<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>my story of the day</title>
	<atom:link href="http://utaridewi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://utaridewi.wordpress.com</link>
	<description>share my story share my spirit</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Nov 2011 05:40:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='utaridewi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>my story of the day</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://utaridewi.wordpress.com/osd.xml" title="my story of the day" />
	<atom:link rel='hub' href='http://utaridewi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ada Harganya?</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/11/13/ada-harganya/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/11/13/ada-harganya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 05:40:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata bijak hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang ingin dihargai sebagai manusia adanya. Dihargai sebagai orang tua, sebagai anak, saudara, sebagai teman, sebagai pemimpin , sebagai anak buah dan sebagainya. Tidak ada orang yang ingin tidak dihargai. Ibu Teresa seorang biarawati legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat orang terpinggirkan bahkan mengungkapkan fakta ini dengan sangat baik: kemiskinan yang paling menyedihkan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=268&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/11/respect2.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-269" title="respect2" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/11/respect2.gif?w=300&#038;h=244" alt="" width="300" height="244" /></a>Setiap orang ingin dihargai sebagai manusia adanya. Dihargai sebagai orang tua, sebagai anak, saudara, sebagai teman, sebagai pemimpin , sebagai anak buah dan sebagainya. Tidak ada orang yang ingin tidak dihargai. Ibu Teresa seorang biarawati legendaris yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat orang terpinggirkan bahkan mengungkapkan fakta ini dengan sangat baik: kemiskinan yang paling menyedihkan di muka bumi ini bukan soal tidak punya uang atau tidak punya makanan, tetapi perasaan tidak dicintai dan tidak dihargai sama sekali oleh sesamanya.</p>
<p>Kita ingin dihargai, itu jelas. Seremeh apapun peran kita dalam kehidupan ini. Meskipun kita bukan dikategorikan sebagai orang penting, berpendidikan, dan berkelas sosial tinggi (sesuatu yang menurut saya konyol), semua orang membutuhkan perasaan dihargai. Bagaimanapun situasinya, apapun caranya. Pun perasaan ini sangat wajar dan manusiawi, oleh karena itu Sang Pencipta Hidup melalui nabi-nabiNya meyakinkan pada manusia bahwa Ia menghargai setiap individu yang telah Ia ciptakan. Bayangkan, kalau Ia sendiri pun bisa menghargai kehidupan SETIAP manusia, mengapa kita yang tidak ada apa-apanya justru arogan merasa paling berhak untuk tidak menghargai keberadaan orang lain? Apalagi orang lain yang ia anggap berbeda.</p>
<p>Pertanyaan ini mengganggu saya beberapa saat belakangan. Terlepas dari peristiwa yang membuat saya terluka, merasa tidak dihargai sebagai teman dan manusia yang sedang berupaya berkarya, saya seperti ditampar oleh teguran. Ini menjadi pertanyaan yang harus saya kembalikan ke diri sendiri, selama ini apakah saya sudah belajar menghargai orang lain? Apapun keadaan orang itu. Apakah saya sudah mengatakan MAAF, TERIMAKASIH, dan TOLONG  sebagai salah satu wujud penghargaan saya terhadap orang tersebut.</p>
<p>Soal menghargai keberadaan orang lain memang tidak semudah yang diucapkan. Urusannya bisa complicated, kalau sudah berkaitan dengan relasi antar manusia. Memutuskan apakah masih tetap akan berhubungan baik dengan orang tersebut, membutuhkan interaksi timbal balik yang sepadan. Bila kita sudah mencoba menghargai dengan upaya keras, tetapi kalau yang bersangkutan tetap keras hati menolak penghargaan yang sudah kita berikan, apa mau dikata? Anggap saja orang tersebut punya urusan masa lalu yang belum selesai untuk belajar penghargaan terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Singkat kata, saya cuma mau bilang: arogansi, keras hati, tinggi hati, ada dampaknya pada sikap penghargaan dan penerimaan terhadap diri sendiri dan keberadaan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati yang musti dipupuk setiap hari. Kalau Tuhan melalui caraNya mengajarkan bagaimana menghargai orang lain sebagaimana adanya, maka tidak adil bila kita buru-buru mengambil sikap terhadap orang lain: &#8220;<em>Lu udah gak gue anggep!</em>&#8221; Pasti Tuhan pun sedih&#8230;&#8230;..</p>
<p>Tempel, di akhir minggu bulan November</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=268&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/11/13/ada-harganya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/11/respect2.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">respect2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidden Passion</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/30/hidden-passion/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/30/hidden-passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 13:26:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu SMA kelas 3, saya berada di ujung kebingungan untuk memilih jurusan kuliah saya berikutnya, antara tetap ilmu fisik atau ilmu sosial. Sejujurnya saya senang program studi yang dikombinasikan dengan seni. Oleh karena itu, ketika sekolah saya memberikan kesempatan psikotes uji minat dan bakat, saya mencantumkan minat: Arsitektur dan Ilmu Komunikasi. Saya senang, psikolog yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=254&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;">Sewaktu SMA kelas 3, saya berada di ujung kebingungan untuk memilih jurusan kuliah saya berikutnya, antara tetap ilmu fisik atau ilmu sosial. Sejujurnya saya senang program studi yang dikombinasikan dengan seni. Oleh karena itu, ketika sekolah saya memberikan kesempatan psikotes uji minat dan bakat, saya mencantumkan minat: Arsitektur dan Ilmu Komunikasi. Saya senang, psikolog yang menguji hasil tes saya membenarkan analisis saya, pada akhir analisis ia menyarankan saya memilih jurusan Arsitektur dan Ilmu Komunikasi sebagai alternatif lain.</span></p>
<p>Sebenarnya saya diterima di Jurusan Teknik Arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di Jogja. Lumayan juga. Tetapi karena sesuatu hal, saya urungkan memasuki program studi tersebut, dan saya lebih memilih program studi Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia. Alasan biaya sebenarnya. Namun demikian, saya tetap menyenangi hal-hal yang berbau arsitek. Dalam setiap perjalanan tugas, saya menyempatkan memotret bangunan antik dan bersejarah di daerah tersebut, sambil belajar mengapa arsitekturnya membuat desain yang unik.</p>
<p>Inilah foto-foto hasil jepretan saya. Bagi para praktisi arsitek, selamat menikmati.</p>
<div id="attachment_255" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/between-2-trees.jpg"><img class="size-medium wp-image-255" title="Between 2 trees" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/between-2-trees.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Organic Farming Training Centre, Mendez Cavite Philippines. Terinspirasi dari bentuk kapal</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_256" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf2562.jpg"><img class="size-medium wp-image-256" title="St. Scholastica School " src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf2562.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">St.Scholastica School, sekolah khusus perempuan di salah satu region di Philippines</p></div>
