Letter to Juliette, Menemukan kembali sang Cinta Sejati

Dalam perjalanan dari Dubai ke Jakarta yang harus saya tempuh selama 9 jam di pesawat, ada banyak sajian hiburan yang bisa dinikmati. Saya cukup beruntung menumpang armada baru yang memiliki teknologi audio visual cukup ok, sehingga memilih film-film dan musik pun menjadi obat mujarab membunuh rasa bosan. Maka, sambil menunggu sarapan pagi (dan itupun boleh memilih menunya), saya memilih menonton film jenis drama, dan akhirnya saya menemukan “Letter to Juliette”. Merasa belum pernah menonton film ini sebelumnya, maka saya memutuskan untuk menonton dari awal.

Bagi Anda yang belum menonton Letter to Juliette, baiklah saya ceritakan singkat saja. Sophie seorang gadis Amerika muda yang bertunangan dengan perintis usaha kuliner mengunjungi Verona, kota romantis di Italia untuk menikmati liburan sekaligus menemani sang tunangan melakukan survey kuliner untuk usahanya. Verona adalah kota asal cerita Romeo dan Juliet, kisah cinta legendaris yang tragis yang sangat terkenal di seantero dunia. Dalam perjalanannya, Sophie tertarik pada apa yang dilakukan oleh segerombolan perempuan muda dan tua, di mana mereka menaruh surat-surat di sebuah dinding sambil mengusap air mata. Di pojok dinding tersebut terletak sebuah patung perempuan muda, dinamai Juliette. Beberapa pasang mengusap-usap dada patung Juliette. Sophie tertegun, dan lebih heran lagi ketika suatu sore ia lewat tempat itu lagi melihat seorang perempuan mengambil surat-surat tersebut dan memasukkannya dalam keranjang. Sophie membuntuti perempuan itu, dan tahulah dia bahwa perempuan tersebut bekerja dalam sebuah komunitas “sekretaris letters to Juliette”. Komunitas yang terdiri dari beberapa perempuan tua dan muda ini tugasnya membaca surat-surat tersebut dan membalas satu demi satu. Karena bosan ditinggal pergi oleh sang tunangan, Sophie memilih bergabung kerja volunteerism ini.

Suatu hari Sophie membaca surat yang dikirimkan pada tahun 1951. Surat itu menceritakan permintaan maaf dan penyesalan seorang perempuan bernama Claire kepada cinta sejatinya (Michael Bertolini) karena harus meninggalkan sang kekasih dalam keadaan tidak menentu. Claire menyesal tidak memberitahukan alasan mengapa ia meninggalkan sang kekasih dan ia berharap “Juliette” dapat memberikan petunjuk dimana sang mantan kekasih itu berada. Sophie terkesan pada surat itu dan membalasnya dengan memberikan kata hiburan bagi perempuan yang ia pikir pasti sudah berusia lanjut. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda mencari sekretaris surat kepada Juliette, mengenalkan dirinya sebagai cucu Claire. Sophie mengaku bahwa dialah yang menjawab surat Claire, dan Charlie (cucu Claire) mengucapkan terimakasih kepada Sophie. Bertemulah mereka bertiga, lalu Sophie mengeluarkan ide mengapa tidak Claire mencari sang mantan mumpung berada di negeri romantis ini. Maka dimulailah perjalanan mencari Michael Bertolini, cinta sejati Claire. Dalam beberapa hari perjalanan tersebut, banyak pertengkaran dan muncul bibit cinta antara Sophie dan Charlie, namun Sophie menyadari tunangannya menunggunya. Pun yang dialami oleh Claire, hampir putus asa ia mencari Michael Bertolini yang ternyata ada ratusan lelaki di negeri ini dengan nama yang sama. Bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa sang mantan cinta sejati sudah meninggal. Dalam keadaan putus asa Claire memutuskan pulang. tetapi justru Charlie yang seolah-olah mendapatkan firasat, dan tanpa mereka duga, di sebuah perkebunan mereka menemukan Michael, mantan kekasih Claire.

Saya tidak akan menceritakan endingnya, tetapi justru pesan dalam film ini yang menarik untuk direnungkan. “Carilah cinta sejatimu dan kisah cinta yang paling indah di hidup ini adalah kisah cinta milikmu sendiri”. Saya dan Anda masing-masing memiliki kisah cinta sejati, apapun endingnya. Selesai menonton film ini, sambil tersenyum menikmati sajian sarapan pagi saya di pesawat anggun itu, saya teringat akan kisah cinta sejati saya beberapa waktu lalu. Meski berakhir dengan tidak ‘happy ending’ karena kami berdua memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan alasan yang sangat prinsipil, tetapi dialah cinta sejati saya. Seseorang yang sanggup menegakkan kepala dan kepercayaan diri saya kembali akibat terpuruk dalam keputusasaan dan air mata. Seseorang yang dengan tulus mengatakan apapun alasannya saya adalah orang yang berharga dalam hidupnya.

Hingga kini surat-surat cinta kami masih saya simpan baik-baik dalam hati. Saya tidak tahu pasti apakah saya mempunyai kesempatan untuk mengirimkan surat cinta kami kepada sang Juliette di Verona sana. Tetapi setidaknya kami menyadari, bahwa bagian dari kisah cinta yang terbaik milik kami berdua adalah saat kami memutuskan untuk saling menghormati kehidupan kami masing-masing yang tak bisa bersama, sebagai sahabat, yang justru rasanya menjadi lebih dalam dan perasaan kami terhubungkan melampaui ruang dan waktu.

Juliette, tunggu saya mengirimkan surat cinta sejati saya……

 

4 September 2010,

terimakasih Emirat entertainment….

Menghirup Esensi Ramadhan di Kota Santri

Saya memang tidak pernah mengenalnya secara langsung, karena garis keturunan beliau dengan garis keturunan saya tak pernah bertemu. Kalaupun saya rajin menghubung-hubungkan keterkaitannya, mungkin saja hanya ada satu simpulan, bahwa beliau dan saya sama-sama keturunan Nabi Adam dan Hawa, sama-sama orang Indonesia, sama-sama lahir di Pulau Jawa. Saya tidak pernah bertatap muka langsung dengannya, bahkan menjabat tangan apalagi mencium tangannya seperti halnya tradisi kaum Muslim NU pun belum pernah. Saya hanya menatap mukanya dari layar kaca, kertas yang disebut media cetak, dan mendengarkan suaranya yang serak-serak basah yang sangat khas melalui layar kaca dan speaker radio saja. Hanya sekali saya menatap mukanya secara langsung, itupun dibatasi oleh serumpun manusia yang bertitel mahasiswa, ketika beliau menjadi pembicara di sebuah acara talkshow launching sebuah novel besutan Pramoedya Ananta Toer 7 tahun lalu. Itupun saya sampai merinding dan menangis terharu….mendengar joke-jokenya dan teriakan Allahu Akbar dari ribuan pendukungnya yang hadir kala itu.

Namun demikian, saya merasakan kedekatan yang erat secara emosional dengan beliau, Gus Dur, atau yang kita kenal Abdurrahman Wahid. Justru ketika ada batas dan ruang jarak yang begitu jauh kala itu, saya merasa dekat, sehingga saat beliau wafat, saya merasakan kesedihan yang dalam. (Baca note saya: Praying to Say Goodbye). Tadi sore, perasaan emosional yang merogoh sukma saya kembali muncul ketika kaki saya hanya berjarak kurang lebih 2 meter dari makam Gus Dur yang begitu sahaja di tengah-tengah kompleks Ponpes Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur. Sangat sederhana, tapi justru berkharisma, sampai-sampai saya tak sanggup mengucapkan doa-doa sebagaimana saya biasa melakukannya ketika mengunjungi makam keluarga saya. Gus Dur boleh jadi sudah tak berada di liang itu, hanya jasadnya saja. Tetapi aura kharisma beliau masih tampak segar terasa, apalagi saat mata saya melihat ribuan santri kecil, remaja, dan guru-guru ponpes ada yang berseliweran, ada yang duduk mendengarkan ceramah, ada yang duduk memanjatkan doa di pelataran samping kompleks makam pendiri dan keluarga ponpes ini, termasuk salah satu di antaranya makam Gus Dur. saya dan beberapa teman yang datang dari Sumatra dan Sulawesi begitu takjub, hingga kami tak bersuara hanya menikmati ‘suasana surga di bumi Jombang’ saat itu, sambil sesekali kami mengambil gambar.

Di sana sini dipasang berbagai petuah keluarga besar Wahid, dan yang paling banyak adalah ucapan Gus Dur. Berkeliling kompleks ponpes ini mata saya hanya membaca tulisan-tulisan petuah Gus Dur dan sambil meninggalkan kompleks saya mencoba menjejalkan petuah dan kata bijak tersebut dalam hati dan sukma saya. Menghormati ajaran dan moral agama, melakukannya dalam kesahajaan, dan mengakui keberadaan orang lain yang berbeda….sungguh luar biasa Gus Dur menaruh nilai pada murid dan para santrinya. Lalu tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang seharusnya belajar dari tempat ini, dan tak hanya teman-teman Muslim yang mendapatkan hikmah hari pertama Ramadhannya tahun ini, tetapi saya juga.

Gus Dur pergi meninggalkan nilai. Sekarang tergantung kita, apakah nilai yang beliau tanamkan masih kita rawat atau tidak. Pilihannya kalau tidak, jangan mengharap Negara Kesatuan RI yang ditulis besar-besar dalam sebuah plakat riwayat hidup Gus Dur di salah satu sudut kompleks ini tetap lestari. Gus Dur, terimakasih……

Tebuireng Jombang, 11 Agustus 2010

Menghargai Cinta di Tengah Dunia Ironi

Kalau saya diminta untuk mendeskripsikan dunia (baca:realita kehidupan) ini dengan satu kata saja, maka saya menjawabnya dengan kata “ironi”. Mengapa ironi? Saya senang aja mengistilahkannya dengan kata ironi ini, yang menurut pemahaman saya selama ini artinya adalah sesuatu yang bertentangan dari yang seharusnya, paling tidak sewajarnya. Wajarnya begini, kok jadinya begitu. Itu baru pemahaman saya yang sangat simple lho. Tetapi ternyata, setelah saya googling dan yahooing arti kata ironi, jawabannya macam-macam. Yang paling sederhana mendefinisikannya sebagai : kejadian atau situasi yang bertentang dengan yang diharapakan atau dengan yang seharusnya terjadi (http://www.sentra-edukasi.com/2009/08/materi-bindo-definisi-pengertian-arti_6732.html). Lho, kok jadi mirip-mirip dengan pikiran saya? Hehehehe….Kalau Anda memiliki definisi lain, silahkan didiskusikan kembali, atau anggap saja ini menjadi PR buat guru bahasa Indonesia kita.

Kembali pertanyaan semula, mengapa saya mendeskripsikan realita kehidupan ini sebagai sebuah ‘ironi’? Sepintas memang bernada pesimistik, atau satir, atau apalah yang tidak menggairahkan hidup. Bagi saya, ironi adalah sebuah bumbu realita yang wajar kita hirup sehari-hari. Sekarang, tolong katakan pada saya, kata apa yang paling tepat untuk menjelaskan beberapa kejadian berikut ini:

1. Di tempat lain saat yang sama ada banyak orang cacat tubuh dengan segala minus keterbatasan mobilitas sanggup membuat prestasi mencengangkan, bahkan memotivasi orang lain untuk survived. Sementara di dunia lain, banyak orang muda dan tua setiap hari mencederai tubuh lengkapnya dengan narkoba
2. Di tempat lain saat yang sama ada begitu banyak orang yang diabaikan, dilecehkan, menggelandang, homeless, tetap bisa mengucapkan kata “Syukurlah saya masih bisa hidup hari ini”. Sementara di saat yang sama, banyak orang kaya bunuh diri karena merasa hidupnya tak berarti, bangkrut, tak berani mempertanggungjawabkan kegagalannya, padahal masih punya tempat untuk berlindung.
3. Di tempat lain saat yang sama ada begitu banyak pasangan suami istri yang mengharapkan hadirnya keturunan dengan mengupayakan segala macam cara dan menghabiskan berpuluh juta demi sang anak, sementara di tempat lain ada lebih banyak pasangan menggugurkan kandungan dan enggan mengakui keberadaan anak. Lebih ironisnya lagi, menyiksa anaknya karena frustrasi sang anak tak seperti yang diinginkan
4. Di tempat lain saat yang sama di dunia ini, ada begitu banyak orang berfoya karena bingung bagaimana lagi cara menikmati harta berlimpah yang ia miliki demi eksistensi hedonisme tetapi tak pernah sekalipun mengucap syukur, sementara di tempat lain, ada orang yang bahkan makan pun harus menunggu dua hari lamanya setelah mencari nafkah ke sana kemari…tetapi herannya, ia masih bisa berkata,”terimakasih Tuhan atas rejeki 2 hari ini”
5. Di tempat lain saat yang sama di dunia ini, ada banyak orang mendambakan dicintai layaknya dan seharusnya dicintai oleh orang yang mencintainya. Namun di saat yang sama di tempat lain, lebih banyak orang yang merasa tidak cukup puas dengan cinta yang ia dapatkan, sehingga ia mencari cinta yang lain dan mengkhianati pasangannya karena menuntut lebih, tanpa mau menerima keadaan.

Masih banyak kejadian ironi yang kita tangkap sehari-hari. Rasa-rasanya seperti tidak adil, tetapi ya begitulah dunia ini, penuh ironi yang tidak adil. Semuanya menjadi tergantung pada diri saya dan Anda, bagaimana kita memposisikan diri di tengah ketidakadilan ironi ini. Berawal dari sebuah langkah yang sederhana, yang selalu diajarkan oleh orangtua saya sehari-hari. Mengucap syukur dan bijak merawat apa yang kita miliki saat ini. Kalau kita bisa makan hari ini meski dengan tempe dan garam, mengucap syukurlah. Kalau kita bisa sekolah hari ini, merasa beruntunglah. Kalau kita punya anggota tubuh yang lengkap bisa dibawa kemana-mana, berjalanlah dengan baik dan ulurkan tanganmu pada orang yang membutuhkanmu. Kalau kita punya perasaan peka, gunakanlah. Kalau kita punya pekerjaan, lakukanlah dengan baik dan selesaikan karena pasti rejeki akan mengikutinya seiring dengan tanggungjawab kita. Kalau kita punya anak, rawatlah dengan baik jangan disia-siakan. Kalau kita punya pasangan, jangan pernah sedikitpun dan sekalipun untuk meninggalkannya dalam keadaan sakit hati. Kalau memang harus berpisah selama belum ada ikatan perkawinan, berpisahlah sebagai seorang sahabat baginya. Intinya, “rawatlah dengan baik apa yang kau miliki, kalau kau ingin disebut sebagai orang yang berbahagia”, dogma yang saya dengarkan sejak kecil.

Itu adalah ajaran alm. bapak dan ibu saya, orang tua yang bagi saya dalam kesederhanaannya bisa menggambarkan bagaimana kita bisa bijak menghadapi ironi realita ini. Dengan begitu, saya bisa melihat, bahwa realita ini tidak jelek-jelek amat, asal saya bisa melakukan dua hal ini: mengucap syukur atas apa yang saya temukan dan merawat dan menghargai apapun yang saya miliki dan cintai. Kalaupun ia belum saya temukan, menaruh harapan adalah langkah yang pasti.

Respect your recently life, and respect your love you have found in your life.

(tempel, 18 Juli 2010)

catatan ini saya sampaikan kepada teman-teman saya yang sedang dalam keadaan apapun, terbeban berat menghadapi cobaan, berbahagia karena mendapatkan cintanya, dan lain-lain.

“Perkawinan” Media Online dan Media Broadcasting Konvensional sebagai Media Diseminasi dan Dialog dalam Ruang Publik Kritik terhadap Artikel “Dissemination and dialogue in the public sphere: a case for public service media online” oleh Hallvard Moe

Pendahuluan

Di tengah-tengah perdebatan para pakar komunikasi massa tentang apakah media online- dalam hal ini diwakili oleh internet- dapat dikategorikan sebagai media massa atau tidak, seperti halnya yang diulas oleh Giles (2003:8) tentang area abu-abu dalam mendefinisikan media massa pada saat ini, artikel Hallvard Moe dengan judul yang disebutkan di atas menjadi menarik dicermati. Tidak saja memberikan wacana baru dalam dunia komunikasi massa, tetapi barangkali bisa menjadi inspirasi bagi para pelaku media online dan media konvensional dalam bentuk broadcasting (televisi dan radio)

Media online yang kemudian dikenal dalam situs-situs website di internet bukan lagi menjadi media baru beberapa dekade belakangan ini, tetapi bahkan menjadi wajib bagi lembaga apapun dan di manapun untuk mengkonstruknya, dengan tujuan yang beragam. Bahkan sangat memungkinkan bagi individu untuk menciptakan sendiri dengan tujuan yang beragam pula, dari sekedar iseng hingga yang bertujuan serius untuk kepentingan ilmiah. Sehingga kita mengenal blogger yang disediakan secara gratis dengan pilihan yang beragam. Media broadcasting yang konvensional (baca: televisi dan radio) kemudian memiliki pesaing baru, sehingga ia tidak lagi menjadi satu-satunya primadona media yang dimanfaatkan oleh publik. Di satu sisi lembaga media broadcasting oleh publik yang melek teknologi media seolah-olah dituntut untuk menjawab kehausan audiensnya untuk menyajikan berita yang segera dan online, bisa diakses dimanapun dan kapanpun.

Oleh karena itu, 10 tahun belakangan ini lembaga-lembaga media broadcasting mulai melirik media online sebagai penunjang aktifitas pemberitaan dan penyiaran mereka sehingga kemudian publik mulai dikenalkan dengan situs-situs media broadcasting yang merambah juga di dunia maya.  Hampir semua stasiun televisi swasta maupun non-swasta memiliki website yang menyajikan news online, dan juga agenda atau program-program yang ditawarkan. Hal yang sama juga dilakukan oleh lembaga stasiun radio, mereka juga membangun website dengan tujuan beragam, dari hanya sekedar pelengkap promosi sampai untuk streaming program yang sedang disiarkan saat itu. Sehingga, selain bisa diakses melalui perangkat keras radio, siaran radio kini bisa diakses online dengan istilah streaming. Di Indonesia, teknologi broadcasting dan teknologi online semacam ini bukan lagi menjadi barang baru, meski baru sebatas bisa dilakukan oleh media berskala nasional atau media lokal namun berada di kota-kota besar.

Persaingan ini menjadi ketat, manakala penyedia murni website semacam Yahoo!, Google, msn, gmail, dan lain-lain pun turut menyajikan berita online di samping menyediakan fasilitas email gratis dan searching machines dalam dunia maya. Yahoo! dan Google bahkan disebut-sebut sebagai pemain unggul dalam persaingan media online-broadcasting ini. Bahkan Yahoo pun menggaet kerjasama dengan media broadcasting semacam CNN untuk ‘meletakkan’ streaming news-nya untuk disajikan kepada pembacanya.

Melihat dan mempertimbangkan fenomena dinamis ini, Hallvard Moe seorang mahasiswa kandidat doktor University of Bergen Norwegia mencoba mengulas dan mengkritisi, apakah ideologi diseminasi dan sekaligus membangun dialog dalam ruang publik (public sphere) dapat dilakukan secara bersamaan oleh dua jenis media massa ini. Dalam artikelnya yang berjudul Dissemination and dialogue in the public sphere: a case for public service media online dalam Jurnal Media, Culture and Society edisi no.30 Mei 2008 yang dilansir oleh Sage Publication[1], Moe ingin memotret dan menantang media broadcasting konvensional untuk tidak sekedar menjalankan mandat diseminasi, tetapi juga membangun ruang dialog dalam public sphere sehingga ia lebih eksis dalam persaingan media. Sebaliknya juga, media online dipertanyakan apakah mulai terjebak pada rutinitas diseminasi karena sebagai ruang dialog ia mulai menghadapi hambatan-hambatan dalam persaingannya dengan media broadcasting.

Artikel Moe barangkali bisa menjadi referensi pelaku media di Indonesia. Namun demikian, artikel yang hendak mengkritisi artikel ini akan memotret dimana letak kelemahan pendapat Moe apabila diperhadapkan pada kebutuhan komunikasi pembangunan partisipatif di Indonesia. Mengapa partisipatif ? Karena dinamika media di Indonesia dan publiknya tampaknya telah mengalami titik jenuh menerima paparan diseminasi dari media-media broadcasting yang ada selama hampir 40 tahun belakangan ini. 10 tahun terakhir ini, sejak pers baik cetak maupun elektronik dan media maya diberikan kebebasan secara demokratis, media broadcasting berganti haluan menawarkan interactive dan menyediakan ruang dialog dalam berbagai programnya. Tetapi apakah yang demikian disebut sebagai partisipatif dan dialogis secara murni atau masih sebatas menyebarkan informasi dan isu namun dikemas seolah-olah partisipatif? Belum ada yang menjamin bahwa partisipasi penuh bisa dilakukan oleh media. Oleh karena itu, catatan kritis perlu dilakukan terhadap artikel Moe dengan pertanyaan dasar: apakah bisa menjadi referensi bagi pakar komunikasi pembangunan untuk menciptakan media yang diseminatif namun sekaligus juga media dialogis ?

Pembahasan

1. Menggagas Media Layanan Publik yang online

Dengan pendekatan demokratis dominan, Moe melihat ada 2 fungsi media yang ideal, yaitu: pertama, membuat informasi yang penting tersedia untuk publik. Kedua, memungkinkan semua warga negara dapat berkomunikasi satu sama lain tentang isu-isu yang relevan dan sedang mereka hadapi. Dengan demikian, maka perlu digagas bahwa media massa sebaiknya menjalankan 2 fungsi ini, yaitu sebagai diseminasi informasi atau gagasan baru (dan isu baru), dan sekaligus memfasilitasi dibukanya ruang dialog bagi publik untuk menanggapi atau melontarkan sebuah isu yang relevan dibicarakan bersama.

Moe mengakui bahwa terjadi perdebatan yang cukup sengit mengenai fungsi media seperti ini. Pertanyaan mendasar bagi para pemikir media massa adalah dimana posisi broadcasting media untuk pelayanan publik ? Apakah ia hanya sebagai media diseminasi, atau sebaiknya juga sebagai media dialog ? Beberapa pemikiran modernis masih menginginkannya sebagai media diseminasi karena sangat pesimis mempercayai bahwa media massa mampu mengakomodasi ruang dialog interaktif mengingat karakter media yang delayed feedback dan terbatas.  Sedangkan pemikiran yang lain menyatakan bahwa harus ada upaya memikirkan kembali (rethinking) mengkategorikan media broadcasting berada pada posisi di mana. Mereka lebih optimis mengatakan bahwa media broadcasting memiliki potensi sebagai media dialogis.

Menanggapi perdebatan ini, Moe berpendapat bahwa pertama, aspek diseminasi merupakan hal yang krusial bagi beberapa pemahaman tentang komunikasi online publik. Kedua, diseminasi memiliki potensi yang normatif dalam ruang publik yang sebaiknya dimasukkan dalam konsep media online layanan publik yang diakui (legitimated). Artinya, peran diseminasi maupun dialogis menjadi penting, tidak saja dilakukan oleh media broadcasting, tetapi juga diampu oleh media online. Dengan demikian, kedua jenis media ini dapat saling melengkapi dan bersaing dengan sehat. Publik kemudian merasa cukup terlayani oleh kedua jenis media ini untuk menyampaikan aspirasinya dan partisipasinya.

Moe melihat bahwa  media broadcasting untuk layanan publik sebagai sebuah alat kebijakan media digunakan untuk mengalokasikan sumberdaya dan mengelola sektor media, sehingga tidak secara khusus ditempatkan sebagai ”masa depan” pelaku media broadcasting saja. Gagasan Coleman tentang media online bagi Moe membatasi dirinya sendiri untuk mengeksploitasi potensi internet untuk memfasilitasi dialog. Ini ada dalam 2 premises: pertama, sebuah kontras (pembedaan yang tegas) mengatakan bahwa broadcasting sebagai (alat) diseminasi, ada pandangan optimis tentang kontribusi komunikasi online untuk ruang publik sebagai dialog. Kedua, premis Coleman (dan implikasinya) bisa menjadi penelitian cermat yang kritis, demikian menurut pandangan kritis Moe tentang premis ini.

2. Mengkontraskan media broadcasting versus media online dalam public sphere

Membedakan sifat media broadcasting (tv, radio) dengan media online (internet) bisa menggunakan analogi ajaran agama (nabi menyebarkan) versus Socrates yang memelopori terjadinya dialog. Media broadcasting yang diseminatif ibaratya adalah nabi (Yesus) yang mengajarkan ajarannya ke berbagai penjuru, bersifat massif dan tidak memberikan peluang dialogis. Sedangkan media online diibaratkan Socrates sang filsuf yang memberikan peluang dialogis membicarakan filsafat. Terdapat beberapa gagasan pentingnya media dalam ruang publik yang akan dijawab oleh keberadaan media online dan atau media broadcasting, dengan karakter ruang publik sebagai berikut:

Equality and reciprocity: (Kesamaan dan resiprositas), Artinya setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan dirinya dan didengarkan oleh orang lain, bebas dari campur tangan. Resiproritas juga memerlukan kewajiban untuk mendengarkan orang lain.

Openness and adequate capacity: Keterbukaan dan kapasitas yang memadai. Ruang public yang ideal adalah yang terbuka untuk setiap tema (isu) atau kontribusi. Hal ini juga mensyaratkan peserta/public mampu untuk memberikan peluang bagi perlakuan yang adil dari semua isu.

Bagi Moe, 2 karakter ini tidak bisa dijawab oleh media broadcasting secara cepat, karena karakter media broadcasting yang masih bersifat komunikasi satu arah. Tingkatan keterbukaan juga bisa dipertanyakan sampai dimana titik keterbukaan media dalam menyampaikan informasi seluas-luasnya, belum bisa diukur secara efektif

Solusinya kemudian adalah menciptakan media yang memungkinkan terjadinya dialog agar 2 karakter ruang publik tadi bisa dijawab.

In the ideal dialogic form in the public sphere, participants’ joint aim is to be mutually fair and open, also to new insights, and strive for reaching a collective decision (Ytreberg dalam Moe, 2008:7)

3. Memetakan potensi media online dan problemnya

Kekuatan media komunikasi online dalam ruang publik yang dipetakan oleh Moe adalah: pertama, lebih mudah memastikan akses dalam kerangka kesejajaran dan tuntutan terjadinya resiprositas (timbal balik) dapat dicegah dari bentuk kegagalan. Artinya, media online dipandang lebih mampu menciptakan posisi yang sama antara komunikator (pemberita) maupun pembaca atau pendengarnya. Lagipula, media online sangat memungkinkan terjadinya arus timbal balik bagi komunikator maupun komunikan untuk saling memberikan tanggapan dengan segera. Kedua, dialog yang bisa diciptakan oleh media online memungkinkan untuk membuka komunikasi yang lebih terbuka dalam membicarakan sebuah isu, dan perlakuan yang adil dan berkompeten terhadap isu-isu tersebut. Para pelaku internet optimis bahwa mereka menciptakan komunikasi termediasi yang menghubungkan karakteristik-karakteristik online ini. Ketiga, komunikasi online menawarkan keseimbangan. Pembicara dan pendengar berada dalam posisi yang sama, dan memungkinkan pembaca atau pendengarnya justru bisa menjadi narasumber berita yang kemudian ditangkap dan ditanggapi oleh komunikator.

Kelemahannya adalah pertama, apabila ruang lingkup masyarakatnya sangat besar,maka Large publics mean few speakers and many listeners,” demikian pendapat Moe. Kedua, efektifitas tersampainya pesan komunikasi yang didialogkan juga diragukan karena beragamnya respons yang datang. Jalan tengahnya adalah tidak lagi mendikotomikan peran dan karakter media broadcasting dan online, namun mengawinkan kedua media ini dan melihat masing-masing kelemahannya sebagai hal yang saling melengkapi.

4. Cross cutting media dan fungsi : Broadcasting yang dialogis, Media online yang diseminatif

Setelah melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing jenis media, maka timbul gagasan untuk ‘mengawinkan’ fungsi media dengan keyakinan penuh bahwa mereka sangat mungkin melakukannya. Secara ringkas, pemikiran baru Moe dapat dilihat dengan bagan sebagai berikut:

Media broadcasting yang mampu membangun dialog, artinya pertama, program Radio dan television telah menggunakan bentuk umpan balik langsung  (interactive) dari pendengar atau pemirsanya sebagai bagian terpadu dalam beberapa dekade ini. Kedua seperti halnya produksi radio dan television, distribusi dan penerimaan umpan balik juga sudah memasuki metode digital. Digitalized way ini menjadi semakin mudah secara teknis dan murah untuk memperkaya bentuk-bentuk tradisional mereka dan bisa mengembangkan media broadcast dalam aras partisipasi. Ketiga, karakter media broadcasting yang bersifat audio visual mampu menyedot minat audiensnya untuk memberikan feedback secara langsung melalui program-program interactive.

Sedangkan Internet yang dianggap mampu mengemban fungsi diseminatif (media online yang diseminatif) dicontohkan seperti Website personal, perusahaan, dan lembaga-lembaga tampaknya hanya sebagai diseminasi profil mereka saja. Bahkan news online di website, sifatnya hanya sekedar informatif. Bagi Moe, fungsi media broadcast dan online butuh diakui bagi karakter-karakter yang mereka miliki pada umumnya, sebagaimana keunikan-keunikan individual mereka. Memfasilitasi dialog online, bagaimanapun juga, tidak cukup. Media layanan publik sebaiknya juga memanfaatkan karakteristik diseminatif yang ditawarkan oleh internet

5. Kesimpulan Moe

Dengan mempertimbangkan kelemahan dan kelebihan masing-masing jenis media broadcasting dan online, maka Moe menyimpulkan beberapa poin penting berikut. Pertama, ada potensi dalam komunikasi online yang tidak hanya untuk ruang dialog bagi publik, tetapi juga sebagai media diseminasi. Kedua, baik ‘dialog’ maupun ‘diseminasi’ sebaiknya dieksplor oleh media online layanan publik dalam sebuah cara yang secara konsisten meng-counter proses mengawal dan balkanisasi dalam ruang publik. Ketiga, implementasi konkrit semestinya memiliki hal-hal berikut:

  1. sebuah pemahaman bagaimana potensi komunikasi oline untuk diseminasi, sama halnya ketika ia diharapkan menjadi media dialog, langsung pada penggunaannya untuk kebijakan media
  2. sebuah pengertian diperlukan untuk menghubungkan media online dan broadcast dalam bidang komunikasi publik.

Penutup

Kritik terhadap Pemikiran Moe

Pemikiran Moe dengan pendekatan normatif public sphere mengabaikan perubahan paradigma komunikasi pembangunan. Barangkali memang ia belum memikirkan bagaimana aplikasinya terhadap komunikasi pembangunan. Moe masih mempercayai bahwa karakter diseminasi pada media masih dibutuhkan. Padahal para pemikir komunikasi pembangunan sudah mulai mengalihkan bahwa diseminasi tidaklah partisipatif . Hal ini bertentangan dengan paradigma participatory development communication yang mengedepankan terjadinya dialog di tengah komunitas untuk menentukan bentuk komunikasi dan pilihan media apa yang akan digunakan untuk mendukung pembangunan partisipatif mereka (Bessette, 2004).

Penekanan pada karakter diseminasi informasi lebih banyak mengambil porsi pemikiran Moe, sehingga ia lupa bahwa membuka ruang dialog bagi publik untuk merespon sebuah isu juga sama pentingnya. Moe barangkali belum sampai pada pemikiran bagaimana media-media negara berkembang dituntut untuk membuka ruang dialog ini sejalan dengan kritik terhadap paradigma pembangunan modernisasi. Kerangka berpikir Moe yang masih modernis masih sangat terasa, dan bisa dipahami karena pembangunan sebagian besar negara-negara Eropa adalah pembangunan dengan paradigma modernisasi yang kemudian menciptakan teknologi media sebagai alat diseminasi (Melkote dan Steeves, 2001:114).

