When You See the Trees…

Illegal logging kembali memakan korban yang tidak sedikit. Baru-baru ini saudara-saudara kita di Wasior Papua Barat yang kena dampaknya, banjir bandang yang disebabkan oleh illegal logging selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin berpuluh tahun, sehingga tidak lagi bisa menampung air hujan dan lari ke area pemukiman.

Saya memang bukan masuk dalam daftar pejuang lingkungan yang menentang secara frontal terhadap kebijakan dan perilaku perangkat negara dan sebagian besar pengusaha yang berhubungan dengan kehutanan yang nyata-nyata justru merusak lingkungan hidup. Tetapi saya sangat terganggu dengan perilaku pengrusakan hutan dan keengganan perusahaan mengembalikan lagi kelestarian hutan pasca eksploitasi mereka terhadap permadani hijau kita. Lebih-lebih praktek illegal logging yang justru di-back up oleh perangkat keamanan (ingat kasus illegal logging di Kalimantan Timur yang menyebabkan Kapolda Kaltim dipaksa mundur karena anak buahnya terbukti mem-back up dan terlibat praktek tersebut). Negeri ini penuh dengan ironik, dan illegal logging adalah salah satu ironik terbesar yang tersaji di depan mata kita. Anda dan saya boleh bersyukur karena kita belum merasakan dampak secara langsung saat ini. Tetapi siapa yang menjamin kalau saya dan Anda bebas dari dampak illegal logging 5-10 tahun mendatang? Siapa tahu apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Wasior dapat mengancam (dan barangkali) sudah mengancam kita, khususnya yang hidup di Pulau Jawa ini.

Di Indonesia, memang tidak sedikit pahlawan penentang illegal logging yang kita temui. Kalau Anda memiliki kesempatan jalan ke pedalaman-pedalaman, Anda akan menemui komunitas adat yang bertahan dan berjuang melawan pengusaha dan kesewenang-wenangan perangkat negara mengelola alam ini, yang nyata-nyata hendak melakukan illegal logging. Dan ironisnya lagi, justru komunitas ini yang ditindas habis, diteror, dan bahkan dibunuh demi kepentingan bisnis pengusaha pemilik modal. Dalam hidup saya, ada beberapa orang yang saya temukan merupakan pahlawan (bagi saya) anti illegal logging.

1. Almarhum Bapak saya tercinta, Bpk. Soemarsono. Beliau memang tidak pernah menggelar demonstrasi anti illegal logging, atau melakukan advokasi menentang kebijakan pemerintah yang pro illegal logging. Tetapi masih teringat dalam memori saya, beliau bercerita bahwa berulangkali diminta oleh sekelompok orang untuk menyelundupkan beberapa gelondong kayu hasil illegal logging dari Kalimantan ke Jawa. Waktu itu ia bekerja di perusahaan pelayaran dan sering sekali ke kalimantan untuk mengangkut barang, di situlah ia dibujuk oleh pengusaha-pengusaha nakal untuk menyelundupkan kayu hasil pembalakan liar. Tetapi sebanyak bujukan itu mampir ke telinganya, sebanyak itu pula ia menolak mentah-mentah karena Bapak paham resiko praktek tersebut dan sangat tidak setuju dengan praktek illegal logging. Katanya,” Selain itu melanggar etika hukum, bapak tidak tega menjadi bagian dari pengrusakan lingkungan.” So, he is my first hero on environmental issue.

2. Para tetua adat dan perempuan-perempuan srikandi di komunitas-komunitas pedalaman yang melarang masuknya investor asing yang menurut mereka tidak ramah lingkungan. Saya seringkali tidak sengaja bertemu orang-orang ini dan mendengarkan falsafah luar biasa tentang bagaimana mereka menghargai alam ini. Dalam salah satu falsafah mereka, “Apabila sekali saja kamu menebang kayu dan tidak ada usaha menanamnya kembali, sama saja kamu membunuh generasi penerus dan menghilangkan sumber air yang ibaratnya adalah ibumu sendiri”

3. Sahabat saya seorang biarawati di Filipina yang berjuang habis-habisan menentang praktek illegal logging yang juga merupakan isu krusial lingkungan hidup di negara tempat ia berdiam. Ia membentuk sekelompok advokat dan pemerhati lingkungan dari kalangan biara yang menentang pembalakan liar dan praktek pertambangan yang telah merusak lingkungan dan menybabkan bencana besar di negeri Aquino ini. Bahkan suatu kali ia pernah ditangkap secara tidak resmi oleh militer dan berulangkali diteror oleh pengusaha nakal. Suatu kali dalam percakapan kami di internet, ia berujar:” Bila suatu saat aku ditakdirkan untuk mati demi perjuangan kami ini, setiap kali engkau melihat tumbuhan dan pohon, maka ingatlah akan diriku dan teruskan perjuanganku, Wi….”

 

Saya dan Anda bisa menjadi pahlawan lingkungan dengan cara kita masing-masing. Saya mempunyai langganan hotel yang selalu saya inapi bila saya ada perjalanan tugas ke Jakarta. Hotel itu salah satu dari kelompok hotel berbintang dan memiliki jaringan internasional. Salah satu mengapa saya suka hotel tersebut karena falsafahnya yang concern dalam pelestarian hutan. Di kamar mandi hotel tersebut, ada sebuah tulisan berbunyi:” Bila Anda tidak mengambil handuk ini untuk kepentingan anda sendiri, sama dengan halnya Anda menolong pelestarian hutan karena 1 helai handuk ini sama dengan 4 pohon. Bila Anda ingin lebih melestarikan pohon-pohon kita, Anda tidak perlu meminta hotel kami mencucinya tiap hari, oleh karena itu Anda bisa menempatkan di gantungan sebagai tanda Anda tidak menghendaki dicuci kembali dan masih akan dipakai. Grup hotel kami mendukung praktek pelestarian hutan.” Oleh karena itu, saya memulai kebiasaan baru apabila saya menginap di hotel, dengan menuliskan pada sehelai kertas, “Tolong handuk saya jangan dicuci lagi, karena masih layak untuk dipakai kembali”. Kalau di rumah kita bisa menggunakan handuk yang sama untuk beberapa hari, mengapa di hotel tidak?

Salah satu yang bisa kita lakukan juga untuk menentang illegal logging dan mendukung pelestarian hutan dan pohon adalah tidak boros dalam menggunakan kayu untuk rumah kita. Ada banyak cara lain sesuai dengan kemampuan Anda dan saya. Sehingga, setiap kali kita melihat pohon hijau yang tumbuh dan menyegarkan mata, ingatlah, bahwa anak cucu kita kelak punya hak yang sama menikmati apa yang kita nikmati sekarang. Go green now….

(Tempel, Oktober 2010. dalam keprihatinan yang dalam terhadap bencana banjir bandang di Wasior)

Letter to Juliette, Menemukan kembali sang Cinta Sejati

Dalam perjalanan dari Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok, sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh memilih menunya), saya memilih menonton film jenis drama, dan akhirnya saya menemukan “Letter to Juliette”. Merasa belum pernah menonton film ini sebelumnya, maka saya memutuskan untuk menonton dari awal.

Bagi Anda yang belum menonton Letter to Juliette, baiklah saya ceritakan singkat saja. Sophie seorang gadis Amerika muda yang bertunangan dengan perintis usaha kuliner mengunjungi Verona, kota romantis di Italia untuk menikmati liburan sekaligus menemani sang tunangan melakukan survey kuliner untuk usahanya. Verona adalah kota asal cerita Romeo dan Juliet, kisah cinta legendaris yang tragis yang sangat terkenal di seantero dunia. Dalam perjalanannya, Sophie tertarik pada apa yang dilakukan oleh segerombolan perempuan muda dan tua, di mana mereka menaruh surat-surat di sebuah dinding sambil mengusap air mata. Di pojok dinding tersebut terletak sebuah patung perempuan muda, dinamai Juliette. Beberapa pasang mengusap-usap dada patung Juliette. Sophie tertegun, dan lebih heran lagi ketika suatu sore ia lewat tempat itu lagi melihat seorang perempuan mengambil surat-surat tersebut dan memasukkannya dalam keranjang. Sophie membuntuti perempuan itu, dan tahulah dia bahwa perempuan tersebut bekerja dalam sebuah komunitas “sekretaris letters to Juliette”. Komunitas yang terdiri dari beberapa perempuan tua dan muda ini tugasnya membaca surat-surat tersebut dan membalas satu demi satu. Karena bosan ditinggal pergi oleh sang tunangan, Sophie memilih bergabung kerja volunteerism ini.

