<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>my story of the day</title>
	<atom:link href="http://utaridewi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://utaridewi.wordpress.com</link>
	<description>share my story share my spirit</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 09:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='utaridewi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a8edf36e1b6b193bc759a1b6a58b4242?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>my story of the day</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://utaridewi.wordpress.com/osd.xml" title="my story of the day" />
		<item>
		<title>Merawat Lingkungan demi Anak-anak Kita</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/11/17/merawat-lingkungan-demi-anak-anak-kita/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/11/17/merawat-lingkungan-demi-anak-anak-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 09:14:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah orang lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya sadurkan dari Email yang saya dapatkan hari ini. Semoga menjadi perenungan kita bersama, supaya anak-anak kita lebih berbahagia di masa mendatang.
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children&#8217;s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=179&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Tulisan ini saya sadurkan dari Email yang saya dapatkan hari ini. Semoga menjadi perenungan kita bersama, supaya anak-anak kita lebih berbahagia di masa mendatang.</em></p>
<p>Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children&#8217;s Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak&#8221; yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak&#8221; lain mengenai masalah&#8221; lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.</p>
<p>Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang&#8221; terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.</p>
<p>Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)</p>
<p>Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O &#8211; Enviromental Children Organization. Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak&#8221; berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.</p>
<p>Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak&#8221; yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang&#8221; yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya.</p>
<p>kami tidak boleh tidak di dengar.</p>
<p>Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan&#8221;nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang&#8221; dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya &#8211; hilang selamanya. Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang&#8221; liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu&#8221;. tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal&#8221; tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.</p>
<p>Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah&#8221; kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?</p>
<p>Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!</p>
<p>Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.</p>
<p>Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.</p>
<p>Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.</p>
<p>Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir..</p>
<p>Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.</p>
<p>TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!</p>
<p>Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi &#8211; tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki&#8221; dan saudara perempuan, paman dan bibi &#8211; dan anda semua adalah anak dari seseorang.</p>
<p>Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama &#8211; perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.</p>
<p>Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.</p>
<p>Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.</p>
<p>Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara&#8221; di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.</p>
<p>Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan &#8211; kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak&#8221; yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: &#8221; Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak&#8221; jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang &#8221; .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak&#8221; tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak&#8221; yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.</p>
<p>Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.</p>
<p>Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini &#8211; kami adalah anak&#8221; anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak&#8221; mereka dengan mengatakan &#8221; Semuanya akan baik-baik saja &#8220;. &#8216;kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan&#8217; dan &#8216; ini bukanlah akhir dari segalanya&#8217;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?</p>
<p>Ayah saya selalu berkata &#8216; kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata&#8221; mu &#8216;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata&#8221; tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang&#8221; penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..</p>
<p>&#8221; Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya &#8230;</p>
<p>tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun &#8220;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita ini benar&#8221; terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar&#8221; pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih&#8221; kan .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Tolong sebarkan kisah  ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang sedang dalam keadaan sekarat dan kita-lah manusia yang membuatnya seperti ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=179&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/11/17/merawat-lingkungan-demi-anak-anak-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Srikandi Timor: Berjuang demi Tetes Air Kehidupan</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/30/srikandi-timor-berjuang-demi-tetes-air-kehidupan/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/30/srikandi-timor-berjuang-demi-tetes-air-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 13:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Mama Yohana, Nona Nelci, Mama Margaretha, dan ratusan mama lainnya di Pulau Timor ini barangkali tidak pernah belajar khusus tentang ilmu gender di gedung universitas manapun. Pula mereka tidak pernah bermimpi menjadi sarjana bahkan anggota dewan yang konon selalu berkoar-koar mau memperjuangkan kepentingan rakyat tetapi nyatanya melempem di tengah jalan. Tetapi bagi masyarakat di sekitarnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=176&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_177" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><img class="size-medium wp-image-177" title="Interview Bu Yohana_Baus Aug2009" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/interview-bu-yohana_baus-aug2009.jpg?w=230&#038;h=173" alt="Interview Bu Yohana_Baus Aug2009" width="230" height="173" /><p class="wp-caption-text">Interview dengan Ibu Yohana, Baus Agustus 2009</p></div>