<div id="attachment_257" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf0701.jpg"><img class="size-medium wp-image-257" title="Main Gate Fort Santiago, Manila" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf0701.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Gerbang utama Benteng Santiago, Manila. Tempat ini menyimpan seribu sejarah peradaban masyarakat Filipina dan perjuangan Dr. Jose Rizal, pahlawan pembebasan</p></div>
<div id="attachment_258" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-church-and-the-electricity.jpg"><img class="size-medium wp-image-258" title="Old church and the electricity" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-church-and-the-electricity.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu gereja tertua yang berusia lebih dari 300 tahun, menjadi bagian dalam Benteng Santiago, Manila</p></div>
<div id="attachment_259" class="wp-caption aligncenter" style="width: 247px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/corridor-in-fort-santiago-manila.jpg"><img class="size-medium wp-image-259" title="Corridor in Fort Santiago Manila" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/corridor-in-fort-santiago-manila.jpg?w=237&#038;h=300" alt="" width="237" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Koridor salah satu bangunan di dalam benteng Santiago, perpaduan gaya kolonial Spanyol dan Amerika, 2 negara penjajah terlama di Filipina</p></div>
<div id="attachment_260" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/saint-scholastica-manila.jpg"><img class="size-medium wp-image-260" title="Saint Scholastica manila" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/saint-scholastica-manila.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sekolah perempuan St. Scholastica, berumur 105 tahun lebih didirikan oleh kongregasi Katolik Benedictine. Nafas Spanyol Eropa sangat kental</p></div>
<div id="attachment_261" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/remaining-of-victory.jpg"><img class="size-medium wp-image-261" title="remaining of victory" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/remaining-of-victory.jpg?w=300&#038;h=279" alt="" width="300" height="279" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah Sakit di salah satu distrik Timor Leste, peninggalan kolonial Portugis yang dijadikan sebagai pusat kesehatan sekarang. Sayang, tidak terawat baik</p></div>
<div id="attachment_262" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cathedral-new-sanctuary.jpg"><img class="size-medium wp-image-262" title="Cathedral New Sanctuary" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cathedral-new-sanctuary.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Cathedral New Sanctuary Singapore. Pilar-pilarnya kokoh menjulang</p></div>
<div id="attachment_263" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cerobong-tua.jpg"><img class="size-medium wp-image-263" title="Cerobong Tua" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cerobong-tua.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Di tiap bangunan tua di wilayah kota tua Geneva Swiss, hampir semua ada cerobong asap di atasnya</p></div>
<div id="attachment_265" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/bangunan-tua-geneva1.jpg"><img class="size-medium wp-image-265" title="Bangunan tua geneva" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/bangunan-tua-geneva1.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu sudut kota tua Geneva, Swiss. Sayang, saya cuma lewat, tidak tahu nama bangunan itu</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_266" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-cathedral.jpg"><img class="size-medium wp-image-266" title="Old cathedral" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-cathedral.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kalau saya tidak salah, namanya Katedral St. Peter, di jantung kota tua Geneva. Tinggi bangunan ini diperkirakan 20-an meter, berusia lebih dari 200 tahun</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=254&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/30/hidden-passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/between-2-trees.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Between 2 trees</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf2562.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">St. Scholastica School </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dscf0701.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Main Gate Fort Santiago, Manila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-church-and-the-electricity.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Old church and the electricity</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/corridor-in-fort-santiago-manila.jpg?w=237" medium="image">
			<media:title type="html">Corridor in Fort Santiago Manila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/saint-scholastica-manila.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Saint Scholastica manila</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/remaining-of-victory.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">remaining of victory</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cathedral-new-sanctuary.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Cathedral New Sanctuary</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/cerobong-tua.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Cerobong Tua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/bangunan-tua-geneva1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bangunan tua geneva</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/old-cathedral.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Old cathedral</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMANDANG KOTA-KOTA CANTIK DARI ATAS</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/23/memandang-kota-kota-cantik-dari-atas/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/23/memandang-kota-kota-cantik-dari-atas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 03:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=231&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya penumpang pesawat setibanya di kabin dan mendapatkan seat-nya duduk manis menunggu take off, atau membaca majalah, koran, dan mengobrol dengan teman seperjalanan. Tidak sedikit juga yang langsung memejamkan matanya, mungkin mengantuk karena harus berangkat pagi-pagi benar dari kediamannya, dan melanjutkan tidur di pesawat. Jarang yang malah menyiapkan kamera bawaannya untuk memotret momen yang akan ia dapatkan sepanjang perjalanan dari pesawat.</p>
<p>Untuk membunuh kebosanan duduk berjam-jam dalam pesawat, apalagi yang armadanya tidak menyediakan hiburan audio dan visual, saya biasanya melakukan kebiasaan memotret kota-kota atau pemandangan dari atas. Entah mengapa saya suka melakukannya, meski dengan kamera yang seadanya, baik itu pocket, prosumer, maupun digital SLR. Barangkali memotret dari atas juga merupakan salah satu terapi penyembuhan penyakit phobia ketinggian saya sejak kanak-kanak, dan syukurlah sekarang agak berkurang. Tetapi kalau dari atas gedung tinggi, saya masih suka pusing melihat ke bawah.</p>
<p>Beberapa kota yang view-nya tertangkap kamera saya memiliki cerita tersendiri. Namun tidak semuanya saya ambil dari atas pesawat, beberapa dari bukit tinggi kala menikmati liburan dan atau perjalanan tugas keliling dari desa ke desa. Silakan menikmati.</p>
<div id="attachment_238" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/wamena_nov-08_edited.jpg"><img class="size-medium wp-image-238" title="Wamena_Nov 08_edited" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/wamena_nov-08_edited.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Wamena di Lembah Baliem Jayawijaya, ini juga wilayah yang sulit ditebak, terutama masyarakatnya</p></div>
<div id="attachment_237" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/sentani-abepura_nov-08.jpg"><img class="size-medium wp-image-237" title="Sentani Abepura_Nov 08" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/sentani-abepura_nov-08.jpg?w=300&#038;h=215" alt="" width="300" height="215" /></a><p class="wp-caption-text">Danau Sentani, Abepura.</p></div>
<div id="attachment_236" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/ilu_puncak-jaya_nov-08.jpg"><img class="size-medium wp-image-236" title="Ilu_Puncak Jaya_Nov 08" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/ilu_puncak-jaya_nov-08.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Kota terpencil di Lembah Puncak Jaya, bernama Ilu. Menyimpan banyak sekali misteri sosial dan politik</p></div>
<div id="attachment_235" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/frankfurt_april-101.jpg"><img class="size-medium wp-image-235" title="Frankfurt_April 10" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/frankfurt_april-101.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Frankfurt dari atas, diambil pada April 2010 hanya singgah selama 7 jam</p></div>
<div id="attachment_233" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dili_april-08.jpg"><img class="size-medium wp-image-233 " title="Dili_April 08" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dili_april-08.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pesisir pantai di kota Dili, Timor Leste</p></div>
<div id="attachment_239" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/tagaytay-in-contrast_philippines-edited.jpg"><img class="size-medium wp-image-239" title="Tagaytay in contrast_philippines EDITED" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/tagaytay-in-contrast_philippines-edited.jpg?w=300&#038;h=184" alt="" width="300" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Tagaytay City, Philippines. Gambar diambil dari Taman Wisata People Park.</p></div>
<div id="attachment_240" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/singapore-china-town_april-09.jpg"><img class="size-medium wp-image-240" title="Singapore China Town_April 09" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/singapore-china-town_april-09.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">China Town Singapore. Diambil dari jembatan penyebarangan</p></div>
<div id="attachment_241" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/kupang.jpg"><img class="size-medium wp-image-241" title="KUPANG" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/kupang.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Kupang, NTT, saat musim kemarau</p></div>
<div id="attachment_242" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/waingapu-sumba-island.jpg"><img class="size-medium wp-image-242" title="Waingapu Sumba Island" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/waingapu-sumba-island.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Waingapu, Sumba NTT</p></div>
<div id="attachment_243" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/the-most-comfortable-city-jogja.jpg"><img class="size-medium wp-image-243" title="The most comfortable city Jogja" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/the-most-comfortable-city-jogja.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Jogja, kota paling nyaman ditinggali. Diambil dari pelataran Candi Boko Prambanan</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=231&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/10/23/memandang-kota-kota-cantik-dari-atas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/wamena_nov-08_edited.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Wamena_Nov 08_edited</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/sentani-abepura_nov-08.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sentani Abepura_Nov 08</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/ilu_puncak-jaya_nov-08.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ilu_Puncak Jaya_Nov 08</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/frankfurt_april-101.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Frankfurt_April 10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/dili_april-08.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dili_April 08</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/tagaytay-in-contrast_philippines-edited.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tagaytay in contrast_philippines EDITED</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/singapore-china-town_april-09.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Singapore China Town_April 09</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/kupang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">KUPANG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/waingapu-sumba-island.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Waingapu Sumba Island</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/10/the-most-comfortable-city-jogja.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">The most comfortable city Jogja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangan Tuhan</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/tangan-tuhan/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/tangan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 11:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[“Ada cerita yang menarik dialami sebuah gereja di Inggris, pasca Perang Dunia Kedua. Gereja tersebut hancur termasuk sebuah patung Yesus disalibkan dengan tangan terlentang. Oleh para pengurus gereja, patung itu hendak direnovasi karena bagian tangannya terputus akibat kejatuhan puing-puing gereja. Tetapi pastor gereja tersebut memiliki pendapat lain, sebaiknya patung tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=225&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/06/i-have-no-hands.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-250" style="border:2px solid black;margin:3px;" title="I have no hands" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/06/i-have-no-hands.jpg?w=226&#038;h=300" alt="" width="226" height="300" /></a>“<strong>A</strong>da cerita yang menarik dialami sebuah gereja di Inggris, pasca Perang Dunia Kedua. Gereja tersebut hancur termasuk sebuah patung Yesus disalibkan dengan tangan terlentang. Oleh para pengurus gereja, patung itu hendak direnovasi karena bagian tangannya terputus akibat kejatuhan puing-puing gereja. Tetapi pastor gereja tersebut memiliki pendapat lain, sebaiknya patung tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa harus direnovasi bagian tangannya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak lagi perlu tanganNya sendiri untuk bekerja, kitalah yang menjadi tanganNya,” cerita pendeta pagi ini dalam kebaktian Minggu yang kuikuti. “Kitalah tangan Tuhan, dipilih menjadi tangan Tuhan untuk melayani sesama&#8230;.” dan aku pun tercekat, kalimat ini sungguh menonjok.</p>