Suatu hari Sophie membaca surat yang dikirimkan pada tahun 1951. Surat itu menceritakan permintaan maaf dan penyesalan seorang perempuan bernama Claire kepada cinta sejatinya (Michael Bertolini) karena harus meninggalkan sang kekasih dalam keadaan tidak menentu. Claire menyesal tidak memberitahukan alasan mengapa ia meninggalkan sang kekasih dan ia berharap “Juliette” dapat memberikan petunjuk dimana sang mantan kekasih itu berada. Sophie terkesan pada surat itu dan membalasnya dengan memberikan kata hiburan bagi perempuan yang ia pikir pasti sudah berusia lanjut. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda mencari sekretaris surat kepada Juliette, mengenalkan dirinya sebagai cucu Claire. Sophie mengaku bahwa dialah yang menjawab surat Claire, dan Charlie (cucu Claire) mengucapkan terimakasih kepada Sophie. Bertemulah mereka bertiga, lalu Sophie mengeluarkan ide mengapa tidak Claire mencari sang mantan mumpung berada di negeri romantis ini. Maka dimulailah perjalanan mencari Michael Bertolini, cinta sejati Claire. Dalam beberapa hari perjalanan tersebut, banyak pertengkaran dan muncul bibit cinta antara Sophie dan Charlie, namun Sophie menyadari tunangannya menunggunya. Pun yang dialami oleh Claire, hampir putus asa ia mencari Michael Bertolini yang ternyata ada ratusan lelaki di negeri ini dengan nama yang sama. Bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa sang mantan cinta sejati sudah meninggal. Dalam keadaan putus asa Claire memutuskan pulang. tetapi justru Charlie yang seolah-olah mendapatkan firasat, dan tanpa mereka duga, di sebuah perkebunan mereka menemukan Michael, mantan kekasih Claire.

Saya tidak akan menceritakan endingnya, tetapi justru pesan dalam film ini yang menarik untuk direnungkan. “Carilah cinta sejatimu dan kisah cinta yang paling indah di hidup ini adalah kisah cinta milikmu sendiri”. Saya dan Anda masing-masing memiliki kisah cinta sejati, apapun endingnya. Selesai menonton film ini, sambil tersenyum menikmati sajian sarapan pagi saya di pesawat anggun itu, saya teringat akan kisah cinta sejati saya beberapa waktu lalu. Meski berakhir dengan tidak ‘happy ending’ karena kami berdua memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan alasan yang sangat prinsipil, tetapi dialah cinta sejati saya. Seseorang yang sanggup menegakkan kepala dan kepercayaan diri saya kembali akibat terpuruk dalam keputusasaan dan air mata. Seseorang yang dengan tulus mengatakan apapun alasannya saya adalah orang yang berharga dalam hidupnya.

Hingga kini surat-surat cinta kami masih saya simpan baik-baik dalam hati. Saya tidak tahu pasti apakah saya mempunyai kesempatan untuk mengirimkan surat cinta kami kepada sang Juliette di Verona sana. Tetapi setidaknya kami menyadari, bahwa bagian dari kisah cinta yang terbaik milik kami berdua adalah saat kami memutuskan untuk saling menghormati kehidupan kami masing-masing yang tak bisa bersama, sebagai sahabat, yang justru rasanya menjadi lebih dalam dan perasaan kami terhubungkan melampaui ruang dan waktu.

Juliette, tunggu saya mengirimkan surat cinta sejati saya……

 

4 September 2010,

terimakasih Emirat entertainment….