<p style="text-align:justify;">Mama Yohana, Nona Nelci, Mama Margaretha, dan ratusan mama lainnya di Pulau Timor ini barangkali tidak pernah belajar khusus tentang ilmu gender di gedung universitas manapun. Pula mereka tidak pernah bermimpi menjadi sarjana bahkan anggota dewan yang konon selalu berkoar-koar mau memperjuangkan kepentingan rakyat tetapi nyatanya melempem di tengah jalan. Tetapi bagi masyarakat di sekitarnya, justru merekalah pejuang yang sesungguhnya. Dari tangan dan pikiran merekalah, lahir beberapa komunitas masyarakat madani yang sadar akan haknya, yaitu hak atas hidup dan berdaya.  Bagiku, mereka adalah srikandi yang hidup, meski nama mereka tidak pernah didengungkan di media massa seperti halnya artis atau figur perempuan yang berlenggak lenggok di media dengan segala kepalsuan mereka, tetapi sialnya malah dianggap sebagai pejuang perempuan masa kini. Meski demikian, tiga perempuan Timor ini tidak peduli apakah media melirik mereka atau tidak, apakah public menobatkan mereka menjadi pejuang atau tidak.Yang penting, mereka berkarya dan membawa makna. Para srikandi ini bertemu dengan kami saat bersama-sama memikirkan bagaimana agar air bersih dan sanitasi yang sehat dapat dinikmati oleh masyarakat desa di mana mereka bertahan hidup dari generasi ke generasi. Awalnya mereka hanya pasrah dengan keadaan, bahwa mereka harus berjalan kaki 1-3 km hanya untuk mencari air bersih. Belum lagi beban yang harus mereka pikul sembari membawa air bersih, dan beban pekerjaan rumah tangga lainnya, juga beban mengelola ladang sebagai mata pencaharian mereka. Konon, mereka berpikir hampir mustahil mengharapkan uluran tangan yang konkret datang dari pemerintah maupun lembaga sosial lainnya. Rata-rata datang hanya sampai mengukur dan melakukan survey, setelah itu pergi tanpa kembali. Itulah yang membuat masyarakat desa Baus, desa yang didiami oleh Mama Yohana dan Nona Nelci, trauma dengan kedatangan orang asing, termasuk kami. Meski kami sempat ditolak, namun akhirnya masyarakat menerima kehadiran kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua perempuan ini pula yang bersemangat melakukan kerja bakti dan memotivasi para perempuan dan laki-laki di desa ini untuk memulai pekerjaan mengolah sumber mata air sehingga air menjadi dekat dengan lingkungan dusun mereka. Ketika masyarakat belum sadar dan masih loyo untuk menggarap perlindungan mata air yang letaknya 1,5 km dari pemukiman mereka dan berada di tebing bukit, dua perempuan ini sejak subuh getol membangunkan mereka. Dengan alat seadanya mereka menggerakkan massa untuk kerjabakti dan kata-katanya selalu menyemangati baik laki-laki maupun perempuan. “Ayo bangun kalian semua!!! Kalau mau dapat air sekarang juga, jangan malas-malasan. Bapa mama harus sama-sama bekerja agar anak-anak kita bisa mandi dan pi sekolah!” teriakan mereka di pagi buta. Dalam waktu 4 bulan, dengan semangat 2 perempuan ini masyarakat dusun IV Baus berhasil mengalirkan air bersih dari mata air sampai di depan rumah mereka menggunakan pipa dan baik air. Dari air mata yang habis mongering sebelumnya, menjadi mata air yang bisa mereka nikmati kesegarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjuangan mereka tidak selesai sampai di situ. Setelah berhasil mengalirkan air dari bak induk mata air, tiba-tiba datang sebuah program yang didanai oleh pemerintah dan lembaga dunia dengan penuh arogan menyerobot bak air dan memasang pipa untuk tempat lain tanpa permisi. Dua perempuan ini tidak tinggal diam untuk memperjuangkan haknya. “Laki-laki di desa kami tidak berani mendatangi orang-orang proyek itu. Jadi kami larang mereka untuk menghadapinya dan kami bilang,’Ini urusan perempuan! Kamu diam saja di belakang kami! Kami akan lawan mereka’, begitu kata kami kala itu,” kisah Mama Yohana dan Nona Nelci. Mereka dengan berani mendatangi orang-orang proyek dan pemerintah desa, bahkan mereka sendiri yang menelpon polisi tanpa takut akan ditangkap. “Kami merasa tidak salah kok, jadi kalau mereka tangkap kami karena melawan proyek itu, biar saja. Orang tahu siapa yang benar. Air sudah jalan kok dirusak sama mereka!” Akhirnya orang-orang proyek itu pulang dengan tangan hampa. Apa daya, mereka menghadapi srikandi perkasa yang menyadari betul kebenaran dan hak rakyat desanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan halnya Mama Margaretha, yang tinggal di Desa Motaulun, ratusan kilometer dari baus, memulai karyanya memotivasi masyarakat desa sejak ia masih muda. Mama Margaretha, seorang janda beranak satu yang juga memiliki profesi mulia sebagai petani dan pengusaha penggilingan padi ini, hanya memiliki satu cita-cita bagaimana ia bisa mendarmabaktikan hidupnya bagi masyarakat Motaulun yang berlangganan banjir sejak tahun 2000. Meski seringkali mendapatkan remehan dari kaum laki-laki di sekelilingnya, ia tak gentar mengusahakan organisasi rakyat yang ia pimpin untuk maju dan melayani kebutuhan air bersih dan sanitasi bekerjasama dengan lembaga manapun. “Saya selalu bilang, seperti halnya laki-laki, kami perempuan bisa sama-sama berjuang”, ujarnya penuh percaya diri. Dari tangan dinginnya dan kemampuannya mengorganisir kaum perempuan di desa inilah, masyarakat Motaulun berhasil mengusahakan air bersih dari sumur-sumur yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga 400-an rumah tangga. Mama Margaretha juga berhasil membuktikan bahwa program air bersih ini dapat dipertanggungjawabkan dan bersih dari korupsi, berbeda dengan program air bersih lainnya yang tidak partisipatif dan cenderung beresiko penyelewengan. Organisasi rakyat yang ia pimpin –dimana sebagian besar beranggotakan perempuan- membuktikan bahwa kerjasama yang baik dan itikad baik dapat menjalankan program murah karena partisipasi datang dari masyarakat. Hingga sekarang, sumber-sumber air dalam bentuk sumur masih cantik berdiri dan dimanfaatkan oleh ratusan keluarga di Motaulun. Hebatnya, meski banjir menerjang desa mereka sewaktu-waktu, sumur-sumur tersebut tidak tergoyahkan sebagaimana semangat Margaretha tidak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai persoalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah kisah para srikandi dari Timor. Hingga detik ini semangat mereka masih mewarnai kehidupan di 2 desa yang terpencil dan tak terjamah dengan modernitas. Kesederhanaan mereka menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Pun nama mereka menyegarkan bagai air kehidupan yang kini bisa dinikmati masyarakatnya. Dan akupun takjub akan pesona mereka, para srikandi masa kini.<br />