<p>Pergumulanku beberapa minggu belakangan terjawab hanya sekejap, kita sebagai umatNya diminta menjadi tangan Tuhan. Apa maksudnya? Jangan-jangan hal ini juga menjadi jawaban dari pertanyaanku selama ini: Mengapa aku, Tuhan? Mengapa aku yang harus menanggung beban tugas yang tampak melebihi kekuatan dan kapasitasku? Mengapa aku harus menemui persoalan sulit di tengah-tengah tugas tersebut? Jawaban “Karena kita adalah tangan Tuhan” seolah-olah begitu lugas, tak terbantahkan, dan tidak bisa digugat lagi. Pagi ini aku tergugu, kelu, dan sampai detik ini masih bercokol di kepala: Baik, kalau memang aku adalah tanganMu, Tuhan, lalu aku harus berbuat apa?</p>
<p>I have no hands, but yours&#8230;.cerita di atas mengingatkanku foto salib Yesus yang kuambil ketika perayaan Paskah di Filipina, 2007. Barangkali salib yang tergantung di biara itu terinspirasi dari kisah gereja tadi, dan aku diingatkan lagi, 4 tahun kemudian. Kita adalah tangan Tuhan, masih menjadi misteri buatku saat ini, di tempat ini, Pegunungan Tengah Papua, yang menyimpan misteri juga. Entahlah, apakah kalimat ini sekedar penguatan dan penghiburan, atau juga menjadi tantangan buat aku dan teman-teman kerja di bumi yang menyimpan segudang persoalan kesehatan ini, aku tidak tahu dan sedang kuurai jawabannya.</p>
<p>Barangkali terlalu naif kalau kami kemudian berjanji terlalu muluk dengan mengatakan bahwa kami siap menjadi tangan yang sempurna melakukan pekerjaan mulia. Karena aku takut mengecewakan Tuhan, jadi aku hanya berkata: Tuhan, meski tidak sempurna, aku mau menjadi tangan yang baik saja. Yang bisa bekerja, tetapi kadang butuh istirahat juga, retreat agar kerja menjadi optimal. Kalau berlepotan debu dan kotoran, ingatkan aku untuk saling membersihkan antara tangan satu dengan yang lainnya.</p>
<p>Selamat menghayati Minggu Sengsara Yesus</p>
<p>Wamena, 6 Maret 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=225&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/tangan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2011/06/i-have-no-hands.jpg?w=226" medium="image">
			<media:title type="html">I have no hands</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Cinta</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/kekuatan-cinta/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/kekuatan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 11:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya memotong tangan istri saya sesaat setelah dia meninggal karena saya mencintainya dan ingin mengenangnya sepanjang hayat saya. Dia sekarat dan akan meninggal segera, dan jasadnya akan dikubur. Apa yang bisa saya lihat bila tidak dari secuil bagian tubuhnya? Dia adalah hidup saya, saya begitu mencintainya. Karena tangannya yang begitu indah dan tangan itu pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=222&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>&#8220;Saya memotong tangan istri saya sesaat setelah dia meninggal karena saya mencintainya dan ingin mengenangnya sepanjang hayat saya. Dia sekarat dan akan meninggal segera, dan jasadnya akan dikubur. Apa yang bisa saya lihat bila tidak dari secuil bagian tubuhnya? Dia adalah hidup saya, saya begitu mencintainya. Karena tangannya yang begitu indah dan tangan itu pula yang selalu membelai saya, maka saya potong untuk saya awetkan. Salahkah saya?????&#8221; ujar pria hampir setengah baya itu menangis sesenggukan di ruang pengadilan, sebagai terdakwa. Cerita ini mungkin ganjil dan tidak lazim, tetapi adegan itu adalah kiasan untuk menggambarkan kekuatan cinta. Cerita itu ada di salah satu episode serial Ally McBeal, kisah seorang pengacara muda yang selalu mendapatkan kasus tidak lazim. Tentu anda ingat serial Ally McBeal kan?</p>
<p>Endingnya bisa ditebak, Ally yang mendampingi pria itu mengetuk hati para juri untuk membebaskan sang terdakwa dari tuduhan mencelakai istrinya yang sekarat. Dan mereka menang, karena sang terdakwa berhasil meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan karena sesuatu kebutuhan yang paling hakiki dalam sejarah kehidupan manusia: KEKUATAN CINTA&#8230;power of love. Karena ia begitu mencintai istrinya yang ia sebut sebagai separuh jiwanya.</p>
<p>Waktu saya tonton adegan itu, saya menangis terharu sambil berpikir, dimana saya bisa mendapatkan power of love itu. Saya lalu melihat bapak ibu saya, mereka pun berhasil menunjukkan kepada saya tentang begitu besar dan dalamnya kekuatan cinta. Tentu dengan caranya, dan saya tidak menyarankan ibu saya memotong tangan bapak waktu ia meninggal dunia. Pernah suatu waktu, ketika bapak saya terbaring lemah dan setengah tidak sadar di rumah sakit, ibu saya tidak pernah sedetikpun meninggalkan kamarnya kecuali mandi dan duduk di teras ruang inap, selebihnya ia memilih duduk di samping bed bapak saya sambil berdoa dan membaca kitab suci. Lalu suatu hari ibu saya terpaksa pulang ke rumah untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh bapak saya sepulang dari RS. saya pun menggantikan menungguinya, ibu saya sengaja tidak pamit supaya bapak tidak gelisah. Suster datang dan mencek tensinya, hari itu hasilnya cukup tinggi, 150/100. &#8220;Ibu kemana, mbak? kok bapak tensinya tinggi?&#8221; Saya jawab kalau ibu pulang sebentar untuk menyiapkan kamar. Anehnya, ketika ibu saya kembali ke RS dan berbisik di telinga bapak saya kalau ia sudah kembali, tensi bapak kembali normal setelah di-cek oleh suster, 120/80. Itulah kekuatan cinta.</p>
<p>Ada banyak peristiwa dalam hidup saya dan Anda yang menunjukkan kekuatan cinta. Kekuatan cinta tidak hanya berisi pengorbanan, tetapi juga upaya untuk membuat hati orang yang ia cintai senang, nyaman, dan aman. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, begitu juga kekuatan cinta dari Sang Pemberi Cinta itu sendiri, adalah kekuatan yang paling tinggi dan paling abadi. Anda mungkin punya banyak cerita tentang kekuatan cinta Anda, yang terekspresikan melalui perilaku dan kata-kata. Selagi kita punya waktu untuk mengekpresikan kekuatan cinta kita, mengapa tidak kita lakukan? Saya membiasakan diri untuk mengucapkan aku sayang kamu (lav u) karena itulah cara saya menunjukkan kekuatan cinta, sambil tentu diimbangi dengan tindakan saya.</p>
<p>Betapa beruntungnya saya, meski masih single, pada tanggal 14 Februari kemarin saat pikiran dan hati saya gundah karena banyaknya persoalan dan pekerjaan saya, tiba-tiba hp saya menandakan sms masuk, dari nomer kakak saya berbunyi: &#8220;Bu Dewi, Nesia Bening dan Cinta love you so much&#8230;..&#8221; dari keponakan-keponakan saya. Saya menitikkan air mata, anak=anak seumur itu bisa mengekspresikan kekuatan cinta, mengapa kita yang berusia dewasa begini sering lupa? Bahkan dengan enaknya kita membenci satu sama lain demi ambisi kita. Lalu segera saya jawab:&#8221;Nesia, bening, cinta, bu dewi lav u too with my heart&#8221;. Saya tersadar, masih ada sisa kekuatan cinta dari keluarga saya, sahabat-sahabat saya, teman kerja saya, bahkan dari orang yang tidak saya kenal baik sekalipun. Kekuatan cinta mereka datang begitu saja dan cuma-cuma, pemberian Tuhan. Maka sayang kalau saya tidak menikmatinya dan menganggapnya angin lalu saja, karena kekuatan cinta memberikan kekuatan hidup saya.</p>
