Gara-gara Wedhus Gembel (maaf) Gunung Ejakulasi (part 2)

Setelah menunggu beberapa hari lamanya, dengan disambi bekerja jarak jauh yang untungnya saya difasilitasi internet wifi gratis baik di hotel maupun kantor lembaga pengundang, kembali saya dibikin lemas lagi. Hari Rabu saya mencoba reconfirm penerbangan saya, ternyata Lufthansa masih belum berani menerbangkan pesawatnya. Kecuali saya mau naik kereta api ke Frankfurt selama 6 jam, baru dari Frankfurt ke Indonesia naik pesawat. Wah, terlalu risky karena saya belum pernah ke Frankfurt dan pindah-pindah alat transportasi. Teman saya juga tidak merekomendasikan berhubung banyak sekali penumpang pesawat yang cancelled berebutan tiket kereta api dengan harga berkali-kali lipat dibanding naik pesawat. Akhirnya saya pasrah dibatalkan lagi pesawatnya pada hari Jumat.

Suasana bandara memang kacau karena selama wedhus gembel tidak mau turun, konon 100,000 jam penerbangan dibatalkan. Kota-kota besar daratan eropa dipenuhi oleh orang lalu lalang menjinjing troli bag mencari hotel untuk tinggal sementara. Itu yang kaya. Yang tidak kaya atau tidak membawa bekal cukup, seperti saya ini, tentu kebingungan.

Saya cukup beruntung karena saya dipindahkan dari hotel yang membuat saya hampir mati kesepian untuk tinggal sementara dengan Katherine, salah satu staf lembaga yang mengundang saya. Ia seorang Kenya yang tinggal bersama anak semata wayangnya. Apartmentnya lumayan jauh dari kota, ia tinggal di desa bernama Croix de Rozon, berbatasan langsung dengan Negara Perancis, terletak di lembah pegunungan yang asri. Namun dengan transportasi public yang canggih dan memadai, sangat teratur dan disiplin dengan waktu, jarak jauh tak masalah bagi saya.

Selama 3 malam berikutnya saya bisa tidur nyaman di desa dingin dan makanan yang enak, dan senangnya saya bisa membuat makanan sendiri seadanya. Sekali lagi Tuhan sayang sama saya. Di seberang saya duduk sekarang ini, ada ratusan tempat tidur tipis yang kalau kita sebut tandu darurat digelar di bandara ini. Tiba-tiba bandara seperti shelter tempat penampungan para refuges, untuk memberikan tempat bagi orang-orang yang tak bisa mendapatkan tempat di hotel atau tidak mampu ongkos bermalam karena hotel-hotel yang nakal menaikkan harga sewanya. Mereka akhirnya harus ikhlas tidur di bandara dengan kenyamanan seadanya. Baru kali ini terjadi seumur bandara Frankfurt. Soal malu ditonton orang banyak yang lalu lalang, tak dihiraukan lagi. Yang penting bisa mandi atau cuci muka dan berbaring daripada terlunta di jalan.

Konon, gara-gara wedhus gembel ini pula, hampir semua maskapai penerbangan besar mengalami kerugian besar-besaran, kalau ditotal 2 triliun rupiah sehari. Enam hari tidak beroperasi serasa end of life bagi mereka, dan akhirnya mereka mendesak pemerintah untuk membolehkan terbang. Tentu setelah mereka melakukan tes terbang dengan ketinggian dan kecepatan terntu, dan monitor yang sangat ketat dari BMG dunia dan pihak lainnya. Hari Rabu-Kamis, beberapa maskapai penerbangan beroperasi setelah beberapa bandara berani buka. Para refuges di bandara-bandara tersebut serentak bersorak kegirangan dan bertepuk tangan, hampir persis kalau menonton kesebelasan sepak bola menang pertandingan. Tapi sampai hari ini pun (hari Jumat), masih ada beberapa penumpang yang belum bisa diterbangkan karena berbagai hal.

Inilah sekelumit cerita penderitaan dunia penerbangan dan penumpangnya akibat wedhus gembel dari sebuah gunung di Iceland. Untuk menyebut nama gunung ini, saya dan teman saya yang kesulitan menyebutnya akhirnya bersepakat, kita namai saja ia Gunung Ejakulasi. Nah, baru ejakulasi saja sudah membawa dampak seperti ini bagi sebagian orang di seluruh dunia, bagaimana kalau ia orgasme ya.

Frankfurt, 23 April hampir naik Lufthans yang (akhirnya) terbang

Gara-gara Wedhus Gembel (maaf) Gunung Ejakulasi (part 1)

Saat tulisan ini dibuat, saya berada di gate B23 Bandara Frankfurt, Jerman, bandara yang masuk dalam kategori sibuk dan besar di daratan Eropa. Saya harus menunggu kurang lebih 7 jam lagi untuk terbang ke Singapore, selanjutnya ke tanah air yang saya rindukan, baik itu keluarga saya tercinta, teman-teman, bau ruangan saya di kantor, tempe, krupuk, nasi organic masakan bunda, gudeg….hmmm hampir semua di kota Jogja saya rindukan. Bahkan kasur empuk saya dan celotehan 3 makhluk kecil dengan nama akhir: Indonesia. Saya rindu mereka meski Cuma pergi ke Geneva Swiss kurang lebih 10 hari lamanya, padahal saya seharusnya tidak lama dari waktu itu.

Ya, dari waktu yang Cuma 4 hari direncanakan, ternyata saya harus memundurkan kepulangan saya. Kalau anda membaca catatan saya sebelumnya tentang wedhus gembel gunung berapi di Iceland, ternyata saya masuk dalam daftar korban si wedhus gembel. Kepulangan saya sampai mundur 2 kali karena pesawat Lufthansa yang harusnya saya tumpangi membatalkan semua penerbangannya ke tujuan manapun. Hari Sabtu yang harusnya saya kembali ke Indonesia, dibatalkan pada hari Rabu minggu berikutnya. Saya tidak terlalu panic di bandara karena mau bagaimana lagi. Tetapi yang bikin panic adalah akomodasi alias dimana saya bisa merebahkan diri, karena ketika kembali ke kota untuk kembali menginap di hotel sebelumnya, hampir semua hotel penuh. Kalau pun ada, hanya hotel-hotel dengan harga selangit yang tak mampu saya bayar saat itu. Mengontak teman-teman yang mengundang saya, ternyata mereka tidak mencantumkan nomor hp mereka di kartu nama, dan tentu telpon kantor tidak bisa menerima telpon saya karena week end.

Kepanikan saya terselesaikan setelah hampir lebih dari 1 jam, akhirnya dengan rahmat Tuhan yang maha Kuasa saya menemukan hotel murah meriah dengan fasilitas memadai dan pelayanan sangat baik. Saya memerlukan waktu 1 jam berputar-putar dengan perut lapar dan kerongkongan kering karena pada hari Sabtu toko banyak yang tutup lebih awal. Sempat terdiam untuk mencoba berpikir tenang apa yang harus saya lakukan, sementara orang-orang yang lalu lalang di muka saya tampak tak peduli. Bahkan orang Asia yang menjaga toko Asia yang saya tanyai apakah menerima uang dollar (kebetulan swiss franc-saya pas habis untuk mengirim email dan menelepon sana sini yang diakhiri dengan kegagalan dan tertelan di box telpon) agar saya bisa minum se-dua teguk air, ia menolak dan sesegera menutup tokonya. Sialan, umpat saya dalam hati. Sama-sama Asia saja sok jual mahal.

Hanya satu yang tetap saya pegang sebagai tumpuan harapan saya. Setidaknya bapak dan ibu saya senang berbuat baik dan menolong orang lain, tentu Tuhan tidak membiarkan saya tanpa pertolongan. Hanya itu saja, karena saya percaya hukum alam siapa yang menabur kebaikan, ia akan menuai hasil yang baik pula, yaitu pertolongan. Mungkin perilaku saya tidak terlalu baik-baik amat sama orang lain, tetapi setidaknya alm ayah saya dan ibu saya akui sangat social, jadi tak mungkin anak buntutnya ini keleleran di jalan tanpa ada yang menolong. Saya cukup gambling memasuki sebuah bar yang ada hotelnya. Setelah bertanya dengan pramuniaga, saya ditunjukkan ke resepsionis untuk mencari kamar. Thanks God, masih ada kamar untuk 1 orang (memang betul untuk satu orang karena bed hanya 1 dan kecil) seharga 146 CHF, kira-kira 166 USD, per malam. Saya hitung-hitung uang dollar saya, cukuplah untuk 2 malam. Untuk malam berikutnya saya yakin lembaga yang mengundang saya mau mengakomodasi. Tetapi saya berpikir, kalau saya habiskan uang dollar saya, saya makan dengan apa? Untungnya lagi kartu kredit saya masih bisa digunakan untuk membayar 2 malam di Hotel Capitole tersebut. Fiuuh….pertolongan Tuhan memang tepat pada waktunya. Tak Cuma itu, resepsionis yang bernama Lily itu bersedia saya mintai tolong untuk menelpon Vice President lembaga pengundang, Jill, agar ia mengetahui keberadaan saya. Sekali dua kali tidak nyambung, akhirnya saya putuskan naik ke kamar. Beberapa menit kemudian telpon bordering, dan hati saya melompat kegirangan mendengar suara Jill menyapa saya. Setelah menceritakan kejadian sore itu, saya hampir menangis terharu karena dia membolehkan saya stay beberapa malam dan akan mengganti semua biaya ekstra.

Jill bahkan mengundang saya ikut kebaktian di Gereja Presbiterian yang umurnya sudah 300 tahun hari Minggu, tetapi mereka menempati ruang yang lebih baru. Selama kebaktian saya tak habis-habisnya bersyukur bahwa sekali lagi Tuhan mengirimkan “malaikat-malaikat” untuk menolong saya. Baru pertama ke Eropa, kok ya ada saja kejadiannya. Anyway, selesai kebaktian saya diperkenalkan Jill kepada jemaat di situ, tentu bersama tamu-tamu lainnya juga mengenalkan diri masing-masing, dan mereka tersenyum empatik ketika Jill menyebut saya sebagai korban dari awan panas gunung di Iceland. Pesawat saya mundur, dan bla…bla….Setelah itu beberapa orang menyalami saya, termasuk beberapa orang Indonesia. Mereka hanya basa basi sejenak, tinggal di mana, sama siapa….dan tidak ada satupun yang mengundang saya atau menawarkan diri untuk menemani saya selama stranded di kota ini. Hanya selintas mereka – orang-orang Indonesia itu- bilang,”Hati-hati ya di jalan, semoga lancar. Bye….” Hmmmm….aneh juga. Justru yang mengajak saya makan siang adalah anak-anak muda gereja itu yang semuanya anak Eropa. Wah, fenomena social apa nih?

Frankfurt, 23 April 2010. Kejadian yang saya ceritakan di atas terjadi pada tanggal 17 April, hari yang seharusnya saya kembali ke Indonesia, alias 2 hari setelah letusan gunung

(bersambung)

Mencecap Eropa Sekejap Mata_Part 1

Perjalanan panjang lebih dari 20 jam dari Jogja kota tercinta sampai ke Geneva kota sibuk di daratan Eropa membuat saya tak berkutik. Kalau pada perjalanan-perjalanan dinas sebelumnya, meski panjang dan melelahkan saya masih bisa kemayu melakukan aktivitas ‘tambahan’ misalnya informal meeting dengan teman-teman di wilayah area program kami atau dengan tamu yang saya dampingi, atau bahkan melanjutkan jalan lagi via darat ke desa-desa, kali ini saya terpaksa angkat tangan menutup perjalanan lebih dari 20 jam di pesawat ini dengan ambrukkan diri di kamar hotel yang dingin ini. Tentu setelah mandi bebek alias super cepat untuk mengantisipasi kedinginan yang sangat,meski ada air panas.

Hotel yang dipilihkan untuk saya dan rekan-rekan lain yang datang dari  berbagai tempat dan Negara berjudul At Home, berada di ujung jalan Rue de Fribourg, dekat stasiun kereta Cornavin, jantung kota Geneva. Untuk sampai di hotel ini pun, saya akui ke’katrok’an saya, meski saya bersyukur bahwa pengalaman jalan di Negara-negara lain di Asia cukup andil besar mengajarkan saya naik public transport di kota yang serba rapi dan bersih ini. Berbekal informasi dari Miss Elisabeth, pegawai administrasi lembaga yang mengundang meeting ini, saya mengambil free ticket untuk naik busway. Padahal – dan ini yang membuat saya geli dalam hati- seumur-umurnya busway transjogja di kota saya yang dilahirkan sejak 4-5 tahun lalu, baru sekali saya naik Transjogja. Suerr….naik transjakarta, busway di Jakarta, juga baru sekali, itupun pakai acara kapok. Tentu perjalanan dalam kota Geneva saya tidak mulus tanpa bertanya. Mengingat pepatah malu bertanya sesat di jalan, saya beberapa kali bertanya pada orang-orang bule…dengan bahasa Inggris saya yang pas…pas-pasan maksudnya. Saya tetap pede, karena orang-orang di sini lebih fasih bahasa Perancis daripada English, jadi tidak perlu malu ditertawakan wong mereka juga ndak pinter-pinter amat. Hehhe……Kalaupun pinter ng-English, untungnya saya tidak terlalu asing dengan logat dan dialek mereka, berbekal pengalaman berkomunikasi dengan berbagai makhluk Eropa. Memahami English orang Eropa (kecuali yang British banget) lebih mudah daripada Englishnya orang Amerika, Africa dan Aussie. Dua terakhir saya sebut ini bisa membuat kepala berkerut penasaran pada saat bercakap-cakap.

Anyway, akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di daratan Eropa. Ini kali pertama, dan saya cukup bersyukur bahwa Tuhan telah mendidik saya melakukan banyak perjalanan tugas yang mana setiap perjalanan itu memberikan pengalaman. Setiap pengalaman ini saya diberi kesempatan menyerap saripatinya. Pengalaman berharga dari perjalanan sebelumnya ternyata membawa hikmah pada perjalanan berikutnya. Mengapa saya mengatakan demikian? Contoh yang sepele saja. Untuk naik public transport di sini, saya mencoba mengingat-ingat pengalaman naik public transport di Singapore, yang hamper mirip-mirip dengan setting-an Eropa. Coba kalau saya tahun lalu tidak belajar naik dari busway ke busway lainnya, mungkin ya jadi lebih katrok naik busway di sini. Kalau mau naik kereta dalam kota, saya mempunyai bekal pengalaman naik LRT di Filipina dan MRT di Singapore, sambil tentu tetap tak lupa kebiasaan naik Prambanan Express, rute KRL Jogja dan sekitarnya. Kalau terakhir ini systemnya masih agak jauh dengan train system di sini….mungkin. Tapi siapa tahu tahun-tahun mendatang sistemnya lebih canggih lagi, tidak suka ngadat mogok yang membuat bos saya sering dongkol karena terjebak macet di dalam Pramex. hehehe

Yang menarik dari perjalanan di hari pertama ini adalah naik pesawat Lufthansa local, dari Frankfurt ke Geneva. Selama ini kita dan saya juga, terlalu kerap mencerca bahwa system penerbangan local di Indonesia keterlaluan bobroknya, terutama dalam hal pengaturan tempat duduk dan skedulnya. Kita selalu menjunjung tinggi system penerbangan di Eropa, ya kan? Nah, saudara-saudara, ternyata tak ada gading yang tak retak. Lufthansa dengan pengalaman dan nama kaliber tingkat dunia harus malu mengakui bahwa kejadian yang saya alami pagi ini menunjukkan bahwa serapi-rapinya mereka bekerja ada errornya juga. Sampai mau take off, ada beberapa penumpang yang kebingungan mau duduk di mana. Bahkan pramugarinya dengan panic meminta saya yang sudah duduk manis di seat saya sendiri karena saya merasa sudah benar nomernya, berdiri dan pindah. Lalu karena diprotes penumpang lain, minta saya duduk lagi, dan akhirnya pindah bergeser. Heboh deh, mana dibarengi rengekan beberapa anak kecil. Saya tertawa dalam hati….ealah, ternyata sama aje di Indonesia juga di sini. Tapi jangan Tanya on time schedulenya mereka. Tidak cermat waktu sedikit saja bisa berabe. Nah dalam hal ini saya bersyukur bahwa kebiasaan on time saya dalam menikmati setiap perjalanan ternyata ada hikmahnya.

Catatan saya ini saya tutup dengan ‘keluhan’ kecil: mengakses internet termahal yang pernah terjadi dalam hidup. Kalau saya ngenet di café yang tersebar di Jogja dengan terlebih dahulu pesan makanan dan minuman, paling mahal 60ribu itupun berdua atau bertiga dengan teman, nah di sini saya serasa ditampar dengan mahalnya harga ngenet dengan ditemani secangkil mungir, eh secangkir mungil kopi dan segelas air putih…..bayangkan, harganya 7,3 CHF…setara dengan 69 ribu rupiah. Tanpa makanan, dan seorangan saja. Edan!

Geneva, 14 April 2010.