Srikandi Timor: Berjuang demi Tetes Air Kehidupan

Interview Bu Yohana_Baus Aug2009

Interview dengan Ibu Yohana, Baus Agustus 2009

Mama Yohana, Nona Nelci, Mama Margaretha, dan ratusan mama lainnya di Pulau Timor ini barangkali tidak pernah belajar khusus tentang ilmu gender di gedung universitas manapun. Pula mereka tidak pernah bermimpi menjadi sarjana bahkan anggota dewan yang konon selalu berkoar-koar mau memperjuangkan kepentingan rakyat tetapi nyatanya melempem di tengah jalan. Tetapi bagi masyarakat di sekitarnya, justru merekalah pejuang yang sesungguhnya. Dari tangan dan pikiran merekalah, lahir beberapa komunitas masyarakat madani yang sadar akan haknya, yaitu hak atas hidup dan berdaya. Bagiku, mereka adalah srikandi yang hidup, meski nama mereka tidak pernah didengungkan di media massa seperti halnya artis atau figur perempuan yang berlenggak lenggok di media dengan segala kepalsuan mereka, tetapi sialnya malah dianggap sebagai pejuang perempuan masa kini. Meski demikian, tiga perempuan Timor ini tidak peduli apakah media melirik mereka atau tidak, apakah public menobatkan mereka menjadi pejuang atau tidak.Yang penting, mereka berkarya dan membawa makna. Para srikandi ini bertemu dengan kami saat bersama-sama memikirkan bagaimana agar air bersih dan sanitasi yang sehat dapat dinikmati oleh masyarakat desa di mana mereka bertahan hidup dari generasi ke generasi. Awalnya mereka hanya pasrah dengan keadaan, bahwa mereka harus berjalan kaki 1-3 km hanya untuk mencari air bersih. Belum lagi beban yang harus mereka pikul sembari membawa air bersih, dan beban pekerjaan rumah tangga lainnya, juga beban mengelola ladang sebagai mata pencaharian mereka. Konon, mereka berpikir hampir mustahil mengharapkan uluran tangan yang konkret datang dari pemerintah maupun lembaga sosial lainnya. Rata-rata datang hanya sampai mengukur dan melakukan survey, setelah itu pergi tanpa kembali. Itulah yang membuat masyarakat desa Baus, desa yang didiami oleh Mama Yohana dan Nona Nelci, trauma dengan kedatangan orang asing, termasuk kami. Meski kami sempat ditolak, namun akhirnya masyarakat menerima kehadiran kami.

Kedua perempuan ini pula yang bersemangat melakukan kerja bakti dan memotivasi para perempuan dan laki-laki di desa ini untuk memulai pekerjaan mengolah sumber mata air sehingga air menjadi dekat dengan lingkungan dusun mereka. Ketika masyarakat belum sadar dan masih loyo untuk menggarap perlindungan mata air yang letaknya 1,5 km dari pemukiman mereka dan berada di tebing bukit, dua perempuan ini sejak subuh getol membangunkan mereka. Dengan alat seadanya mereka menggerakkan massa untuk kerjabakti dan kata-katanya selalu menyemangati baik laki-laki maupun perempuan. “Ayo bangun kalian semua!!! Kalau mau dapat air sekarang juga, jangan malas-malasan. Bapa mama harus sama-sama bekerja agar anak-anak kita bisa mandi dan pi sekolah!” teriakan mereka di pagi buta. Dalam waktu 4 bulan, dengan semangat 2 perempuan ini masyarakat dusun IV Baus berhasil mengalirkan air bersih dari mata air sampai di depan rumah mereka menggunakan pipa dan baik air. Dari air mata yang habis mongering sebelumnya, menjadi mata air yang bisa mereka nikmati kesegarannya.

