Pendahuluan
Di tengah-tengah perdebatan para pakar komunikasi massa tentang apakah media online- dalam hal ini diwakili oleh internet- dapat dikategorikan sebagai media massa atau tidak, seperti halnya yang diulas oleh Giles (2003:8) tentang area abu-abu dalam mendefinisikan media massa pada saat ini, artikel Hallvard Moe dengan judul yang disebutkan di atas menjadi menarik dicermati. Tidak saja memberikan wacana baru dalam dunia komunikasi massa, tetapi barangkali bisa menjadi inspirasi bagi para pelaku media online dan media konvensional dalam bentuk broadcasting (televisi dan radio)
Media online yang kemudian dikenal dalam situs-situs website di internet bukan lagi menjadi media baru beberapa dekade belakangan ini, tetapi bahkan menjadi wajib bagi lembaga apapun dan di manapun untuk mengkonstruknya, dengan tujuan yang beragam. Bahkan sangat memungkinkan bagi individu untuk menciptakan sendiri dengan tujuan yang beragam pula, dari sekedar iseng hingga yang bertujuan serius untuk kepentingan ilmiah. Sehingga kita mengenal blogger yang disediakan secara gratis dengan pilihan yang beragam. Media broadcasting yang konvensional (baca: televisi dan radio) kemudian memiliki pesaing baru, sehingga ia tidak lagi menjadi satu-satunya primadona media yang dimanfaatkan oleh publik. Di satu sisi lembaga media broadcasting oleh publik yang melek teknologi media seolah-olah dituntut untuk menjawab kehausan audiensnya untuk menyajikan berita yang segera dan online, bisa diakses dimanapun dan kapanpun.
Oleh karena itu, 10 tahun belakangan ini lembaga-lembaga media broadcasting mulai melirik media online sebagai penunjang aktifitas pemberitaan dan penyiaran mereka sehingga kemudian publik mulai dikenalkan dengan situs-situs media broadcasting yang merambah juga di dunia maya. Hampir semua stasiun televisi swasta maupun non-swasta memiliki website yang menyajikan news online, dan juga agenda atau program-program yang ditawarkan. Hal yang sama juga dilakukan oleh lembaga stasiun radio, mereka juga membangun website dengan tujuan beragam, dari hanya sekedar pelengkap promosi sampai untuk streaming program yang sedang disiarkan saat itu. Sehingga, selain bisa diakses melalui perangkat keras radio, siaran radio kini bisa diakses online dengan istilah streaming. Di Indonesia, teknologi broadcasting dan teknologi online semacam ini bukan lagi menjadi barang baru, meski baru sebatas bisa dilakukan oleh media berskala nasional atau media lokal namun berada di kota-kota besar.
Persaingan ini menjadi ketat, manakala penyedia murni website semacam Yahoo!, Google, msn, gmail, dan lain-lain pun turut menyajikan berita online di samping menyediakan fasilitas email gratis dan searching machines dalam dunia maya. Yahoo! dan Google bahkan disebut-sebut sebagai pemain unggul dalam persaingan media online-broadcasting ini. Bahkan Yahoo pun menggaet kerjasama dengan media broadcasting semacam CNN untuk ‘meletakkan’ streaming news-nya untuk disajikan kepada pembacanya.
Melihat dan mempertimbangkan fenomena dinamis ini, Hallvard Moe seorang mahasiswa kandidat doktor University of Bergen Norwegia mencoba mengulas dan mengkritisi, apakah ideologi diseminasi dan sekaligus membangun dialog dalam ruang publik (public sphere) dapat dilakukan secara bersamaan oleh dua jenis media massa ini. Dalam artikelnya yang berjudul Dissemination and dialogue in the public sphere: a case for public service media online dalam Jurnal Media, Culture and Society edisi no.30 Mei 2008 yang dilansir oleh Sage Publication[1], Moe ingin memotret dan menantang media broadcasting konvensional untuk tidak sekedar menjalankan mandat diseminasi, tetapi juga membangun ruang dialog dalam public sphere sehingga ia lebih eksis dalam persaingan media. Sebaliknya juga, media online dipertanyakan apakah mulai terjebak pada rutinitas diseminasi karena sebagai ruang dialog ia mulai menghadapi hambatan-hambatan dalam persaingannya dengan media broadcasting.
Artikel Moe barangkali bisa menjadi referensi pelaku media di Indonesia. Namun demikian, artikel yang hendak mengkritisi artikel ini akan memotret dimana letak kelemahan pendapat Moe apabila diperhadapkan pada kebutuhan komunikasi pembangunan partisipatif di Indonesia. Mengapa partisipatif ? Karena dinamika media di Indonesia dan publiknya tampaknya telah mengalami titik jenuh menerima paparan diseminasi dari media-media broadcasting yang ada selama hampir 40 tahun belakangan ini. 10 tahun terakhir ini, sejak pers baik cetak maupun elektronik dan media maya diberikan kebebasan secara demokratis, media broadcasting berganti haluan menawarkan interactive dan menyediakan ruang dialog dalam berbagai programnya. Tetapi apakah yang demikian disebut sebagai partisipatif dan dialogis secara murni atau masih sebatas menyebarkan informasi dan isu namun dikemas seolah-olah partisipatif? Belum ada yang menjamin bahwa partisipasi penuh bisa dilakukan oleh media. Oleh karena itu, catatan kritis perlu dilakukan terhadap artikel Moe dengan pertanyaan dasar: apakah bisa menjadi referensi bagi pakar komunikasi pembangunan untuk menciptakan media yang diseminatif namun sekaligus juga media dialogis ?
Pembahasan
1. Menggagas Media Layanan Publik yang online
Dengan pendekatan demokratis dominan, Moe melihat ada 2 fungsi media yang ideal, yaitu: pertama, membuat informasi yang penting tersedia untuk publik. Kedua, memungkinkan semua warga negara dapat berkomunikasi satu sama lain tentang isu-isu yang relevan dan sedang mereka hadapi. Dengan demikian, maka perlu digagas bahwa media massa sebaiknya menjalankan 2 fungsi ini, yaitu sebagai diseminasi informasi atau gagasan baru (dan isu baru), dan sekaligus memfasilitasi dibukanya ruang dialog bagi publik untuk menanggapi atau melontarkan sebuah isu yang relevan dibicarakan bersama.
Moe mengakui bahwa terjadi perdebatan yang cukup sengit mengenai fungsi media seperti ini. Pertanyaan mendasar bagi para pemikir media massa adalah dimana posisi broadcasting media untuk pelayanan publik ? Apakah ia hanya sebagai media diseminasi, atau sebaiknya juga sebagai media dialog ? Beberapa pemikiran modernis masih menginginkannya sebagai media diseminasi karena sangat pesimis mempercayai bahwa media massa mampu mengakomodasi ruang dialog interaktif mengingat karakter media yang delayed feedback dan terbatas. Sedangkan pemikiran yang lain menyatakan bahwa harus ada upaya memikirkan kembali (rethinking) mengkategorikan media broadcasting berada pada posisi di mana. Mereka lebih optimis mengatakan bahwa media broadcasting memiliki potensi sebagai media dialogis.
Menanggapi perdebatan ini, Moe berpendapat bahwa pertama, aspek diseminasi merupakan hal yang krusial bagi beberapa pemahaman tentang komunikasi online publik. Kedua, diseminasi memiliki potensi yang normatif dalam ruang publik yang sebaiknya dimasukkan dalam konsep media online layanan publik yang diakui (legitimated). Artinya, peran diseminasi maupun dialogis menjadi penting, tidak saja dilakukan oleh media broadcasting, tetapi juga diampu oleh media online. Dengan demikian, kedua jenis media ini dapat saling melengkapi dan bersaing dengan sehat. Publik kemudian merasa cukup terlayani oleh kedua jenis media ini untuk menyampaikan aspirasinya dan partisipasinya.
Moe melihat bahwa media broadcasting untuk layanan publik sebagai sebuah alat kebijakan media digunakan untuk mengalokasikan sumberdaya dan mengelola sektor media, sehingga tidak secara khusus ditempatkan sebagai ”masa depan” pelaku media broadcasting saja. Gagasan Coleman tentang media online bagi Moe membatasi dirinya sendiri untuk mengeksploitasi potensi internet untuk memfasilitasi dialog. Ini ada dalam 2 premises: pertama, sebuah kontras (pembedaan yang tegas) mengatakan bahwa broadcasting sebagai (alat) diseminasi, ada pandangan optimis tentang kontribusi komunikasi online untuk ruang publik sebagai dialog. Kedua, premis Coleman (dan implikasinya) bisa menjadi penelitian cermat yang kritis, demikian menurut pandangan kritis Moe tentang premis ini.
2. Mengkontraskan media broadcasting versus media online dalam public sphere
Membedakan sifat media broadcasting (tv, radio) dengan media online (internet) bisa menggunakan analogi ajaran agama (nabi menyebarkan) versus Socrates yang memelopori terjadinya dialog. Media broadcasting yang diseminatif ibaratya adalah nabi (Yesus) yang mengajarkan ajarannya ke berbagai penjuru, bersifat massif dan tidak memberikan peluang dialogis. Sedangkan media online diibaratkan Socrates sang filsuf yang memberikan peluang dialogis membicarakan filsafat. Terdapat beberapa gagasan pentingnya media dalam ruang publik yang akan dijawab oleh keberadaan media online dan atau media broadcasting, dengan karakter ruang publik sebagai berikut:
n Equality and reciprocity: (Kesamaan dan resiprositas), Artinya setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan dirinya dan didengarkan oleh orang lain, bebas dari campur tangan. Resiproritas juga memerlukan kewajiban untuk mendengarkan orang lain.
n Openness and adequate capacity: Keterbukaan dan kapasitas yang memadai. Ruang public yang ideal adalah yang terbuka untuk setiap tema (isu) atau kontribusi. Hal ini juga mensyaratkan peserta/public mampu untuk memberikan peluang bagi perlakuan yang adil dari semua isu.
Bagi Moe, 2 karakter ini tidak bisa dijawab oleh media broadcasting secara cepat, karena karakter media broadcasting yang masih bersifat komunikasi satu arah. Tingkatan keterbukaan juga bisa dipertanyakan sampai dimana titik keterbukaan media dalam menyampaikan informasi seluas-luasnya, belum bisa diukur secara efektif
Solusinya kemudian adalah menciptakan media yang memungkinkan terjadinya dialog agar 2 karakter ruang publik tadi bisa dijawab.
In the ideal dialogic form in the public sphere, participants’ joint aim is to be mutually fair and open, also to new insights, and strive for reaching a collective decision (Ytreberg dalam Moe, 2008:7)
3. Memetakan potensi media online dan problemnya
Kekuatan media komunikasi online dalam ruang publik yang dipetakan oleh Moe adalah: pertama, lebih mudah memastikan akses dalam kerangka kesejajaran dan tuntutan terjadinya resiprositas (timbal balik) dapat dicegah dari bentuk kegagalan. Artinya, media online dipandang lebih mampu menciptakan posisi yang sama antara komunikator (pemberita) maupun pembaca atau pendengarnya. Lagipula, media online sangat memungkinkan terjadinya arus timbal balik bagi komunikator maupun komunikan untuk saling memberikan tanggapan dengan segera. Kedua, dialog yang bisa diciptakan oleh media online memungkinkan untuk membuka komunikasi yang lebih terbuka dalam membicarakan sebuah isu, dan perlakuan yang adil dan berkompeten terhadap isu-isu tersebut. Para pelaku internet optimis bahwa mereka menciptakan komunikasi termediasi yang menghubungkan karakteristik-karakteristik online ini. Ketiga, komunikasi online menawarkan keseimbangan. Pembicara dan pendengar berada dalam posisi yang sama, dan memungkinkan pembaca atau pendengarnya justru bisa menjadi narasumber berita yang kemudian ditangkap dan ditanggapi oleh komunikator.
Kelemahannya adalah pertama, apabila ruang lingkup masyarakatnya sangat besar,maka Large publics mean few speakers and many listeners,” demikian pendapat Moe. Kedua, efektifitas tersampainya pesan komunikasi yang didialogkan juga diragukan karena beragamnya respons yang datang. Jalan tengahnya adalah tidak lagi mendikotomikan peran dan karakter media broadcasting dan online, namun mengawinkan kedua media ini dan melihat masing-masing kelemahannya sebagai hal yang saling melengkapi.
4. Cross cutting media dan fungsi : Broadcasting yang dialogis, Media online yang diseminatif
Setelah melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing jenis media, maka timbul gagasan untuk ‘mengawinkan’ fungsi media dengan keyakinan penuh bahwa mereka sangat mungkin melakukannya. Secara ringkas, pemikiran baru Moe dapat dilihat dengan bagan sebagai berikut:
Media broadcasting yang mampu membangun dialog, artinya pertama, program Radio dan television telah menggunakan bentuk umpan balik langsung (interactive) dari pendengar atau pemirsanya sebagai bagian terpadu dalam beberapa dekade ini. Kedua seperti halnya produksi radio dan television, distribusi dan penerimaan umpan balik juga sudah memasuki metode digital. Digitalized way ini menjadi semakin mudah secara teknis dan murah untuk memperkaya bentuk-bentuk tradisional mereka dan bisa mengembangkan media broadcast dalam aras partisipasi. Ketiga, karakter media broadcasting yang bersifat audio visual mampu menyedot minat audiensnya untuk memberikan feedback secara langsung melalui program-program interactive.
Sedangkan Internet yang dianggap mampu mengemban fungsi diseminatif (media online yang diseminatif) dicontohkan seperti Website personal, perusahaan, dan lembaga-lembaga tampaknya hanya sebagai diseminasi profil mereka saja. Bahkan news online di website, sifatnya hanya sekedar informatif. Bagi Moe, fungsi media broadcast dan online butuh diakui bagi karakter-karakter yang mereka miliki pada umumnya, sebagaimana keunikan-keunikan individual mereka. Memfasilitasi dialog online, bagaimanapun juga, tidak cukup. Media layanan publik sebaiknya juga memanfaatkan karakteristik diseminatif yang ditawarkan oleh internet
5. Kesimpulan Moe
Dengan mempertimbangkan kelemahan dan kelebihan masing-masing jenis media broadcasting dan online, maka Moe menyimpulkan beberapa poin penting berikut. Pertama, ada potensi dalam komunikasi online yang tidak hanya untuk ruang dialog bagi publik, tetapi juga sebagai media diseminasi. Kedua, baik ‘dialog’ maupun ‘diseminasi’ sebaiknya dieksplor oleh media online layanan publik dalam sebuah cara yang secara konsisten meng-counter proses mengawal dan balkanisasi dalam ruang publik. Ketiga, implementasi konkrit semestinya memiliki hal-hal berikut:
- sebuah pemahaman bagaimana potensi komunikasi oline untuk diseminasi, sama halnya ketika ia diharapkan menjadi media dialog, langsung pada penggunaannya untuk kebijakan media
- sebuah pengertian diperlukan untuk menghubungkan media online dan broadcast dalam bidang komunikasi publik.
Penutup
Kritik terhadap Pemikiran Moe
Pemikiran Moe dengan pendekatan normatif public sphere mengabaikan perubahan paradigma komunikasi pembangunan. Barangkali memang ia belum memikirkan bagaimana aplikasinya terhadap komunikasi pembangunan. Moe masih mempercayai bahwa karakter diseminasi pada media masih dibutuhkan. Padahal para pemikir komunikasi pembangunan sudah mulai mengalihkan bahwa diseminasi tidaklah partisipatif . Hal ini bertentangan dengan paradigma participatory development communication yang mengedepankan terjadinya dialog di tengah komunitas untuk menentukan bentuk komunikasi dan pilihan media apa yang akan digunakan untuk mendukung pembangunan partisipatif mereka (Bessette, 2004).
Penekanan pada karakter diseminasi informasi lebih banyak mengambil porsi pemikiran Moe, sehingga ia lupa bahwa membuka ruang dialog bagi publik untuk merespon sebuah isu juga sama pentingnya. Moe barangkali belum sampai pada pemikiran bagaimana media-media negara berkembang dituntut untuk membuka ruang dialog ini sejalan dengan kritik terhadap paradigma pembangunan modernisasi. Kerangka berpikir Moe yang masih modernis masih sangat terasa, dan bisa dipahami karena pembangunan sebagian besar negara-negara Eropa adalah pembangunan dengan paradigma modernisasi yang kemudian menciptakan teknologi media sebagai alat diseminasi (Melkote dan Steeves, 2001:114).
Pemikiran ini sangat Eropa-minded, dimana kebutuhan informasi masyarakat Eropa barangkali bisa berbeda dengan masyarakat kolektif Asia. Moe perlu mengingat bahwa masyarakat Asia tampaknya cenderung mengalami kejenuhan terpapar informasi pembangunan yang diseminatif melalui media broadcast selama ini. Pemikiran Moe juga belum melihat peran media massa alternative (the other mass media) apakah bisa menjalankan kedua fungsi tersebut. Tulisan Moe juga masih tentang media di negara Barat yang mengusung budaya popular, belum masuk ke negara Timur yang sedang giat-giatnya mengusung isu partisipasi pembangunan oleh masyarakat lokal. Dalam hal ini, konsep komunikasi pendukung pembangunan (development support communication) dan konsep komunikasi pembangunan partisipatif belum menjadi referensi Moe, sehingga ia percaya bahwa fungsi diseminasi masih menjadi area dominan dalam komunikasi publik.
Perkawinan media broadcast yang diseminatif dengan media online yang dialogis bukan lagi hal yang mustahil. Hal ini sudah terjadi di era informasi interactional, hanya saja kebiasaan publik untuk berpartisipasi dalam dialog-dialog publik melalui media tampaknya tidak mengalami derajat yang sama. Ketika media online menawarkan karakter diseminasi, dan media broadcasting menawarkan ruang dialog dalam ruang publik secara interactive, Moe kurang memperhatikan bahwa dibutuhkan kedewasaan publik untuk memberikan respon terhadap isu yang dibawanya dan sejauhmana kedewasaan publik dibanguna sehingga aliran komunikasi baik diseminasi maupun dialogis bisa berjalan. Karena kalau tidak, publik akan dibuat mengalami kebingungan dalam menerima pesan dan menanggapi isu, karena respon publik tidak pernah bisa ditebak dan selalu beragam. Oleh karena itu, pelaku baik di media broadcast dan online sebaiknya memberikan edukasi kepada publik bagaimana merespon isu yang dilemparkannya. Moe sebagai pemikir media perlu menawarkan solusi tingkat atau derajat urgensi diseminasi, dimana media memerankan fungsi diseminasinya, dan kala mana media memainkan peran dialogisnya.
Meski sudah mendorong dibangunnya dialog oleh media broadcast maupun online, khususnya di negara-negara otoritarian, masih terjadi kontrol yang sangat kuat (agenda setting by state and media), sehingga lagi-lagi masih terjebak pada diseminasi. Meski demikian, memang diakui bahwa batasan antara partisipatif dalam bentuk dialog dan diseminatif menjadi tipis, karena sebetulnya keduanya tidak bisa berdiri sendiri. Dalam banyak kasus dialog hanya bisa dimunculkan setelah komunikator melakukan diseminasi dalam bentuk melemparkan isu di arena publik.
Referensi
Bessette, G. 2004. Involving the Community: A Guide to Participatory Development Communication, International Development Research Centre, Canada joint Kuala Lumpur.
Giles, D. 2003. Media Psychology, Lawrence Erlbaum Associates Publisher, London
Melkote, S.R. dan Steeves, H.L. 2001. Communication for Development in The Third World, Theory and Practice for Empowerment, 2nd ed., Sage Publication India Pvt Ltd.
Moe, H. 2008. Dissemination and dialogue in the public sphere: a case for public service media online, dalam Jurnal Media, Culture and Society edisi no.30 Mei 2008. Bisa diakses dengan mengunjungi
http://mcs.sagepub.com/cgi/content/refs/30/3/319 dengan seijin Sage Publications.
[1] Dapat dikunjungi melalui situs: http://mcs.sagepub.com/cgi/content/refs/30/3/319 dengan seijin Sage Publications.