagian orang memilih turun ke jalan alias jalan-jalan keliling kota dalam detik-detik pergantian tahun, ada juga yang lebih suka memilih berdiam di rumah dan merenung. Salah satunya adalah aku.
Tahun 2008, menjadi salah satu momentum waktu penting dalam hidupku. Pada tahun ini perjalanan keliling Indonesia dan luar negeri yang cukup banyak pertama kalinya buatku. Kalau dihitung-hitung, aku melakukan perjalanan dengan 30 rute penerbangan baik dalam negeri. Namun bukan itu yang membuatku takjub, justru ketika aku mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang baru di tempat-tempat yang terpencil, terisolasi, dan dianggap primitive, aku mendapatkan pengalaman paling berharga. Begitu berharganya hingga tak terungkapkan dengan kata-kata. Dan menambah daftar syukurku kepada Tuhan.
Tahun 2008, untuk pertamakalinya aku merasakan kehilangan orang yang teramat kukasihi, bapak yang dipanggil Tuhan. Namun dalam keabadiannya aku tetap merasakan kehadirannya dalam hatiku. Selamat jalan bapak, kelak kita akan berjumpa kembali.
Tahun 2008, menggoreskan luka sekaligus suka cita. Dan setiap dari pengalaman dan perjumpaanku dengan orang-orang, aku mensyukurinya karena aku semakin belajar banyak tentang kehidupan.
Kini tahun 2009 sedang mulai kubuka dengan segala harapan baru meski pun penuh tantangan baru juga. Dengan satu keyakinan yang masih ada bahwa Tuhan menyertai hidupku, aku tetap meletakkan tanganku dalam tanganNya. Tahun 2009 aku menyambutmu dengan sukacita dan asa baru. Selamat tinggal 2008, engkau tetap berkesan dalam hidupku.
(tempel, 1 Januari 2009, 00.05)