Tangan Tuhan

Ada cerita yang menarik dialami sebuah gereja di Inggris, pasca Perang Dunia Kedua. Gereja tersebut hancur termasuk sebuah patung Yesus disalibkan dengan tangan terlentang. Oleh para pengurus gereja, patung itu hendak direnovasi karena bagian tangannya terputus akibat kejatuhan puing-puing gereja. Tetapi pastor gereja tersebut memiliki pendapat lain, sebaiknya patung tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa harus direnovasi bagian tangannya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak lagi perlu tanganNya sendiri untuk bekerja, kitalah yang menjadi tanganNya,” cerita pendeta pagi ini dalam kebaktian Minggu yang kuikuti. “Kitalah tangan Tuhan, dipilih menjadi tangan Tuhan untuk melayani sesama….” dan aku pun tercekat, kalimat ini sungguh menonjok.

Pergumulanku beberapa minggu belakangan terjawab hanya sekejap, kita sebagai umatNya diminta menjadi tangan Tuhan. Apa maksudnya? Jangan-jangan hal ini juga menjadi jawaban dari pertanyaanku selama ini: Mengapa aku, Tuhan? Mengapa aku yang harus menanggung beban tugas yang tampak melebihi kekuatan dan kapasitasku? Mengapa aku harus menemui persoalan sulit di tengah-tengah tugas tersebut? Jawaban “Karena kita adalah tangan Tuhan” seolah-olah begitu lugas, tak terbantahkan, dan tidak bisa digugat lagi. Pagi ini aku tergugu, kelu, dan sampai detik ini masih bercokol di kepala: Baik, kalau memang aku adalah tanganMu, Tuhan, lalu aku harus berbuat apa?

I have no hands, but yours….cerita di atas mengingatkanku foto salib Yesus yang kuambil ketika perayaan Paskah di Filipina, 2007. Barangkali salib yang tergantung di biara itu terinspirasi dari kisah gereja tadi, dan aku diingatkan lagi, 4 tahun kemudian. Kita adalah tangan Tuhan, masih menjadi misteri buatku saat ini, di tempat ini, Pegunungan Tengah Papua, yang menyimpan misteri juga. Entahlah, apakah kalimat ini sekedar penguatan dan penghiburan, atau juga menjadi tantangan buat aku dan teman-teman kerja di bumi yang menyimpan segudang persoalan kesehatan ini, aku tidak tahu dan sedang kuurai jawabannya.

Barangkali terlalu naif kalau kami kemudian berjanji terlalu muluk dengan mengatakan bahwa kami siap menjadi tangan yang sempurna melakukan pekerjaan mulia. Karena aku takut mengecewakan Tuhan, jadi aku hanya berkata: Tuhan, meski tidak sempurna, aku mau menjadi tangan yang baik saja. Yang bisa bekerja, tetapi kadang butuh istirahat juga, retreat agar kerja menjadi optimal. Kalau berlepotan debu dan kotoran, ingatkan aku untuk saling membersihkan antara tangan satu dengan yang lainnya.

Selamat menghayati Minggu Sengsara Yesus

Wamena, 6 Maret 2011

Kekuatan Cinta

“Saya memotong tangan istri saya sesaat setelah dia meninggal karena saya mencintainya dan ingin mengenangnya sepanjang hayat saya. Dia sekarat dan akan meninggal segera, dan jasadnya akan dikubur. Apa yang bisa saya lihat bila tidak dari secuil bagian tubuhnya? Dia adalah hidup saya, saya begitu mencintainya. Karena tangannya yang begitu indah dan tangan itu pula yang selalu membelai saya, maka saya potong untuk saya awetkan. Salahkah saya?????” ujar pria hampir setengah baya itu menangis sesenggukan di ruang pengadilan, sebagai terdakwa. Cerita ini mungkin ganjil dan tidak lazim, tetapi adegan itu adalah kiasan untuk menggambarkan kekuatan cinta. Cerita itu ada di salah satu episode serial Ally McBeal, kisah seorang pengacara muda yang selalu mendapatkan kasus tidak lazim. Tentu anda ingat serial Ally McBeal kan?