Perjuangan mereka tidak selesai sampai di situ. Setelah berhasil mengalirkan air dari bak induk mata air, tiba-tiba datang sebuah program yang didanai oleh pemerintah dan lembaga dunia dengan penuh arogan menyerobot bak air dan memasang pipa untuk tempat lain tanpa permisi. Dua perempuan ini tidak tinggal diam untuk memperjuangkan haknya. “Laki-laki di desa kami tidak berani mendatangi orang-orang proyek itu. Jadi kami larang mereka untuk menghadapinya dan kami bilang,’Ini urusan perempuan! Kamu diam saja di belakang kami! Kami akan lawan mereka’, begitu kata kami kala itu,” kisah Mama Yohana dan Nona Nelci. Mereka dengan berani mendatangi orang-orang proyek dan pemerintah desa, bahkan mereka sendiri yang menelpon polisi tanpa takut akan ditangkap. “Kami merasa tidak salah kok, jadi kalau mereka tangkap kami karena melawan proyek itu, biar saja. Orang tahu siapa yang benar. Air sudah jalan kok dirusak sama mereka!” Akhirnya orang-orang proyek itu pulang dengan tangan hampa. Apa daya, mereka menghadapi srikandi perkasa yang menyadari betul kebenaran dan hak rakyat desanya.

Akan halnya Mama Margaretha, yang tinggal di Desa Motaulun, ratusan kilometer dari baus, memulai karyanya memotivasi masyarakat desa sejak ia masih muda. Mama Margaretha, seorang janda beranak satu yang juga memiliki profesi mulia sebagai petani dan pengusaha penggilingan padi ini, hanya memiliki satu cita-cita bagaimana ia bisa mendarmabaktikan hidupnya bagi masyarakat Motaulun yang berlangganan banjir sejak tahun 2000. Meski seringkali mendapatkan remehan dari kaum laki-laki di sekelilingnya, ia tak gentar mengusahakan organisasi rakyat yang ia pimpin untuk maju dan melayani kebutuhan air bersih dan sanitasi bekerjasama dengan lembaga manapun. “Saya selalu bilang, seperti halnya laki-laki, kami perempuan bisa sama-sama berjuang”, ujarnya penuh percaya diri. Dari tangan dinginnya dan kemampuannya mengorganisir kaum perempuan di desa inilah, masyarakat Motaulun berhasil mengusahakan air bersih dari sumur-sumur yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga 400-an rumah tangga. Mama Margaretha juga berhasil membuktikan bahwa program air bersih ini dapat dipertanggungjawabkan dan bersih dari korupsi, berbeda dengan program air bersih lainnya yang tidak partisipatif dan cenderung beresiko penyelewengan. Organisasi rakyat yang ia pimpin –dimana sebagian besar beranggotakan perempuan- membuktikan bahwa kerjasama yang baik dan itikad baik dapat menjalankan program murah karena partisipasi datang dari masyarakat. Hingga sekarang, sumber-sumber air dalam bentuk sumur masih cantik berdiri dan dimanfaatkan oleh ratusan keluarga di Motaulun. Hebatnya, meski banjir menerjang desa mereka sewaktu-waktu, sumur-sumur tersebut tidak tergoyahkan sebagaimana semangat Margaretha tidak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Begitulah kisah para srikandi dari Timor. Hingga detik ini semangat mereka masih mewarnai kehidupan di 2 desa yang terpencil dan tak terjamah dengan modernitas. Kesederhanaan mereka menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Pun nama mereka menyegarkan bagai air kehidupan yang kini bisa dinikmati masyarakatnya. Dan akupun takjub akan pesona mereka, para srikandi masa kini.
(TTS, Agustus 2009)

Miskin di tengah Makmur

Harian Pos Kupang tanggal 6 Agustus 2009 menurunkan artikel yang cukup menggelitik berjudul “10 Penyebab Kemiskinan di NTT”. Artikel ini menyadur pernyataan Asisten Deputi VII Menko Kesra Urusan Pengarusutamaan Kebijakan dan Anggaran, Wahnarno Hadi mengenai penyebab kemiskinan di NTT yang memang selama ini dikategorikan sebagai provinsi miskin di Indonesia. Kesepuluh penyebab itu disinyalir adalah terbatasnya kecukupan pangan dan mutu pangan, akses dan mutu layanan kesehatan, rendahnyanya mutu layanan pendidikan. Selain itu, terbatasnya kerja produktif dan berusaha, akses pelayanan perumahan yang terbatas, sarana prasarana air besih dan sanitasi yang terbatas, lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah, memburuknya kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan lemahnya perlindungan atau jaminan hak atas rasa aman serga lemahnya akses partisipasi masyarakat miskin. Intinya, semua alasan penyebab tersebut bermuara pada persoalan belum terpenuhinya hak dasar masyarakat secara optimal, adil, dan merata.

Hadi dalam liputan ini mengungkapkan data bahwa jumlah penduduk miskin pada tahun 2009 ini sebanyak 1.013.100 (23,32 persen), dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di daerah pedesaan, yakni 903.700 atau 25,35%. Dengan data demikian, menjadi alasan bagi pemerintah daerah merangkul sejumlah kemitraan untuk menggelar berbagai program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP), raskin, program keluarga harapan, BLT, dan lain-lain. Sejumlah program menggarap berbagai aspek, seperti ekonomi, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan peningkatan kapasitas masyarakat desa sebagai sasaran program.

Benarkah program-program pemberdayaan dalam berbagai bentuk dari bantuan Cuma-Cuma hingga pinjaman lunak tersebut mampu menjawab kesepuluh problem kemiskinan NTT? Bila kita merunut jejak ke belakang, sudah tidak kurang akal pemerintah, lembaga swadaya baik lokal, nasional, maupun internasional mengusahakan program yang bercita-cita mengentaskan masyarakat NTT dari lubang kemiskinan. Dari sekian banyak program tersebut, belum ada program yang bisa menyatakan keberhasilan seratus persen dengan berbagai alasan, baik persoalan kultur maupun infrastruktur. Buktinya, keluhan belum ada peningkatan kualitas hidup masih terdengar di sana sini.

Ironisnya, di tengah-tengah ‘teriakan kemiskinan’ masyarakat NTT yang begitu santer oleh balita-balita kurang gizi dan kelaparan yang tergeletak tak berdaya, perempuan-perempuan yang banting tulang dan disiksa di negeri seberang, pemuda-pemudi pengangguran, dan petani-petani miskin yang siap merugi tiap tahunnya, masih saja banyak pejabat yang tega melakukan korupsi. Selama hampir 3 minggu penulis tinggal di salah satu kota kecil NTT ini dan melahap sajian berita Harian Pos Kupang tiap harinya, selalu saja terbaca artikel yang mengabarkan temuan korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh petinggi daerah. Sebut saja temuan BPK terhadap kasus-kasus kerugian negara lebih dari Rp 10 M di lingkungan pemda Alor (Pos Kupang, 11 Agustus 2009). Belum lagi ratusan kasus penyelewengan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dengan menggunakan uang negara yang dilakukan oleh aparat negara di wilayah lain. Yang terlintas di pikiran penulis adalah….begitu teganya.  Gurauan dengan seorang teman setelah membaca liputan korupsi yang hampir terpampang tiap hari dengan pelaku berbeda adalah,” Kok bisa tidur nyenyak ya, nyolong uang rakyat segitu banyaknya?”

Perilaku korupsi seperti ini bisa jadi memupuskan harapan akan membaiknya kehidupan masyarakat NTT, meski NTT bukanlah provinsi yang seorang diri menghadapi problem moral ini. Ada puluhan provinsi lainnya di Indonesia yang tidak bisa bersih seratus persen memberantas korupsi. Barangkali memang sudah mentalnya seperti ini, sehingga penulis juga tidak bisa yakin seratus persen bahwa upaya pemerintah provinsi NTT untuk mengundang puluhan investor asing untuk menggarap potensi tambang di hampir sebagian besar kepulauan NTT akan meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat bumi NTT, selama akar masalahnya tidak tercerabut. Bahkan kekhawatiran banyak pengamat sosial bisa jadi terjadi, justru kedatangan investor asing semakin menjerambabkan masyarakat NTT ke lubang kemiskinan karena hanya menjadi penonton setia operasi eksploitasi alam yang tidak bisa menjamin keberlangsungan lingkungan dan memunculkan persoalan baru. Belajar dari saudara kita di Papua, pertanyaannya kemudian, apakah pemerintah NTT terlalu buta untuk belajar dari pengalaman Papua?

Memang beroperasinya perusahaan asing untuk menambang mangan dan minyak di NTT akan meningkatkan kesejahteraan. Tetapi, kesejahteraan siapa? Rakyat yang mana? Karena setelah 64 tahun Indonesia merdeka, sepertinya rakyat NTT masih terlalu lemah memekikkan kata Merdeka. Perut mereka terlalu lapar, energy mereka sudah sangat minim setelah menggugat keadilan sosial yang diperkosa oleh kepentingan segelintir orang.  Doa dan harapan mereka, mudah-mudahan daftar “10 Penyebab Kemiskinan NTT” yang sudah dipaparkan di awal tulisan ini tidak makin panjang menjadi sebelas, duabelas, bahkan puluhan lagi.

