Oleh: utaridewi | Januari 10, 2009

Batas Tipis

Pabila kita bisa mensyukuri Karunia dan Keberhasilan yang kita alami,

semestinya kita pun bisa mensyukuri Penderitaan dan Kegagalan

yang menimpa kita.

Karena di antara kedua hal tersebut,

hanya memiliki batas yang amat tipis saja.

(Dewi Utari, Januari 2004)

Oleh: utaridewi | Januari 10, 2009

Di 3 Kota

Di 3 kota aku membelaimu

Karena kasih kita sangat dalam sampai di dasar hati

Karena kita pernah menobatkan satu sama lain sebagai belahan jiwa

Meski kau dan aku sangat sadar bahwa kita tak kan pernah bisa bersama

Karena jalanku dan jalanmu adalah 2 jalan berbeda meski pernah bertemu di satu titik

Lalu kemudian mencabang lagi menjadi 2 jalan yang berbeda

Di 3 kota ini aku ingin memelukmu

Enggan rasanya melepaskanmu,

Sama halnya saat aku enggan melepas pelukanmu yang lalu di 3 kota yang lain

Sayang aku hanya bisa memelukmu dalam hati

Karena kita sama-sama takut akan pedih perpisahan

Pertemuan kita kali ini singkat saja

Di 3 kota ini aku hanya bisa memandangmu

Tatapanmu tak pernah berubah, seperti dulu

Tajam tapi meneduhkan

Lembut tapi mampu menguatkan hati yang remuk

Aku tak berkutik

Kelu dalam rindu yang menusuk-nusuk

Tapi aku bahagia, engkau menjadi bagian dari kisah hidupku

Sampai berjumpa lagi dalam mimpi-mimpi kita yang abadi.

(dipersembahkan bagi persahabatan sejati, Januari 2009)

Oleh: utaridewi | Januari 1, 2009

Selamat Tinggal 2008, Selamat Datang 2009

Meski hanyalah sebuah penandaan dari momentum, pergantian tahun tidak bisa kita pungkiri. Apabila sebagian orang memilih turun ke jalan alias jalan-jalan keliling kota dalam detik-detik pergantian tahun, ada juga yang lebih suka memilih berdiam di rumah dan merenung. Salah satunya adalah aku.

Tahun 2008, menjadi salah satu momentum waktu penting dalam  hidupku. Pada tahun ini perjalanan keliling Indonesia dan luar negeri yang cukup banyak pertama kalinya buatku. Kalau dihitung-hitung, aku melakukan perjalanan dengan 30 rute penerbangan baik dalam negeri. Namun bukan itu yang membuatku takjub, justru ketika aku mendapatkan kesempatan bertemu dengan orang-orang baru di tempat-tempat yang terpencil, terisolasi, dan dianggap primitive, aku mendapatkan pengalaman paling berharga. Begitu berharganya hingga tak terungkapkan dengan kata-kata. Dan menambah daftar syukurku kepada Tuhan.

Tahun 2008, untuk pertamakalinya aku merasakan kehilangan orang yang teramat kukasihi, bapak yang dipanggil Tuhan. Namun dalam keabadiannya aku tetap merasakan kehadirannya dalam hatiku. Selamat jalan bapak, kelak kita akan berjumpa kembali.

Tahun 2008, menggoreskan luka sekaligus suka cita. Dan setiap dari pengalaman dan perjumpaanku dengan orang-orang, aku mensyukurinya karena aku semakin belajar banyak tentang kehidupan.

Kini tahun 2009 sedang mulai kubuka dengan segala harapan baru meski pun penuh tantangan baru juga.  Dengan satu keyakinan yang masih ada bahwa Tuhan menyertai hidupku, aku tetap meletakkan tanganku dalam tanganNya. Tahun 2009 aku menyambutmu dengan sukacita dan asa baru. Selamat tinggal 2008, engkau tetap berkesan dalam hidupku.

