Oleh: utaridewi | Mei 3, 2009

Menikmati Wisata Kehidupan

Hidup saya unik. Ya, unik dan berwarna, alias tidak tertebak dan tidak monoton. Baru saya sadari bahwa hidup saya unik dan selalu saja ada kejadian yang aneh. Tidak hanya dalam urusan percintaan, pekerjaan, studi, tetapi juga urusan menghibur diri alias refreshing. Bahkan perjalanan wisata saya yang biasanya saya lakukan dengan rencana. Atau, biasanya saya lakukan dan nikmati sambil mengemban tugas, meski itu hanya menikmati perjalanan berbatu-batu dengan pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang tidak menarik.

Bagi saya, wisata tidak harus ke tempat mahal, tidur di hotel, berlari-lari di pantai, dan berfoto-foto seperti yang dipertontonkan di televise dan media lainnya. Menikmati perjalanan tugas, berbincang dengan orang-orang pedalaman, menikmati sajian makanan sederhana, makan sirih pinang, adalah wisata yang tak kalah nikmatnya. Saya selalu menyebutnya, wisata kehidupan.

Namun, perjalanan refreshing saya kali ini luar biasa ajaibnya. Kalau biasanya perjalanan keliling Indonesia saya adalah atas biaya kantor karena tujuan utamanya adalah bekerja, atau…perjalanan wisata atas biaya sendiri yang tentunya setelah menabung sekian lama, kali ini perjalanan saya adalah karunia dari seorang tetangga yang hidupnya sederhana. Pagi sebelum saya bersiap-siap ke kantor, tetangga saya yang berjualan bensin di depan rumah datang membawa voucher tiket Garuda Indonesia. Singkat cerita, ia dan suaminya memenangkan voucher tiket dari Garuda Indonesia perjalanan gratis Yogyakarta-Singapura pulang pergi. Ia bermaksud menjual tiket itu karena alasannya, “Bermimpi pun saya ndak berani, apalagi pergi beneran ke negera ini. Saya kan ndak pernah naik pesawat. Tolonglah beli tiket ini semampu mbaknya….” Katanya merayu. Kakak perempuan saya tak sampai hati, akhirnya terbeli lah tiket itu dengan harga seadanya. Singapura, negeri kecil yang sempat saya singgahi setengah hari karena transit dari Jakarta ke Manila. Saya pun enggan ke sana, alasannya simple saja, saya harus menabung untuk tesis saya. Entah bagaimana, kakak perempuan saya memberikan tiket itu ke saya. Dia tidak bisa berangkat karena berbagai hal.

Akhirnya tiket itu jatuh ke tangan saya. Berbekal uang seadanya, jadilah saya menikmati liburan Paskah di negeri kecil Singapura. Cukup senang, karena saya malah diundang menginap di apartment seorang teman lama saya sejak SMP. Lumayan, biaya akomodasi bisa nol dollar…. Bila saya mengingat ‘sejarah’ wisata saya di Singapura ini, tak habis saya memahami betapa beruntungnya saya. Dari seorang tukang jualan bensin-lah saya bisa berkeliling Singapura, dari sejumlah komunitas yang tak diperhatikan di bumi NTT, Papua dan Timor Leste saya bisa berwisata kehidupan, tentunya sambil meneguhkan komitmen saya mengasihi mereka. Dari seorang sahabat yang mengembalikan spirit kehidupan saya pula lah membuat saya kembali menikmati perjalanan penuh kekeluargaan di bumi Filipina. Entah, perjalanan saya selanjutnya seperti apa. Tetapi yang terpenting dari semua perjalanan saya adalah menyerap saripati kehidupan dari setiap tempat, pertemuan dengan orang-orang, dan belajar dari cara hidup mereka yang berwibawa. Bukan tebalnya tiket atau halaman paspor yang dicap visa yang terpenting, melainkan apakah saya mau belajar rendah hati dari setiap perjalanan, sama halnya kerendahan hati seorang Mbak Pani yang mengantarkan voucher tiket keberuntungannya pagi itu ke rumah kami……..


Tanggapan

  1. wah, enaknya…

    moga kapan2 saya juga bisa kayak mba,, jalan2 dgn biaya sendiri… berpetualang… pasti menyenangkan…

    salam,,,

  2. asikk tu…
    PeNend deH k saNa JuGag…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori