Oleh: utaridewi | Mei 13, 2009

Pengakuan

Setidaknya ribuan kali saya mencoba untuk menghibur diri dan memaksa hati untuk mengelak dari perasaan saya. Namun kali ini saya mengakui, bahwa saya kesepian. Kesepian karena rindu. Rindu karena lama tak berjumpa. Berjumpa dengan perasaan nyaman ketika ia membelai saya, menyediakan bahunya untuk saya rebahi saat menyembuhkan luka-luka dan kepahitan saya sekian ratus hari sebelumnya. Rindu dengan pelukannya yang hangat sembari membelai rambut ikal saya kala itu. Saya rindu perjumpaan dengan kata-kata lembutnya…”Saya mengasihimu karena engkau sahabat saya.” Kata-kata yang tidak menipu karena saya begitu yakin dengan aura kata-kata yang terlontar di mulut tipisnya.

Ia mampu menyentuh hati saya, hingga saya berpikir dia adalah utusan Tuhan untuk mengembalikan kepercayaan saya atas yang namanya Cinta. Ia berhasil meyakinkan saya untuk kembali merasakan apa yang disebut mencintai dan dicintai, setelah saya kehilangan makna itu beberapa tahun sebelumnya. Ia berhasil mengubah ‘kacamata’ hati saya menjadi lebih jernih.
Saya mengaku sekarang, saya kembali kesepian akan kehadirannya. Kami hanya bertemu sesaat, tetapi keterhubungan kami tak akan putus. Karena kami punya cinta sebagai seorang sahabat. Saya bingung, kepada siapa saya harus mengaku bahwa saya kesepian, kesepian akan rindu padanya? Apakah tetap pada bintang di langit seperti yang dulu ia katakan pada saya, “Apabila engkau rindu padaku, lihatlah bintang di langit. Carilah yang paling terang sinarnya, itulah aku. Karena namaku Bintang. Pun ketika kabut menutupi cahayanya kala kau memandang, tetap yakin pada dirimu, aku tetap ada di sana. Aku tak kan pergi meski kita berjauhan…..”
(Mei, 2009)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori