Universitas Kehidupan

Salah satu tokoh budayawan di kota tercinta saya, Bakdi Soemanto, yang juga seorang guru besar UGM, menyebutkan suatu istilah Universitas Kehidupan, saat diwawancarai oleh Kompas beberapa Minggu lalu. Usianya sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, di atas 70an tahun, pastinya sudah khatam makan manis pahitnya kehidupan. Namun ia mengaku masih harus belajar, pada sebuah universitas kehidupan, yang mana ia sebut dosen-dosennya adalah orang-orang sederhana yang bekerja di rumahnya.

Sepintas saya membayangkan bagaimana ia bergaul dengan dosen-dosen di universitas kehidupannya itu. Waktu SD dulu saya beberapa kali ke rumah Pak Bakdi, karena salah satu anaknya adalah teman sekelas saya. Rumahnya asri, sederhana, dan saya suka. Saya tidak tahu apakah rumah tempat ia belajar yang ia sebut salah satu bagian dari universitas kehidupannya itu sudah dirombak, atau, apakah orang-orang yang bekerja dengannya di rumah itu masih sama waktu saya lihat lebih dari 20 tahun lalu. Satu hal yang membuat saya merenung setelah membaca ulasan wawancara dengan Pak Bakdi, kalau ia yang setua itu saja merasa masih harus belajar di universitas kehidupan, apalagi saya.

Memang tidak sengaja dan kebetulan saja, jauh sebelumnya saya mencantumkan di profil fesbuk saya, bahwa saya berguru di universitas kehidupan, university of life yang saya sebut bila Anda menengok profil info di halaman fesbuk saya. Saya hanya merasa, ujian hidup paling menantang dan berat adalah di sebuah sekolah yang saya sebut juga universitas kehidupan itu. Bangku kuliah, diskusi dengan dosen, diktat-diktat dengan berbagai teori dan bahasa bagi saya belum ada apa-apanya dengan universitas kehidupan. Bahkan ujian yang berpuluh kali dilalui dengan perasaan deg-deg’an juga tidak seberapa sulit bila dibandingkan dengan kenyataan ujian di universitas kehidupan ini. Saya lebih memilih deg-degan menghadapi ujian pendadaran atau ujian akhir dihadapan lebih dari 4 dosen daripada menghadapi 1 realita yang pahit. Tetapi begitulah, suka tidak suka, mau tidak mau, semua manusia yang mau lulus di universitas kehidupan harus melaluinya dan mengalaminya.

Bila di universitas formal kita bisa menempuh jalur instan dengan berbagai cara, tetapi tidak di universitas kehidupan. Setidaknya, bila kita terbiasa dan membiasakan diri menempuh jalur instan, pasti ada resiko yang tidak kalah pahitnya di belakang hari. Seorang dosen pasca sarjana yang juga pembimbing tesis saya mempunyai filosofi yang bagus tentang hal ini. “Mbak Dewi, mengapa kami para dosen mengharuskan mahasiswa mandiri dalam mengerjakan tugasnya, dan mengharuskan kalian menempuh berbagai tahapan menuju kelulusan, pasti ada maksudnya. Karena tidak ada yang instan dalam hidup ini, kalaupun ada, pasti hasilnya tidak baik. Yang kami tekankan di sini bukan sekedar memberikan berbagai teori dan meluluskan mahasiswa, tetapi ada yang lebih dari itu, yaitu pelajaran hidup memperhatikan proses dan memetik pelajaran dari menempuh proses itu sendiri. Di situlah kita teruji, untuk persiapan masuk pada universitas kehidupan, khususnya dalam menjalankan profesi,” katanya bijak. sehingga selama dalam perjalanan pulang dari bimbingan tesis hari itu saya berpikir banyak “kuliah istimewa” yang saya dapatkan. Baru sekarang saya mengerti maksud kuliah tersebut.

Masing-masing orang memiliki jalur di universitas kehidupannya, yang unik, tidak akan sama satu sama lain. Anda dan saya punya universitas kehidupan, dan saya melihat tidak ada yang kalah dan menang. Yang ada hanya lulus atau tidak lulus. Yang tidak lulus akan mengambil jalan pintas dan instan, dan yang lulus akan memetik buah hasilnya, meskipun harus tertatih-tatih dan penuh air mata. Semuanya ada pilihan, tinggal berani ambil resiko atau tidak.

Selamat menempuh universitas kehidupan dan nikmati saja.

Januari 2012, di Tempel

Hidden Passion

Galeri ini berisi 12 foto.

Sewaktu SMA kelas 3, saya berada di ujung kebingungan untuk memilih jurusan kuliah saya berikutnya, antara tetap ilmu fisik atau ilmu sosial. Sejujurnya saya senang program studi yang dikombinasikan dengan seni. Oleh karena itu, ketika sekolah saya memberikan kesempatan psikotes uji minat dan bakat, saya mencantumkan minat: Arsitektur dan Ilmu Komunikasi. Saya senang, psikolog yang […]

MEMANDANG KOTA-KOTA CANTIK DARI ATAS

Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan ia dapatkan sepanjang perjalanan dari pesawat.

Untuk membunuh kebosanan duduk berjam-jam dalam pesawat, apalagi yang armadanya tidak menyediakan hiburan audio dan visual, saya biasanya melakukan kebiasaan memotret kota-kota atau pemandangan dari atas. Entah mengapa saya suka melakukannya, meski dengan kamera yang seadanya, baik itu pocket, prosumer, maupun digital SLR. Barangkali memotret dari atas juga merupakan salah satu terapi penyembuhan penyakit phobia ketinggian saya sejak kanak-kanak, dan syukurlah sekarang agak berkurang. Tetapi kalau dari atas gedung tinggi, saya masih suka pusing melihat ke bawah.

Beberapa kota yang view-nya tertangkap kamera saya memiliki cerita tersendiri. Namun tidak semuanya saya ambil dari atas pesawat, beberapa dari bukit tinggi kala menikmati liburan dan atau perjalanan tugas keliling dari desa ke desa. Silakan menikmati.

Kota Wamena di Lembah Baliem Jayawijaya, ini juga wilayah yang sulit ditebak, terutama masyarakatnya

Danau Sentani, Abepura.

Kota terpencil di Lembah Puncak Jaya, bernama Ilu. Menyimpan banyak sekali misteri sosial dan politik

Kota Frankfurt dari atas, diambil pada April 2010 hanya singgah selama 7 jam

Pesisir pantai di kota Dili, Timor Leste

Tagaytay City, Philippines. Gambar diambil dari Taman Wisata People Park.

China Town Singapore. Diambil dari jembatan penyebarangan

Kota Kupang, NTT, saat musim kemarau

Waingapu, Sumba NTT

Jogja, kota paling nyaman ditinggali. Diambil dari pelataran Candi Boko Prambanan

Tangan Tuhan

Ada cerita yang menarik dialami sebuah gereja di Inggris, pasca Perang Dunia Kedua. Gereja tersebut hancur termasuk sebuah patung Yesus disalibkan dengan tangan terlentang. Oleh para pengurus gereja, patung itu hendak direnovasi karena bagian tangannya terputus akibat kejatuhan puing-puing gereja. Tetapi pastor gereja tersebut memiliki pendapat lain, sebaiknya patung tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa harus direnovasi bagian tangannya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak lagi perlu tanganNya sendiri untuk bekerja, kitalah yang menjadi tanganNya,” cerita pendeta pagi ini dalam kebaktian Minggu yang kuikuti. “Kitalah tangan Tuhan, dipilih menjadi tangan Tuhan untuk melayani sesama….” dan aku pun tercekat, kalimat ini sungguh menonjok.

Pergumulanku beberapa minggu belakangan terjawab hanya sekejap, kita sebagai umatNya diminta menjadi tangan Tuhan. Apa maksudnya? Jangan-jangan hal ini juga menjadi jawaban dari pertanyaanku selama ini: Mengapa aku, Tuhan? Mengapa aku yang harus menanggung beban tugas yang tampak melebihi kekuatan dan kapasitasku? Mengapa aku harus menemui persoalan sulit di tengah-tengah tugas tersebut? Jawaban “Karena kita adalah tangan Tuhan” seolah-olah begitu lugas, tak terbantahkan, dan tidak bisa digugat lagi. Pagi ini aku tergugu, kelu, dan sampai detik ini masih bercokol di kepala: Baik, kalau memang aku adalah tanganMu, Tuhan, lalu aku harus berbuat apa?

I have no hands, but yours….cerita di atas mengingatkanku foto salib Yesus yang kuambil ketika perayaan Paskah di Filipina, 2007. Barangkali salib yang tergantung di biara itu terinspirasi dari kisah gereja tadi, dan aku diingatkan lagi, 4 tahun kemudian. Kita adalah tangan Tuhan, masih menjadi misteri buatku saat ini, di tempat ini, Pegunungan Tengah Papua, yang menyimpan misteri juga. Entahlah, apakah kalimat ini sekedar penguatan dan penghiburan, atau juga menjadi tantangan buat aku dan teman-teman kerja di bumi yang menyimpan segudang persoalan kesehatan ini, aku tidak tahu dan sedang kuurai jawabannya.

Barangkali terlalu naif kalau kami kemudian berjanji terlalu muluk dengan mengatakan bahwa kami siap menjadi tangan yang sempurna melakukan pekerjaan mulia. Karena aku takut mengecewakan Tuhan, jadi aku hanya berkata: Tuhan, meski tidak sempurna, aku mau menjadi tangan yang baik saja. Yang bisa bekerja, tetapi kadang butuh istirahat juga, retreat agar kerja menjadi optimal. Kalau berlepotan debu dan kotoran, ingatkan aku untuk saling membersihkan antara tangan satu dengan yang lainnya.

Selamat menghayati Minggu Sengsara Yesus

Wamena, 6 Maret 2011

Kekuatan Cinta

“Saya memotong tangan istri saya sesaat setelah dia meninggal karena saya mencintainya dan ingin mengenangnya sepanjang hayat saya. Dia sekarat dan akan meninggal segera, dan jasadnya akan dikubur. Apa yang bisa saya lihat bila tidak dari secuil bagian tubuhnya? Dia adalah hidup saya, saya begitu mencintainya. Karena tangannya yang begitu indah dan tangan itu pula yang selalu membelai saya, maka saya potong untuk saya awetkan. Salahkah saya?????” ujar pria hampir setengah baya itu menangis sesenggukan di ruang pengadilan, sebagai terdakwa. Cerita ini mungkin ganjil dan tidak lazim, tetapi adegan itu adalah kiasan untuk menggambarkan kekuatan cinta. Cerita itu ada di salah satu episode serial Ally McBeal, kisah seorang pengacara muda yang selalu mendapatkan kasus tidak lazim. Tentu anda ingat serial Ally McBeal kan?

Endingnya bisa ditebak, Ally yang mendampingi pria itu mengetuk hati para juri untuk membebaskan sang terdakwa dari tuduhan mencelakai istrinya yang sekarat. Dan mereka menang, karena sang terdakwa berhasil meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan karena sesuatu kebutuhan yang paling hakiki dalam sejarah kehidupan manusia: KEKUATAN CINTA…power of love. Karena ia begitu mencintai istrinya yang ia sebut sebagai separuh jiwanya.

Waktu saya tonton adegan itu, saya menangis terharu sambil berpikir, dimana saya bisa mendapatkan power of love itu. Saya lalu melihat bapak ibu saya, mereka pun berhasil menunjukkan kepada saya tentang begitu besar dan dalamnya kekuatan cinta. Tentu dengan caranya, dan saya tidak menyarankan ibu saya memotong tangan bapak waktu ia meninggal dunia. Pernah suatu waktu, ketika bapak saya terbaring lemah dan setengah tidak sadar di rumah sakit, ibu saya tidak pernah sedetikpun meninggalkan kamarnya kecuali mandi dan duduk di teras ruang inap, selebihnya ia memilih duduk di samping bed bapak saya sambil berdoa dan membaca kitab suci. Lalu suatu hari ibu saya terpaksa pulang ke rumah untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh bapak saya sepulang dari RS. saya pun menggantikan menungguinya, ibu saya sengaja tidak pamit supaya bapak tidak gelisah. Suster datang dan mencek tensinya, hari itu hasilnya cukup tinggi, 150/100. “Ibu kemana, mbak? kok bapak tensinya tinggi?” Saya jawab kalau ibu pulang sebentar untuk menyiapkan kamar. Anehnya, ketika ibu saya kembali ke RS dan berbisik di telinga bapak saya kalau ia sudah kembali, tensi bapak kembali normal setelah di-cek oleh suster, 120/80. Itulah kekuatan cinta.

Ada banyak peristiwa dalam hidup saya dan Anda yang menunjukkan kekuatan cinta. Kekuatan cinta tidak hanya berisi pengorbanan, tetapi juga upaya untuk membuat hati orang yang ia cintai senang, nyaman, dan aman. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, begitu juga kekuatan cinta dari Sang Pemberi Cinta itu sendiri, adalah kekuatan yang paling tinggi dan paling abadi. Anda mungkin punya banyak cerita tentang kekuatan cinta Anda, yang terekspresikan melalui perilaku dan kata-kata. Selagi kita punya waktu untuk mengekpresikan kekuatan cinta kita, mengapa tidak kita lakukan? Saya membiasakan diri untuk mengucapkan aku sayang kamu (lav u) karena itulah cara saya menunjukkan kekuatan cinta, sambil tentu diimbangi dengan tindakan saya.

Betapa beruntungnya saya, meski masih single, pada tanggal 14 Februari kemarin saat pikiran dan hati saya gundah karena banyaknya persoalan dan pekerjaan saya, tiba-tiba hp saya menandakan sms masuk, dari nomer kakak saya berbunyi: “Bu Dewi, Nesia Bening dan Cinta love you so much…..” dari keponakan-keponakan saya. Saya menitikkan air mata, anak=anak seumur itu bisa mengekspresikan kekuatan cinta, mengapa kita yang berusia dewasa begini sering lupa? Bahkan dengan enaknya kita membenci satu sama lain demi ambisi kita. Lalu segera saya jawab:”Nesia, bening, cinta, bu dewi lav u too with my heart”. Saya tersadar, masih ada sisa kekuatan cinta dari keluarga saya, sahabat-sahabat saya, teman kerja saya, bahkan dari orang yang tidak saya kenal baik sekalipun. Kekuatan cinta mereka datang begitu saja dan cuma-cuma, pemberian Tuhan. Maka sayang kalau saya tidak menikmatinya dan menganggapnya angin lalu saja, karena kekuatan cinta memberikan kekuatan hidup saya.

Saya mencintai kalian………

Februari 2011

Kisah dari Pelosok: 7 Anak Mencari Kasih Sayang

Saya sedang berada di sebuah desa di pelosok NTT waktu itu, dalam rangka penelitian saya tentang perempuan lokal dalam mengelola program air bersih. Kira-kira satu tahun yang lalu. Perempuan pemberani yang saya datangi di Desa Baus itu bernama Nona Benu, seorang kilok (putri raja) lokal yang baik hati dan cerdas, meski pendidikannya sebatas SD saja. Ia adalah kader kesehatan yang dilatih oleh lembaga saya untuk melayani warga sekitarnya, karena jarak akses pelayanan kesehatan desa itu ke Puskesmas lumayan jauh. Ia pula penggerak warga untuk swadaya membangun fasilitas air bersih yang mereka butuhkan.

Nona Benu tidak menyangka kedatangan saya, tanpa mengurangi rasa senangnya saat saya berkata bahwa saya bermaksud menginap malam itu di rumah dia untuk mengamati aktivitas dia dan perempuan lainnya di desa ini. “Aduh, ibu, rumah saya jelek begini. Lantainya tanah, kamar seadanya,” ujarnya malu. “Tak mengapa, nona. Saya justru yang minta maaf karena merepotkan Nona,” jawab saya lebih malu hati. Ia beralih tatapan sendunya meski masih dengan senyum ke Pak Mel, teman kerja saya yang menemani, ” Saya baru saja sedang mengalami kedukaan, Pak Mel. Kakak perempuan saya meninggal dunia minggu lalu, setelah sakit beberapa hari saja. Padahal suaminya sudah meninggal 3 tahun lalu. Ini anak mereka ada sama saya, 7 orang anak….” kisahnya tanpa bermaksud meminta belas kasihan. “Hah….mengapa tidak beritahu???” Pak Mel dan saya berujar hampir berbarengan, terkejut. Saat Nona Benu bercerita, satu persatu keponakannya bermunculan duduk di lantai tanah mengelilinginya.

Nona Benu masih hidup sendiri, tetapi kini ia memiliki tanggungjawab mengurus 7 keponakan yatim piatunya. Yang paling besar masih berumur 18 tahun, sedangkan yang paling kecil masih 2 tahun. Nona Benu tidak mengeluh sedikitpun mengurus 7 keponakannya itu, hanya satu hal dalam pikirannya: bagaimana menyekolahkan mereka ke sekolah desa? Sementara ia seorang petani lokal yang hasilnya tak seberapa. Memang ada beberapa keluarga besar yang siap membantu, tetapi beban tanggungjawab mereka sendiri sudah terlalu berat untuk membawa anak-anak mereka sekolah.

Sambil menggendong dan mencoba menidurkan satu demi satu ponakannya, Nona Benu mengurus tempat tidur saya. Berulangkali ia minta maaf karena tidak ada sehelai pun kasur yang ia miliki, hanya tikar dari daun kelapa yang dianyam ia miliki dan dipan kecil. Saya selalu bilang itu bukan masalah buat saya, saya bisa tidur dimana pun. Malam itu saya membaringkan tubuh saya ditemani pelita kecil yang bisa setiap saat mati saat minyak tanahnya habis. Listrik belum masuk ke desa kecil itu. Antara jam 2-3 pagi, saya terbangun di kegelapan malam karena mendengar suara tangis salah satu keponakan Nona Benu. Ia menangis dan memanggil almarhum ibunya, “Mama….mama….mana mama…..???” Tangis penuh kerinduan, menusuk-nusuk hati saya, hingga saya bisa merasakan kepedihannya kehilangan sosok ibu yang ia cintai. “Mama…mama…” panggilnya berulang-ulang, sang anak tak mengerti mengapa ia harus merasakan kehilangan ibu di usianya yang terlalu dini. “Ssstttt….sayang….sayangku, ini mama….mama Benu. Mama di sini, sayang…” sayup-sayup saya mendengar suara Nona Benu menenangkan sang balita sambil menggendong dan dibawanya sang anak ke luar, ia takut suara tangisan itu membangunkan saya dan Pak Mel.

Malam itu, air mata saya ikut meleleh bersama tangisan ponakan Nona Benu. Tiba-tiba saya merindukan ibu saya di Jogja, saat saya jauh darinya di bumi Timor. I love you, bu….

Hikmah di Balik Bencana

Dalam hidup saya, setidaknya ada beberapa bencana besar yang telah saya lihat, saya alami dan saya catat. Pertama, gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 akhir. Saat itu memang saya tidak berada di sana, tetapi setidaknya percakapan saya dengan segelintir survivor (penyintas) cukup memberikan gambaran yang mengerikan. Kedua, gempa besar di Yogyakarta, Mei 2006, menewaskan 6000 jiwa dan meluluhlantakkan sebagian besar Bantul. Saat itu, saya benar-benar mengalaminya dan barangkali trauma itu masih ada. Saya dan keluarga sangat bersyukur bahwasanya kami bisa bertahan hidup dan rumah kami tetap kokoh. Ketiga, bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang saat ini sedang terjadi. Komentar sahabat saya tentang gunung tersebut: That’s beautiful but also dangerous.” Saya bilang, ya, seperti itulah manusia juga, tak selamanya yang tampak indah itu tidak bahaya.

 

Dari sekian rentet peristiwa bencana yang saya alami dan temui, saya menjadi sadar ada banyak pelajaran di balik itu semua. Ini hanya versi saya, barangkali Anda memiliki hikmah dan pelajaran lain, saya kira itu sah-sah saja. Baiklah, satu demi satu saya urai berikut:

1. Antara hidup dan mati batasnya sangat tipis, hanya sehembusan nafas. Kita tidak pernah bisa menduga kapan bencana datang, tapi memang kita bisa mengantisipasi dan berlatih untuk bertahan hidup. Saya pernah mengalami kecelakaan motor dan mobil, bahkan terakhir ini sempat membuat saya nyaris lepas nyawa karena roda mobil yang saya tumpangi tiba-tiba lepas dan mobil itu nyaris terjun bebas ke jurang. Jantung berdebar keras, baru berhenti berdebar saat akhirnya saya selamat kembali ke hotel dan menangis hebat seraya meratap:”Tuhan, ternyata batas antara hidup secara fisik dan mati tubuh tipis saja. Terimakasih Kau sadarkan saya untuk menghargai dan mensyukuri setiap detik dalam hidup”. Kata-kata itu berulang setiap saya mengalami bencana.

2. Seringkali penyesalan datang terlambat. Di setiap bencana, saya mencermati banyak survivor dan korban mengalami penyesalan. Menyesal tidak bisa menolong orang-orang yang ia cintai pada saat-saat genting, menyesal tidak mengungkapkan kata-kata perpisahan yang lebih baik. Banyak terjadi unfinished bussiness, karena memang bencana datang seperti maling, tidak diundang dan diharapkan dan tiba-tiba. Saya belajar, sebelum terlambat, selama kita bisa mengucapkan dan mengungkapkan perasaan cinta kepada orang-orang yang kita kasihi, entah itu pasangan, orang tua, anak, sahabat, dan lain-lain, ungkapkan dengan tulus sebelum bencana datang dan menghempaskan kita pada penyesalan. Saat gempa bumi hebat tahun 2006 di Jogja, pertama kali yang saya lakukan adalah datang ke tempat tidur alm. bapak saya (waktu itu masih berada di antara kami) untuk melindungi kepala beliau yang setahun sebelumnya dioperasi karena stroke. Saat itu saya takut sekali kehilangan beliau yang ada dalam keringkihan badan ditambah resiko bahaya gempa, karena saya belum sempat mengucapkan betapa saya sayang padanya. Setelah selamat dan berhasil dievakuasi ke luar rumah, ibu dan saya menciumi wajahnya, mengucap syukur bahwa kami masih diberi waktu untuk bersama lagi. Kini, saat saya berada dalam kondisi bencana letusan gunung, saya hendak mengatakan bahwa saya mengasihi keluarga saya, dan untungnya saya masih punya waktu lebih untuk mengatakan kepada sahabat-sahabat saya hal yang sama, sebelum segala sesuatu yang tak terduga terjadi. (Jelas saya masih berharap bisa bertahan hidup)

3. Masih ada orang bijaksana di antara orang yang tidak bijak menghadapi bencana. Masih ada pahlawan sejati di antara pahlawan-pahlawan kesiangan. Saya masih tidak habis pikir sempat-sempatnya ada beberapa kelompok orang yang memperkeruh suasana dalam situasi bencana, meributkan hal-hal yang tidak esensial, bahkan menjejalkan isu keyakinan dan ras yang sensitif, yang terang-terangan mengusik korban dan tidak solutif. Pilihan ada pada kita sebetulnya, menjadi orang bijak dalam menghadapi bencana (termasuk dalam hal menolong para survivor) atau menjadi orang tidak bijak. Saya kira kedewasaan dibutuhkan dalam hal ini.

4. Belajar membaca tanda alam. Alam begitu bijak menuruti kemauan kita, mengapa kita tidak bisa menghargai alam. Saya tidak mau secara gegabah ikut-ikutan mencap bahwa alam murka atau bencana ini buatan Tuhan. Semuanya ada misteri dan Tuhan memberikan kebijaksanaan buat kita untuk menghargai dan bisa membaca tanda yang diberikan oleh alam dan manusia lainnya. Singkirkan keegoisan kita dan mulai memperhatikan serta menghargai eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya.

 

November, 2010

Mencatat Bencana Alam

prolog: Catatan kecil ini ditulis sesaat sesudah terjadi letusan Merapi, sebuah gunung api yang merupakan salah satu gunung berapi berbahaya di Indonesia (dan di bumi), 5 November 2010. Selama kurun waktu kurang lebih 10 hari, letusan kali ini tercatat paling besar, dengan jarak 10 km ke atas dan awan panas meluncur lebih dari 10 km ke arah bawah.

————————————————————————

Mencatat kejadian penting yang dialami, baik itu peristiwa realita kehidupan seperti kelahiran anggota keluarga, pernikahan, dan kematian, maupun peristiwa alam (baca: bencana alam) ternyata menjadi aktivitas penting dilakukan oleh kita sebagai manusia yang terlibat di dalamnya. Tentu tidak bermaksud untuk menakuti, tetapi memberikan pelajaran berharga untuk anak cucu atau generasi berikutnya. Pelajaran tersebut meliputi membaca tanda-tanda bencana, mengantisipasi, dan meresponnya lebih serius dan bijak.

Kakek saya memang tidak pernah secara langsung bertutur mengenai peristiwa bencana yang ia alami selama hidupnya, karena beliau meninggal jauh sebelum saya lahir. Tetapi dari catatan-catatan yang ia tinggalkan, kami para cucu bisa mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Pasca gempa 2006 lalu di Jogja, sepupu saya menunjukkan catatan kecil sang kakek dan saya dibuat tertegun ketika mata saya membaca catatan beliau yang menggambarkan begitu detail peristiwa gempa dengan kekuatan hampir serupa yang pernah dia alami di Jogja, tahun 1943. Catatan beliau tentu dalam bahasa Jawa yang sangat halus, sedikit bisa saya pahami. Kira-kira berbunyi:” Gempa kekuatan cukup besar terjadi di tahun ini, 1943 masehi. Hampir semua bangunan rumah rubuh, terutama di (kawasan) Kotagede. Anak-anakku selamat, katanya ada beberapa orang meninggal….” Kalau ditelusuri lebih lanjut, pasti banyak ceceran peristiwa penting yang ia catat. Sayang, karena termakan usia, catatan tulisan tangan beliau lebih banyak tidak bisa terbaca, apalagi dalam bahasa kiasan yang seringkali tak kami mengerti.

Kebiasaan kakek saya menular ke almarhum bapak saya. Dalam buku hariannya yang ada beberapa tumpuk yang berhasil kami rawat, bapak saya mencatat peristiwa bencana yang ia alami, baik saat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam perjalanan tugas beliau. Satu catatan penting, mengenai gempa dan tsunami yang melanda Flores pada tahun 1992, ia catat secara detail kronologi dan dampak dari peristiwa tersebut. Begitu juga badai taifun di lautan Jepang maupun Cina Selatan, yang sempat membuat kapalnya (ayah saya dulu seorang pelaut dan bekerja di perusahaan pelayaran) terombang ambing. Dari catatan-catatan tersebut, beliau mengambil hikmahnya dan ketika berada pada situasi yang sama sudah paham apa yang sebaiknya dilakukan.

Catatan-catatan mengenai peristiwa itu banyak membawa manfaat. Dalam bahasa Jawa yang sederhana disebut memunculkan dan menumbuhkan ilmu titen, sebuah perilaku yang waspada mensikapi kalau-kalau peristiwa tersebut terulang kembali. Masalahnya, kebanyakan orang Indonesia atau kultur kebiasaan orang Asia pada umumnya tidak membiasakan diri mencatat secara tertulis, tetapi lebih suka secara lisan, dalam bentuk bertutur kepada generasi berikutnya. Kebiasaan membagikan pengalaman dalam bentuk lisan bertutur ini ada sedikit kelemahan, yaitu pada saat tertentu setelah beberapa generasi menjadi hilang tak berbekas karena arus informasi yang terpapar dan diterima oleh generasi berikutnya sedemikian lebih “ramai” dan padat. Akibatnya, peringatan, pembelajaran, dan tips menanggapi peristiwa bencana atau situasi yang darurat tidak begitu diperhatikan dan bahkan dilupakan sementara bentuk-bentuk bencana mulai beragam.

Sementara itu, kebiasaan mencatat peristiwa sebagai peringatan dan memberikan pelajaran berharga buat generasi berikutnya baru dilakukan oleh sebagian orang. Saya barangkali termasuk dalam golongan yang tidak sangat rajin mencatat peristiwa penting seperti ini, padahal saya sudah diingatkan oleh dosen saya bahwa manajemen pengetahuan adalah kegiatan yang penting untuk melanggengkan ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kebencanaan. Secara sederhana, manajemen pengetahuan diibaratkan mencatat data dan peristiwa penting, dikumpulkan, dan dituturkan atau dibuka aksesnya untuk khalayak umum dengan bahasa yang lebih dimengerti karena tidak semua orang memiliki tingkat kecerdasan yang sama.

Saya kira ini penting dilakukan oleh semua orang yang peduli dan ingin memberikan suatu pelajaran berharga buat anak cucunya yang barangkali tercecer tidak bisa diberikan melalui lembaga pendidikan formal. Tidak harus berpendidikan tinggi, seseorang yang telah menjadi orangtua dan pemerhati persoalan sosial dan lingkungan bisa membuat catatan kecil meski sederhana, supaya kelak ketika generasi penerusnya berada pada situasi yang sama, bisa melakukan langkah antisipasi dan tanggap dengan lebih siap. Belajar dari apa yang dilakukan oleh orangtua di negara maju, mengajarkan pada anak mereka sejak dini, baik secara tutur lisan maupun tertulis.

Karena itu, saya mulai mencatat: bahwa hari ini, 5 November2010 dini hari, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY meletus lebih dahsyat dibanding letusan-letusan sejak 1870. 44 orang meninggal, termasuk Mbah Maridjan sang juru kunci, dan 80,000 penduduk mengungsi hingga radius lebih dari 20 km. Pemerintah daerah dan aparat sudah melakukan yang terbaik, memberikan peringatan, bekerjasama dengan LSM dan media. Kepada mereka, saya memberikan apresiasi yang begitu tinggi. Semoga menjadi barometer kesiapsiagaan bencana yang baik di negeri ini. Tuhan melindungi kita semua.

Yogyakarta, 5 November 2010

Letter to Juliette, Menemukan kembali sang Cinta Sejati

Dalam perjalanan dari Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok, sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh memilih menunya), saya memilih menonton film jenis drama, dan akhirnya saya menemukan “Letter to Juliette”. Merasa belum pernah menonton film ini sebelumnya, maka saya memutuskan untuk menonton dari awal.

Bagi Anda yang belum menonton Letter to Juliette, baiklah saya ceritakan singkat saja. Sophie seorang gadis Amerika muda yang bertunangan dengan perintis usaha kuliner mengunjungi Verona, kota romantis di Italia untuk menikmati liburan sekaligus menemani sang tunangan melakukan survey kuliner untuk usahanya. Verona adalah kota asal cerita Romeo dan Juliet, kisah cinta legendaris yang tragis yang sangat terkenal di seantero dunia. Dalam perjalanannya, Sophie tertarik pada apa yang dilakukan oleh segerombolan perempuan muda dan tua, di mana mereka menaruh surat-surat di sebuah dinding sambil mengusap air mata. Di pojok dinding tersebut terletak sebuah patung perempuan muda, dinamai Juliette. Beberapa pasang mengusap-usap dada patung Juliette. Sophie tertegun, dan lebih heran lagi ketika suatu sore ia lewat tempat itu lagi melihat seorang perempuan mengambil surat-surat tersebut dan memasukkannya dalam keranjang. Sophie membuntuti perempuan itu, dan tahulah dia bahwa perempuan tersebut bekerja dalam sebuah komunitas “sekretaris letters to Juliette”. Komunitas yang terdiri dari beberapa perempuan tua dan muda ini tugasnya membaca surat-surat tersebut dan membalas satu demi satu. Karena bosan ditinggal pergi oleh sang tunangan, Sophie memilih bergabung kerja volunteerism ini.

Suatu hari Sophie membaca surat yang dikirimkan pada tahun 1951. Surat itu menceritakan permintaan maaf dan penyesalan seorang perempuan bernama Claire kepada cinta sejatinya (Michael Bertolini) karena harus meninggalkan sang kekasih dalam keadaan tidak menentu. Claire menyesal tidak memberitahukan alasan mengapa ia meninggalkan sang kekasih dan ia berharap “Juliette” dapat memberikan petunjuk dimana sang mantan kekasih itu berada. Sophie terkesan pada surat itu dan membalasnya dengan memberikan kata hiburan bagi perempuan yang ia pikir pasti sudah berusia lanjut. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda mencari sekretaris surat kepada Juliette, mengenalkan dirinya sebagai cucu Claire. Sophie mengaku bahwa dialah yang menjawab surat Claire, dan Charlie (cucu Claire) mengucapkan terimakasih kepada Sophie. Bertemulah mereka bertiga, lalu Sophie mengeluarkan ide mengapa tidak Claire mencari sang mantan mumpung berada di negeri romantis ini. Maka dimulailah perjalanan mencari Michael Bertolini, cinta sejati Claire. Dalam beberapa hari perjalanan tersebut, banyak pertengkaran dan muncul bibit cinta antara Sophie dan Charlie, namun Sophie menyadari tunangannya menunggunya. Pun yang dialami oleh Claire, hampir putus asa ia mencari Michael Bertolini yang ternyata ada ratusan lelaki di negeri ini dengan nama yang sama. Bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa sang mantan cinta sejati sudah meninggal. Dalam keadaan putus asa Claire memutuskan pulang. tetapi justru Charlie yang seolah-olah mendapatkan firasat, dan tanpa mereka duga, di sebuah perkebunan mereka menemukan Michael, mantan kekasih Claire.

Saya tidak akan menceritakan endingnya, tetapi justru pesan dalam film ini yang menarik untuk direnungkan. “Carilah cinta sejatimu dan kisah cinta yang paling indah di hidup ini adalah kisah cinta milikmu sendiri”. Saya dan Anda masing-masing memiliki kisah cinta sejati, apapun endingnya. Selesai menonton film ini, sambil tersenyum menikmati sajian sarapan pagi saya di pesawat anggun itu, saya teringat akan kisah cinta sejati saya beberapa waktu lalu. Meski berakhir dengan tidak ‘happy ending’ karena kami berdua memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan alasan yang sangat prinsipil, tetapi dialah cinta sejati saya. Seseorang yang sanggup menegakkan kepala dan kepercayaan diri saya kembali akibat terpuruk dalam keputusasaan dan air mata. Seseorang yang dengan tulus mengatakan apapun alasannya saya adalah orang yang berharga dalam hidupnya.

