Setiap orang ingin dihargai sebagai manusia adanya. Dihargai sebagai orang tua, sebagai anak, saudara, sebagai teman, sebagai pemimpin , sebagai anak buah dan sebagainya. Tidak ada orang yang ingin tidak dihargai. Ibu Teresa seorang biarawati legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat orang terpinggirkan bahkan mengungkapkan fakta ini dengan sangat baik: kemiskinan yang paling menyedihkan di muka bumi ini bukan soal tidak punya uang atau tidak punya makanan, tetapi perasaan tidak dicintai dan tidak dihargai sama sekali oleh sesamanya.
Kita ingin dihargai, itu jelas. Seremeh apapun peran kita dalam kehidupan ini. Meskipun kita bukan dikategorikan sebagai orang penting, berpendidikan, dan berkelas sosial tinggi (sesuatu yang menurut saya konyol), semua orang membutuhkan perasaan dihargai. Bagaimanapun situasinya, apapun caranya. Pun perasaan ini sangat wajar dan manusiawi, oleh karena itu Sang Pencipta Hidup melalui nabi-nabiNya meyakinkan pada manusia bahwa Ia menghargai setiap individu yang telah Ia ciptakan. Bayangkan, kalau Ia sendiri pun bisa menghargai kehidupan SETIAP manusia, mengapa kita yang tidak ada apa-apanya justru arogan merasa paling berhak untuk tidak menghargai keberadaan orang lain? Apalagi orang lain yang ia anggap berbeda.
Pertanyaan ini mengganggu saya beberapa saat belakangan. Terlepas dari peristiwa yang membuat saya terluka, merasa tidak dihargai sebagai teman dan manusia yang sedang berupaya berkarya, saya seperti ditampar oleh teguran. Ini menjadi pertanyaan yang harus saya kembalikan ke diri sendiri, selama ini apakah saya sudah belajar menghargai orang lain? Apapun keadaan orang itu. Apakah saya sudah mengatakan MAAF, TERIMAKASIH, dan TOLONGĀ sebagai salah satu wujud penghargaan saya terhadap orang tersebut.
Soal menghargai keberadaan orang lain memang tidak semudah yang diucapkan. Urusannya bisa complicated, kalau sudah berkaitan dengan relasi antar manusia. Memutuskan apakah masih tetap akan berhubungan baik dengan orang tersebut, membutuhkan interaksi timbal balik yang sepadan. Bila kita sudah mencoba menghargai dengan upaya keras, tetapi kalau yang bersangkutan tetap keras hati menolak penghargaan yang sudah kita berikan, apa mau dikata? Anggap saja orang tersebut punya urusan masa lalu yang belum selesai untuk belajar penghargaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Singkat kata, saya cuma mau bilang: arogansi, keras hati, tinggi hati, ada dampaknya pada sikap penghargaan dan penerimaan terhadap diri sendiri dan keberadaan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati yang musti dipupuk setiap hari. Kalau Tuhan melalui caraNya mengajarkan bagaimana menghargai orang lain sebagaimana adanya, maka tidak adil bila kita buru-buru mengambil sikap terhadap orang lain: “Lu udah gak gue anggep!” Pasti Tuhan pun sedih……..
Tempel, di akhir minggu bulan November