Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan ia dapatkan sepanjang perjalanan dari pesawat.
Untuk membunuh kebosanan duduk berjam-jam dalam pesawat, apalagi yang armadanya tidak menyediakan hiburan audio dan visual, saya biasanya melakukan kebiasaan memotret kota-kota atau pemandangan dari atas. Entah mengapa saya suka melakukannya, meski dengan kamera yang seadanya, baik itu pocket, prosumer, maupun digital SLR. Barangkali memotret dari atas juga merupakan salah satu terapi penyembuhan penyakit phobia ketinggian saya sejak kanak-kanak, dan syukurlah sekarang agak berkurang. Tetapi kalau dari atas gedung tinggi, saya masih suka pusing melihat ke bawah.
Beberapa kota yang view-nya tertangkap kamera saya memiliki cerita tersendiri. Namun tidak semuanya saya ambil dari atas pesawat, beberapa dari bukit tinggi kala menikmati liburan dan atau perjalanan tugas keliling dari desa ke desa. Silakan menikmati.

Kota Wamena di Lembah Baliem Jayawijaya, ini juga wilayah yang sulit ditebak, terutama masyarakatnya









keren-keren! suka deh
ps: aku ga sempet ke tagaytay, padahal dah diniatin juga kemarin, kapan2 lagi deh!
Aku sedang merencanakan ke davao. selain ingin belajar dari NGO di sana, juga katanya Davao tuh kayak Jogja, kota pendidikan dan budaya. Yuks, next easter ke sana. kebetulan punya banyak sobat di sana, they are so nice people.
kok ada pengulangan ‘deh’ sih dalam 1 komen! bukan anak komunikasi yang baik nih!
hahaha…no problemo, dont worry girl. it seems you are very excited
nice aerial photo mbak
i like it
thanks, mas syamsu