Menghirup Esensi Ramadhan di Kota Santri

Saya memang tidak pernah mengenalnya secara langsung, karena garis keturunan beliau dengan garis keturunan saya tak pernah bertemu. Kalaupun saya rajin menghubung-hubungkan keterkaitannya, mungkin saja hanya ada satu simpulan, bahwa beliau dan saya sama-sama keturunan Nabi Adam dan Hawa, sama-sama orang Indonesia, sama-sama lahir di Pulau Jawa. Saya tidak pernah bertatap muka langsung dengannya, bahkan menjabat tangan apalagi mencium tangannya seperti halnya tradisi kaum Muslim NU pun belum pernah. Saya hanya menatap mukanya dari layar kaca, kertas yang disebut media cetak, dan mendengarkan suaranya yang serak-serak basah yang sangat khas melalui layar kaca dan speaker radio saja. Hanya sekali saya menatap mukanya secara langsung, itupun dibatasi oleh serumpun manusia yang bertitel mahasiswa, ketika beliau menjadi pembicara di sebuah acara talkshow launching sebuah novel besutan Pramoedya Ananta Toer 7 tahun lalu. Itupun saya sampai merinding dan menangis terharu….mendengar joke-jokenya dan teriakan Allahu Akbar dari ribuan pendukungnya yang hadir kala itu.

Namun demikian, saya merasakan kedekatan yang erat secara emosional dengan beliau, Gus Dur, atau yang kita kenal Abdurrahman Wahid. Justru ketika ada batas dan ruang jarak yang begitu jauh kala itu, saya merasa dekat, sehingga saat beliau wafat, saya merasakan kesedihan yang dalam. (Baca note saya: Praying to Say Goodbye). Tadi sore, perasaan emosional yang merogoh sukma saya kembali muncul ketika kaki saya hanya berjarak kurang lebih 2 meter dari makam Gus Dur yang begitu sahaja di tengah-tengah kompleks Ponpes Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Sangat sederhana, tapi justru berkharisma, sampai-sampai saya tak sanggup mengucapkan doa-doa sebagaimana saya biasa melakukannya ketika mengunjungi makam keluarga saya. Gus Dur boleh jadi sudah tak berada di liang itu, hanya jasadnya saja. Tetapi aura kharisma beliau masih tampak segar terasa, apalagi saat mata saya melihat ribuan santri kecil, remaja, dan guru-guru ponpes ada yang berseliweran, ada yang duduk mendengarkan ceramah, ada yang duduk memanjatkan doa di pelataran samping kompleks makam pendiri dan keluarga ponpes ini, termasuk salah satu di antaranya makam Gus Dur. saya dan beberapa teman yang datang dari Sumatra dan Sulawesi begitu takjub, hingga kami tak bersuara hanya menikmati ‘suasana surga di bumi Jombang’ saat itu, sambil sesekali kami mengambil gambar.

Di sana sini dipasang berbagai petuah keluarga besar Wahid, dan yang paling banyak adalah ucapan Gus Dur. Berkeliling kompleks ponpes ini mata saya hanya membaca tulisan-tulisan petuah Gus Dur dan sambil meninggalkan kompleks saya mencoba menjejalkan petuah dan kata bijak tersebut dalam hati dan sukma saya. Menghormati ajaran dan moral agama, melakukannya dalam kesahajaan, dan mengakui keberadaan orang lain yang berbeda….sungguh luar biasa Gus Dur menaruh nilai pada murid dan para santrinya. Lalu tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang seharusnya belajar dari tempat ini, dan tak hanya teman-teman Muslim yang mendapatkan hikmah hari pertama Ramadhannya tahun ini, tetapi saya juga.

Gus Dur pergi meninggalkan nilai. Sekarang tergantung kita, apakah nilai yang beliau tanamkan masih kita rawat atau tidak. Pilihannya kalau tidak, jangan mengharap Negara Kesatuan RI yang ditulis besar-besar dalam sebuah plakat riwayat hidup Gus Dur di salah satu sudut kompleks ini tetap lestari. Gus Dur, terimakasih……

Tebuireng Jombang, 11 Agustus 2010