Hingga kini surat-surat cinta kami masih saya simpan baik-baik dalam hati. Saya tidak tahu pasti apakah saya mempunyai kesempatan untuk mengirimkan surat cinta kami kepada sang Juliette di Verona sana. Tetapi setidaknya kami menyadari, bahwa bagian dari kisah cinta yang terbaik milik kami berdua adalah saat kami memutuskan untuk saling menghormati kehidupan kami masing-masing yang tak bisa bersama, sebagai sahabat, yang justru rasanya menjadi lebih dalam dan perasaan kami terhubungkan melampaui ruang dan waktu.

Juliette, tunggu saya mengirimkan surat cinta sejati saya……

 

4 September 2010,

terimakasih Emirat entertainment….

Menghirup Esensi Ramadhan di Kota Santri

Saya memang tidak pernah mengenalnya secara langsung, karena garis keturunan beliau dengan garis keturunan saya tak pernah bertemu. Kalaupun saya rajin menghubung-hubungkan keterkaitannya, mungkin saja hanya ada satu simpulan, bahwa beliau dan saya sama-sama keturunan Nabi Adam dan Hawa, sama-sama orang Indonesia, sama-sama lahir di Pulau Jawa. Saya tidak pernah bertatap muka langsung dengannya, bahkan menjabat tangan apalagi mencium tangannya seperti halnya tradisi kaum Muslim NU pun belum pernah. Saya hanya menatap mukanya dari layar kaca, kertas yang disebut media cetak, dan mendengarkan suaranya yang serak-serak basah yang sangat khas melalui layar kaca dan speaker radio saja. Hanya sekali saya menatap mukanya secara langsung, itupun dibatasi oleh serumpun manusia yang bertitel mahasiswa, ketika beliau menjadi pembicara di sebuah acara talkshow launching sebuah novel besutan Pramoedya Ananta Toer 7 tahun lalu. Itupun saya sampai merinding dan menangis terharu….mendengar joke-jokenya dan teriakan Allahu Akbar dari ribuan pendukungnya yang hadir kala itu.

Namun demikian, saya merasakan kedekatan yang erat secara emosional dengan beliau, Gus Dur, atau yang kita kenal Abdurrahman Wahid. Justru ketika ada batas dan ruang jarak yang begitu jauh kala itu, saya merasa dekat, sehingga saat beliau wafat, saya merasakan kesedihan yang dalam. (Baca note saya: Praying to Say Goodbye). Tadi sore, perasaan emosional yang merogoh sukma saya kembali muncul ketika kaki saya hanya berjarak kurang lebih 2 meter dari makam Gus Dur yang begitu sahaja di tengah-tengah kompleks Ponpes Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Sangat sederhana, tapi justru berkharisma, sampai-sampai saya tak sanggup mengucapkan doa-doa sebagaimana saya biasa melakukannya ketika mengunjungi makam keluarga saya. Gus Dur boleh jadi sudah tak berada di liang itu, hanya jasadnya saja. Tetapi aura kharisma beliau masih tampak segar terasa, apalagi saat mata saya melihat ribuan santri kecil, remaja, dan guru-guru ponpes ada yang berseliweran, ada yang duduk mendengarkan ceramah, ada yang duduk memanjatkan doa di pelataran samping kompleks makam pendiri dan keluarga ponpes ini, termasuk salah satu di antaranya makam Gus Dur. saya dan beberapa teman yang datang dari Sumatra dan Sulawesi begitu takjub, hingga kami tak bersuara hanya menikmati ‘suasana surga di bumi Jombang’ saat itu, sambil sesekali kami mengambil gambar.

Di sana sini dipasang berbagai petuah keluarga besar Wahid, dan yang paling banyak adalah ucapan Gus Dur. Berkeliling kompleks ponpes ini mata saya hanya membaca tulisan-tulisan petuah Gus Dur dan sambil meninggalkan kompleks saya mencoba menjejalkan petuah dan kata bijak tersebut dalam hati dan sukma saya. Menghormati ajaran dan moral agama, melakukannya dalam kesahajaan, dan mengakui keberadaan orang lain yang berbeda….sungguh luar biasa Gus Dur menaruh nilai pada murid dan para santrinya. Lalu tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang seharusnya belajar dari tempat ini, dan tak hanya teman-teman Muslim yang mendapatkan hikmah hari pertama Ramadhannya tahun ini, tetapi saya juga.

Gus Dur pergi meninggalkan nilai. Sekarang tergantung kita, apakah nilai yang beliau tanamkan masih kita rawat atau tidak. Pilihannya kalau tidak, jangan mengharap Negara Kesatuan RI yang ditulis besar-besar dalam sebuah plakat riwayat hidup Gus Dur di salah satu sudut kompleks ini tetap lestari. Gus Dur, terimakasih……

Tebuireng Jombang, 11 Agustus 2010