Pemikiran ini sangat Eropa-minded, dimana kebutuhan informasi masyarakat Eropa barangkali bisa berbeda dengan masyarakat kolektif Asia. Moe perlu mengingat bahwa masyarakat Asia tampaknya cenderung mengalami kejenuhan terpapar informasi pembangunan yang diseminatif melalui media broadcast selama ini. Pemikiran Moe juga belum melihat peran media massa alternative (the other mass media) apakah bisa menjalankan kedua fungsi tersebut. Tulisan Moe juga masih tentang media di negara Barat yang mengusung budaya popular, belum masuk ke negara Timur yang sedang giat-giatnya mengusung isu partisipasi pembangunan oleh masyarakat lokal. Dalam hal ini, konsep komunikasi pendukung pembangunan (development support communication) dan konsep komunikasi pembangunan partisipatif belum menjadi referensi Moe, sehingga ia percaya bahwa fungsi diseminasi masih menjadi area dominan dalam komunikasi publik.

Perkawinan media broadcast yang diseminatif dengan media online yang dialogis bukan lagi hal yang mustahil. Hal ini sudah terjadi di era informasi interactional, hanya saja kebiasaan publik untuk berpartisipasi dalam dialog-dialog publik melalui media tampaknya tidak mengalami derajat yang sama. Ketika media online menawarkan karakter diseminasi, dan media broadcasting menawarkan ruang dialog dalam ruang publik secara interactive, Moe kurang memperhatikan bahwa dibutuhkan kedewasaan publik untuk memberikan respon terhadap isu yang dibawanya dan sejauhmana kedewasaan publik dibanguna sehingga aliran komunikasi baik diseminasi maupun dialogis bisa berjalan. Karena kalau tidak, publik akan dibuat mengalami kebingungan dalam menerima pesan dan menanggapi isu, karena respon publik tidak pernah bisa ditebak dan selalu beragam. Oleh karena itu, pelaku baik di media broadcast dan online sebaiknya memberikan edukasi kepada publik bagaimana merespon isu yang dilemparkannya. Moe sebagai pemikir media perlu menawarkan solusi tingkat atau derajat urgensi diseminasi, dimana media memerankan fungsi diseminasinya, dan kala mana media memainkan peran dialogisnya.

Meski sudah mendorong dibangunnya dialog oleh media broadcast maupun online, khususnya di negara-negara otoritarian, masih terjadi kontrol yang sangat kuat (agenda setting by state and media), sehingga lagi-lagi masih terjebak pada diseminasi. Meski demikian, memang diakui bahwa batasan antara partisipatif dalam bentuk dialog dan diseminatif menjadi tipis, karena sebetulnya keduanya tidak bisa berdiri sendiri. Dalam banyak kasus dialog hanya bisa dimunculkan setelah komunikator melakukan diseminasi dalam bentuk melemparkan isu di arena publik.

Referensi

Bessette, G. 2004. Involving the Community: A Guide to Participatory Development Communication, International Development Research Centre, Canada joint Kuala Lumpur.

Giles, D. 2003. Media Psychology, Lawrence Erlbaum Associates Publisher, London

Melkote, S.R. dan Steeves, H.L. 2001. Communication for Development in The Third World, Theory and Practice for Empowerment, 2nd ed., Sage Publication India Pvt Ltd.

Moe, H. 2008. Dissemination and dialogue in the public sphere: a case for public service media online, dalam Jurnal Media, Culture and Society edisi no.30 Mei 2008. Bisa diakses dengan mengunjungi

http://mcs.sagepub.com/cgi/content/refs/30/3/319 dengan seijin Sage Publications.


[1] Dapat dikunjungi melalui situs: http://mcs.sagepub.com/cgi/content/refs/30/3/319 dengan seijin Sage Publications.

Cinta Mati pada Idola

Malam ini saya mempunyai menu menarik untuk makan malam saya. Menu tersebut merupakan tambahan main menu saya, mie rebus buatan tangan sendiri, meski mienya tetap mie instan. Menu makan malam saya adalah mendengarkan celotehan Mbak Tutik tentang perjalanan cinta matinya dia pada sang idola, seorang penyanyi tenar di negeri ini yang sedang terganjal kasus video porno, sebut saja AP. Oya, saya lupa mengenalkan siapa Mbak Tutik itu. Dia adalah rekan kerja kakak dan ibu saya untuk mengurus rumah kami dan 3 keponakan saya, dan kami selalu menghindari istilah PRT untuknya. Sebagai penggantinya, kami menyebut profesi dia, manajer artis untuk 3 gadis cilik anak kakak saya. Mengapa manajer artis? Karena dia mengurus segala aktivitas harian semua keponakan saya, dari menjemput sekolah, antar jemput kegiatan ekskul, menemani belajar, mengurus mereka kalau tampil di show menyanyi komunal alias paduan suara dimana-mana, dan lain-lain. Jadi, karena terlalu complex-nya pekerjaannya, maka kami menyebut dia dengan satu istilah saja, manajer artis.

Mbak Tutik ini sangat nge-fans sama AP. Bahkan, kalau saudara-saudara melirik kamar tidurnya yang berukuran 2,5 x 3 meter itu, seluruh dinding nyaris ditutupi wall paper poster sang idola, baik sendirian maupun dengan kelompok bandnya, tentu dengan berbagai gaya. Tak cukup dinding, bahkan lemari pakaian dan pintunya juga!Pembaca budiman, bahkan dengan segala upaya dan jerihnya dia berhasil mendapatkan kalung emas dengan liontin tanda tangan sang idola yg konon diproduksi sangat terbatas di toko2 emas tertentu di kota besar, termasuk Jogja. Setelah berhasil mengumpulkan uang hasil kerja dan angpaw Lebaran, ia mengerahkan sebagian besar anak kost ibu saya untuk berburu kalung tersebut. Dan betapa riang hatinya karena dia berhasil mendapatkan kalung tersebut, bahkan tidur malam itu pun ia menggenggam kalung sang Idola sambil tersenyum.

Jerih payah itu tidak hanya titik puncak keberhasilannya. Sebelumnya, saat Lebaran ia rela tidak pulang kampung agar bisa ikut Ibu saya, saya dan 2 keponakan saya pergi ke Bandung menikmati Lebaran di sana. Selain mewujudkan mimpinya naik pesawat udara, ia sangat antusias mengunjungi sebuah basecamp band milik sang Idola di kota bandung. Meski ia tahu dan sangat paham bahwa mustahil bertemu sang Idola saat Lebaran, tetapi menginjakkan kaki di basecamp sekaligus tempat latihan sang Idola dan bandnya bagi Mbak Tutik sudah hal yang luar biasa. Bahkan jauh-kauh hari dia sudah menelepon manajer sang idola untuk mencari sebanyak mungkin informasi dan berjanji untuk ketemuan. “Wah, pertemuan sesama manajer artis ya?” ujar saya usil. dan selama 3 hari kami di Bandung, hampir tiap hari ia meminta kami mengantarkan dia ke basecamp, baik hanya sekedar lewat dan nongkrong di luar pagar, maupun sampai berfoto ria di dalam rumah. tentu foto dengan fotonya sang idola. Bisa dibayangkan muka saya memerah karena sialnya saya diminta dengan sangat menjadi fotografernya. Wah, dikerjain nih saya.