<p>Saya mencintai kalian&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Februari 2011</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=222&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/06/26/kekuatan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah dari Pelosok: 7 Anak Mencari Kasih Sayang</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/kisah-dari-pelosok-7-anak-mencari-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/kisah-dari-pelosok-7-anak-mencari-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 10:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang berada di sebuah desa di pelosok NTT waktu itu, dalam rangka penelitian saya tentang perempuan lokal dalam mengelola program air bersih. Kira-kira satu tahun yang lalu. Perempuan pemberani yang saya datangi di Desa Baus itu bernama Nona Benu, seorang kilok (putri raja) lokal yang baik hati dan cerdas, meski pendidikannya sebatas SD saja. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=219&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Saya sedang berada di  sebuah desa di pelosok NTT waktu itu, dalam rangka penelitian saya  tentang perempuan lokal dalam mengelola program air bersih. Kira-kira  satu tahun yang lalu. Perempuan pemberani yang saya datangi di Desa Baus  itu bernama Nona Benu, seorang kilok (putri raja) lokal yang baik hati  dan cerdas, meski pendidikannya sebatas SD saja. Ia adalah kader  kesehatan yang dilatih oleh lembaga saya untuk melayani warga  sekitarnya, karena jarak akses pelayanan kesehatan desa itu ke Puskesmas  lumayan jauh. Ia pula penggerak warga untuk swadaya membangun fasilitas  air bersih yang mereka butuhkan.</p>
<p>Nona Benu tidak  menyangka kedatangan saya, tanpa mengurangi rasa senangnya saat saya  berkata bahwa saya bermaksud menginap malam itu di rumah dia untuk  mengamati aktivitas dia dan perempuan lainnya di desa ini. &#8220;Aduh, ibu,  rumah saya jelek begini. Lantainya tanah, kamar seadanya,&#8221; ujarnya malu.  &#8220;Tak mengapa, nona. Saya justru yang minta maaf karena merepotkan  Nona,&#8221; jawab saya lebih malu hati. Ia beralih tatapan sendunya meski  masih dengan senyum ke Pak Mel, teman kerja saya yang menemani, &#8221; Saya  baru saja sedang mengalami kedukaan, Pak Mel. Kakak perempuan saya  meninggal dunia minggu lalu, setelah sakit beberapa hari saja. Padahal  suaminya sudah meninggal 3 tahun lalu. Ini anak mereka ada sama saya, 7  orang anak&#8230;.&#8221; kisahnya tanpa bermaksud meminta belas kasihan.  &#8220;Hah&#8230;.mengapa tidak beritahu???&#8221; Pak Mel dan saya berujar hampir  berbarengan, terkejut. Saat Nona Benu bercerita, satu persatu  keponakannya bermunculan duduk di lantai tanah mengelilinginya.</p>
<p>Nona  Benu masih hidup sendiri, tetapi kini ia memiliki tanggungjawab  mengurus 7 keponakan yatim piatunya. Yang paling besar masih berumur 18  tahun, sedangkan yang paling kecil masih 2 tahun. Nona Benu tidak  mengeluh sedikitpun mengurus 7 keponakannya itu, hanya satu hal dalam  pikirannya: bagaimana menyekolahkan mereka ke sekolah desa? Sementara ia  seorang petani lokal yang hasilnya tak seberapa. Memang ada beberapa  keluarga besar yang siap membantu, tetapi beban tanggungjawab mereka  sendiri sudah terlalu berat untuk membawa anak-anak mereka sekolah.</p>
<p>Sambil  menggendong dan mencoba menidurkan satu demi satu ponakannya, Nona Benu  mengurus tempat tidur saya. Berulangkali ia minta maaf karena tidak ada  sehelai pun kasur yang ia miliki, hanya tikar dari daun kelapa yang  dianyam ia miliki dan dipan kecil. Saya selalu bilang itu bukan masalah  buat saya, saya bisa tidur dimana pun. Malam itu saya membaringkan tubuh  saya ditemani pelita kecil yang bisa setiap saat mati saat minyak  tanahnya habis. Listrik belum masuk ke desa kecil itu. Antara jam 2-3  pagi, saya terbangun di kegelapan malam karena mendengar suara tangis  salah satu keponakan Nona Benu. Ia menangis dan memanggil almarhum  ibunya, &#8220;Mama&#8230;.mama&#8230;.mana mama&#8230;..???&#8221; Tangis penuh kerinduan,  menusuk-nusuk hati saya, hingga saya bisa merasakan kepedihannya  kehilangan sosok ibu yang ia cintai. &#8220;Mama&#8230;mama&#8230;&#8221; panggilnya  berulang-ulang, sang anak tak mengerti mengapa ia harus merasakan  kehilangan ibu di usianya yang terlalu dini.  &#8220;Ssstttt&#8230;.sayang&#8230;.sayangku, ini mama&#8230;.mama Benu. Mama di sini,  sayang&#8230;&#8221; sayup-sayup saya mendengar suara Nona Benu menenangkan sang  balita sambil menggendong dan dibawanya sang anak ke luar, ia takut  suara tangisan itu membangunkan saya dan Pak Mel.</p>
<p>Malam  itu, air mata saya ikut meleleh bersama tangisan ponakan Nona Benu.  Tiba-tiba saya merindukan ibu saya di Jogja, saat saya jauh darinya di  bumi Timor. I love you, bu&#8230;.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=219&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/kisah-dari-pelosok-7-anak-mencari-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikmah di Balik Bencana</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/hikmah-di-balik-bencana/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/hikmah-di-balik-bencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 10:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup saya, setidaknya ada beberapa bencana besar yang telah saya lihat, saya alami dan saya catat. Pertama, gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 akhir. Saat itu memang saya tidak berada di sana, tetapi setidaknya percakapan saya dengan segelintir survivor (penyintas) cukup memberikan gambaran yang mengerikan. Kedua, gempa besar di Yogyakarta, Mei 2006, menewaskan 6000 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=217&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Dalam hidup saya,  setidaknya ada beberapa bencana besar yang telah saya lihat, saya alami  dan saya catat. Pertama, gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 akhir. Saat  itu memang saya tidak berada di sana, tetapi setidaknya percakapan saya  dengan segelintir survivor (penyintas) cukup memberikan gambaran yang  mengerikan. Kedua, gempa besar di Yogyakarta, Mei 2006, menewaskan 6000  jiwa dan meluluhlantakkan sebagian besar Bantul. Saat itu, saya  benar-benar mengalaminya dan barangkali trauma itu masih ada. Saya dan  keluarga sangat bersyukur bahwasanya kami bisa bertahan hidup dan rumah  kami tetap kokoh. Ketiga, bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang  saat ini sedang terjadi. Komentar sahabat saya tentang gunung tersebut:  That&#8217;s beautiful but also dangerous.&#8221; Saya bilang, ya, seperti itulah  manusia juga, tak selamanya yang tampak indah itu tidak bahaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari  sekian rentet peristiwa bencana yang saya alami dan temui, saya menjadi  sadar ada banyak pelajaran di balik itu semua. Ini hanya versi saya,  barangkali Anda memiliki hikmah dan pelajaran lain, saya kira itu  sah-sah saja. Baiklah, satu demi satu saya urai berikut:</p>
<p>1. Antara  hidup dan mati batasnya sangat tipis, hanya sehembusan nafas. Kita  tidak pernah bisa menduga kapan bencana datang, tapi memang kita bisa  mengantisipasi dan berlatih untuk bertahan hidup. Saya pernah mengalami  kecelakaan motor dan mobil, bahkan terakhir ini sempat membuat saya  nyaris lepas nyawa karena roda mobil yang saya tumpangi tiba-tiba lepas  dan mobil itu nyaris terjun bebas ke jurang. Jantung berdebar keras,  baru berhenti berdebar saat akhirnya saya selamat kembali ke hotel dan  menangis hebat seraya meratap:&#8221;Tuhan, ternyata batas antara hidup secara  fisik dan mati tubuh tipis saja. Terimakasih Kau sadarkan saya untuk  menghargai dan mensyukuri setiap detik dalam hidup&#8221;. Kata-kata itu  berulang setiap saya mengalami bencana.</p>