(tempel, 1 Januari 2009, 00.05)

Oleh: utaridewi | Januari 1, 2009

I Sit And Look Out

I sit and look out upon all the sorrows of the world, and upon all
oppression and shame;
I hear secret convulsive sobs from young men, at anguish with
themselves, remorseful after deeds done;
I see, in low life, the mother misused by her children, dying,
neglected, gaunt, desperate;
I see the wife misused by her husband–I see the treacherous seducer
of young women;
I mark the ranklings of jealousy and unrequited love, attempted to be
hid–I see these sights on the earth;
I see the workings of battle, pestilence, tyranny–I see martyrs and
prisoners;
I observe a famine at sea–I observe the sailors casting lots who
shall be kill’d, to preserve the lives of the rest;
I observe the slights and degradations cast by arrogant persons upon
laborers, the poor, and upon negroes, and the like;
All these–All the meanness and agony without end, I sitting, look
out upon,
See, hear, and am silent.

Walt Whitman

Oleh: utaridewi | Desember 30, 2008

Lonely Sky

From Spanish Train and Other Stories
adopted from Chris de Burgh

The cold North wind they call “La Bise”
is swirling round about my knees,
Trees are crying leaves into the river;
I’m huddled in this French cafe
I never thought I’d see the day,
When winter’s here and summer’s really over,

Even the birds have packed up and gone,
They’re flying south with their song,
And my love, you too have gone, you had to fly,

Take care, it’s such a lonely sky,
They’ll trap your wings my love and hold your flight,
They’ll build a cage and steal your only sky,
Fly away, fly to me, fly when the wind is high,
I’m sailing beside you in your lonely sky…

The old cathedral lights are low
You and I we’d often go there
To admire and sometimes kneel in prayer;

Lords and ladies lie in stone,
Hand in hand from long ago,
And though their hands are cold they’ll love forever,

Even the choir rehearses those songs
For Christmas is not long.
And alone, I sing my song, you had to fly.

Out there it’s such a lonely sky,
They’ll trap your wings my love and hold your flight,
They’ll build a cage and steal your only sky,
Fly away, fly to me, fly when the wind is high,
I’m sailing beside you in your lonely sky…
Fly away, fly to me, and if you need my love,
I’m sailing beside you in your lonely sky…
I’ll come in with the dawn,
I’m sailing beside you in your lonely sky…
On the wings of the mourn,
I’m sailing beside you in your lonely sky…
Above the world we’ll be flying,
I’m sailing beside you in your lonely sky…

And though their hands are cold they’ll love forever.

Oleh: utaridewi | Desember 30, 2008

Ibu, Maafkan Aku

Barangkali tulisan ini terbilang sangat terlambat untuk mengenang Hari Ibu. Aku baru tersadar, setelah 7 hari berlalu dari peringatan Hari Ibu, aku belum menuliskan sesuatu sebagai persembahan untuk ibuku tercinta. Lalu aku berpikir, apa yang sudah kulakukan pada ibuku sehari-hari. Mulai aku merunut perbuatan apa saja yang sudah kulakukan. Aku tercekat, yang kuingat justru perbuatan tidak baik yang kulakukan untuk ibuku. Aku sering membentak tanpa mendengarkan apa pendapatnya tentang sesuatu persoalan bahkan di depan orang lain sekalipun, aku sering tidak mengindahkan nasehat-nasehatnya, aku terlalu sering ngeyel pada pendapatnya. Aku sering menganggap beliau terlalu lugu, naif, dan kurang wawasan.  Lalu aku terpukul dan tersadar, aku belum melakukan kebaikan padanya.

Barangkali aku terlalu berharap bahwa dia adalah perempuan sempurna yang bisa memuaskan dan membuatku senang dari A sampai Z, nyatanya aku harus menerima kenyataan bahwa bagaimanapun dia adalah manusia biasa yang ada kekurangannya. Berbeda pendapat dengannya harusnya tak perlu kutanggapi dengan emosional.

Lalu kubayangkan apa jadinya hidupku tanpa kehadiran beliau. Siapa yang menyiapkan sarapan pagiku -sementara aku seringkali bangun kesiangan karena overtime kerja semalaman- kalau bukan ibuku? Siapa yang memasukkan baju kotorku ke mesin cuci kalau bukan ibu? Siapa yang bantu membereskan kamar kalau bukan ibuku? Siapa yang berdoa sepanjang waktu untuk hidupku dan memberkati aku kalau mau menempuh perjalanan jauh kalau bukan ibu? Siapa yang menyapa aku di telepon untuk menanyakan bagaimana kabarku saat aku melakukan perjalanan tugas di luar kota kalau bukan ibu? Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana kelak aku mengurus anakku tanpa bantuan seorang ibu yang membimbingku ? (aku berharap beliau diberi umur panjang untuk mengajariku dan membagikan pengalamannya mengurus anak).

Kini aku sadar, aku justru sering menoreh luka di hatinya saat aku bertengkar dengannya. Nuraniku terdalam menggugatku, ” Bagaimana bisa engkau memperjuangkan hak perempuan-perempuan lain sementara pada  ibumu sendiri, yang dari rahimnya engkau ada dan dari kasihnya engkau tumbuh, engkau belum bisa menghargainya sepenuh hatimu?!”

Ibu, maafkan aku. Aku akan mulai belajar bersikap lebih manis bahkan saat kita bertengkar berbeda pendapat. Aku sangat sadar, hidupku ternyata belum bisa mandiri tanpa kehadiran ibu. Maafkan aku yang sudah melukai hatimu, aku baru sadar ketika tanpa sengaja melihat titik air mata menetes dari mata ibu setelah pertengkaran kita. Sejumput kata maaf semoga bisa mengobati segunung penyesalanku. Selamat Hari Ibu, yang ingin kuperingati setiap hari.

(Tempel,  29 Desember 2008)

Oleh: utaridewi | Desember 25, 2008

Ingin Kusapa Kalian di Malam Natal

Malam Natal yang kesekian kalinya kulalui, dengan berbagai pesan singkat masuk dalam handphoneku. Aku cukup malas menjawabnya satu per satu. Dari tadi siang hingga malam larut pun selalu ada saja yang masuk dan mengucapkan Selamat Natal. Dari yang bahasa Indonesia, Jawa, sampe bahasa asing (mudah-mudahan tidak ada yang mengirim dengan bahasa alien yang tak kumengerti).

Jauh di lubuk hatiku, aku rindu menyapa orang-orang yang pernah kutemui di daerah pedalaman. Apakabar saudara-saudaraku di Desa Umatoos, Desa Fafoe, Desa Wangga Weyenggu, Desa Oeuban, Desa Kualeu, Desa Tanam Banas, di Desa Syukur dan desa-desa lainnya di NTT ? Apakabar saudara-saudaraku di Desa Holkima, Desa Algonik, Ilu, munak di Papua? Apa kabar saudara-saudaraku di desa Fatukoko, desa Asumanu, dan desa-desa lain di Timor Leste? Bagaimana Natal kalian tahun ini?

Aku di Timor Leste

Barangkali tidak ada pesta kembang api di tempat kalian. Barangkali kalian hanya menikmati ubi bakar batu, sofi, babi yang diambil dari kandang sendiri. Sungguh aku rindu pada kalian, ingin rasanya menghayati Natal bersama-sama dengan kalian, dengan segala kesederhanaan dan antusiasme kalian yang selalu riang menyambut tamu. Tamu sejati kalian saat ini adalah Tuhan Yesus sendiri, mudah-mudahan kalian mengerti itu. Kandang tempat Ia lahir adalah hati nurani kalian, sama-sama sederhananya tetapi Tuhan lebih suka berdiam di tempat sederhana.

Aku malas melewati Natal di tempat-tempat mewah, tidak ada hal yang baru, saudaraku.  Tempat-tempat yang penuh dengan seremoni garing. Aku ingin melewati Natal bersama kalian di tengah kehangatan antusiasme kalian. Mudah-mudahan pesta sofi kalian kali ini tiada makan korban. Jangan ada korban di malam Natal agar semua berbahagia, agar semua merasakan damai sejahtera.

00.00 WIB, pasti sudah tanggal 25 Desember di tempat kalian. Selamat Natal, saudaraku di Papua dan NTT. Hatiku tertuju pada kalian, pada suka duka kalian. Doakan agar impian kita bersama berhasil, segala jerih payah kita untuk mengusahakan kesejahteraan hidup dikabulkan oleh Bayi Suci itu.

Aku masih mempunyai mimpi yang lain, untuk hidupku, mimpi untuk bertemu seseorang yang hendak menemani aku. Kalau kalian tidak keberatan, aku pun memohon doa dari kalian…..

(25 December 2008, Tempel)

Oleh: utaridewi | Desember 24, 2008

MESKI TAMPAK SEPELE

Seperti biasa, setiap hari aku mengecek inbox dalam emailku. Mataku langsung tertarik membaca sebuah email masuk yang diberi title subject: Terimakasih Mbak Dewi. Email itu masuk melalui milis di mana aku tergabung di dalamnya sebagai alumni kegiatan kampus yang berbasis persaudaraan sesama iman. ” Hmmm, siapa nih yang nulis email ini, kok sepertinya aku tidak kenal?” tanyaku penasaran dalam hati. Pengirimnya… aku tidak begitu familiar namanya, tapi yang jelas dia tentu adik kelas jauh di bawah angkatanku yang sudah masuk usia uzur alias angkatan bangkot.

