Rumah Kecil Impian di tengah Kebun Jati (My little dream house in the Jati Garden)

Terinspirasi oleh film yang paling kusuka waktu kecil, berjudul Little House in the Praire, aku menamai rumah impianku dengan sebutan: my little dream house in the Jati Garden. Awalnya namanya hanya ” My Little Dream House”. Tapi lama-lama jadi lebih panjang karena terinspirasi film yang seringkali menciptakan titik-titik air mata haru dan sedih setiap aku menontonnya. Rumah ini belum sepenuhnya jadi, baru setengah jadi, tapi aku sudah menjatuhi cintaku padanya. Inilah salah satu impianku yang akhirnya bisa terjawab meski aku harus terengah-engah mewujudkannya.

Kurang lebih pertengahan 2008, dengan rejeki secukupnya pemberian Tuhan melalui peninggalan alm bapak tercinta, aku membeli tanah mungil yang jaraknya hanya 500 meter dari Candi Prambanan yang sangat terkenal itu. Pertama kali melihat posisi dan kondisi tanah ini, aku sudah merasa klik dan tanpa menunggu 2 hari langsung kubayar down payment tanda jadi. Tanah ini sesuai dengan kriteriaku, sertifikat jelas, tanah pekarangan siap dibikin rumah, udaranya sejuk, di tengah kampong, dan yang lebih meyakinkan lagi view gunung Merapi begitu anggun bisa langsung dipandang dari posisinya.

Proses begitu panjang harus kujalani untuk memulai pembangunan my little dream house ini. Seperti biasa, menghadapi wajah-wajah birokrat level desa yang minta diciprati sekian ratus ribu rupiah adalah perjalanan paling meletihkan dan sempat membuatku hampir mundur saja. Entah memperoleh semangat dari mana, akhirnya dengan modal nekat aku minta salah satu teman dekat untuk membantu memulai pembangunan rumah ini, dengan budget yang seringkali kusebut “budget nekat dan kurangajar mepetnya”. Seringkali terselip perasaan bersalah memandang wajah temanku sang arsitek handal ini yang meringis saat berdiskusi bagaimana mengatur “budget nekat dan kurangajar mepetnya” ini untuk disulap menjadi rumah berukuran kurang lebih 40 m2. Kepala kami seringkali pusing tujuh keliling mencari cara bagaimana menggunakan bahan yang tidak berat di ongkos. Salah satu contoh saja, dari sisi tembok bagian dalam yang rencananya di-aci semen, harus kami ubah menjadi tanpa aci. Resikonya, harus mencari batu bata yang murah tapi kuat dan cocok untuk tembok bata expose. Belum lagi harus tebal muka merengek supplier semen dan besi agar berbaik hati memberikan harga lama, dan lebih tidak sopannya lagi…bahkan kami minta keringanan untuk mau dititipin bahan-bahan tersebut sekian bulan lamanya agar tidak kena kenaikan harga di akhir tahun. Sungguh Tuhan baik padaku dan pada temanku, ada saja kemurahan-kemurahan dan keberuntungan yang kudapatkan selama proses pembuatan my little dream house ini. Kemarin pun kebetulan ada diskon besar-besaran akhir tahun untuk bahan-bahan asesoris yang lumayan. Thanks God…..

Meski my little dream house ini dibangun dengan tentu saja karena kebaikan Tuhan dan jerih keringatku serta donasi dari ibu tercinta, entah mengapa ada saja suara-suara sumbang yang ‘disumbangkan’ kepadaku tanpa ampun, mengingat statusku yang masih single. “Apa sih yang kamu kejar, masih single kok bikin rumah? Entar cowok yang deketin elo keenakan kali….atau malah takut karena elo dah punya apapun yang menjadi tanggungjawab dia.” My God….come on…..pikiran jadul kok masih dipelihara. Bisakah saudara menunjukkan di mana salahku kalau punya impian selagi aku bisa meraihnya? Salahkah aku bila aku tidak menggantungkan hidupku pada orang lain tetapi memilih berdiri di kaki sendiri meski aku sadar 1000 persen bahwa pasti ada saatnya seseorang juga mengambil peran penting dalam hidupku? Apakah perkawinan hanya dilandaskan pada hitung-hitungan untung rugi “Eh elo kalau mau ngawinin gue, elo punya apa gue punya apa???” Bukan lagi dilandaskan pada perasaan saling menguatkan dan mengasihi untuk berbagi kebahagiaan menghabiskan sisa hidup lagi?

Sulit mengubah konstruksi budaya yang masih juga mengkaitkan status dengan kepemilikan rumah. Aku barangkali belum bisa membayangkan bila ada sensus dan aku misalnya masih juga single terpaksa menghadapi cibiran orang saat bertanya, “Siapa kepala keluarganya, bu? Kok masih sendiri aja?” Please deh, apabila boleh memilih, tentu aku memilih hidup di my little dream house ini bersama pasangan hidupku yang berbahagia bersamaku bukan karena aku sudah memiliki rumah, melainkan karena kami mau menghabiskan sisa hidup bersama dan berbagi kisah sukaduka. Sudahlah, apapun keadaannya, aku tetap mencintai dan bangga memiliki my little dream house ini. Mungil, coklat, dan cantik di tengah kebun jati dan pemandangan Gunung Merapi yang anggun. Sama halnya kecintaan dan kebanggaan alm bapakku dan ibuku yang berhasil membangun rumah impian mereka yang saat ini masih kami tempati. My little dream house adalah curahan perjalanan hidupku, sekaligus mewujudkan impianku dan impian seseorang yang pernah mampir mengambil peran penting dalam rentang waktu hidup. Rumah ini adalah salah satu mimpinya juga yang barangkali tak kan pernah ia nikmati karena kami tak bisa bersama…..

(Prambanan Yogyakarta, akhir 2009)