Pengakuan

Setidaknya ribuan kali saya mencoba untuk menghibur diri dan memaksa hati untuk mengelak dari perasaan saya. Namun kali ini saya mengakui, bahwa saya kesepian. Kesepian karena rindu. Rindu karena lama tak berjumpa. Berjumpa dengan perasaan nyaman ketika ia membelai saya, menyediakan bahunya untuk saya rebahi saat menyembuhkan luka-luka dan kepahitan saya sekian ratus hari sebelumnya. Rindu dengan pelukannya yang hangat sembari membelai rambut ikal saya kala itu. Saya rindu perjumpaan dengan kata-kata lembutnya…”Saya mengasihimu karena engkau sahabat saya.” Kata-kata yang tidak menipu karena saya begitu yakin dengan aura kata-kata yang terlontar di mulut tipisnya.

Ia mampu menyentuh hati saya, hingga saya berpikir dia adalah utusan Tuhan untuk mengembalikan kepercayaan saya atas yang namanya Cinta. Ia berhasil meyakinkan saya untuk kembali merasakan apa yang disebut mencintai dan dicintai, setelah saya kehilangan makna itu beberapa tahun sebelumnya. Ia berhasil mengubah ‘kacamata’ hati saya menjadi lebih jernih.
Saya mengaku sekarang, saya kembali kesepian akan kehadirannya. Kami hanya bertemu sesaat, tetapi keterhubungan kami tak akan putus. Karena kami punya cinta sebagai seorang sahabat. Saya bingung, kepada siapa saya harus mengaku bahwa saya kesepian, kesepian akan rindu padanya? Apakah tetap pada bintang di langit seperti yang dulu ia katakan pada saya, “Apabila engkau rindu padaku, lihatlah bintang di langit. Carilah yang paling terang sinarnya, itulah aku. Karena namaku Bintang. Pun ketika kabut menutupi cahayanya kala kau memandang, tetap yakin pada dirimu, aku tetap ada di sana. Aku tak kan pergi meski kita berjauhan…..”
(Mei, 2009)

Menikmati Wisata Kehidupan

Hidup saya unik. Ya, unik dan berwarna, alias tidak tertebak dan tidak monoton. Baru saya sadari bahwa hidup saya unik dan selalu saja ada kejadian yang aneh. Tidak hanya dalam urusan percintaan, pekerjaan, studi, tetapi juga urusan menghibur diri alias refreshing. Bahkan perjalanan wisata saya yang biasanya saya lakukan dengan rencana. Atau, biasanya saya lakukan dan nikmati sambil mengemban tugas, meski itu hanya menikmati perjalanan berbatu-batu dengan pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang tidak menarik.

Bagi saya, wisata tidak harus ke tempat mahal, tidur di hotel, berlari-lari di pantai, dan berfoto-foto seperti yang dipertontonkan di televise dan media lainnya. Menikmati perjalanan tugas, berbincang dengan orang-orang pedalaman, menikmati sajian makanan sederhana, makan sirih pinang, adalah wisata yang tak kalah nikmatnya. Saya selalu menyebutnya, wisata kehidupan.

Namun, perjalanan refreshing saya kali ini luar biasa ajaibnya. Kalau biasanya perjalanan keliling Indonesia saya adalah atas biaya kantor karena tujuan utamanya adalah bekerja, atau…perjalanan wisata atas biaya sendiri yang tentunya setelah menabung sekian lama, kali ini perjalanan saya adalah karunia dari seorang tetangga yang hidupnya sederhana. Pagi sebelum saya bersiap-siap ke kantor, tetangga saya yang berjualan bensin di depan rumah datang membawa voucher tiket Garuda Indonesia. Singkat cerita, ia dan suaminya memenangkan voucher tiket dari Garuda Indonesia perjalanan gratis Yogyakarta-Singapura pulang pergi. Ia bermaksud menjual tiket itu karena alasannya, “Bermimpi pun saya ndak berani, apalagi pergi beneran ke negera ini. Saya kan ndak pernah naik pesawat. Tolonglah beli tiket ini semampu mbaknya….” Katanya merayu. Kakak perempuan saya tak sampai hati, akhirnya terbeli lah tiket itu dengan harga seadanya. Singapura, negeri kecil yang sempat saya singgahi setengah hari karena transit dari Jakarta ke Manila. Saya pun enggan ke sana, alasannya simple saja, saya harus menabung untuk tesis saya. Entah bagaimana, kakak perempuan saya memberikan tiket itu ke saya. Dia tidak bisa berangkat karena berbagai hal.

Akhirnya tiket itu jatuh ke tangan saya. Berbekal uang seadanya, jadilah saya menikmati liburan Paskah di negeri kecil Singapura. Cukup senang, karena saya malah diundang menginap di apartment seorang teman lama saya sejak SMP. Lumayan, biaya akomodasi bisa nol dollar…. Bila saya mengingat ‘sejarah’ wisata saya di Singapura ini, tak habis saya memahami betapa beruntungnya saya. Dari seorang tukang jualan bensin-lah saya bisa berkeliling Singapura, dari sejumlah komunitas yang tak diperhatikan di bumi NTT, Papua dan Timor Leste saya bisa berwisata kehidupan, tentunya sambil meneguhkan komitmen saya mengasihi mereka. Dari seorang sahabat yang mengembalikan spirit kehidupan saya pula lah membuat saya kembali menikmati perjalanan penuh kekeluargaan di bumi Filipina. Entah, perjalanan saya selanjutnya seperti apa. Tetapi yang terpenting dari semua perjalanan saya adalah menyerap saripati kehidupan dari setiap tempat, pertemuan dengan orang-orang, dan belajar dari cara hidup mereka yang berwibawa. Bukan tebalnya tiket atau halaman paspor yang dicap visa yang terpenting, melainkan apakah saya mau belajar rendah hati dari setiap perjalanan, sama halnya kerendahan hati seorang Mbak Pani yang mengantarkan voucher tiket keberuntungannya pagi itu ke rumah kami……..