<p>2. Seringkali penyesalan  datang terlambat. Di setiap bencana, saya mencermati banyak survivor dan  korban mengalami penyesalan. Menyesal tidak bisa menolong orang-orang  yang ia cintai pada saat-saat genting, menyesal tidak mengungkapkan  kata-kata perpisahan yang lebih baik. Banyak terjadi unfinished  bussiness, karena memang bencana datang seperti maling, tidak diundang  dan diharapkan dan tiba-tiba. Saya belajar, sebelum terlambat, selama  kita bisa mengucapkan dan mengungkapkan perasaan cinta kepada  orang-orang yang kita kasihi, entah itu pasangan, orang tua, anak,  sahabat, dan lain-lain, ungkapkan dengan tulus sebelum bencana datang  dan menghempaskan kita pada penyesalan. Saat gempa bumi hebat tahun 2006  di Jogja, pertama kali yang saya lakukan adalah datang ke tempat tidur  alm. bapak saya (waktu itu masih berada di antara kami) untuk melindungi  kepala beliau yang setahun sebelumnya dioperasi karena stroke. Saat itu  saya takut sekali kehilangan beliau yang ada dalam keringkihan badan  ditambah resiko bahaya gempa, karena saya belum sempat mengucapkan  betapa saya sayang padanya. Setelah selamat dan berhasil dievakuasi ke  luar rumah, ibu dan saya menciumi wajahnya, mengucap syukur bahwa kami  masih diberi waktu untuk bersama lagi. Kini, saat saya berada dalam  kondisi bencana letusan gunung, saya hendak mengatakan bahwa saya  mengasihi keluarga saya, dan untungnya saya masih punya waktu lebih  untuk mengatakan kepada sahabat-sahabat saya hal yang sama, sebelum  segala sesuatu yang tak terduga terjadi. (Jelas saya masih berharap bisa  bertahan hidup)</p>
<p>3. Masih ada orang bijaksana di antara orang yang  tidak bijak menghadapi bencana. Masih ada pahlawan sejati di antara  pahlawan-pahlawan kesiangan. Saya masih tidak habis pikir  sempat-sempatnya ada beberapa kelompok orang yang memperkeruh suasana  dalam situasi bencana, meributkan hal-hal yang tidak esensial, bahkan  menjejalkan isu keyakinan dan ras yang sensitif, yang terang-terangan  mengusik korban dan tidak solutif. Pilihan ada pada kita sebetulnya,  menjadi orang bijak dalam menghadapi bencana (termasuk dalam hal  menolong para survivor) atau menjadi orang tidak bijak. Saya kira  kedewasaan dibutuhkan dalam hal ini.</p>
<p>4. Belajar membaca tanda  alam. Alam begitu bijak menuruti kemauan kita, mengapa kita tidak bisa  menghargai alam. Saya tidak mau secara gegabah ikut-ikutan mencap bahwa  alam murka atau bencana ini buatan Tuhan. Semuanya ada misteri dan Tuhan  memberikan kebijaksanaan buat kita untuk menghargai dan bisa membaca  tanda yang diberikan oleh alam dan manusia lainnya. Singkirkan keegoisan  kita dan mulai memperhatikan serta menghargai eksistensi manusia dan  makhluk hidup lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>November, 2010</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=217&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/hikmah-di-balik-bencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencatat Bencana Alam</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/mencatat-bencana-alam/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/mencatat-bencana-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 10:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[prolog: Catatan kecil ini ditulis sesaat sesudah terjadi letusan Merapi, sebuah gunung api yang merupakan salah satu gunung berapi berbahaya di Indonesia (dan di bumi), 5 November 2010. Selama kurun waktu kurang lebih 10 hari, letusan kali ini tercatat paling besar, dengan jarak 10 km ke atas dan awan panas meluncur lebih dari 10 km [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=214&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>prolog: Catatan kecil ini ditulis sesaat sesudah terjadi letusan Merapi,  sebuah gunung api yang merupakan salah satu gunung berapi berbahaya di  Indonesia (dan di bumi), 5 November 2010. Selama kurun waktu kurang  lebih 10 hari, letusan kali ini tercatat paling besar, dengan jarak 10  km ke atas dan awan panas meluncur lebih dari 10 km ke arah bawah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Mencatat kejadian  penting yang dialami, baik itu peristiwa realita kehidupan seperti  kelahiran anggota keluarga, pernikahan, dan kematian, maupun peristiwa  alam (baca: bencana alam) ternyata menjadi aktivitas penting dilakukan  oleh kita sebagai manusia yang terlibat di dalamnya. Tentu tidak  bermaksud untuk menakuti, tetapi memberikan pelajaran berharga untuk  anak cucu atau generasi berikutnya. Pelajaran tersebut meliputi membaca  tanda-tanda bencana, mengantisipasi, dan meresponnya lebih serius dan  bijak.</p>
<p>Kakek saya memang tidak pernah secara langsung  bertutur mengenai peristiwa bencana yang ia alami selama hidupnya,  karena beliau meninggal jauh sebelum saya lahir. Tetapi dari  catatan-catatan yang ia tinggalkan, kami para cucu bisa mengetahui  peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Pasca gempa 2006 lalu di  Jogja, sepupu saya menunjukkan catatan kecil sang kakek dan saya dibuat  tertegun ketika mata saya membaca catatan beliau yang menggambarkan  begitu detail peristiwa gempa dengan kekuatan hampir serupa yang pernah  dia alami di Jogja, tahun 1943. Catatan beliau tentu dalam bahasa Jawa  yang sangat halus, sedikit bisa saya pahami. Kira-kira berbunyi:&#8221; Gempa  kekuatan cukup besar terjadi di tahun ini, 1943 masehi. Hampir semua  bangunan rumah rubuh, terutama di (kawasan) Kotagede. Anak-anakku  selamat, katanya ada beberapa orang meninggal&#8230;.&#8221; Kalau ditelusuri  lebih lanjut, pasti banyak ceceran peristiwa penting yang ia catat.  Sayang, karena termakan usia, catatan tulisan tangan beliau lebih banyak  tidak bisa terbaca, apalagi dalam bahasa kiasan yang seringkali tak  kami mengerti.</p>
<p>Kebiasaan kakek saya menular ke almarhum  bapak saya. Dalam buku hariannya yang ada beberapa tumpuk yang berhasil  kami rawat, bapak saya mencatat peristiwa bencana yang ia alami, baik  saat di dalam negeri maupun di luar negeri dalam perjalanan tugas  beliau. Satu catatan penting, mengenai gempa dan tsunami yang melanda  Flores pada tahun 1992, ia catat secara detail kronologi dan dampak dari  peristiwa tersebut. Begitu juga badai taifun di lautan Jepang maupun  Cina Selatan, yang sempat membuat kapalnya (ayah saya dulu seorang  pelaut dan bekerja di perusahaan pelayaran) terombang ambing. Dari  catatan-catatan tersebut, beliau mengambil hikmahnya dan ketika berada  pada situasi yang sama sudah paham apa yang sebaiknya dilakukan.</p>
<p>Catatan-catatan  mengenai peristiwa itu banyak membawa manfaat. Dalam bahasa Jawa yang  sederhana disebut memunculkan dan menumbuhkan ilmu titen, sebuah  perilaku yang waspada mensikapi kalau-kalau peristiwa tersebut terulang  kembali. Masalahnya, kebanyakan orang Indonesia atau kultur kebiasaan  orang Asia pada umumnya tidak membiasakan diri mencatat secara tertulis,  tetapi lebih suka secara lisan, dalam bentuk bertutur kepada generasi  berikutnya. Kebiasaan membagikan pengalaman dalam bentuk lisan bertutur  ini ada sedikit kelemahan, yaitu pada saat tertentu setelah beberapa  generasi menjadi hilang tak berbekas karena arus informasi yang terpapar  dan diterima oleh generasi berikutnya sedemikian lebih &#8220;ramai&#8221; dan  padat. Akibatnya, peringatan, pembelajaran, dan tips menanggapi  peristiwa bencana atau situasi yang darurat tidak begitu diperhatikan  dan bahkan dilupakan sementara bentuk-bentuk bencana mulai beragam.</p>
<p>Sementara  itu, kebiasaan mencatat peristiwa sebagai peringatan dan memberikan  pelajaran berharga buat generasi berikutnya baru dilakukan oleh sebagian  orang. Saya barangkali termasuk dalam golongan yang tidak sangat rajin  mencatat peristiwa penting seperti ini, padahal saya sudah diingatkan  oleh dosen saya bahwa manajemen pengetahuan adalah kegiatan yang penting  untuk melanggengkan ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang  kebencanaan. Secara sederhana, manajemen pengetahuan diibaratkan  mencatat data dan peristiwa penting, dikumpulkan, dan dituturkan atau  dibuka aksesnya untuk khalayak umum dengan bahasa yang lebih dimengerti  karena tidak semua orang memiliki tingkat kecerdasan yang sama.</p>