Dalam email itu, si pengirim menceritakan keberhasilannya lolos mengikuti seleksi calon pegawai sebuah media nasional berbahasa asing sebagai jurnalis. Dia cerita soal proses rekruitmen-nya dan sudah tahap bla…bla….dan siap masuk kerja bulan Februari 2009. Sesuai title subject emailnya, ada satu kalimat yang bunyinya: “Terimakasih buat mbak Dewi yang sudah mem-posting-kan lowongan kerja ini di milis kita beberapa saat lalu”.

Sempat terpikir bahwa yang dimaksud dia bukan Dewi namaku, tetapi dewi yang lain. Iseng aku buka sent items dan ternyata benar, 2 atau 3 bulan lalu aku memforwardkan posting lowker ini dari milis lain yang kuikuti, informasinya dari kakak kelasku. Ah, bahkan aku sudah lupa karena kupikir hanya suatu hal kecil dan sepele, tinggal main forward saja….

Saudara, seringkali kita tidak menyadari bahwa hal yang kita pikir sepele dilakukan ternyata berdampak besar bagi kehidupan orang lain. Kalau hal sepele itu positif, seperti kita memberikan sesuatu yang sudah tidak kita pakai lagi ke orang lain yang membutuhkan, tentu akan berdampak positif pula. Tetapi bila hal sepele yang kita lakukan itu negative, misalnya mengucapkan kata-kata menyakitkan meski hanya 1-2 kata saja, tentu juga berdampak negative dan besar artinya bagi orang lain…..besar lukanya juga. (ingat tulisan saya tentang lidah, cinta, dan percaya diri).

Dari kejadian yang kualami itu aku baru sadar, apapun perbuatan kita pasti ada dampaknya bagi orang lain, bisa dampak baik, bisa juga dampak buruk. Oleh karenanya intuisi kita yang harus diandalkan. Kita harus paham betul bahwa sekecil apapun perbuatan kita ada dampaknya, dan mulailah memilih mana yang kira-kira berdampak baik, mana yang kira-kira akan berdampak buruk. Tetapi yang jelas, kebaikan sekecil apapun akan membuat anda selalu dikenang, meski tanpa anda sadari. Jangan enggan dan jangan bosan berbuat baik, sekecil apapun.

(tempel, 22 Desember 2008 -  Hari Ibu)

Oleh: utaridewi | Desember 16, 2008

Mengumpulkan kisah-kisah lama

Sidang Pembaca terhormat,

beberapa kisahku di bawah ini adalah kumpulan  pada saat aku mendapatkan kesempatan belajar tentang isu perempuan, pada tahun 2007 di Filipina, negeri yang sangat maju gerakan perempuannya. Kisah-kisah ini tidak hanya menggambarkan isu perempuan, tetapi juga refleksiku sehari-hari di sana yang bersentuhan dengan beberapa perempuan di berbagai negara. Ada kisah sedih, ada kisah lucu, bahkan hanya sekedar kisah menghapus kesepianku kala itu. Selamat membaca…..

—————————————————————————

Selamat sore, Indonesia, selamat sore saudara-saudaraku dan teman-teman tercinta.

Tiba di negeri Bibi Aquino serasa tiba di kota Jakarta jaman dulu. Banyak bangunan dan store2 tua di pinggir2 jalan. Meski kendaraan mewah berseliweran (seperti di Jakarta), angkot di sini seperti angkot jaman dulu, kayak kaleng berjalan. Herannya, instalasi listrik tidak rapi sama sekali notabene di ibukota. Kalo orang jawa bilang, “Pating kleleran”.

so-complicated

Sore kemarin tepat pukul 16.20 waktu setempat (yang sama dengan WITA), pesawat Phillippine airline yang mengantar kami dari Changi Airport landing. Keluar dari pesawat dengan awak yang tidak begitu ramah (masih kalah  ramah dengan Garuda, dan udah tua-tua lagi), setelah mengurus imigrasi yang terbilang cukup gampang, kami diantar taxi yang sudah direkomendasikan oleh panitia kursus intercultural course women studies st.scholastica college ini. Tiba di mess (15 menit dari airport), langsung  disambut dengan ramah oleh ibu asrama, yang biasa dipanggil Manang karena perempuan ini berumur sekitar 60th. Setengah jam kemudian, makan malam sudah disiapkan. Saya menduga  akan shock dengan makanan ala filipina, ternyata dugaan saya sedikit meleset. Lumayan juga, tidak beda jauh dengan masakan Indonesia. So far tidak ada masalah dnegan makanan (alamat nambah gemuk nih….sialan!)

Dari 17 peserta yang akan datang dari beberapa negara asia, baru 5 orang termasuk saya dan teman kerja yang datang. 3 orang lainnya adalah gadis2 korea selatan. Konon selain kami berdua, akan ada 1 org lagi dari Indonesia, belum tahu siapa. Asrama perempuan di sini berbeda dengan kost cewek kebanyakan di yogyakarta. Sangat rapi, bersih, dan betul-betul tenang. Berbeda dengan suasana di luar gedung. Yang bikin kaget lainnya adalah 1 penghuni asrama bisa memiliki puluhan sepatu yang dijejerkan dengan sangat rapi di luar kamar. Kalau 1 org punya 10 pasang sepatu, bayangkan saja ada lebih dari 10 org. saya sempat terpikirkan untuk nyeletuk,”Wah, mau nyaingi Imelda marcos ya, bikin museum sepatu???” Tapi takut menyinggung manang dan stafnya, celetukan tadi cukup disimpan dalam hati saja.

Pagi hari tadi sesudah sarapan pagi (kali ini sok bule, dengan roti dan orak-arik daging ayam yang enak), kami cari simcard sini dan converter jack utk laptop (yang kita bawa berbeda dengan stop kontak sini, rata2 minus modelnya). Di toko yang sediakan simcard kami senang sekali bertemu dengan suster dari indonesia. Namanya Suster Dwina, orang Jogja. Dia sedang tugas belajar di sini, ternyata tinggal di kost yang tidak jauh dari asrama. Kami diajak main ke kostnya (sebulannya P 6,000, kalo dikurskan ya sekitar Rp 1,2 jt. Itupun katanya jauh lebih murah dibanding tempat lain). Ngobrol ngalor ngidul sambil belajar operasikan simcard yang baru. Lumayan juga, 1 kali kirim sms international ke indonesia seharga P 15 (3000 rupiah), untung ketemu suster, dia rekomendasikan beli card namanya Text Wise, yang bisa bikin irit kirim sms. bayangkan saja, dari P 15 bisa irit menjadi P 5-6 (meski kalo pake halo yang biasa saya pakai tetap mahal. Seharga segitu bisa kirim sampai 4 kali).

So far perjalanan lancer-lancar saja. Meski sempat kayak orang ndeso melihat begitu bersih dan megahnya changi airport di singapore, so far tidak ada masalah yang sulit. Setelah masalah tiket beres, kami luangkan waktu jalan2 sebentar keliling changi airport yang tidak seperti airport. Baru kali ini ada airport yang saya datangi lantainya 100% ditutup karpet, bersih lagi. kayak karpet di hotel berbintang (hotel di Jogja saja yang karpetnya bersih bisa dihitung dengan jari). Di bandara international ini, banyak sekali counter2 duty free yang jual bermacam2 barang, dari jualan rokok branded international, tas, minuman alkohol (ada johny walker yang dijual sangat eksklusive, bahkan dijagai oleh pramuniaga yang berdandan ala sekretaris executive), sampai buku2. Ada yang murah juga, all item 20 S$ (tapi kalo di indonesia tetap mahal sih…) dengan kualitas export. Jadi gak kayak airport, serasa berada di mall. Di sana-sini juga disediakan free internet dengan komputer yang bersih (wah komputerku di kantor kalah bersih….) dan canggih.
Beberapa menit sebelum departure ke manila, kami diperiksa dengan sangat teliti. sampe harus lepas jaket segala, keluarkan alat2 elektronik. sedikit bikin repot, tetapi untungnya gak diulang di bandara manila. cara mereka mengatur masuknya penumpang pun sangat profesional, gak keruyukan kayak indonesia meski di bandara cengkareng sekalipun. Bicara soal ‘belalai pintu masuknya’ wah, serasa berjalan di lorong hotel. very clean, tidak ada cuilan tembok, dan tentu saja pake karpet. Bener2 Indonesia (tepatnya PT. Angkasa Pura) harus belajar dengan orang Singapore! Masak anggota DPR bolak balik ke LN gak ngerti2 juga bagaimana memberesi public service di negara ini!!