(Soe, Agustus 2009)

Anak umatoos

Kisah dari Timor_1

Dalam waktu satu minggu belakangan saya mendapatkan pelajaran hidup berharga saat mencoba mencicipi live in di sebuah desa kecil bernama Motaulun. Desa ini jauh dari modernisasi, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai desa tertinggal justru karena kesederhanaannya. Hidup warganya bergairah meski jauh dari hingar bingar segala bentuk hiburan karena listrik pun banyak diakses oleh semua keluarga.

Gairah hidup warganya bangkit dari kesederhanaan pola pikir mereka, cukup mendapat rejeki hari ini dan menjaga hubungan baik dengan sesame warga. Pagi hari adalah dimulainya kegairahan mereka, saling menyapa antar rumah dengan teriakan. Lebih tepat disebut teriakan karena memang dengan suara lantang dank eras meski bukan dalam rangka marah. “Beginilah kami orang Timor, bicara pun disangka marah karena teriak-teriak,” kata seorang ibu. Saya maklum karena memang letak rumah mereka tidak berdekatan dan dibatasi oleh halaman luas, beda jauh dengan pemukiman di kota besar yang berdesakan. Setiap saya jalan atau naik motor keliling kampong, selalu diteriaki, “Ooiii…!!!”, yang artinya sama dengan “Halo”. Pagi hari hingga siang adalah saat mama-mama (sebutan untuk para ibu) beraktifitas mengambil air di sumur, sementara para lelaki membawa alat pergi ke kebun.  Sementara suara anak-anak kecil dari yang menangis merengek minta uang jajan hingga tertawa terdengar di sana sini, dan mereka berjalan beriringan pergi ke sekolah. Hampir semuanya berjalan kaki, meski jarak sekolah hingga 1 km jauhnya.

Siang hingga sore yang mereka lakukan kebanyakan duduk-duduk di halaman. Mereka belum bisa menghidupkan peralatan elektronik karena listrik baru dinyalakan pukul 6 sore hingga 6 pagi. Hanya ada 1 rumah yang membunyikan tape keras-keras non stop dengan aki, dan itu membuat saya selalu berpikir jangan-jangan pemuda yang membunyikan tape ini bermimpi jadi pengusaha stasiun radio.

Malam adalah waktu yang dinantikan oleh sebagian besar anak kecil dan para ibu, saat menonton sinetron. Di satu kampong, yang memiliki televisi bisa dihitung dengan jari….tidak lebih dari 5 keluarga. Oleh karena itu, 1 televisi bisa ditonton bahkan lebih dari 20 orang, biasanya anak kecil dan para ibu. Lucunya, mereka datang dengan membawa hp titipan orang dewasa atau orangtuanya masing-masing untuk nunut di-charge. Sambil menunggu charging hp selesai, mereka menonton televise sampai sengantuknya. Jadi, dari jaman Soeharto hingga sekarang perilaku nonton bersama di desa itu masih berlangsung. Tampak berbeda sama sekali dengan perilaku bertelevisi di kota-kota Jawa, di mana masing-masing kamar memiliki tivi sendiri-sendiri dan ditonton sendiri.

Jangan ditanya antusiasme mereka menyambut tamu, apalagi bila tamu itu dari luar Timor seperti saya ini yang datang dari Jawa. Tiap saya datang ke masing-masing rumah calon responden untuk penelitian ini, saya sampai hapal urutan sajian yang akan dihidangkan. Pertama adalah sirih pinang yang harus saya makan. Ngobrol sebentar, lalu keluarlah biscuit dan kopi susu. Kalau sedang beruntung dan saat saya datang malam hari, maka saya akan ditahan untuk makan malam bersama. Menunya sama, ayam kampong dibuat sop yang terdiri dari daging ayam bersama tulangnya dan kuah kaldu. Untuk sayurnya, daun sawi dibuat ca, dan sambal Timor yang pedasnya minta ampun.

Saya sering dibuat terharu oleh kesederhanaan mereka. Tidak ada niat penolakan sama sekali, bahkan wajah bangga terpancar saat saya bertanya soal kehidupan mereka. Kalaupun mengeluh soal sulitnya kehidupan mereka, keluhan itu disertai senyuman harapan. … bersambung.

(Motaulun, Agustus awal 2009)Motaulun_August 2009