Sidang Pembaca terhormat,
beberapa kisahku di bawah ini adalah kumpulan pada saat aku mendapatkan kesempatan belajar tentang isu perempuan, pada tahun 2007 di Filipina, negeri yang sangat maju gerakan perempuannya. Kisah-kisah ini tidak hanya menggambarkan isu perempuan, tetapi juga refleksiku sehari-hari di sana yang bersentuhan dengan beberapa perempuan di berbagai negara. Ada kisah sedih, ada kisah lucu, bahkan hanya sekedar kisah menghapus kesepianku kala itu. Selamat membaca…..
—————————————————————————
Selamat sore, Indonesia, selamat sore saudara-saudaraku dan teman-teman tercinta.
Tiba di negeri Bibi Aquino serasa tiba di kota Jakarta jaman dulu. Banyak bangunan dan store2 tua di pinggir2 jalan. Meski kendaraan mewah berseliweran (seperti di Jakarta), angkot di sini seperti angkot jaman dulu, kayak kaleng berjalan. Herannya, instalasi listrik tidak rapi sama sekali notabene di ibukota. Kalo orang jawa bilang, “Pating kleleran”.

Sore kemarin tepat pukul 16.20 waktu setempat (yang sama dengan WITA), pesawat Phillippine airline yang mengantar kami dari Changi Airport landing. Keluar dari pesawat dengan awak yang tidak begitu ramah (masih kalah ramah dengan Garuda, dan udah tua-tua lagi), setelah mengurus imigrasi yang terbilang cukup gampang, kami diantar taxi yang sudah direkomendasikan oleh panitia kursus intercultural course women studies st.scholastica college ini. Tiba di mess (15 menit dari airport), langsung disambut dengan ramah oleh ibu asrama, yang biasa dipanggil Manang karena perempuan ini berumur sekitar 60th. Setengah jam kemudian, makan malam sudah disiapkan. Saya menduga akan shock dengan makanan ala filipina, ternyata dugaan saya sedikit meleset. Lumayan juga, tidak beda jauh dengan masakan Indonesia. So far tidak ada masalah dnegan makanan (alamat nambah gemuk nih….sialan!)
Dari 17 peserta yang akan datang dari beberapa negara asia, baru 5 orang termasuk saya dan teman kerja yang datang. 3 orang lainnya adalah gadis2 korea selatan. Konon selain kami berdua, akan ada 1 org lagi dari Indonesia, belum tahu siapa. Asrama perempuan di sini berbeda dengan kost cewek kebanyakan di yogyakarta. Sangat rapi, bersih, dan betul-betul tenang. Berbeda dengan suasana di luar gedung. Yang bikin kaget lainnya adalah 1 penghuni asrama bisa memiliki puluhan sepatu yang dijejerkan dengan sangat rapi di luar kamar. Kalau 1 org punya 10 pasang sepatu, bayangkan saja ada lebih dari 10 org. saya sempat terpikirkan untuk nyeletuk,”Wah, mau nyaingi Imelda marcos ya, bikin museum sepatu???” Tapi takut menyinggung manang dan stafnya, celetukan tadi cukup disimpan dalam hati saja.
Pagi hari tadi sesudah sarapan pagi (kali ini sok bule, dengan roti dan orak-arik daging ayam yang enak), kami cari simcard sini dan converter jack utk laptop (yang kita bawa berbeda dengan stop kontak sini, rata2 minus modelnya). Di toko yang sediakan simcard kami senang sekali bertemu dengan suster dari indonesia. Namanya Suster Dwina, orang Jogja. Dia sedang tugas belajar di sini, ternyata tinggal di kost yang tidak jauh dari asrama. Kami diajak main ke kostnya (sebulannya P 6,000, kalo dikurskan ya sekitar Rp 1,2 jt. Itupun katanya jauh lebih murah dibanding tempat lain). Ngobrol ngalor ngidul sambil belajar operasikan simcard yang baru. Lumayan juga, 1 kali kirim sms international ke indonesia seharga P 15 (3000 rupiah), untung ketemu suster, dia rekomendasikan beli card namanya Text Wise, yang bisa bikin irit kirim sms. bayangkan saja, dari P 15 bisa irit menjadi P 5-6 (meski kalo pake halo yang biasa saya pakai tetap mahal. Seharga segitu bisa kirim sampai 4 kali).
So far perjalanan lancer-lancar saja. Meski sempat kayak orang ndeso melihat begitu bersih dan megahnya changi airport di singapore, so far tidak ada masalah yang sulit. Setelah masalah tiket beres, kami luangkan waktu jalan2 sebentar keliling changi airport yang tidak seperti airport. Baru kali ini ada airport yang saya datangi lantainya 100% ditutup karpet, bersih lagi. kayak karpet di hotel berbintang (hotel di Jogja saja yang karpetnya bersih bisa dihitung dengan jari). Di bandara international ini, banyak sekali counter2 duty free yang jual bermacam2 barang, dari jualan rokok branded international, tas, minuman alkohol (ada johny walker yang dijual sangat eksklusive, bahkan dijagai oleh pramuniaga yang berdandan ala sekretaris executive), sampai buku2. Ada yang murah juga, all item 20 S$ (tapi kalo di indonesia tetap mahal sih…) dengan kualitas export. Jadi gak kayak airport, serasa berada di mall. Di sana-sini juga disediakan free internet dengan komputer yang bersih (wah komputerku di kantor kalah bersih….) dan canggih.
Beberapa menit sebelum departure ke manila, kami diperiksa dengan sangat teliti. sampe harus lepas jaket segala, keluarkan alat2 elektronik. sedikit bikin repot, tetapi untungnya gak diulang di bandara manila. cara mereka mengatur masuknya penumpang pun sangat profesional, gak keruyukan kayak indonesia meski di bandara cengkareng sekalipun. Bicara soal ‘belalai pintu masuknya’ wah, serasa berjalan di lorong hotel. very clean, tidak ada cuilan tembok, dan tentu saja pake karpet. Bener2 Indonesia (tepatnya PT. Angkasa Pura) harus belajar dengan orang Singapore! Masak anggota DPR bolak balik ke LN gak ngerti2 juga bagaimana memberesi public service di negara ini!!
Acara pembukaan kursus masih besok, belum tahu tepatnya jam berapa, karena belum ada pemberitahuan dari panitia. Kalau teman2 dari Korea pagi2 sudah pergi gereja dan mereka bilang mau ketemu misionaris yang sealiran dengan mereka (methodist), maka 2 makhluk Indonesia ini cari kesibukan lain, beli simcard, ngobrol sama orang Indonesia, dan tidur seharian (yang ini jelas tentu bisa ditebak….jelas saya donk.) Ternyata kebiasaan di hari Minggu baik di negeri sendiri maupun di negeri orang tidak berubah. baru sorenya cari warnet yang dindingnya aja nempel dengan asrama. Cukup murah juga, 1 jam seharga P25, atau setara dengan Rp 5,000 (masih mahal dibandingkan nge-net di kantor…..gratis je.
)
Well, sekian dulu sekilas info dari manila. Nantikan kisah2 berikutnya (kalau bisa akses internet mudah, karena sepertinya kali ini tempat kursus di desa yang jauh dari ibukota). Tuhan memberkati kita semua.
Manila, 10 Februari 2007