Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan ia dapatkan sepanjang perjalanan dari pesawat.
Untuk membunuh kebosanan duduk berjam-jam dalam pesawat, apalagi yang armadanya tidak menyediakan hiburan audio dan visual, saya biasanya melakukan kebiasaan memotret kota-kota atau pemandangan dari atas. Entah mengapa saya suka melakukannya, meski dengan kamera yang seadanya, baik itu pocket, prosumer, maupun digital SLR. Barangkali memotret dari atas juga merupakan salah satu terapi penyembuhan penyakit phobia ketinggian saya sejak kanak-kanak, dan syukurlah sekarang agak berkurang. Tetapi kalau dari atas gedung tinggi, saya masih suka pusing melihat ke bawah.
Beberapa kota yang view-nya tertangkap kamera saya memiliki cerita tersendiri. Namun tidak semuanya saya ambil dari atas pesawat, beberapa dari bukit tinggi kala menikmati liburan dan atau perjalanan tugas keliling dari desa ke desa. Silakan menikmati.

Kota Wamena di Lembah Baliem Jayawijaya, ini juga wilayah yang sulit ditebak, terutama masyarakatnya

Danau Sentani, Abepura.

Kota terpencil di Lembah Puncak Jaya, bernama Ilu. Menyimpan banyak sekali misteri sosial dan politik

Kota Frankfurt dari atas, diambil pada April 2010 hanya singgah selama 7 jam

Pesisir pantai di kota Dili, Timor Leste

Tagaytay City, Philippines. Gambar diambil dari Taman Wisata People Park.

China Town Singapore. Diambil dari jembatan penyebarangan

Kota Kupang, NTT, saat musim kemarau

Waingapu, Sumba NTT

Jogja, kota paling nyaman ditinggali. Diambil dari pelataran Candi Boko Prambanan