<p>Saya  kira ini penting dilakukan oleh semua orang yang peduli dan ingin  memberikan suatu pelajaran berharga buat anak cucunya yang barangkali  tercecer tidak bisa diberikan melalui lembaga pendidikan formal. Tidak  harus berpendidikan tinggi, seseorang yang telah menjadi orangtua dan  pemerhati persoalan sosial dan lingkungan bisa membuat catatan kecil  meski sederhana, supaya kelak ketika generasi penerusnya berada pada  situasi yang sama, bisa melakukan langkah antisipasi dan tanggap dengan  lebih siap. Belajar dari apa yang dilakukan oleh orangtua di negara  maju, mengajarkan pada anak mereka sejak dini, baik secara tutur lisan  maupun tertulis.</p>
<p>Karena itu, saya mulai mencatat: bahwa  hari ini, 5 November2010 dini hari, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan DIY  meletus lebih dahsyat dibanding letusan-letusan sejak 1870. 44 orang  meninggal, termasuk Mbah Maridjan sang juru kunci, dan 80,000 penduduk  mengungsi hingga radius lebih dari 20 km. Pemerintah daerah dan aparat  sudah melakukan yang terbaik, memberikan peringatan, bekerjasama dengan  LSM dan media. Kepada mereka, saya memberikan apresiasi yang begitu  tinggi. Semoga menjadi barometer kesiapsiagaan bencana yang baik di  negeri ini. Tuhan melindungi kita semua.</p>
<p>Yogyakarta, 5 November 2010</p>
<p><button></button></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=214&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2011/02/19/mencatat-bencana-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>When You See the Trees&#8230;</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/22/when-you-see-the-trees/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/22/when-you-see-the-trees/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 14:51:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Illegal logging kembali memakan korban yang tidak sedikit. Baru-baru ini saudara-saudara kita di Wasior Papua Barat yang kena dampaknya, banjir bandang yang disebabkan oleh illegal logging selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin berpuluh tahun, sehingga tidak lagi bisa menampung air hujan dan lari ke area pemukiman. Saya memang bukan masuk dalam daftar pejuang lingkungan yang menentang secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=211&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Illegal logging kembali  memakan korban yang tidak sedikit. Baru-baru ini saudara-saudara kita di  Wasior Papua Barat yang kena dampaknya, banjir bandang yang disebabkan  oleh illegal logging selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin berpuluh  tahun, sehingga tidak lagi bisa menampung air hujan dan lari ke area  pemukiman.</p>
<p>Saya memang bukan masuk dalam daftar pejuang  lingkungan yang menentang secara frontal terhadap kebijakan dan perilaku  perangkat negara dan sebagian besar pengusaha yang berhubungan dengan  kehutanan yang nyata-nyata justru merusak lingkungan hidup. Tetapi saya  sangat terganggu dengan perilaku pengrusakan hutan dan keengganan  perusahaan mengembalikan lagi kelestarian hutan pasca eksploitasi mereka  terhadap permadani hijau kita. Lebih-lebih praktek illegal logging yang  justru di-back up oleh perangkat keamanan (ingat kasus illegal logging  di Kalimantan Timur yang menyebabkan Kapolda Kaltim dipaksa mundur  karena anak buahnya terbukti mem-back up dan terlibat praktek tersebut).  Negeri ini penuh dengan ironik, dan illegal logging adalah salah satu  ironik terbesar yang tersaji di depan mata kita. Anda dan saya boleh  bersyukur karena kita belum merasakan dampak secara langsung saat ini.  Tetapi siapa yang menjamin kalau saya dan Anda bebas dari dampak illegal  logging 5-10 tahun mendatang? Siapa tahu apa yang dialami oleh  saudara-saudara kita di Wasior dapat mengancam (dan barangkali) sudah  mengancam kita, khususnya yang hidup di Pulau Jawa ini.</p>
<p>Di  Indonesia, memang tidak sedikit pahlawan penentang illegal logging yang  kita temui. Kalau Anda memiliki kesempatan jalan ke  pedalaman-pedalaman, Anda akan menemui komunitas adat yang bertahan dan  berjuang melawan pengusaha dan kesewenang-wenangan perangkat negara  mengelola alam ini, yang nyata-nyata hendak melakukan illegal logging.  Dan ironisnya lagi, justru komunitas ini yang ditindas habis, diteror,  dan bahkan dibunuh demi kepentingan bisnis pengusaha pemilik modal.  Dalam hidup saya, ada beberapa orang yang saya temukan merupakan  pahlawan (bagi saya) anti illegal logging.</p>
<p>1. Almarhum  Bapak saya tercinta, Bpk. Soemarsono. Beliau memang tidak pernah  menggelar demonstrasi anti illegal logging, atau melakukan advokasi  menentang kebijakan pemerintah yang pro illegal logging. Tetapi masih  teringat dalam memori saya, beliau bercerita bahwa berulangkali diminta  oleh sekelompok orang untuk menyelundupkan beberapa gelondong kayu hasil  illegal logging dari Kalimantan ke Jawa. Waktu itu ia bekerja di  perusahaan pelayaran dan sering sekali ke kalimantan untuk mengangkut  barang, di situlah ia dibujuk oleh pengusaha-pengusaha nakal untuk  menyelundupkan kayu hasil pembalakan liar. Tetapi sebanyak bujukan itu  mampir ke telinganya, sebanyak itu pula ia menolak mentah-mentah karena  Bapak paham resiko praktek tersebut dan sangat tidak setuju dengan  praktek illegal logging. Katanya,&#8221;<em> Selain itu melanggar etika hukum, bapak tidak tega menjadi bagian dari pengrusakan lingkungan</em>.&#8221; So, he is my first hero on environmental issue.</p>
<p>2.  Para tetua adat dan perempuan-perempuan srikandi di komunitas-komunitas  pedalaman yang melarang masuknya investor asing yang menurut mereka  tidak ramah lingkungan. Saya seringkali tidak sengaja bertemu  orang-orang ini dan mendengarkan falsafah luar biasa tentang bagaimana  mereka menghargai alam ini. Dalam salah satu falsafah mereka, <em>&#8220;Apabila  sekali saja kamu menebang kayu dan tidak ada usaha menanamnya kembali,  sama saja kamu membunuh generasi penerus dan menghilangkan sumber air  yang ibaratnya adalah ibumu sendiri&#8221;</em></p>
<p>3. Sahabat saya  seorang biarawati di Filipina yang berjuang habis-habisan menentang  praktek illegal logging yang juga merupakan isu krusial lingkungan hidup  di negara tempat ia berdiam. Ia membentuk sekelompok advokat dan  pemerhati lingkungan dari kalangan biara yang menentang pembalakan liar  dan praktek pertambangan yang telah merusak lingkungan dan menybabkan  bencana besar di negeri Aquino ini. Bahkan suatu kali ia pernah  ditangkap secara tidak resmi oleh militer dan berulangkali diteror oleh  pengusaha nakal. Suatu kali dalam percakapan kami di internet, ia  berujar:&#8221; <em>Bila suatu saat aku ditakdirkan untuk mati demi perjuangan  kami ini, setiap kali engkau melihat tumbuhan dan pohon, maka ingatlah  akan diriku dan teruskan perjuanganku, Wi</em>&#8230;.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya  dan Anda bisa menjadi pahlawan lingkungan dengan cara kita  masing-masing. Saya mempunyai langganan hotel yang selalu saya inapi  bila saya ada perjalanan tugas ke Jakarta. Hotel itu salah satu dari  kelompok hotel berbintang dan memiliki jaringan internasional. Salah  satu mengapa saya suka hotel tersebut karena falsafahnya yang concern  dalam pelestarian hutan. Di kamar mandi hotel tersebut, ada sebuah  tulisan berbunyi:&#8221; Bila Anda tidak mengambil handuk ini untuk  kepentingan anda sendiri, sama dengan halnya Anda menolong pelestarian  hutan karena 1 helai handuk ini sama dengan 4 pohon. Bila Anda ingin  lebih melestarikan pohon-pohon kita, Anda tidak perlu meminta hotel kami  mencucinya tiap hari, oleh karena itu Anda bisa menempatkan di  gantungan sebagai tanda Anda tidak menghendaki dicuci kembali dan masih  akan dipakai. Grup hotel kami mendukung praktek pelestarian hutan.&#8221; Oleh  karena itu, saya memulai kebiasaan baru apabila saya menginap di hotel,  dengan menuliskan pada sehelai kertas, &#8220;Tolong handuk saya jangan  dicuci lagi, karena masih layak untuk dipakai kembali&#8221;. Kalau di rumah  kita bisa menggunakan handuk yang sama untuk beberapa hari, mengapa di  hotel tidak?</p>