Kini sang idola sedang dirundung masalah berat. Tadi sore saya bertanya, bagaimana reaksi dan perasaan dia ketika tahu bahwa sang idola sekarang mendekam di tahanan sementara terkait dengan kasusnya itu. Apakah kondisi sang idola yang dianggap memalukan nama bangsa Indonesia menyurutkan cinta matinya pada sang idola? Jawabannya di luar dugaan saya.” Wah, saya malah bersyukur kalau dia dipenjara, bu. Artinya, saya bisa mengunjungi dia lebih gampang, gak susah-susah cari dia ke sana kemari. Kalau di penjara kan tempatnya pasti, gak pindah-pindah. Kan asyik tuh. Saya akan meminta pak pulisi memberikan kesempatan buat saya menengok dan memberikan semangat dan dukungan buat AP, karena saya adalah fans-nya yang paling setia. Apalagi saya datang jauh-jauh dari Jogja”. Jawaban itu membuat saya melongo. Tambah melongo saya, karena setelah itu tanpa henti dia menceritakan ‘perjalanan’ ke-fans-annya sejak 2003, tentu dengan segala upayanya mendekati sang idola. Tatapannya tampak iri, ketika saya cerita, pada pertengahan 2008 saya pernah bertemu sang idola di bandara dengan jarak hanya sejengkal saja. Tetapi tak terbersit sedikitpun untuk minta tandatangan atau ambil gambar bersama sang idola. “Wah, tahu gitu Bu Dewi telpon saya kan saya bisa nyusul ke bandara.

Ya, maaf mbak Tutik, cinta saya gak sama dengan idolanya panjenengan. salut deh dengan kesetiaan mbak Tutik, semoga tetap langgeng…..menjadi seorang fans. Hahahaha…..

Juni, 2010

Gara-gara Wedhus Gembel (maaf) Gunung Ejakulasi (part 2)

Setelah menunggu beberapa hari lamanya, dengan disambi bekerja jarak jauh yang untungnya saya difasilitasi internet wifi gratis baik di hotel maupun kantor lembaga pengundang, kembali saya dibikin lemas lagi. Hari Rabu saya mencoba reconfirm penerbangan saya, ternyata Lufthansa masih belum berani menerbangkan pesawatnya. Kecuali saya mau naik kereta api ke Frankfurt selama 6 jam, baru dari Frankfurt ke Indonesia naik pesawat. Wah, terlalu risky karena saya belum pernah ke Frankfurt dan pindah-pindah alat transportasi. Teman saya juga tidak merekomendasikan berhubung banyak sekali penumpang pesawat yang cancelled berebutan tiket kereta api dengan harga berkali-kali lipat dibanding naik pesawat. Akhirnya saya pasrah dibatalkan lagi pesawatnya pada hari Jumat.

Suasana bandara memang kacau karena selama wedhus gembel tidak mau turun, konon 100,000 jam penerbangan dibatalkan. Kota-kota besar daratan eropa dipenuhi oleh orang lalu lalang menjinjing troli bag mencari hotel untuk tinggal sementara. Itu yang kaya. Yang tidak kaya atau tidak membawa bekal cukup, seperti saya ini, tentu kebingungan.

Saya cukup beruntung karena saya dipindahkan dari hotel yang membuat saya hampir mati kesepian untuk tinggal sementara dengan Katherine, salah satu staf lembaga yang mengundang saya. Ia seorang Kenya yang tinggal bersama anak semata wayangnya. Apartmentnya lumayan jauh dari kota, ia tinggal di desa bernama Croix de Rozon, berbatasan langsung dengan Negara Perancis, terletak di lembah pegunungan yang asri. Namun dengan transportasi public yang canggih dan memadai, sangat teratur dan disiplin dengan waktu, jarak jauh tak masalah bagi saya.

Selama 3 malam berikutnya saya bisa tidur nyaman di desa dingin dan makanan yang enak, dan senangnya saya bisa membuat makanan sendiri seadanya. Sekali lagi Tuhan sayang sama saya. Di seberang saya duduk sekarang ini, ada ratusan tempat tidur tipis yang kalau kita sebut tandu darurat digelar di bandara ini. Tiba-tiba bandara seperti shelter tempat penampungan para refuges, untuk memberikan tempat bagi orang-orang yang tak bisa mendapatkan tempat di hotel atau tidak mampu ongkos bermalam karena hotel-hotel yang nakal menaikkan harga sewanya. Mereka akhirnya harus ikhlas tidur di bandara dengan kenyamanan seadanya. Baru kali ini terjadi seumur bandara Frankfurt. Soal malu ditonton orang banyak yang lalu lalang, tak dihiraukan lagi. Yang penting bisa mandi atau cuci muka dan berbaring daripada terlunta di jalan.

Konon, gara-gara wedhus gembel ini pula, hampir semua maskapai penerbangan besar mengalami kerugian besar-besaran, kalau ditotal 2 triliun rupiah sehari. Enam hari tidak beroperasi serasa end of life bagi mereka, dan akhirnya mereka mendesak pemerintah untuk membolehkan terbang. Tentu setelah mereka melakukan tes terbang dengan ketinggian dan kecepatan terntu, dan monitor yang sangat ketat dari BMG dunia dan pihak lainnya. Hari Rabu-Kamis, beberapa maskapai penerbangan beroperasi setelah beberapa bandara berani buka. Para refuges di bandara-bandara tersebut serentak bersorak kegirangan dan bertepuk tangan, hampir persis kalau menonton kesebelasan sepak bola menang pertandingan. Tapi sampai hari ini pun (hari Jumat), masih ada beberapa penumpang yang belum bisa diterbangkan karena berbagai hal.

Inilah sekelumit cerita penderitaan dunia penerbangan dan penumpangnya akibat wedhus gembel dari sebuah gunung di Iceland. Untuk menyebut nama gunung ini, saya dan teman saya yang kesulitan menyebutnya akhirnya bersepakat, kita namai saja ia Gunung Ejakulasi. Nah, baru ejakulasi saja sudah membawa dampak seperti ini bagi sebagian orang di seluruh dunia, bagaimana kalau ia orgasme ya.