(TTS, Agustus 2009)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=176&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/30/srikandi-timor-berjuang-demi-tetes-air-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/interview-bu-yohana_baus-aug2009.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Interview Bu Yohana_Baus Aug2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Miskin di tengah Makmur</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/miskin-di-tengah-makmur/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/miskin-di-tengah-makmur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 06:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Harian Pos Kupang tanggal 6 Agustus 2009 menurunkan artikel yang cukup menggelitik berjudul “10 Penyebab Kemiskinan di NTT”. Artikel ini menyadur pernyataan Asisten Deputi VII Menko Kesra Urusan Pengarusutamaan Kebijakan dan Anggaran, Wahnarno Hadi mengenai penyebab kemiskinan di NTT yang memang selama ini dikategorikan sebagai provinsi miskin di Indonesia. Kesepuluh penyebab itu disinyalir adalah terbatasnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=172&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Harian Pos Kupang tanggal 6 Agustus 2009 menurunkan artikel yang cukup menggelitik berjudul <em>“10 Penyebab Kemiskinan di NTT”</em>. Artikel ini menyadur pernyataan Asisten Deputi VII Menko Kesra Urusan Pengarusutamaan Kebijakan dan Anggaran, Wahnarno Hadi mengenai penyebab kemiskinan di NTT yang memang selama ini dikategorikan sebagai provinsi miskin di Indonesia. Kesepuluh penyebab itu disinyalir adalah terbatasnya kecukupan pangan dan mutu pangan, akses dan mutu layanan kesehatan, rendahnyanya mutu layanan pendidikan. Selain itu, terbatasnya kerja produktif dan berusaha, akses pelayanan perumahan yang terbatas, sarana prasarana air besih dan sanitasi yang terbatas, lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah, memburuknya kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan lemahnya perlindungan atau jaminan hak atas rasa aman serga lemahnya akses partisipasi masyarakat miskin. Intinya, semua alasan penyebab tersebut bermuara pada persoalan belum terpenuhinya hak dasar masyarakat secara optimal, adil, dan merata.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadi dalam liputan ini mengungkapkan data bahwa jumlah penduduk miskin pada tahun 2009 ini sebanyak 1.013.100 (23,32 persen), dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di daerah pedesaan, yakni 903.700 atau 25,35%. Dengan data demikian, menjadi alasan bagi pemerintah daerah merangkul sejumlah kemitraan untuk menggelar berbagai program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP), raskin, program keluarga harapan, BLT, dan lain-lain. Sejumlah program menggarap berbagai aspek, seperti ekonomi, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan peningkatan kapasitas masyarakat desa sebagai sasaran program.</p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah program-program pemberdayaan dalam berbagai bentuk dari bantuan Cuma-Cuma hingga pinjaman lunak tersebut mampu menjawab kesepuluh problem kemiskinan NTT? Bila kita merunut jejak ke belakang, sudah tidak kurang akal pemerintah, lembaga swadaya baik lokal, nasional, maupun internasional mengusahakan program yang bercita-cita mengentaskan masyarakat NTT dari lubang kemiskinan. Dari sekian banyak program tersebut, belum ada program yang bisa menyatakan keberhasilan seratus persen dengan berbagai alasan, baik persoalan kultur maupun infrastruktur. Buktinya, keluhan belum ada peningkatan kualitas hidup masih terdengar di sana sini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ironisnya, di tengah-tengah ‘teriakan kemiskinan’ masyarakat NTT yang begitu santer oleh balita-balita kurang gizi dan kelaparan yang tergeletak tak berdaya, perempuan-perempuan yang banting tulang dan disiksa di negeri seberang, pemuda-pemudi pengangguran, dan petani-petani miskin yang siap merugi tiap tahunnya, masih saja banyak pejabat yang tega melakukan korupsi. Selama hampir 3 minggu penulis tinggal di salah satu kota kecil NTT ini dan melahap sajian berita Harian Pos Kupang tiap harinya, selalu saja terbaca artikel yang mengabarkan temuan korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh petinggi daerah. Sebut saja temuan BPK terhadap kasus-kasus kerugian negara lebih dari Rp 10 M di lingkungan pemda Alor (Pos Kupang, 11 Agustus 2009). Belum lagi ratusan kasus penyelewengan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dengan menggunakan uang negara yang dilakukan oleh aparat negara di wilayah lain. Yang terlintas di pikiran penulis adalah….begitu teganya.  Gurauan dengan seorang teman setelah membaca liputan korupsi yang hampir terpampang tiap hari dengan pelaku berbeda adalah,” Kok bisa tidur nyenyak ya, nyolong uang rakyat segitu banyaknya?”</p>
<p style="text-align:justify;">Perilaku korupsi seperti ini bisa jadi memupuskan harapan akan membaiknya kehidupan masyarakat NTT, meski NTT bukanlah provinsi yang seorang diri menghadapi problem moral ini. Ada puluhan provinsi lainnya di Indonesia yang tidak bisa bersih seratus persen memberantas korupsi. Barangkali memang sudah mentalnya seperti ini, sehingga penulis juga tidak bisa yakin seratus persen bahwa upaya pemerintah provinsi NTT untuk mengundang puluhan investor asing untuk menggarap potensi tambang di hampir sebagian besar kepulauan NTT akan meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat bumi NTT, selama akar masalahnya tidak tercerabut. Bahkan kekhawatiran banyak pengamat sosial bisa jadi terjadi, justru kedatangan investor asing semakin menjerambabkan masyarakat NTT ke lubang kemiskinan karena hanya menjadi penonton setia operasi eksploitasi alam yang tidak bisa menjamin keberlangsungan lingkungan dan memunculkan persoalan baru. Belajar dari saudara kita di Papua, pertanyaannya kemudian, apakah pemerintah NTT terlalu buta untuk belajar dari pengalaman Papua?</p>
<p style="text-align:justify;">Memang beroperasinya perusahaan asing untuk menambang mangan dan minyak di NTT akan meningkatkan kesejahteraan. Tetapi, kesejahteraan siapa? Rakyat yang mana? Karena setelah 64 tahun Indonesia merdeka, sepertinya rakyat NTT masih terlalu lemah memekikkan kata Merdeka. Perut mereka terlalu lapar, energy mereka sudah sangat minim setelah menggugat keadilan sosial yang diperkosa oleh kepentingan segelintir orang.  Doa dan harapan mereka, mudah-mudahan daftar “10 Penyebab Kemiskinan NTT” yang sudah dipaparkan di awal tulisan ini tidak makin panjang menjadi sebelas, duabelas, bahkan puluhan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">(Soe, Agustus 2009)</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-173" title="Anak umatoos" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/anak-umatoos.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Anak umatoos" width="300" height="225" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=172&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/miskin-di-tengah-makmur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/anak-umatoos.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Anak umatoos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah dari Timor_1</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/kisah-dari-timor_1/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/kisah-dari-timor_1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 04:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Dalam waktu satu minggu belakangan saya mendapatkan pelajaran hidup berharga saat mencoba mencicipi live in di sebuah desa kecil bernama Motaulun. Desa ini jauh dari modernisasi, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai desa tertinggal justru karena kesederhanaannya. Hidup warganya bergairah meski jauh dari hingar bingar segala bentuk hiburan karena listrik pun banyak diakses oleh semua keluarga.
