prolog: Catatan kecil ini ditulis sesaat sesudah terjadi letusan Merapi, sebuah gunung api yang merupakan salah satu gunung berapi berbahaya di Indonesia (dan di bumi), 5 November 2010. Selama kurun waktu kurang lebih 10 hari, letusan kali ini tercatat paling besar, dengan jarak 10 km ke atas dan awan panas meluncur lebih dari 10 km ke arah bawah.
————————————————————————
Mencatat kejadian penting yang dialami, baik itu peristiwa realita kehidupan seperti kelahiran anggota keluarga, pernikahan, dan kematian, maupun peristiwa alam (baca: bencana alam) ternyata menjadi aktivitas penting dilakukan oleh kita sebagai manusia yang terlibat di dalamnya. Tentu tidak bermaksud untuk menakuti, tetapi memberikan pelajaran berharga untuk anak cucu atau generasi berikutnya. Pelajaran tersebut meliputi membaca tanda-tanda bencana, mengantisipasi, dan meresponnya lebih serius dan bijak.
Kakek saya memang tidak pernah secara langsung bertutur mengenai peristiwa bencana yang ia alami selama hidupnya, karena beliau meninggal jauh sebelum saya lahir. Tetapi dari catatan-catatan yang ia tinggalkan, kami para cucu bisa mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Pasca gempa 2006 lalu di Jogja, sepupu saya menunjukkan catatan kecil sang kakek dan saya dibuat tertegun ketika mata saya membaca catatan beliau yang menggambarkan begitu detail peristiwa gempa dengan kekuatan hampir serupa yang pernah dia alami di Jogja, tahun 1943. Catatan beliau tentu dalam bahasa Jawa yang sangat halus, sedikit bisa saya pahami. Kira-kira berbunyi:” Gempa kekuatan cukup besar terjadi di tahun ini, 1943 masehi. Hampir semua bangunan rumah rubuh, terutama di (kawasan) Kotagede. Anak-anakku selamat, katanya ada beberapa orang meninggal….” Kalau ditelusuri lebih lanjut, pasti banyak ceceran peristiwa penting yang ia catat. Sayang, karena termakan usia, catatan tulisan tangan beliau lebih banyak tidak bisa terbaca, apalagi dalam bahasa kiasan yang seringkali tak kami mengerti.
Kebiasaan kakek saya menular ke almarhum bapak saya. Dalam buku hariannya yang ada beberapa tumpuk yang berhasil kami rawat, bapak saya mencatat peristiwa bencana yang ia alami, baik saat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam perjalanan tugas beliau. Satu catatan penting, mengenai gempa dan tsunami yang melanda Flores pada tahun 1992, ia catat secara detail kronologi dan dampak dari peristiwa tersebut. Begitu juga badai taifun di lautan Jepang maupun Cina Selatan, yang sempat membuat kapalnya (ayah saya dulu seorang pelaut dan bekerja di perusahaan pelayaran) terombang ambing. Dari catatan-catatan tersebut, beliau mengambil hikmahnya dan ketika berada pada situasi yang sama sudah paham apa yang sebaiknya dilakukan.
Catatan-catatan mengenai peristiwa itu banyak membawa manfaat. Dalam bahasa Jawa yang sederhana disebut memunculkan dan menumbuhkan ilmu titen, sebuah perilaku yang waspada mensikapi kalau-kalau peristiwa tersebut terulang kembali. Masalahnya, kebanyakan orang Indonesia atau kultur kebiasaan orang Asia pada umumnya tidak membiasakan diri mencatat secara tertulis, tetapi lebih suka secara lisan, dalam bentuk bertutur kepada generasi berikutnya. Kebiasaan membagikan pengalaman dalam bentuk lisan bertutur ini ada sedikit kelemahan, yaitu pada saat tertentu setelah beberapa generasi menjadi hilang tak berbekas karena arus informasi yang terpapar dan diterima oleh generasi berikutnya sedemikian lebih “ramai” dan padat. Akibatnya, peringatan, pembelajaran, dan tips menanggapi peristiwa bencana atau situasi yang darurat tidak begitu diperhatikan dan bahkan dilupakan sementara bentuk-bentuk bencana mulai beragam.
Sementara itu, kebiasaan mencatat peristiwa sebagai peringatan dan memberikan pelajaran berharga buat generasi berikutnya baru dilakukan oleh sebagian orang. Saya barangkali termasuk dalam golongan yang tidak sangat rajin mencatat peristiwa penting seperti ini, padahal saya sudah diingatkan oleh dosen saya bahwa manajemen pengetahuan adalah kegiatan yang penting untuk melanggengkan ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebencanaan. Secara sederhana, manajemen pengetahuan diibaratkan mencatat data dan peristiwa penting, dikumpulkan, dan dituturkan atau dibuka aksesnya untuk khalayak umum dengan bahasa yang lebih dimengerti karena tidak semua orang memiliki tingkat kecerdasan yang sama.
Saya kira ini penting dilakukan oleh semua orang yang peduli dan ingin memberikan suatu pelajaran berharga buat anak cucunya yang barangkali tercecer tidak bisa diberikan melalui lembaga pendidikan formal. Tidak harus berpendidikan tinggi, seseorang yang telah menjadi orangtua dan pemerhati persoalan sosial dan lingkungan bisa membuat catatan kecil meski sederhana, supaya kelak ketika generasi penerusnya berada pada situasi yang sama, bisa melakukan langkah antisipasi dan tanggap dengan lebih siap. Belajar dari apa yang dilakukan oleh orangtua di negara maju, mengajarkan pada anak mereka sejak dini, baik secara tutur lisan maupun tertulis.
Karena itu, saya mulai mencatat: bahwa hari ini, 5 November2010 dini hari, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY meletus lebih dahsyat dibanding letusan-letusan sejak 1870. 44 orang meninggal, termasuk Mbah Maridjan sang juru kunci, dan 80,000 penduduk mengungsi hingga radius lebih dari 20 km. Pemerintah daerah dan aparat sudah melakukan yang terbaik, memberikan peringatan, bekerjasama dengan LSM dan media. Kepada mereka, saya memberikan apresiasi yang begitu tinggi. Semoga menjadi barometer kesiapsiagaan bencana yang baik di negeri ini. Tuhan melindungi kita semua.
Yogyakarta, 5 November 2010