Frankfurt, 23 April hampir naik Lufthans yang (akhirnya) terbang

Gara-gara Wedhus Gembel (maaf) Gunung Ejakulasi (part 1)

Saat tulisan ini dibuat, saya berada di gate B23 Bandara Frankfurt, Jerman, bandara yang masuk dalam kategori sibuk dan besar di daratan Eropa. Saya harus menunggu kurang lebih 7 jam lagi untuk terbang ke Singapore, selanjutnya ke tanah air yang saya rindukan, baik itu keluarga saya tercinta, teman-teman, bau ruangan saya di kantor, tempe, krupuk, nasi organic masakan bunda, gudeg….hmmm hampir semua di kota Jogja saya rindukan. Bahkan kasur empuk saya dan celotehan 3 makhluk kecil dengan nama akhir: Indonesia. Saya rindu mereka meski Cuma pergi ke Geneva Swiss kurang lebih 10 hari lamanya, padahal saya seharusnya tidak lama dari waktu itu.

Ya, dari waktu yang Cuma 4 hari direncanakan, ternyata saya harus memundurkan kepulangan saya. Kalau anda membaca catatan saya sebelumnya tentang wedhus gembel gunung berapi di Iceland, ternyata saya masuk dalam daftar korban si wedhus gembel. Kepulangan saya sampai mundur 2 kali karena pesawat Lufthansa yang harusnya saya tumpangi membatalkan semua penerbangannya ke tujuan manapun. Hari Sabtu yang harusnya saya kembali ke Indonesia, dibatalkan pada hari Rabu minggu berikutnya. Saya tidak terlalu panic di bandara karena mau bagaimana lagi. Tetapi yang bikin panic adalah akomodasi alias dimana saya bisa merebahkan diri, karena ketika kembali ke kota untuk kembali menginap di hotel sebelumnya, hampir semua hotel penuh. Kalau pun ada, hanya hotel-hotel dengan harga selangit yang tak mampu saya bayar saat itu. Mengontak teman-teman yang mengundang saya, ternyata mereka tidak mencantumkan nomor hp mereka di kartu nama, dan tentu telpon kantor tidak bisa menerima telpon saya karena week end.

Kepanikan saya terselesaikan setelah hampir lebih dari 1 jam, akhirnya dengan rahmat Tuhan yang maha Kuasa saya menemukan hotel murah meriah dengan fasilitas memadai dan pelayanan sangat baik. Saya memerlukan waktu 1 jam berputar-putar dengan perut lapar dan kerongkongan kering karena pada hari Sabtu toko banyak yang tutup lebih awal. Sempat terdiam untuk mencoba berpikir tenang apa yang harus saya lakukan, sementara orang-orang yang lalu lalang di muka saya tampak tak peduli. Bahkan orang Asia yang menjaga toko Asia yang saya tanyai apakah menerima uang dollar (kebetulan swiss franc-saya pas habis untuk mengirim email dan menelepon sana sini yang diakhiri dengan kegagalan dan tertelan di box telpon) agar saya bisa minum se-dua teguk air, ia menolak dan sesegera menutup tokonya. Sialan, umpat saya dalam hati. Sama-sama Asia saja sok jual mahal.

Hanya satu yang tetap saya pegang sebagai tumpuan harapan saya. Setidaknya bapak dan ibu saya senang berbuat baik dan menolong orang lain, tentu Tuhan tidak membiarkan saya tanpa pertolongan. Hanya itu saja, karena saya percaya hukum alam siapa yang menabur kebaikan, ia akan menuai hasil yang baik pula, yaitu pertolongan. Mungkin perilaku saya tidak terlalu baik-baik amat sama orang lain, tetapi setidaknya alm ayah saya dan ibu saya akui sangat social, jadi tak mungkin anak buntutnya ini keleleran di jalan tanpa ada yang menolong. Saya cukup gambling memasuki sebuah bar yang ada hotelnya. Setelah bertanya dengan pramuniaga, saya ditunjukkan ke resepsionis untuk mencari kamar. Thanks God, masih ada kamar untuk 1 orang (memang betul untuk satu orang karena bed hanya 1 dan kecil) seharga 146 CHF, kira-kira 166 USD, per malam. Saya hitung-hitung uang dollar saya, cukuplah untuk 2 malam. Untuk malam berikutnya saya yakin lembaga yang mengundang saya mau mengakomodasi. Tetapi saya berpikir, kalau saya habiskan uang dollar saya, saya makan dengan apa? Untungnya lagi kartu kredit saya masih bisa digunakan untuk membayar 2 malam di Hotel Capitole tersebut. Fiuuh….pertolongan Tuhan memang tepat pada waktunya. Tak Cuma itu, resepsionis yang bernama Lily itu bersedia saya mintai tolong untuk menelpon Vice President lembaga pengundang, Jill, agar ia mengetahui keberadaan saya. Sekali dua kali tidak nyambung, akhirnya saya putuskan naik ke kamar. Beberapa menit kemudian telpon bordering, dan hati saya melompat kegirangan mendengar suara Jill menyapa saya. Setelah menceritakan kejadian sore itu, saya hampir menangis terharu karena dia membolehkan saya stay beberapa malam dan akan mengganti semua biaya ekstra.

Jill bahkan mengundang saya ikut kebaktian di Gereja Presbiterian yang umurnya sudah 300 tahun hari Minggu, tetapi mereka menempati ruang yang lebih baru. Selama kebaktian saya tak habis-habisnya bersyukur bahwa sekali lagi Tuhan mengirimkan “malaikat-malaikat” untuk menolong saya. Baru pertama ke Eropa, kok ya ada saja kejadiannya. Anyway, selesai kebaktian saya diperkenalkan Jill kepada jemaat di situ, tentu bersama tamu-tamu lainnya juga mengenalkan diri masing-masing, dan mereka tersenyum empatik ketika Jill menyebut saya sebagai korban dari awan panas gunung di Iceland. Pesawat saya mundur, dan bla…bla….Setelah itu beberapa orang menyalami saya, termasuk beberapa orang Indonesia. Mereka hanya basa basi sejenak, tinggal di mana, sama siapa….dan tidak ada satupun yang mengundang saya atau menawarkan diri untuk menemani saya selama stranded di kota ini. Hanya selintas mereka – orang-orang Indonesia itu- bilang,”Hati-hati ya di jalan, semoga lancar. Bye….” Hmmmm….aneh juga. Justru yang mengajak saya makan siang adalah anak-anak muda gereja itu yang semuanya anak Eropa. Wah, fenomena social apa nih?

Frankfurt, 23 April 2010. Kejadian yang saya ceritakan di atas terjadi pada tanggal 17 April, hari yang seharusnya saya kembali ke Indonesia, alias 2 hari setelah letusan gunung

(bersambung)