Acara pembukaan kursus masih besok, belum tahu tepatnya jam berapa, karena belum ada pemberitahuan dari panitia. Kalau teman2 dari Korea pagi2 sudah pergi gereja dan mereka bilang mau ketemu misionaris yang sealiran dengan mereka (methodist), maka 2 makhluk Indonesia ini cari kesibukan lain, beli simcard, ngobrol sama orang Indonesia, dan tidur seharian (yang ini jelas tentu bisa ditebak….jelas saya donk.) Ternyata kebiasaan di hari Minggu baik di negeri sendiri maupun di negeri orang tidak berubah. baru sorenya cari warnet yang dindingnya aja nempel dengan asrama. Cukup murah juga, 1 jam seharga P25, atau setara dengan Rp 5,000 (masih mahal dibandingkan nge-net di kantor…..gratis je.http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/03.gif)

Well, sekian dulu sekilas info dari manila. Nantikan kisah2 berikutnya (kalau bisa akses internet mudah, karena sepertinya kali ini tempat kursus di desa yang jauh dari ibukota). Tuhan memberkati kita semua.

Manila, 10 Februari 2007

Oleh: utaridewi | Desember 16, 2008

Santiago Fort vs Asia Mall

FootstepSekarang kami sudah ada di tempat di mana kursus akan diadakan selama 2 bulan penuh, sebuah tempat yang dingin sejuk, seperti Kaliurang. Namanya Mendez Cavite. Di area ini, St.Scholastica membangun gedung training centre (St. Scholastica Wholeness Organic Farm) yang sangat asri dengan gaya arsitektur unik, seperti UFO tetapi material bangunannya didominasi kayu, bamboo, dan papan. TC ini dikelilingi oleh pertanian organic seluas lebih dari 2 hektar, tempat yang sangat nyaman sebagai tempat training dan belajar pertanian organic. Pengelola Mendez tidak hanya menanam padi organic, tetapi juga sayuran organic yang kami konsumsi selama berada di area ini. Wah, lumayan sekali, hidup back to nature. Hitung-hitung mengembalikan kesehatan tubuh dan refresh pikiran yang selama ini selalu dipenuhi dengan masalah.

Sebelum kami tiba di Mendez Cavite, panitia membawa kami ke Santiago Fort, sebuah tempat bersejarah yang cukup terkenal karena masih menyimpan bangunan peninggalan penjajahan Spanyol. Santiago Fort merupakan area yang sangat luas dimana bangunan-bangunan unik dan kuno bergaya Spanyol dikelilingi benteng seluas lebih dari 100 km2. Di dalam benteng terdapat 4 gereja tua, gedung bank, sekolah, dan kantor-kantor pemerintah yang sampai sekarang masih digunakan dan dirawat dengan sangat baik. Sayangnya, instalasi listrik yang ruwet dan tidak rapi membuat pemandangan di area ini menjadi sedikit terganggu.

Di tengah-tengah Santiago Fort ini, pemerintah Filipina melestarikan bangunan bersejarah dimana pahlawan nasional mereka, Dr. Jose Rizal, ditahan dan dihukum mati karena perjuangannya membela rakyat Filipina memperoleh kemerdekaan. Sebelum masuk ke museum tempat menyimpan barang-barang milik Dr. Rizal dan ruang tahanannya, kami melewati gerbang yang cukup besar. Yang membuat gerbang ini unik, dari tengah gerbang hingga tiba di sebuah bangunan terdapat bekas telapak sepatu yang disepuh dengan warna emas. Ternyata, bekas telapak sepatu itu merupakan jejak kaki Dr. Jose Rizal sebelum dia dihukum tembak karena dianggap sebagai pemberontak colonialisme. Dari bangunan tempat dia ditahan, hingga tempat eksekusi, jejak-jejak kakinya diabadikan sebagai moment penting dalam sejarah perjuangan rakyat Filipina menggapai kemerdekaan. Konon, sepanjang perjalanan menuju tempat eksekusi, Dr. Jose Rizal berjalan dengan melakukan refleksi yang teramat sangat dalam. Ia berjalan sangat pelan hingga gesekan sepatunya menjadi lebih panjang. Ini bukti bahwa ia sangat terbeban berat memikirkan masa depan rakyat Filipina dan menaruh harapan bahwa kematiannya tidaklah sia-sia, tetapi menjadi pintu gerbang yang membuka mata dunia bahwa kemerdekaan rakyat Filipina adalah sebuah impian yang harus diwujudkan. Dan benar, sejak eksekusi Dr. Jose Rizal, rakyat Filipina bersatu untuk menggapai kemerdekaan dan menuntut hak asasi mereka sebagai manusia diakui.