Gairah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=168&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam waktu satu minggu belakangan saya mendapatkan pelajaran hidup berharga saat mencoba mencicipi live in di sebuah desa kecil bernama Motaulun. Desa ini jauh dari modernisasi, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai desa tertinggal justru karena kesederhanaannya. Hidup warganya bergairah meski jauh dari hingar bingar segala bentuk hiburan karena listrik pun banyak diakses oleh semua keluarga.</p>
<p>Gairah hidup warganya bangkit dari kesederhanaan pola pikir mereka, cukup mendapat rejeki hari ini dan menjaga hubungan baik dengan sesame warga. Pagi hari adalah dimulainya kegairahan mereka, saling menyapa antar rumah dengan teriakan. Lebih tepat disebut teriakan karena memang dengan suara lantang dank eras meski bukan dalam rangka marah. “Beginilah kami orang Timor, bicara pun disangka marah karena teriak-teriak,” kata seorang ibu. Saya maklum karena memang letak rumah mereka tidak berdekatan dan dibatasi oleh halaman luas, beda jauh dengan pemukiman di kota besar yang berdesakan. Setiap saya jalan atau naik motor keliling kampong, selalu diteriaki, “Ooiii…!!!”, yang artinya sama dengan “Halo”. Pagi hari hingga siang adalah saat mama-mama (sebutan untuk para ibu) beraktifitas mengambil air di sumur, sementara para lelaki membawa alat pergi ke kebun.  Sementara suara anak-anak kecil dari yang menangis merengek minta uang jajan hingga tertawa terdengar di sana sini, dan mereka berjalan beriringan pergi ke sekolah. Hampir semuanya berjalan kaki, meski jarak sekolah hingga 1 km jauhnya.</p>
<p>Siang hingga sore yang mereka lakukan kebanyakan duduk-duduk di halaman. Mereka belum bisa menghidupkan peralatan elektronik karena listrik baru dinyalakan pukul 6 sore hingga 6 pagi. Hanya ada 1 rumah yang membunyikan tape keras-keras non stop dengan aki, dan itu membuat saya selalu berpikir jangan-jangan pemuda yang membunyikan tape ini bermimpi jadi pengusaha stasiun radio.</p>
<p>Malam adalah waktu yang dinantikan oleh sebagian besar anak kecil dan para ibu, saat menonton sinetron. Di satu kampong, yang memiliki televisi bisa dihitung dengan jari….tidak lebih dari 5 keluarga. Oleh karena itu, 1 televisi bisa ditonton bahkan lebih dari 20 orang, biasanya anak kecil dan para ibu. Lucunya, mereka datang dengan membawa hp titipan orang dewasa atau orangtuanya masing-masing untuk nunut di-charge. Sambil menunggu charging hp selesai, mereka menonton televise sampai sengantuknya. Jadi, dari jaman Soeharto hingga sekarang perilaku nonton bersama di desa itu masih berlangsung. Tampak berbeda sama sekali dengan perilaku bertelevisi di kota-kota Jawa, di mana masing-masing kamar memiliki tivi sendiri-sendiri dan ditonton sendiri.</p>
<p>Jangan ditanya antusiasme mereka menyambut tamu, apalagi bila tamu itu dari luar Timor seperti saya ini yang datang dari Jawa. Tiap saya datang ke masing-masing rumah calon responden untuk penelitian ini, saya sampai hapal urutan sajian yang akan dihidangkan. Pertama adalah sirih pinang yang harus saya makan. Ngobrol sebentar, lalu keluarlah biscuit dan kopi susu. Kalau sedang beruntung dan saat saya datang malam hari, maka saya akan ditahan untuk makan malam bersama. Menunya sama, ayam kampong dibuat sop yang terdiri dari daging ayam bersama tulangnya dan kuah kaldu. Untuk sayurnya, daun sawi dibuat ca, dan sambal Timor yang pedasnya minta ampun.</p>
<p>Saya sering dibuat terharu oleh kesederhanaan mereka. Tidak ada niat penolakan sama sekali, bahkan wajah bangga terpancar saat saya bertanya soal kehidupan mereka. Kalaupun mengeluh soal sulitnya kehidupan mereka, keluhan itu disertai senyuman harapan. … <em>bersambung</em>.</p>
<p>(Motaulun, Agustus awal 2009)<img class="aligncenter size-medium wp-image-169" title="Motaulun_August 2009" src="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/motaulun_august-2009.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Motaulun_August 2009" width="300" height="225" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=168&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/08/14/kisah-dari-timor_1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://utaridewi.files.wordpress.com/2009/08/motaulun_august-2009.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Motaulun_August 2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/13/pengakuan/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/13/pengakuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 08:10:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/13/pengakuan/</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya ribuan kali saya mencoba untuk menghibur diri dan memaksa hati untuk mengelak dari perasaan saya. Namun kali ini saya mengakui, bahwa saya kesepian. Kesepian karena rindu. Rindu karena lama tak berjumpa. Berjumpa dengan perasaan nyaman ketika ia membelai saya, menyediakan bahunya untuk saya rebahi saat menyembuhkan luka-luka dan kepahitan saya sekian ratus hari sebelumnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=167&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Setidaknya ribuan kali saya mencoba untuk menghibur diri dan memaksa hati untuk mengelak dari perasaan saya. Namun kali ini saya mengakui, bahwa saya kesepian. Kesepian karena rindu. Rindu karena lama tak berjumpa. Berjumpa dengan perasaan nyaman ketika ia membelai saya, menyediakan bahunya untuk saya rebahi saat menyembuhkan luka-luka dan kepahitan saya sekian ratus hari sebelumnya. Rindu dengan pelukannya yang hangat sembari membelai rambut ikal saya kala itu. Saya rindu perjumpaan dengan kata-kata lembutnya…&#8221;Saya mengasihimu karena engkau sahabat saya.&#8221; Kata-kata yang tidak menipu karena saya begitu yakin dengan aura kata-kata yang terlontar di mulut tipisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mampu menyentuh hati saya, hingga saya berpikir dia adalah utusan Tuhan untuk mengembalikan kepercayaan saya atas yang namanya Cinta. Ia berhasil meyakinkan saya untuk kembali merasakan apa yang disebut mencintai dan dicintai, setelah saya kehilangan makna itu beberapa tahun sebelumnya. Ia berhasil mengubah ‘kacamata’ hati saya menjadi lebih jernih.<br />
