Menghirup Esensi Ramadhan di Kota Santri

Saya memang tidak pernah mengenalnya secara langsung, karena garis keturunan beliau dengan garis keturunan saya tak pernah bertemu. Kalaupun saya rajin menghubung-hubungkan keterkaitannya, mungkin saja hanya ada satu simpulan, bahwa beliau dan saya sama-sama keturunan Nabi Adam dan Hawa, sama-sama orang Indonesia, sama-sama lahir di Pulau Jawa. Saya tidak pernah bertatap muka langsung dengannya, bahkan menjabat tangan apalagi mencium tangannya seperti halnya tradisi kaum Muslim NU pun belum pernah. Saya hanya menatap mukanya dari layar kaca, kertas yang disebut media cetak, dan mendengarkan suaranya yang serak-serak basah yang sangat khas melalui layar kaca dan speaker radio saja. Hanya sekali saya menatap mukanya secara langsung, itupun dibatasi oleh serumpun manusia yang bertitel mahasiswa, ketika beliau menjadi pembicara di sebuah acara talkshow launching sebuah novel besutan Pramoedya Ananta Toer 7 tahun lalu. Itupun saya sampai merinding dan menangis terharu….mendengar joke-jokenya dan teriakan Allahu Akbar dari ribuan pendukungnya yang hadir kala itu.

Namun demikian, saya merasakan kedekatan yang erat secara emosional dengan beliau, Gus Dur, atau yang kita kenal Abdurrahman Wahid. Justru ketika ada batas dan ruang jarak yang begitu jauh kala itu, saya merasa dekat, sehingga saat beliau wafat, saya merasakan kesedihan yang dalam. (Baca note saya: Praying to Say Goodbye). Tadi sore, perasaan emosional yang merogoh sukma saya kembali muncul ketika kaki saya hanya berjarak kurang lebih 2 meter dari makam Gus Dur yang begitu sahaja di tengah-tengah kompleks Ponpes Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Sangat sederhana, tapi justru berkharisma, sampai-sampai saya tak sanggup mengucapkan doa-doa sebagaimana saya biasa melakukannya ketika mengunjungi makam keluarga saya. Gus Dur boleh jadi sudah tak berada di liang itu, hanya jasadnya saja. Tetapi aura kharisma beliau masih tampak segar terasa, apalagi saat mata saya melihat ribuan santri kecil, remaja, dan guru-guru ponpes ada yang berseliweran, ada yang duduk mendengarkan ceramah, ada yang duduk memanjatkan doa di pelataran samping kompleks makam pendiri dan keluarga ponpes ini, termasuk salah satu di antaranya makam Gus Dur. saya dan beberapa teman yang datang dari Sumatra dan Sulawesi begitu takjub, hingga kami tak bersuara hanya menikmati ‘suasana surga di bumi Jombang’ saat itu, sambil sesekali kami mengambil gambar.

Di sana sini dipasang berbagai petuah keluarga besar Wahid, dan yang paling banyak adalah ucapan Gus Dur. Berkeliling kompleks ponpes ini mata saya hanya membaca tulisan-tulisan petuah Gus Dur dan sambil meninggalkan kompleks saya mencoba menjejalkan petuah dan kata bijak tersebut dalam hati dan sukma saya. Menghormati ajaran dan moral agama, melakukannya dalam kesahajaan, dan mengakui keberadaan orang lain yang berbeda….sungguh luar biasa Gus Dur menaruh nilai pada murid dan para santrinya. Lalu tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang seharusnya belajar dari tempat ini, dan tak hanya teman-teman Muslim yang mendapatkan hikmah hari pertama Ramadhannya tahun ini, tetapi saya juga.

Gus Dur pergi meninggalkan nilai. Sekarang tergantung kita, apakah nilai yang beliau tanamkan masih kita rawat atau tidak. Pilihannya kalau tidak, jangan mengharap Negara Kesatuan RI yang ditulis besar-besar dalam sebuah plakat riwayat hidup Gus Dur di salah satu sudut kompleks ini tetap lestari. Gus Dur, terimakasih……

Tebuireng Jombang, 11 Agustus 2010

About these ads

Satu pemikiran pada “Menghirup Esensi Ramadhan di Kota Santri

  1. okto mengatakan:

    yah.. mantaplah…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s