Mengelilingi Santiago Fort dengan bangunan di dalamnya ibarat memutar kembali sejarah rakyat Filipina. Kami serasa seperti hidup di jaman dulu dan yang membuat saya kagum dan mengacungi jempol untuk masyarakat Filipina, betapa mereka menghargai kelestarian dan perawatan bangunan-bangunan itu sebagai bukti mereka menghargai sejarah. Tiap bangunan dijaga oleh tidak hanya 2 orang satpam, tetapi bisa sampai 5 satpam. Seperti ketika kami masuk ke museum peninggalan seorang saudagar kaya dari Spanyol setelah mengelilingi benteng dengan kereta kuda (seperti putri atau bangsawan saja). RUmah dan barang-barang di dalamnya konon asli, tidak ada yang imitasi. Yang menarik, dari barang-barang kuno peninggalan saudagar kaya ini bisa dipelajari sejarah kolonialisme Spanyol dan Amerika, juga penemuan-penemuan jaman dulu yang menjadi inspirasi untuk membuat barang-barang rumah tangga di jaman modern seperti sekarang. Seperti kulkas. Guide man menunjukkan sebuah kotak antic kepada kami seraya bertanya, kira-kira ini apa. Ternyata, itu adalah kulkas jaman dulu untuk menyimpan bahan-bahan makanan agar tidak basi. Heran, bagaimana caranya? Ternyata sangat simple. Kotak itu terdiri dari 2 bilik, yang bawah untuk simpan bahan makanan dan di atasnya untuk menyimpan es yang ditaburi garam agar tidak cepat meleleh dan bisa tahan sampai beberapa minggu. Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan es batu sementara Filipina merupakan daerah tropis? Keluarga saudagar mengimport es batu dari Boston Amerika dengan harga sangat mahal, kalau dikurskan sekarang harganya sekitar 40,000 P (Rp 8.000.000) per biji. Wow !

Hingga sekarang, menaburi garam di atas es batu agar tidak cepat meleleh masih digunakan oleh penjual es krim dan buah. Penemuan yang sangat brilian.

Lelah mengelilingi Santiago Fort, kami pun dibawa ke sebuha toko souvenir untuk belanja.

Namanya juga perempuan, pasti gatal untuk tidak membeli. Rata-rata souvenir di sini hampir sama dengan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta tempat saya tinggal. Memang ada barang-barang yang Filipina sekali, tetapi saya memutuskan untuk tidak membeli banyak (hanya beberapa untuk nyicil dan menghargai sang penjual yang sejak tadi melihat saya hanya Tanya-tanya melulu) sekarang karena akan memberatkan bawaan saya. Toh setelah training masih ada kesempatan untuk belanja. Setelah belanja, kami kembali ke asrama untuk makan siang.

Sebelum dibawa ke Mendez Cavite, panitia membawa kami ke Mall SM Asia. Katanya sih, mall ini merupakan mall terbesar di Asia. Saya akui memang mall ini besar sekali, dan uniknya terletak di pinggir laut. Dasar tidak begitu suka jalan di Mall, saya cuma keliling saja mengantarkan teman-teman dari India. Namanya juga mall, barang-barang di sini hampir seragam dengan semua mall di Indonesia. Custom dan pakaian para abg pun juga sama, sampai tingkah polahnya mereka yang nongkrong-nongkrong saja. Tidak ada yang begitu special bagi saya mengunjungi mall Asia ini, kecuali satu hal yang membuat saya tertarik, yaitu ATM pembalut wanita yang disediakan di toilet wanita. Hmm….menarik juga. Wah kalau di Indonesia bakalan jadi kontroversi tidak ya seperti halnya ATM kondom?

Manila, February 13, 2007.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori