Cinta Mati pada Idola

Malam ini saya mempunyai menu menarik untuk makan malam saya. Menu tersebut merupakan tambahan main menu saya, mie rebus buatan tangan sendiri, meski mienya tetap mie instan. Menu makan malam saya adalah mendengarkan celotehan Mbak Tutik tentang perjalanan cinta matinya dia pada sang idola, seorang penyanyi tenar di negeri ini yang sedang terganjal kasus video porno, sebut saja AP. Oya, saya lupa mengenalkan siapa Mbak Tutik itu. Dia adalah rekan kerja kakak dan ibu saya untuk mengurus rumah kami dan 3 keponakan saya, dan kami selalu menghindari istilah PRT untuknya. Sebagai penggantinya, kami menyebut profesi dia, manajer artis untuk 3 gadis cilik anak kakak saya. Mengapa manajer artis? Karena dia mengurus segala aktivitas harian semua keponakan saya, dari menjemput sekolah, antar jemput kegiatan ekskul, menemani belajar, mengurus mereka kalau tampil di show menyanyi komunal alias paduan suara dimana-mana, dan lain-lain. Jadi, karena terlalu complex-nya pekerjaannya, maka kami menyebut dia dengan satu istilah saja, manajer artis.

Mbak Tutik ini sangat nge-fans sama AP. Bahkan, kalau saudara-saudara melirik kamar tidurnya yang berukuran 2,5 x 3 meter itu, seluruh dinding nyaris ditutupi wall paper poster sang idola, baik sendirian maupun dengan kelompok bandnya, tentu dengan berbagai gaya. Tak cukup dinding, bahkan lemari pakaian dan pintunya juga!Pembaca budiman, bahkan dengan segala upaya dan jerihnya dia berhasil mendapatkan kalung emas dengan liontin tanda tangan sang idola yg konon diproduksi sangat terbatas di toko2 emas tertentu di kota besar, termasuk Jogja. Setelah berhasil mengumpulkan uang hasil kerja dan angpaw Lebaran, ia mengerahkan sebagian besar anak kost ibu saya untuk berburu kalung tersebut. Dan betapa riang hatinya karena dia berhasil mendapatkan kalung tersebut, bahkan tidur malam itu pun ia menggenggam kalung sang Idola sambil tersenyum.

Jerih payah itu tidak hanya titik puncak keberhasilannya. Sebelumnya, saat Lebaran ia rela tidak pulang kampung agar bisa ikut Ibu saya, saya dan 2 keponakan saya pergi ke Bandung menikmati Lebaran di sana. Selain mewujudkan mimpinya naik pesawat udara, ia sangat antusias mengunjungi sebuah basecamp band milik sang Idola di kota bandung. Meski ia tahu dan sangat paham bahwa mustahil bertemu sang Idola saat Lebaran, tetapi menginjakkan kaki di basecamp sekaligus tempat latihan sang Idola dan bandnya bagi Mbak Tutik sudah hal yang luar biasa. Bahkan jauh-kauh hari dia sudah menelepon manajer sang idola untuk mencari sebanyak mungkin informasi dan berjanji untuk ketemuan. “Wah, pertemuan sesama manajer artis ya?” ujar saya usil. dan selama 3 hari kami di Bandung, hampir tiap hari ia meminta kami mengantarkan dia ke basecamp, baik hanya sekedar lewat dan nongkrong di luar pagar, maupun sampai berfoto ria di dalam rumah. tentu foto dengan fotonya sang idola. Bisa dibayangkan muka saya memerah karena sialnya saya diminta dengan sangat menjadi fotografernya. Wah, dikerjain nih saya.

Kini sang idola sedang dirundung masalah berat. Tadi sore saya bertanya, bagaimana reaksi dan perasaan dia ketika tahu bahwa sang idola sekarang mendekam di tahanan sementara terkait dengan kasusnya itu. Apakah kondisi sang idola yang dianggap memalukan nama bangsa Indonesia menyurutkan cinta matinya pada sang idola? Jawabannya di luar dugaan saya.” Wah, saya malah bersyukur kalau dia dipenjara, bu. Artinya, saya bisa mengunjungi dia lebih gampang, gak susah-susah cari dia ke sana kemari. Kalau di penjara kan tempatnya pasti, gak pindah-pindah. Kan asyik tuh. Saya akan meminta pak pulisi memberikan kesempatan buat saya menengok dan memberikan semangat dan dukungan buat AP, karena saya adalah fans-nya yang paling setia. Apalagi saya datang jauh-jauh dari Jogja”. Jawaban itu membuat saya melongo. Tambah melongo saya, karena setelah itu tanpa henti dia menceritakan ‘perjalanan’ ke-fans-annya sejak 2003, tentu dengan segala upayanya mendekati sang idola. Tatapannya tampak iri, ketika saya cerita, pada pertengahan 2008 saya pernah bertemu sang idola di bandara dengan jarak hanya sejengkal saja. Tetapi tak terbersit sedikitpun untuk minta tandatangan atau ambil gambar bersama sang idola. “Wah, tahu gitu Bu Dewi telpon saya kan saya bisa nyusul ke bandara.

Ya, maaf mbak Tutik, cinta saya gak sama dengan idolanya panjenengan. salut deh dengan kesetiaan mbak Tutik, semoga tetap langgeng…..menjadi seorang fans. Hahahaha…..

Juni, 2010