Saya mengaku sekarang, saya kembali kesepian akan kehadirannya. Kami hanya bertemu sesaat, tetapi keterhubungan kami tak akan putus. Karena kami punya cinta sebagai seorang sahabat. Saya bingung, kepada siapa saya harus mengaku bahwa saya kesepian, kesepian akan rindu padanya? Apakah tetap pada bintang di langit seperti yang dulu ia katakan pada saya, “Apabila engkau rindu padaku, lihatlah bintang di langit. Carilah yang paling terang sinarnya, itulah aku. Karena namaku Bintang. Pun ketika kabut menutupi cahayanya kala kau memandang, tetap yakin pada dirimu, aku tetap ada di sana. Aku tak kan pergi meski kita berjauhan…..”<br />
(Mei, 2009)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=167&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/13/pengakuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati Wisata Kehidupan</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/03/menikmati-wisata-kehidupan/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/03/menikmati-wisata-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 14:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/03/menikmati-wisata-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup saya unik. Ya, unik dan berwarna, alias tidak tertebak dan tidak monoton. Baru saya sadari bahwa hidup saya unik dan selalu saja ada kejadian yang aneh. Tidak hanya dalam urusan percintaan, pekerjaan, studi, tetapi juga urusan menghibur diri alias refreshing. Bahkan perjalanan wisata saya yang biasanya saya lakukan dengan rencana. Atau, biasanya saya lakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=166&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Hidup saya unik. Ya, unik dan berwarna, alias tidak tertebak dan tidak monoton. Baru saya sadari bahwa hidup saya unik dan selalu saja ada kejadian yang aneh. Tidak hanya dalam urusan percintaan, pekerjaan, studi, tetapi juga urusan menghibur diri alias refreshing. Bahkan perjalanan wisata saya yang biasanya saya lakukan dengan rencana. Atau, biasanya saya lakukan dan nikmati sambil mengemban tugas, meski itu hanya menikmati perjalanan berbatu-batu dengan pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang tidak menarik.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya, wisata tidak harus ke tempat mahal, tidur di hotel, berlari-lari di pantai, dan berfoto-foto seperti yang dipertontonkan di televise dan media lainnya. Menikmati perjalanan tugas, berbincang dengan orang-orang pedalaman, menikmati sajian makanan sederhana, makan sirih pinang, adalah wisata yang tak kalah nikmatnya. Saya selalu menyebutnya, wisata kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, perjalanan refreshing saya kali ini luar biasa ajaibnya. Kalau biasanya perjalanan keliling Indonesia saya adalah atas biaya kantor karena tujuan utamanya adalah bekerja, atau…perjalanan wisata atas biaya sendiri yang tentunya setelah menabung sekian lama, kali ini perjalanan saya adalah karunia dari seorang tetangga yang hidupnya sederhana. Pagi sebelum saya bersiap-siap ke kantor, tetangga saya yang berjualan bensin di depan rumah datang membawa voucher tiket Garuda Indonesia. Singkat cerita, ia dan suaminya memenangkan voucher tiket dari Garuda Indonesia perjalanan gratis Yogyakarta-Singapura pulang pergi. Ia bermaksud menjual tiket itu karena alasannya, “Bermimpi pun saya ndak berani, apalagi pergi beneran ke negera ini. Saya kan ndak pernah naik pesawat. Tolonglah beli tiket ini semampu mbaknya….” Katanya merayu. Kakak perempuan saya tak sampai hati, akhirnya terbeli lah tiket itu dengan harga seadanya. Singapura, negeri kecil yang sempat saya singgahi setengah hari karena transit dari Jakarta ke Manila. Saya pun enggan ke sana, alasannya simple saja, saya harus menabung untuk tesis saya. Entah bagaimana, kakak perempuan saya memberikan tiket itu ke saya. Dia tidak bisa berangkat karena berbagai hal.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya tiket itu jatuh ke tangan saya. Berbekal uang seadanya, jadilah saya menikmati liburan Paskah di negeri kecil Singapura. Cukup senang, karena saya malah diundang menginap di apartment seorang teman lama saya sejak SMP. Lumayan, biaya akomodasi bisa nol dollar…. Bila saya mengingat ‘sejarah’ wisata saya di Singapura ini, tak habis saya memahami betapa beruntungnya saya. Dari seorang tukang jualan bensin-lah saya bisa berkeliling Singapura, dari sejumlah komunitas yang tak diperhatikan di bumi NTT, Papua dan Timor Leste saya bisa berwisata kehidupan, tentunya sambil meneguhkan komitmen saya mengasihi mereka.  Dari seorang sahabat yang mengembalikan spirit kehidupan saya pula lah membuat saya kembali menikmati perjalanan penuh kekeluargaan di bumi Filipina. Entah, perjalanan saya selanjutnya seperti apa. Tetapi yang terpenting dari semua perjalanan saya adalah menyerap saripati kehidupan dari setiap tempat, pertemuan dengan orang-orang, dan belajar dari cara hidup mereka yang berwibawa.  Bukan tebalnya tiket atau halaman paspor yang dicap visa yang terpenting, melainkan apakah saya mau belajar rendah hati dari setiap perjalanan, sama halnya kerendahan hati seorang Mbak Pani yang mengantarkan voucher tiket keberuntungannya pagi itu ke rumah kami……..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=166&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/05/03/menikmati-wisata-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghapus trauma</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/03/29/menghapus-trauma/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/03/29/menghapus-trauma/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 05:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman, saudara-saudara, dan sahabat-sahabat saya,
perkenankan saya mengganggu kesibukan anda sekalian dengan lontaran pertanyaan &#8211; atau lebih tepatnya: mohon pendapatnya- berikut ini.
Singkat kata, saya sedang merasakan perasaan khusus terhadap seorang laki-laki beberapa minggu belakangan ini. Sementara saya kurang begitu yakin apakah ia bisa menerima saya atau punya perasaan yang sama dengan saya. So far hubungan pertemanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=164&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Teman-teman, saudara-saudara, dan sahabat-sahabat saya,</p>
<p style="text-align:justify;">perkenankan saya mengganggu kesibukan anda sekalian dengan lontaran pertanyaan &#8211; atau lebih tepatnya: mohon pendapatnya- berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Singkat kata, saya sedang merasakan perasaan khusus terhadap seorang laki-laki beberapa minggu belakangan ini. Sementara saya kurang begitu yakin apakah ia bisa menerima saya atau punya perasaan yang sama dengan saya. So far hubungan pertemanan kami baik-baik saja, sering bertemu dan dia sering curhat sama saya juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya saya ingin mengatakan jujur kepadanya perihal perasaan saya. Namun apa daya saya masih trauma dengan kejadian beberapa tahun silam, di mana saya jujur mengatakan perasaan saya dengan seseorang dan hasilnya tidak begitu baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, kalau tidak keberatan, mohon memberi saya saran apa yang harus saya lakukan kali ini. Apapun saran anda, akan saya terima dengan sukahati. Terimakasih sebelumnya. Tuhan membalas kebaikan anda.</p>
<p style="text-align:justify;">(minggu siang, tempel)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=164&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/03/29/menghapus-trauma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Whispering Hope, Offering Loves</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/02/15/whispering-hope-offering-loves/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/02/15/whispering-hope-offering-loves/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 13:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[(Membisikkan Harapan, Menawarkan Cinta)
Bila sebagian besar orang muda di kota saya hari ini merayakan Valentine Day (terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia: Hari Kasih Sayang) dengan makan malam atau jalan-jalan dengan pasangannya, maka saya lebih memilih menikmatinya dengan keluarga yang sangat saya sayangi. Menarik juga mendengarkan celotehan keponakan-keponakan saya yang lucu-lucu, dari menanyakan mengapa harus lewat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=162&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Membisikkan Harapan, Menawarkan Cinta)</p>
<p>Bila sebagian besar orang muda di kota saya hari ini merayakan Valentine Day (terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia: Hari Kasih Sayang) dengan makan malam atau jalan-jalan dengan pasangannya, maka saya lebih memilih menikmatinya dengan keluarga yang sangat saya sayangi. Menarik juga mendengarkan celotehan keponakan-keponakan saya yang lucu-lucu, dari menanyakan mengapa harus lewat permen atau makanan coklat untuk menyatakan cinta, hingga apa itu valentine. Saya termasuk orang yang cukup disibukkan untuk menjawab berbagai pertanyaan mereka, pun saya harus tersenyum menjawab pertanyaan mereka mengapa saya masih sorangan wae, alias single.</p>
<p>Lelah menjawab pertanyaan mereka, saya mulai menyibukkan diri menulis dan mengirimkan pesan singkat kepada teman-teman saya. Maksud saya hanya simple saja, mengingatkan bahwa kasih sayang tidak hanya untuk pasangan saja, tetapi bagi semua orang yang membutuhkan tangan cinta kita. Kita diciptakan memiliki tangan dan hati untuk menebarkan cinta, dalam bentuk pertolongan, topangan, dan dorongan bagi mereka yang putus harapan. Tangan kita diciptakan untuk memeluk dan menyentuh bagi mereka yang haus akan kasih sayang. Setiap hari, dan setiap saat.</p>
<p>Putus harapan? Ya, kita diberikan tangan untuk berbagi kasih bagi orang yang putus harapan. Sangat mudah menemukan orang yang mengalami keputusasaan&#8230;atau menipis harapannya tetapi cukup sulit menemukan orang yang masih optimis di tengah kesulitan saat ini. Seorang teman membalas sms saya dan menceritakan bagaimana kondisi hatinya saat ini, di tengah menipisnya harapan dia untuk meraih apa yang ia inginkan. Well, saya hanya bisa menghibur hatinya dengan mengatakan wajar bahwa kita mudah kehilangan harapan tetapi bukan berarti berhenti berharap bahwa suatu saat kita akan mendapatkan yang lebih baik. Jujur saja, beberapa hari belakangan saya pun mengalaminya, ketika apa yang saya inginkan dan butuhkan ternyata meleset jauh sejauh-jauhnya.</p>
<p>Bagaimanapun saya selalu diingatkan pada kata-kata bijak ini:</p>
<p><em>Manusia mampu bertahan hidup tanpa makan selama 40 hari penuh, </em></p>
<p><em>tanpa minum selama satu minggu, </em></p>
<p><em>menahan nafas selama 40 menit. </em></p>
<p><em>Tetapi manusia tidak bisa bertahan hidup sedetik pun </em></p>
<p><em>tanpa harapan. </em></p>
<p>Siapa yang bisa membuktikan bahwa tanpa harapan kita bisa bertahan hidup atau setidaknya menikmati hidup? Hampir tidak ada. Barangkali ia masih bisa bernafas, masih bisa berjalan, masih bisa melakukan aktifitas hidup lainnya. Tetapi bila itu dilakukan tanpa harapan, masih bisakah memberikan makna setidaknya bagi dirinya sendiri? Saudara, saya pernah menjalankan hidup tanpa harapan beberapa tahun lalu dan hasilnya hidup saya seperti robot, sangat mekanistik dan ada ruang hampa di dalam hati saya. Kata-kata bijak ini mengingatkan saya untuk tidak berhenti berharap, meski saya juga harus realistic dan tetap menawarkan cinta bagi saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya.</p>
<p>Setidaknya saya harus mencintai saya apa adanya dan menaruh harapan pada hidup saya sendiri sebelum saya mencintai dan menaruh harapan pada orang lain. Itu pula yang diajarkan Tuhan pada saya: kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. Jadi, sebelum kita mampu mengasihi orang lain dan berharap pada orang lain, maka hal pertama yang dilakukan adalah mengasihi, menerima dan memahami diri sendiri. Setelah mampu menerima diri kita apa adanya dengan segala harapan-harapan kita pada diri kita sendiri, barulah kita sediakan tangan kita untuk mengasihi dan memberikan harapan bagi orang-orang yang kita kasihi.</p>
<p>Hmmm&#8230;..barangkali itulah makna hari kasih sayang ini bagi saya. Membisikkan harapan, menawarkan cinta pada diri sendiri, orang-orang di sekitar kita, dan alam kita. Namun di atas semua itu, terutama membisikkan harapan bahwa Tuhan mendengarkan apa yang saya butuhkan saat ini. Selamat hari kasih sayang, selamat melanjutkan harapan anda.</p>
<p>(tempel, 14 Februari 2009).</p>
<p><em>Terimakasih buat seorang teman yang telah memberikan inspirasi menulis ini.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=162&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/02/15/whispering-hope-offering-loves/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Facebook euy….!!</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/30/facebook-euy%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/30/facebook-euy%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 11:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/30/facebook-euy%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa minggu belakangan inbox email pribadi saya kebanjiran pemberitahuan dari si &#8220;Facebook&#8221; bahwa saya mendapatkan undangan menjadi anggota atau &#8220;add friend&#8221; dari teman-teman lama saya. Tidak tanggung-tanggung, sehari bisa 10 email masuk, dan menambah deret email belum terbuka di Inbox saya yang jumlahnya mencapai 2,600-an lebih.
Reaksi saya pun beragam. Dari yang jadi malas sekali membuka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=161&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa minggu belakangan inbox email pribadi saya kebanjiran pemberitahuan dari si &#8220;Facebook&#8221; bahwa saya mendapatkan undangan menjadi anggota atau &#8220;add friend&#8221; dari teman-teman lama saya. Tidak tanggung-tanggung, sehari bisa 10 email masuk, dan menambah deret email belum terbuka di Inbox saya yang jumlahnya mencapai 2,600-an lebih.</p>
<p>Reaksi saya pun beragam. Dari yang jadi malas sekali membuka Facebook (ada yang menyingkat FB, ada yang memplesetkan menjadi fesbuk), sampai menjadi penasaran dengan nama-nama baru yang invite saya menjadi relasinya. Bayangkan, hanya karena say hello saja memaksa saya untuk membuka ID di facebook dan mau tidak mau membalasnya agar tidak dicap somsek, alias sombong sekali sama teman lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa.</p>
<p>Facebook menjadi fenomenal dalam dunia maya meskipun wahana ini bukan pioneer. Ada banyak pendahulunya seperti Friendster, Hi5, dan lain-lain yang menawarkan fasilitas berjejaring secara sosial ala dunia maya. Facebook menjadi lebih fenomenal karena ia menawarkan fasilitas yang lengkap, bahkan melakukan hal yang tidak dijumpai pada wahana lain seperti Friendster (FS). Salah satunya adalah bisa chatting melalui FB, satu hal yang belum bisa dilakukan oleh FS.</p>
<p>Hal lain lagi yang membuat FB lebih fenomenal adalah saat wahana ini digunakan oleh Presiden AS yang baru Barrack Obama sebagai media kampanye pemilihan presiden sejak tahun lalu. Cara ini kemudian ditiru oleh calon legislative dan bakal calon presiden Indonesia menjelang pemilihan umum tahun ini. Terbukti Sri Sultan dan Prabowo mengundang saya ikut sebagai jaringan pertemanan mereka. Padahal, boro-boro jadi teman, melihat mereka secara langsung saja sangat jarang. Pun mereka bukan teman saya sejak SD hingga perguruan tinggi, tetangga juga bukan, sodara apalagi. Padahal, saya yakin tujuan dibuatnya FB seperti halnya FS adalah memperluas jaringan pertemanan atau menemukan teman lama yang lama tak berjumpa. Atau juga, mempererat pertemanan atau persaudaraan yang sudah terjalin supaya lebih greng, katanya Mbah Dalang.</p>
<p>Artinya adalah, telah terjadi pergeseran tujuan dari dibuatnya wahana semacam ini. Tidak jarang malah dipakai sebagai bagian dari modus operandi penipuan. Saya jadi ingat, beberapa tahun lalu dalam sebuah milis yang saya ikuti, ada tulisan iseng yang bercerita bahwa ada beberapa motivasi atau karakter seseorang yang bisa dibaca dari cara ia menampilkan foto dan identitas dirinya dalam Friendster. Bisa jadi pamer bahwa ia sudah pernah jalan ke luarnegeri, pamer bahwa ia sudah beranak pinak, dan sebagainya. Meskipun tulisan ini hanyalah sekedar iseng dan satire untuk menyindir, tetapi saya mulai berpikir bahwa barangkali ada benarnya. Bahkan benar banget!</p>