<p>Salah satu yang bisa kita lakukan juga untuk  menentang illegal logging dan mendukung pelestarian hutan dan pohon  adalah tidak boros dalam menggunakan kayu untuk rumah kita. Ada banyak  cara lain sesuai dengan kemampuan Anda dan saya. Sehingga, setiap kali  kita melihat pohon hijau yang tumbuh dan menyegarkan mata, ingatlah,  bahwa anak cucu kita kelak punya hak yang sama menikmati apa yang kita  nikmati sekarang. Go green now&#8230;.</p>
<p>(Tempel, Oktober 2010. dalam keprihatinan yang dalam terhadap bencana banjir bandang di Wasior)</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=211&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/22/when-you-see-the-trees/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Letter to Juliette, Menemukan kembali sang Cinta Sejati</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/18/letter-to-juliette-menemukan-kembali-sang-cinta-sejati/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/18/letter-to-juliette-menemukan-kembali-sang-cinta-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 10:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan dari Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok, sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=207&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Dalam perjalanan dari  Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada  banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung  menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok,  sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh  rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh memilih  menunya), saya memilih menonton film jenis drama, dan akhirnya saya  menemukan &#8220;Letter to Juliette&#8221;. Merasa belum pernah menonton film ini  sebelumnya, maka saya memutuskan untuk menonton dari awal.</p>
<p>Bagi  Anda yang belum menonton Letter to Juliette, baiklah saya ceritakan  singkat saja. Sophie seorang gadis Amerika muda yang bertunangan dengan  perintis usaha kuliner mengunjungi Verona, kota romantis di Italia untuk  menikmati liburan sekaligus menemani sang tunangan melakukan survey  kuliner untuk usahanya. Verona adalah kota asal cerita Romeo dan Juliet,  kisah cinta legendaris yang tragis yang sangat terkenal di seantero  dunia. Dalam perjalanannya, Sophie tertarik pada apa yang dilakukan oleh  segerombolan perempuan muda dan tua, di mana mereka menaruh surat-surat  di sebuah dinding sambil mengusap air mata. Di pojok dinding tersebut  terletak sebuah patung perempuan muda, dinamai Juliette. Beberapa pasang  mengusap-usap dada patung Juliette. Sophie tertegun, dan lebih heran  lagi ketika suatu sore ia lewat tempat itu lagi melihat seorang  perempuan mengambil surat-surat tersebut dan memasukkannya dalam  keranjang. Sophie membuntuti perempuan itu, dan tahulah dia bahwa  perempuan tersebut bekerja dalam sebuah komunitas &#8220;sekretaris letters to  Juliette&#8221;. Komunitas yang terdiri dari beberapa perempuan tua dan muda  ini tugasnya membaca surat-surat tersebut dan membalas satu demi satu.  Karena bosan ditinggal pergi oleh sang tunangan, Sophie memilih  bergabung kerja volunteerism ini.</p>
<p>Suatu hari Sophie  membaca surat yang dikirimkan pada tahun 1951. Surat itu menceritakan  permintaan maaf dan penyesalan seorang perempuan bernama Claire kepada  cinta sejatinya (Michael Bertolini) karena harus meninggalkan sang  kekasih dalam keadaan tidak menentu. Claire menyesal tidak  memberitahukan alasan mengapa ia meninggalkan sang kekasih dan ia  berharap &#8220;Juliette&#8221; dapat memberikan petunjuk dimana sang mantan kekasih  itu berada. Sophie terkesan pada surat itu dan membalasnya dengan  memberikan kata hiburan bagi perempuan yang ia pikir pasti sudah berusia  lanjut. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda mencari  sekretaris surat kepada Juliette, mengenalkan dirinya sebagai cucu  Claire. Sophie mengaku bahwa dialah yang menjawab surat Claire, dan  Charlie (cucu Claire) mengucapkan terimakasih kepada Sophie. Bertemulah  mereka bertiga, lalu Sophie mengeluarkan ide mengapa tidak Claire  mencari sang mantan mumpung berada di negeri romantis ini. Maka  dimulailah perjalanan mencari Michael Bertolini, cinta sejati Claire.  Dalam beberapa hari perjalanan tersebut, banyak pertengkaran dan muncul  bibit cinta antara Sophie dan Charlie, namun Sophie menyadari  tunangannya menunggunya. Pun yang dialami oleh Claire, hampir putus asa  ia mencari Michael Bertolini yang ternyata ada ratusan lelaki di negeri  ini dengan nama yang sama. Bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa  sang mantan cinta sejati sudah meninggal. Dalam keadaan putus asa Claire  memutuskan pulang. tetapi justru Charlie yang seolah-olah mendapatkan  firasat, dan tanpa mereka duga, di sebuah perkebunan mereka menemukan  Michael, mantan kekasih Claire.</p>
<p>Saya tidak akan  menceritakan endingnya, tetapi justru pesan dalam film ini yang menarik  untuk direnungkan. &#8220;Carilah cinta sejatimu dan kisah cinta yang paling  indah di hidup ini adalah kisah cinta milikmu sendiri&#8221;. Saya dan Anda  masing-masing memiliki kisah cinta sejati, apapun endingnya. Selesai  menonton film ini, sambil tersenyum menikmati sajian sarapan pagi saya  di pesawat anggun itu, saya teringat akan kisah cinta sejati saya  beberapa waktu lalu. Meski berakhir dengan tidak &#8216;happy ending&#8217; karena  kami berdua memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan alasan yang  sangat prinsipil, tetapi dialah cinta sejati saya. Seseorang yang  sanggup menegakkan kepala dan kepercayaan diri saya kembali akibat  terpuruk dalam keputusasaan dan air mata. Seseorang yang dengan tulus  mengatakan apapun alasannya saya adalah orang yang berharga dalam  hidupnya.</p>
<p>Hingga kini surat-surat cinta kami masih saya  simpan baik-baik dalam hati. Saya tidak tahu pasti apakah saya mempunyai  kesempatan untuk mengirimkan surat cinta kami kepada sang Juliette di  Verona sana. Tetapi setidaknya kami menyadari, bahwa bagian dari kisah  cinta yang terbaik milik kami berdua adalah saat kami memutuskan untuk  saling menghormati kehidupan kami masing-masing yang tak bisa bersama,  sebagai sahabat, yang justru rasanya menjadi lebih dalam dan perasaan  kami terhubungkan melampaui ruang dan waktu.</p>
<p>Juliette, tunggu saya mengirimkan surat cinta sejati saya&#8230;&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4 September 2010,</p>
<p>terimakasih Emirat entertainment&#8230;.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&amp;blog=3692673&amp;post=207&amp;subd=utaridewi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2010/11/18/letter-to-juliette-menemukan-kembali-sang-cinta-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
