Saya sedang berada di sebuah desa di pelosok NTT waktu itu, dalam rangka penelitian saya tentang perempuan lokal dalam mengelola program air bersih. Kira-kira satu tahun yang lalu. Perempuan pemberani yang saya datangi di Desa Baus itu bernama Nona Benu, seorang kilok (putri raja) lokal yang baik hati dan cerdas, meski pendidikannya sebatas SD saja. Ia adalah kader kesehatan yang dilatih oleh lembaga saya untuk melayani warga sekitarnya, karena jarak akses pelayanan kesehatan desa itu ke Puskesmas lumayan jauh. Ia pula penggerak warga untuk swadaya membangun fasilitas air bersih yang mereka butuhkan.
Nona Benu tidak menyangka kedatangan saya, tanpa mengurangi rasa senangnya saat saya berkata bahwa saya bermaksud menginap malam itu di rumah dia untuk mengamati aktivitas dia dan perempuan lainnya di desa ini. “Aduh, ibu, rumah saya jelek begini. Lantainya tanah, kamar seadanya,” ujarnya malu. “Tak mengapa, nona. Saya justru yang minta maaf karena merepotkan Nona,” jawab saya lebih malu hati. Ia beralih tatapan sendunya meski masih dengan senyum ke Pak Mel, teman kerja saya yang menemani, ” Saya baru saja sedang mengalami kedukaan, Pak Mel. Kakak perempuan saya meninggal dunia minggu lalu, setelah sakit beberapa hari saja. Padahal suaminya sudah meninggal 3 tahun lalu. Ini anak mereka ada sama saya, 7 orang anak….” kisahnya tanpa bermaksud meminta belas kasihan. “Hah….mengapa tidak beritahu???” Pak Mel dan saya berujar hampir berbarengan, terkejut. Saat Nona Benu bercerita, satu persatu keponakannya bermunculan duduk di lantai tanah mengelilinginya.
Nona Benu masih hidup sendiri, tetapi kini ia memiliki tanggungjawab mengurus 7 keponakan yatim piatunya. Yang paling besar masih berumur 18 tahun, sedangkan yang paling kecil masih 2 tahun. Nona Benu tidak mengeluh sedikitpun mengurus 7 keponakannya itu, hanya satu hal dalam pikirannya: bagaimana menyekolahkan mereka ke sekolah desa? Sementara ia seorang petani lokal yang hasilnya tak seberapa. Memang ada beberapa keluarga besar yang siap membantu, tetapi beban tanggungjawab mereka sendiri sudah terlalu berat untuk membawa anak-anak mereka sekolah.
Sambil menggendong dan mencoba menidurkan satu demi satu ponakannya, Nona Benu mengurus tempat tidur saya. Berulangkali ia minta maaf karena tidak ada sehelai pun kasur yang ia miliki, hanya tikar dari daun kelapa yang dianyam ia miliki dan dipan kecil. Saya selalu bilang itu bukan masalah buat saya, saya bisa tidur dimana pun. Malam itu saya membaringkan tubuh saya ditemani pelita kecil yang bisa setiap saat mati saat minyak tanahnya habis. Listrik belum masuk ke desa kecil itu. Antara jam 2-3 pagi, saya terbangun di kegelapan malam karena mendengar suara tangis salah satu keponakan Nona Benu. Ia menangis dan memanggil almarhum ibunya, “Mama….mama….mana mama…..???” Tangis penuh kerinduan, menusuk-nusuk hati saya, hingga saya bisa merasakan kepedihannya kehilangan sosok ibu yang ia cintai. “Mama…mama…” panggilnya berulang-ulang, sang anak tak mengerti mengapa ia harus merasakan kehilangan ibu di usianya yang terlalu dini. “Ssstttt….sayang….sayangku, ini mama….mama Benu. Mama di sini, sayang…” sayup-sayup saya mendengar suara Nona Benu menenangkan sang balita sambil menggendong dan dibawanya sang anak ke luar, ia takut suara tangisan itu membangunkan saya dan Pak Mel.
Malam itu, air mata saya ikut meleleh bersama tangisan ponakan Nona Benu. Tiba-tiba saya merindukan ibu saya di Jogja, saat saya jauh darinya di bumi Timor. I love you, bu….
hi mba…trma kasih sudah share cerita ini…jujur saya ketemu situs ini, krn saya ‘googling’ dgn keyword : nona benu, sebenarnya itu nama blog pribadi saya…(nama + marga saya), tapi beruntung saya ketemu blog anda dan menceritakan tentang nona benu ini, (kebetulan yang menyenangkan), kalo tidak keberatan saya minta alamat lengkap desa tempat penelitian anda…trima kasih.
Halo juga. Kebetulan yang sangat menyenangkan. Saya sangat bersyukur bisa berjumpa dengan perempuan-perempuan hebat di Pulau Timor. APakah Anda juga berasal dari Timor? Kebetulan penelitian saya tentang perempuan Timor dan gaya komunikasinya, karena bidang saya di komunikasi pembangunan dan gender. Penelitian saya waktu itu ada di 3 desa: Desa Santian Kecamatan Santian, Desa Baus Kec. Boking, (keduanya di TTS), dan Desa Motaulun di Belu. semoga bisa berbagi cerita. terimakasih