<p>Tidak perlu jauh-jauh menganalisa FS atau FB milik orang lain. Seringkali motivasi saya menampilkan foto di FB dan FS saya, adalah memberitahukan ke seluruh jagad dan teman-teman saya yang menjadi jaringan saya bahwa saya pernah jalan ke sana ke sini. Makin bangga lagi ketika saya pasang foto ketika berada di luar negeri dengan dikasih komentar sedikit nyombong, pakai bahasa Inggris nama tempat tersebut. Makin besar kepala saya ketika ada satu atau dua teman yang kasih komentar : &#8221; Wah&#8230;.asyik ya bisa jalan-jalan ke LN&#8230;.ikut donkkk&#8230;.&#8221;. Pasti terhadap komentar kayak gini, langsung saya balas, &#8220;Ah biasa aja tuuhhh&#8230;..Gak lama kok jalannya, Cuma beberapa hari aja. Lagian itu pas selingan kerja&#8230;.&#8221; Atau, ketika saya pasang foto saya dengan pacar baru, misalnya, atau anak, atau foto pernikahan. Wahhh&#8230;&#8230;gak cukup deh kayaknya helm saya untuk menampung kepala yang begitu bangganya. Juga tidak cukup longgar baju yang saya kenakan karena dada saya makin membusung.</p>
<p>Oleh karena itu, tak heran kalau kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa FB, FS, atau wahana-wahana maya lainnya yang sejenis adalah pelampiasan dari narsisme kita yang paling tinggi. Beruntung pun kita tidak perlu membayar mahal untuk membuat media narsisme karena internet menyediakannya dengan gratis. Beda halnya kalau kita menggunakan media cetak atau broadcast yang berat di ongkos, hanya orang-orang kaya dan berpengaruh saja yang bisa melampiaskan narsisme mereka dengan media ini. FS dan FB mengubah orientasi kita bermedia, FS dan FB tujuannya menjadi mengalami pertambahan. Tidak lagi hanya menjadi media menemukan kembali teman-teman lama yang berceceran di mana-mana, tidak hanya sekedar memperkuat dan mempererat persatuan antar teman dan saudara, tetapi lebih jauh lagi, FB menjadi media untuk memuaskan narsisme kita, media pameran untuk menunjukkan keberhasilan dan kondisi kemakmuran kita saat ini. Pernahkah terpikirkan oleh anda untuk menempelkan foto anda dengan pakaian compang-camping, atau foto ketika kita sakit atau antri beras atau minyak tanah? Pernahkah kita terpikirkan untuk menempelkan foto dan menunjukkan pada khalayak maya bahwa kita sedang sedih, marahan sama pasangan atau sedang jatuh bangun? Pernahkah terpikirkan oleh kita untuk menunjukkan sepahit-pahitnya kehidupan kita selain menunjukkan semakmur-makmurnya kita sekarang dalam FB atau FS?</p>
<p>Well, ini sekedar pikiran nakal yang terlintas saat saya berkelana membuka FB dan FS saya. Jangan dimasukkan hati, cukup direnungkan saja bahwa FB hanyalah sebuah media yang bisa kita mainkan semau yang kita inginkan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada para pecinta FB dan FS, saya ingin mengatakan jadi narsis boleh dan sah-sah saja, tetapi ya mbok jangan narsis-narsis banget. Hehehe&#8230;.</p>
<p>(Klitren kala hujan, akhir Januari 2009)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=161&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/30/facebook-euy%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jala</title>
		<link>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/11/jala/</link>
		<comments>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/11/jala/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 07:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>utaridewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://utaridewi.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Jalaku sobek, kawan
sehabis kupakai jaring ikan
singkirkan kuatirmu
kuperbaiki dengan seutas benang
dan sebuah jarum, maka usailah sudah kurajut kembali
Tapi siapakah yang bisa merajut sobek di jala jiwaku
koyak tinggalkan luka perih kesendirianku
Harta jiwa hilang tak sisakan kata perpisahan
Hanya debur ombak sampaikan pesannya
Selamat tinggal, kekasihku
- Blang lumpang, Seunoddon, 4 bulan pasca tsunami-
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=158&subd=utaridewi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jalaku sobek, kawan</p>
<p>sehabis kupakai jaring ikan</p>
<p>singkirkan kuatirmu</p>
<p>kuperbaiki dengan seutas benang</p>
<p>dan sebuah jarum, maka usailah sudah kurajut kembali</p>
<p>Tapi siapakah yang bisa merajut sobek di jala jiwaku</p>
<p>koyak tinggalkan luka perih kesendirianku</p>
<p>Harta jiwa hilang tak sisakan kata perpisahan</p>
<p>Hanya debur ombak sampaikan pesannya</p>
<p>Selamat tinggal, kekasihku</p>
<p>- Blang lumpang, Seunoddon, 4 bulan pasca tsunami-</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/utaridewi.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/utaridewi.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/utaridewi.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/utaridewi.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/utaridewi.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/utaridewi.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/utaridewi.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/utaridewi.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/utaridewi.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/utaridewi.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=utaridewi.wordpress.com&blog=3692673&post=158&subd=utaridewi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://utaridewi.wordpress.com/2009/01/11/jala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9de3c56ad2bacd3f90f13191ad538503?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">utaridewi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>