Menghargai Cinta di Tengah Dunia Ironi

Kalau saya diminta untuk mendeskripsikan dunia (baca:realita kehidupan) ini dengan satu kata saja, maka saya menjawabnya dengan kata “ironi”. Mengapa ironi? Saya senang aja mengistilahkannya dengan kata ironi ini, yang menurut pemahaman saya selama ini artinya adalah sesuatu yang bertentangan dari yang seharusnya, paling tidak sewajarnya. Wajarnya begini, kok jadinya begitu. Itu baru pemahaman saya yang sangat simple lho. Tetapi ternyata, setelah saya googling dan yahooing arti kata ironi, jawabannya macam-macam. Yang paling sederhana mendefinisikannya sebagai : kejadian atau situasi yang bertentang dengan yang diharapakan atau dengan yang seharusnya terjadi (
http://www.sentra-edukasi.com/2009/08/materi-bindo-definisi-pengertian-arti_6732.html
). Lho, kok jadi mirip-mirip dengan pikiran saya? Hehehehe….Kalau Anda memiliki definisi lain, silahkan didiskusikan kembali, atau anggap saja ini menjadi PR buat guru bahasa Indonesia kita.

Kembali pertanyaan semula, mengapa saya mendeskripsikan realita kehidupan ini sebagai sebuah ‘ironi’? Sepintas memang bernada pesimistik, atau satir, atau apalah yang tidak menggairahkan hidup. Bagi saya, ironi adalah sebuah bumbu realita yang wajar kita hirup sehari-hari. Sekarang, tolong katakan pada saya, kata apa yang paling tepat untuk menjelaskan beberapa kejadian berikut ini:

1. Di tempat lain saat yang sama ada banyak orang cacat tubuh dengan segala minus keterbatasan mobilitas sanggup membuat prestasi mencengangkan, bahkan memotivasi orang lain untuk survived. Sementara di dunia lain, banyak orang muda dan tua setiap hari mencederai tubuh lengkapnya dengan narkoba
2. Di tempat lain saat yang sama ada begitu banyak orang yang diabaikan, dilecehkan, menggelandang, homeless, tetap bisa mengucapkan kata “Syukurlah saya masih bisa hidup hari ini”. Sementara di saat yang sama, banyak orang kaya bunuh diri karena merasa hidupnya tak berarti, bangkrut, tak berani mempertanggungjawabkan kegagalannya, padahal masih punya tempat untuk berlindung.
3. Di tempat lain saat yang sama ada begitu banyak pasangan suami istri yang mengharapkan hadirnya keturunan dengan mengupayakan segala macam cara dan menghabiskan berpuluh juta demi sang anak, sementara di tempat lain ada lebih banyak pasangan menggugurkan kandungan dan enggan mengakui keberadaan anak. Lebih ironisnya lagi, menyiksa anaknya karena frustrasi sang anak tak seperti yang diinginkan
4. Di tempat lain saat yang sama di dunia ini, ada begitu banyak orang berfoya karena bingung bagaimana lagi cara menikmati harta berlimpah yang ia miliki demi eksistensi hedonisme tetapi tak pernah sekalipun mengucap syukur, sementara di tempat lain, ada orang yang bahkan makan pun harus menunggu dua hari lamanya setelah mencari nafkah ke sana kemari…tetapi herannya, ia masih bisa berkata,”terimakasih Tuhan atas rejeki 2 hari ini”
5. Di tempat lain saat yang sama di dunia ini, ada banyak orang mendambakan dicintai layaknya dan seharusnya dicintai oleh orang yang mencintainya. Namun di saat yang sama di tempat lain, lebih banyak orang yang merasa tidak cukup puas dengan cinta yang ia dapatkan, sehingga ia mencari cinta yang lain dan mengkhianati pasangannya karena menuntut lebih, tanpa mau menerima keadaan.

Masih banyak kejadian ironi yang kita tangkap sehari-hari. Rasa-rasanya seperti tidak adil, tetapi ya begitulah dunia ini, penuh ironi yang tidak adil. Semuanya menjadi tergantung pada diri saya dan Anda, bagaimana kita memposisikan diri di tengah ketidakadilan ironi ini. Berawal dari sebuah langkah yang sederhana, yang selalu diajarkan oleh orangtua saya sehari-hari. Mengucap syukur dan bijak merawat apa yang kita miliki saat ini. Kalau kita bisa makan hari ini meski dengan tempe dan garam, mengucap syukurlah. Kalau kita bisa sekolah hari ini, merasa beruntunglah. Kalau kita punya anggota tubuh yang lengkap bisa dibawa kemana-mana, berjalanlah dengan baik dan ulurkan tanganmu pada orang yang membutuhkanmu. Kalau kita punya perasaan peka, gunakanlah. Kalau kita punya pekerjaan, lakukanlah dengan baik dan selesaikan karena pasti rejeki akan mengikutinya seiring dengan tanggungjawab kita. Kalau kita punya anak, rawatlah dengan baik jangan disia-siakan. Kalau kita punya pasangan, jangan pernah sedikitpun dan sekalipun untuk meninggalkannya dalam keadaan sakit hati. Kalau memang harus berpisah selama belum ada ikatan perkawinan, berpisahlah sebagai seorang sahabat baginya. Intinya, “rawatlah dengan baik apa yang kau miliki, kalau kau ingin disebut sebagai orang yang berbahagia”, dogma yang saya dengarkan sejak kecil.

Itu adalah ajaran alm. bapak dan ibu saya, orang tua yang bagi saya dalam kesederhanaannya bisa menggambarkan bagaimana kita bisa bijak menghadapi ironi realita ini. Dengan begitu, saya bisa melihat, bahwa realita ini tidak jelek-jelek amat, asal saya bisa melakukan dua hal ini: mengucap syukur atas apa yang saya temukan dan merawat dan menghargai apapun yang saya miliki dan cintai. Kalaupun ia belum saya temukan, menaruh harapan adalah langkah yang pasti.

Respect your recently life, and respect your love you have found in your life.

(tempel, 18 Juli 2010)

catatan ini saya sampaikan kepada teman-teman saya yang sedang dalam keadaan apapun, terbeban berat menghadapi cobaan, berbahagia karena mendapatkan cintanya, dan lain-lain.