Endingnya bisa ditebak, Ally yang mendampingi pria itu mengetuk hati para juri untuk membebaskan sang terdakwa dari tuduhan mencelakai istrinya yang sekarat. Dan mereka menang, karena sang terdakwa berhasil meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan karena sesuatu kebutuhan yang paling hakiki dalam sejarah kehidupan manusia: KEKUATAN CINTA…power of love. Karena ia begitu mencintai istrinya yang ia sebut sebagai separuh jiwanya.

Waktu saya tonton adegan itu, saya menangis terharu sambil berpikir, dimana saya bisa mendapatkan power of love itu. Saya lalu melihat bapak ibu saya, mereka pun berhasil menunjukkan kepada saya tentang begitu besar dan dalamnya kekuatan cinta. Tentu dengan caranya, dan saya tidak menyarankan ibu saya memotong tangan bapak waktu ia meninggal dunia. Pernah suatu waktu, ketika bapak saya terbaring lemah dan setengah tidak sadar di rumah sakit, ibu saya tidak pernah sedetikpun meninggalkan kamarnya kecuali mandi dan duduk di teras ruang inap, selebihnya ia memilih duduk di samping bed bapak saya sambil berdoa dan membaca kitab suci. Lalu suatu hari ibu saya terpaksa pulang ke rumah untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh bapak saya sepulang dari RS. saya pun menggantikan menungguinya, ibu saya sengaja tidak pamit supaya bapak tidak gelisah. Suster datang dan mencek tensinya, hari itu hasilnya cukup tinggi, 150/100. “Ibu kemana, mbak? kok bapak tensinya tinggi?” Saya jawab kalau ibu pulang sebentar untuk menyiapkan kamar. Anehnya, ketika ibu saya kembali ke RS dan berbisik di telinga bapak saya kalau ia sudah kembali, tensi bapak kembali normal setelah di-cek oleh suster, 120/80. Itulah kekuatan cinta.

Ada banyak peristiwa dalam hidup saya dan Anda yang menunjukkan kekuatan cinta. Kekuatan cinta tidak hanya berisi pengorbanan, tetapi juga upaya untuk membuat hati orang yang ia cintai senang, nyaman, dan aman. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, begitu juga kekuatan cinta dari Sang Pemberi Cinta itu sendiri, adalah kekuatan yang paling tinggi dan paling abadi. Anda mungkin punya banyak cerita tentang kekuatan cinta Anda, yang terekspresikan melalui perilaku dan kata-kata. Selagi kita punya waktu untuk mengekpresikan kekuatan cinta kita, mengapa tidak kita lakukan? Saya membiasakan diri untuk mengucapkan aku sayang kamu (lav u) karena itulah cara saya menunjukkan kekuatan cinta, sambil tentu diimbangi dengan tindakan saya.

Betapa beruntungnya saya, meski masih single, pada tanggal 14 Februari kemarin saat pikiran dan hati saya gundah karena banyaknya persoalan dan pekerjaan saya, tiba-tiba hp saya menandakan sms masuk, dari nomer kakak saya berbunyi: “Bu Dewi, Nesia Bening dan Cinta love you so much…..” dari keponakan-keponakan saya. Saya menitikkan air mata, anak=anak seumur itu bisa mengekspresikan kekuatan cinta, mengapa kita yang berusia dewasa begini sering lupa? Bahkan dengan enaknya kita membenci satu sama lain demi ambisi kita. Lalu segera saya jawab:”Nesia, bening, cinta, bu dewi lav u too with my heart”. Saya tersadar, masih ada sisa kekuatan cinta dari keluarga saya, sahabat-sahabat saya, teman kerja saya, bahkan dari orang yang tidak saya kenal baik sekalipun. Kekuatan cinta mereka datang begitu saja dan cuma-cuma, pemberian Tuhan. Maka sayang kalau saya tidak menikmatinya dan menganggapnya angin lalu saja, karena kekuatan cinta memberikan kekuatan hidup saya.

Saya mencintai kalian………

Februari 2011