Rateng Garo dan misteri

Tak perlu banyak bercakap, saya sungguh terpana dengan tempat ini. Rateng Garo, adalah kampung di tepi pantai (atau pantai yang dihiasi kampung adat ya) selatan di pulau Sumba, NTT. Tepatnya di kabupaten Sumba Barat Daya.

Tempat ini menyimpan misteri yang sampai sekarang pun saya belum bisa menebak. Suatu saat akan saya jelajahi misteri budaya di Rateng Garo.
Silahkan menikmati keindahannya dari foto-foto ini.kompleks kubur batu di sekitar pantai

anak-anak pantai rateng garo mempunyai taman bermain begitu indah

Anggota penghuni pantai yang masih senang, belum terancam kerusakan

"Komodo" di Rateng Garo

Kampung Rateng Garo yang menghadap laut lepas. Sekumpulan rumah adat dan menyimpan kekayaan misteri

Langit biru memperkuat keindahan Rateng Garo

Senja di Rateng Garo menutup hari indah, yang langsung diguyur hujan deras setelahnya

Orang katrok dari Jawa yang terbengong-bengong melihat keajaiban Tuhan di tempat ini

Universitas Kehidupan

Salah satu tokoh budayawan di kota tercinta saya, Bakdi Soemanto, yang juga seorang guru besar UGM, menyebutkan suatu istilah Universitas Kehidupan, saat diwawancarai oleh Kompas beberapa Minggu lalu. Usianya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, di atas 70an tahun, pastinya sudah khatam makan manis pahitnya kehidupan. Namun ia mengaku masih harus belajar, pada sebuah universitas kehidupan, yang mana ia sebut dosen-dosennya adalah orang-orang sederhana yang bekerja di rumahnya.

Sepintas saya membayangkan bagaimana ia bergaul dengan dosen-dosen di universitas kehidupannya itu. Waktu SD dulu saya beberapa kali ke rumah Pak Bakdi, karena salah satu anaknya adalah teman sekelas saya. Rumahnya asri, sederhana, dan saya suka. Saya tidak tahu apakah rumah tempat ia belajar yang ia sebut salah satu bagian dari universitas kehidupannya itu sudah dirombak, atau, apakah orang-orang yang bekerja dengannya di rumah itu masih sama waktu saya lihat lebih dari 20 tahun lalu. Satu hal yang membuat saya merenung setelah membaca ulasan wawancara dengan Pak Bakdi, kalau ia yang setua itu saja merasa masih harus belajar di universitas kehidupan, apalagi saya.

Memang tidak sengaja dan kebetulan saja, jauh sebelumnya saya mencantumkan di profil fesbuk saya, bahwa saya berguru di universitas kehidupan, university of life yang saya sebut bila Anda menengok profil info di halaman fesbuk saya. Saya hanya merasa, ujian hidup paling menantang dan berat adalah di sebuah sekolah yang saya sebut juga universitas kehidupan itu. Bangku kuliah, diskusi dengan dosen, diktat-diktat dengan berbagai teori dan bahasa bagi saya belum ada apa-apanya dengan universitas kehidupan. Bahkan ujian yang berpuluh kali dilalui dengan perasaan deg-deg’an juga tidak seberapa sulit bila dibandingkan dengan kenyataan ujian di universitas kehidupan ini. Saya lebih memilih deg-degan menghadapi ujian pendadaran atau ujian akhir dihadapan lebih dari 4 dosen daripada menghadapi 1 realita yang pahit. Tetapi begitulah, suka tidak suka, mau tidak mau, semua manusia yang mau lulus di universitas kehidupan harus melaluinya dan mengalaminya.

Bila di universitas formal kita bisa menempuh jalur instan dengan berbagai cara, tetapi tidak di universitas kehidupan. Setidaknya, bila kita terbiasa dan membiasakan diri menempuh jalur instan, pasti ada resiko yang tidak kalah pahitnya di belakang hari. Seorang dosen pasca sarjana yang juga pembimbing tesis saya mempunyai filosofi yang bagus tentang hal ini. “Mbak Dewi, mengapa kami para dosen mengharuskan mahasiswa mandiri dalam mengerjakan tugasnya, dan mengharuskan kalian menempuh berbagai tahapan menuju kelulusan, pasti ada maksudnya. Karena tidak ada yang instan dalam hidup ini, kalaupun ada, pasti hasilnya tidak baik. Yang kami tekankan di sini bukan sekedar memberikan berbagai teori dan meluluskan mahasiswa, tetapi ada yang lebih dari itu, yaitu pelajaran hidup memperhatikan proses dan memetik pelajaran dari menempuh proses itu sendiri. Di situlah kita teruji, untuk persiapan masuk pada universitas kehidupan, khususnya dalam menjalankan profesi,” katanya bijak. sehingga selama dalam perjalanan pulang dari bimbingan tesis hari itu saya berpikir banyak “kuliah istimewa” yang saya dapatkan. Baru sekarang saya mengerti maksud kuliah tersebut.

Masing-masing orang memiliki jalur di universitas kehidupannya, yang unik, tidak akan sama satu sama lain. Anda dan saya punya universitas kehidupan, dan saya melihat tidak ada yang kalah dan menang. Yang ada hanya lulus atau tidak lulus. Yang tidak lulus akan mengambil jalan pintas dan instan, dan yang lulus akan memetik buah hasilnya, meskipun harus tertatih-tatih dan penuh air mata. Semuanya ada pilihan, tinggal berani ambil resiko atau tidak.

Selamat menempuh universitas kehidupan dan nikmati saja.

Januari 2012, di Tempel