Dalam hidup saya, setidaknya ada beberapa bencana besar yang telah saya lihat, saya alami dan saya catat. Pertama, gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 akhir. Saat itu memang saya tidak berada di sana, tetapi setidaknya percakapan saya dengan segelintir survivor (penyintas) cukup memberikan gambaran yang mengerikan. Kedua, gempa besar di Yogyakarta, Mei 2006, menewaskan 6000 jiwa dan meluluhlantakkan sebagian besar Bantul. Saat itu, saya benar-benar mengalaminya dan barangkali trauma itu masih ada. Saya dan keluarga sangat bersyukur bahwasanya kami bisa bertahan hidup dan rumah kami tetap kokoh. Ketiga, bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang saat ini sedang terjadi. Komentar sahabat saya tentang gunung tersebut: That’s beautiful but also dangerous.” Saya bilang, ya, seperti itulah manusia juga, tak selamanya yang tampak indah itu tidak bahaya.
Dari sekian rentet peristiwa bencana yang saya alami dan temui, saya menjadi sadar ada banyak pelajaran di balik itu semua. Ini hanya versi saya, barangkali Anda memiliki hikmah dan pelajaran lain, saya kira itu sah-sah saja. Baiklah, satu demi satu saya urai berikut:
1. Antara hidup dan mati batasnya sangat tipis, hanya sehembusan nafas. Kita tidak pernah bisa menduga kapan bencana datang, tapi memang kita bisa mengantisipasi dan berlatih untuk bertahan hidup. Saya pernah mengalami kecelakaan motor dan mobil, bahkan terakhir ini sempat membuat saya nyaris lepas nyawa karena roda mobil yang saya tumpangi tiba-tiba lepas dan mobil itu nyaris terjun bebas ke jurang. Jantung berdebar keras, baru berhenti berdebar saat akhirnya saya selamat kembali ke hotel dan menangis hebat seraya meratap:”Tuhan, ternyata batas antara hidup secara fisik dan mati tubuh tipis saja. Terimakasih Kau sadarkan saya untuk menghargai dan mensyukuri setiap detik dalam hidup”. Kata-kata itu berulang setiap saya mengalami bencana.
2. Seringkali penyesalan datang terlambat. Di setiap bencana, saya mencermati banyak survivor dan korban mengalami penyesalan. Menyesal tidak bisa menolong orang-orang yang ia cintai pada saat-saat genting, menyesal tidak mengungkapkan kata-kata perpisahan yang lebih baik. Banyak terjadi unfinished bussiness, karena memang bencana datang seperti maling, tidak diundang dan diharapkan dan tiba-tiba. Saya belajar, sebelum terlambat, selama kita bisa mengucapkan dan mengungkapkan perasaan cinta kepada orang-orang yang kita kasihi, entah itu pasangan, orang tua, anak, sahabat, dan lain-lain, ungkapkan dengan tulus sebelum bencana datang dan menghempaskan kita pada penyesalan. Saat gempa bumi hebat tahun 2006 di Jogja, pertama kali yang saya lakukan adalah datang ke tempat tidur alm. bapak saya (waktu itu masih berada di antara kami) untuk melindungi kepala beliau yang setahun sebelumnya dioperasi karena stroke. Saat itu saya takut sekali kehilangan beliau yang ada dalam keringkihan badan ditambah resiko bahaya gempa, karena saya belum sempat mengucapkan betapa saya sayang padanya. Setelah selamat dan berhasil dievakuasi ke luar rumah, ibu dan saya menciumi wajahnya, mengucap syukur bahwa kami masih diberi waktu untuk bersama lagi. Kini, saat saya berada dalam kondisi bencana letusan gunung, saya hendak mengatakan bahwa saya mengasihi keluarga saya, dan untungnya saya masih punya waktu lebih untuk mengatakan kepada sahabat-sahabat saya hal yang sama, sebelum segala sesuatu yang tak terduga terjadi. (Jelas saya masih berharap bisa bertahan hidup)
3. Masih ada orang bijaksana di antara orang yang tidak bijak menghadapi bencana. Masih ada pahlawan sejati di antara pahlawan-pahlawan kesiangan. Saya masih tidak habis pikir sempat-sempatnya ada beberapa kelompok orang yang memperkeruh suasana dalam situasi bencana, meributkan hal-hal yang tidak esensial, bahkan menjejalkan isu keyakinan dan ras yang sensitif, yang terang-terangan mengusik korban dan tidak solutif. Pilihan ada pada kita sebetulnya, menjadi orang bijak dalam menghadapi bencana (termasuk dalam hal menolong para survivor) atau menjadi orang tidak bijak. Saya kira kedewasaan dibutuhkan dalam hal ini.
4. Belajar membaca tanda alam. Alam begitu bijak menuruti kemauan kita, mengapa kita tidak bisa menghargai alam. Saya tidak mau secara gegabah ikut-ikutan mencap bahwa alam murka atau bencana ini buatan Tuhan. Semuanya ada misteri dan Tuhan memberikan kebijaksanaan buat kita untuk menghargai dan bisa membaca tanda yang diberikan oleh alam dan manusia lainnya. Singkirkan keegoisan kita dan mulai memperhatikan serta menghargai eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya.
November, 2010